feel empty…

•May 4, 2009 • Leave a Comment

gw merasa seperti itu sekarang… tapi kekosongan itu seperti memang sepatutnya. suatu kekosongan yang terjadi karna ada “pengurasan” ato “pencucian”. kya semacam nguras bak yang udah lumutan. baknya harus dikosongin dulu, trus dikuras dengan sikat, dibilas berkali-kali, dipastikan dasar bak udah bener2 clean n clear, ditutup lubang keluar-masuknya, trus diisi dengan air baru sehingga bak itu bisa berfungsi sebagai bak, penampung air, dan orang bisa menggunakannya.

itu simpelnya. itu ringkesnya. kenyataannya ga sesimpel n seringkes itu…

This is The Day!

•March 23, 2009 • 2 Comments

hari yang membahagiakan!

seseorang telah datang dan pergi dalam hidup gw… ternyata kedatangan dan kepergian ga selalu dan ga selamanya menyedihkan. apalagi klo bisa dihadapi dengan kepala dingin (realistis) dan hati terbuka (menerima dengan ikhlas).

saking bahagianya, gw ‘menceritakan’ ini pada orang-orang terdekat dan dekat dengan gw… nyokap, kakak, adek, dan beberapa kawan.

hm, gw jadi inget seorang sakit yang menceritakan kepada banyak orang perihal dirinya yang disembuhkan oleh Yesus padahal Yesus sudah berpesan agar orang sakit itu tidak menggembar-gemborkan peristiwa itu. ya, rasa senang yang tak terduga dan bikin melayang sulit untuk dikendalikan. hanya dengan menceritakan pada orang lainlah maka kendali atas diri sendiri bisa digenggam.

sebagaimana kata Paulo Coelho, bahwa alam semesta akan membantu kita untuk memenuhi ‘keinginan’ kita jika kita sungguh-sungguh meyakininya. gw percaya itu. gw bahkan telah merasakannya. dan rasanya sungguh ajaib!

(sorry), kali ini gw ga bisa bicara lebih terbuka karena satu dan lain hal yang belum waktunya untuk diperbincangkan… :)

Waktu Nambah Kecepatan!

•March 17, 2009 • 3 Comments

Apa akan begini terus hidup gw? bangun, trus ngantor sampe jam 5 sore dari jam 7 (berangkat kantor. itu blom termasuk siap-siap. artinya, gw bangun lebih pagi). pulang, mandi, makan, baca novel sampe mata cape dan akhirnya ketiduran. trus harus bangun lagi, ngantor dan seterusnya.

kalopun pulang kantor ada kegiatan, misalnya ke toko buku ato maen ke kosan temen, maka kesempatan baca akan sirna hari itu. kalopun mo begadang usai dari tempat temen ato toko buku, maka besok paginya di kantor mata akan terkantuk-kantuk. dan kalo udah gitu, pulang kantor keesokan harinya bawaannya pengen cepet pulang, mandi, trus molor. klo pun tengah malem kebangun, ya paling untuk pipis ato sms temen yang klo gw beruntung, akan dibales. lalu terjadilah sms-an. sedangkan untuk baca buku udah nanggung tenaganya. mata terlalu perih, apalagi dengan udara jakarta yang belakangan agak lain: seperti nyedot energi, gizi, dan nutrisi yang seadanya di dalam tubuh gw. jadilah tidur lagi, dan bangun lagi, dan ngantor lagi, dan kerja lagi, dan pulang lagi, dan baca lagi, trus mandi lagi, dan makan lagi (kalo niat), dan lagi-lagi tidur lagi.

ga ada habis-habisnya, tapi begitu2 aja kyanya hidup gw.

sekarang, gw merasa waktu cepet banged berlalu. merasa waktu yang gw miliki terlalu sedikit untuk dapat mengerjakan berbagai hal yang sedang gw gandrungi. baca, ngopi, nyanyi, nonton, nulis, ngobrol sama temen2 jauh, dan sedikit merawat diri dengan tidur minimal 5 jam. rasa-rasanya waktu telah berlaku curang. jarum detiknya bergerak terlalu cepat, tidak seperti biasanya/normalnya. sehingga gw merasa mengerjakan sesuatu harus dengan tergesa-gesa karena waktu kian terlatih untuk bergerak maju dan kecepatannya semakin bertambah. lalu gw tertinggal dengan kegiatan gw yang akhirnya hanya cicilan-cicilan yang lama banged kelarnya. blom lagi tunggakan kegiatan yang bunganya lumayan. hope u understand….

ya ya ya, kalo udah begini, gw cuma bisa membatin: hayo, yang sabar…!

Tabib Kecil

•March 13, 2009 • Leave a Comment

dan akhirnya, hihii blom apa-apa udah “akhirnya”. mungkin itu karena gw pengen segalanya cepat berakhir, karena gw ga bisa mengakhirinya, cuy. cuuuuyyyy….

sampe di mana tadi? blom di mana-mana, ya? haa! ya ya ya, begini. akhirnya apa yang direncanakan kemaren (blog sebelumnya), ga terlaksana. pulang kantor gw malah makan dan ketemu desi buat ngasih CD n payung hitamnya. dari situ ke indomart, trus agak sedikit bergegas pulang. nyampe kosan, gw malah terinspirasi untuk ‘jamah-jamah’ kamar gw. memberi sedikit tambahan demi kepentingan dan kenyamanan diri di dalam kamar yang sempit itu.

gw ambil meja bercat putih dari ruang tamu berbau busuk itu. bau dan busuk karena tikus, kecoa, dan kucing sering buang yang bau-bau di situ, dan si tukang bersih2 agak malas angkat sofa buat ngepel lantai bekas kencing ato berak makhluk2 itu.  lalu tuh meja gw bersihin seadanya dan gw angkat ke kamar. dan gw taruh di kamar gw yang udah sempit itu. dan alhasil, dengan tambahan meja, kamar gw tambah sempit, tapi asyik, cuy. penglihatan gw agak terbantu dengan meja itu. barang-barang jadi terlihat teratur. kipas angin, speaker, buku-buku, kabel, dan barang2 kecil lainnya bisa diorganisasikan di meja itu. jadi terlihat simpel dan ringan. keuntungan yang paling gw kejar adalah bisa duduk di bangku palstik dan menulis di meja itu. selama ini gw duduk di lantai dan nulis di meja kecil.

setelah menyusun meja dan menyapu kamar, gw mandi. dan gw berpasrah diri pada kondisi tubuh yang merasa nyaman dan sedikit memohon agar dibiarkan rebahan dalam waktu yang lama. dan asli, malem itu, tubuh gw menyatu sama kasur. kyanya mereka udah saling kangen dan lagi melepas rindu satu sama lain. pengennya tu nempeeeeelllll terus. tapi diri gw bilang agar bikin kesepakatan aja biar ga ada yang merasa dirugikan. maka, gw kasih waktu rebahan untuk tubuh gw, lalu setelah itu segera kembali ke rencana awal untuk bikin konsep penulisan isi buku ‘Gangguan Sensomotorik’ tea.

tepat jam 10.40, gw ketiduran. tidur yang bener2 tidur. tapi sekitar jam 1 malem, ada yang nelpon. orang aneh dan sok oke. nyebelin. berkali-kali pula! tuh orang lagi horny kali? ato, klo mo positive thinking, dia lagi kesepian gitu. ato lagi mimpi buruk n pengen ditemenin/ngobrol. tapi, telpon dari orang aneh itu adalah mimpi buruk buat gw karena dia mengganggu tidur gw. gara-gara itu gw jadi pengen nelpon temen gw. tapi, dasar tukang molor temen gw itu, dia ga bangun2. dan gw ga mau bersikeras ngebangunin dia. ntar dia malah ngira gw yang jadi mimpi buruknya. haaa… ga abis2 deh orang jadi mimpi buruk bagi yang laen…

dan sosodara, di sinilah gw sekarang. kembali pada rutinitas pekerjaan yang monoton sekaligus membosankan (dengan ‘Don’t Worry Be Happy-nya Bobby McFerrin), tapi agak bikin penasaran gitu… dan rasa penasaran itu agaknya bisa jadi obat yang meluruhkan rasa jenuh. semacam tabib kecil gitu…. dan gw merasa ‘harus’ berterima kasih pada ‘rasa penasaran’ yang hadir di saat yang sedikit agak tepat. tabib yang memberikan pil untuk sedikit bangkit dari antara orang mati. halah!

biarin sedikit-sedikit bangkit. gpp. kya suluh di pantai. biar kelap-kelip (cahayanya kya bakal ilang, tapi ga ilang-ilang), tapi bisa jadi petunjuk bahwa jauh di ujung sana ada daratan, ada pelabuhan, ada kehidupan. dan harapan.

aih, harapan! gila, kata itu muncul juga. harapan? harapan, ya? rasanya gw masih asing sama kata itu. tapi semoga tabib kecil yang ga tau muncul di mana dan kapan itu, melakukan apa yang bisa dia lakukan, yang tepat!

dan sekarang, giliran gw untuk melakukan sesuatu. yaitu bekerja. do what i can (have to) do….

JobLess & Ngantuk

•February 20, 2009 • 2 Comments

ga ada kerjaan… bener-bener ga ada kerjaan karna kerjaan gw udah selese hehe.. tau-tau nya kerjaan gw seabrek tanpa gw sadari…

pala gw pusing ga tau kenapa. udah dua hari ini bangun pagi dengan suhu badan di atas normal. dan klo bangun berasa ajep-ajep gitu. goyang-goyang kya pengen rebahan lagi (halah! bilang aja masih pengen molor!). dua-tiga hari ini udah ngantuk sebelum jam 10 malem. setengah sebelas udah molor. bangun jam 7 kurang dikit. tanpa mandi pagi, gw berangkat ngantor. cuma cuci muka n gosok gigi sih. ya, mendinglah daripada sama sekali enggak hehe…

nyampe kantor, yang biasanya gw ga butuh sarapan, sekarang malah ngejar gorengan dari mas wahyu (beli pastinya!). klo ga, mi rebus telor.  seumur-umur gw di BPKGM, blom pernah yang namanya sarapan mi rebus. telor pula (hii, apa hubungannya, yak?)

trus nyeduh kopi dari pagi, biasanya dari pagi-menjelang-siang alias jam 10. hh, kalu patokannya “kebiasaan”, ya emang dua-tiga hari ini gw di luar “kebiasaan”. dan gw agak2 merasa aneh sih… berasa ada yang “ga diri gw sendiri gitu”. maksud gw ada sesuatu yang baik terjadi, tapi juga ada sesuatu yang diluar tanggungan gw yang mungkin bagus tapi seperti diluar dugaan aja gitu. Continue reading ‘JobLess & Ngantuk’

Diskusi: Yesus, Kristus, dan Yusuf

•February 19, 2009 • 2 Comments

sebelum teks yang gw copy-paste di bawah ini, gw nanya soal bedanya “Yesus” dengan “Kristus” ke seorang temen kantor, Willem, lulusan STT Jakarta yang sekarang satu kantor sama gw di BPK Gunung Mulia. Check this out! :)

Willem (11:27 AM):

kalo orang berbicara tentang “Yesus” saja, berarti tentang sosok kemanusiaan Yesus, dan kehidupan-Nya sebelum paskah atau kebangkitan. lebih pada seorang manusia yang secara historis pernah ada dan berkarya dalam hidup manusia.  sedangkan kalau “Kristus” saja itu berarti sosok Yesus yang alami dan direfleksikan setelah paskah atau kebangkitan. jadi “Kristus” itu baru ada, katakanlah demikian, setelah paskah atau kebangkitan. sebelum kebangkitan, “Kristus” masih dilihat oleh para pengikut-Nya sebagai manusia “Yesus”.

Willem (11:29 AM):

kalo keduanya digabung: Yesus Kristus, berarti orang mau berbicara baik tentang manusia Yesus maupun ketuhanan Yesus

Ira Tampubolon (11:29 AM):

o gitu ya….

Ira Tampubolon (11:30 AM):

thx

Willem (11:31 AM):

tambahan: Kristus itu sendiri berasal dari kata Yunani “Christos” yang berarti Tuhan. dan gelar ini disandangkan oleh para murid kepada Yesus setelah mereka mengalami dan memaknai kebangkitan Yesus Continue reading ‘Diskusi: Yesus, Kristus, dan Yusuf’

My First Revenge: I Did It Well!

•February 19, 2009 • 6 Comments

revenge fun pictiureini kali pertama gw melakukan ‘pembalasan’ saat itu juga terhadap tindak pelecehan seksual ringan (gw sendiri yang bikin kategori ini hehe.. penemuan ini!). secara ya selama ini gw diem aja sambil geleng-geleng kepala dan geleng-geleng batin alias nyesek bow… tapi kali ini, tindakan macam itu tidak bisa didiamkan! harus ditindaklanjuti dalam tempo yang sesingkat-singkatnya haha…

malem itu, yaaa, namanya orang lagi sumpek di kamar yang seadanya itu (baca: sempit) dan ga bisa tidur, ai jalan keluar. emang sih udah malem n jalanan udah sepi (untuk itungan Jakarta. klo di Bandung jam segitu tuh masih rame dan sante-sante ajee…btw, itu sekitar tengah malem). dan ‘persetan’ dengan uu yang bilang cewek ga boleh keluar di atas jam 10 malem. ga tau juga kenapa. mungkin karena akan dianggep perempuan jadi-jadian kali? whatever lah… emang uu itu siapanya gw??

menurut ike, tampang yang rada cowok dan body rada macho, kyanya bisa menjamin orang-orang ga akan ngirain ike cewek (baca: superwoman, hihii). dan dengan lagak biasa-biasa aja, alias ga ada bahasa tubuh ‘mengundang’ apalagi ‘mengumbar’, gw jalan di depan Toko Buku Gunung Agung. Ha! tak disangka tak dinyana, ada juga (dasar lelaki mata keranjang dan mata biawak, ?_?) ada juga yang ngeh klo gw ini perempuan. tapi sayangnya, lelaki buaya “satpam” Tobu GA Kwitang itu memberi respons yang ga senonoh. aih aiihh!

dia, seperti banyak lelaki kesepian di luar sana, nge-psst-psst gw. awalnya gw biarin aja. iseng aja kali tu orang. kagak ada kerjaan, pikir gw. secara ga penting gitu kan.. tapi kok dia ngikutin gw dari balik pagar gedung GA. gw masih biarin tuh. trus dia ngomong apa gitu, gw ga ingat persis, tapi kira-kira dia ngomong sesuatu yang bagi gw menghina gw. lantas gw berbalik badan dan natap dia langsung. jarak gw ma dia ada sekitar 7-10 meter. eh, dia malah ngelambe-lambein tangannya untuk nyuruh gw ke tempat dia. dan wajahnya mengisyaratkan sesuatu yang lain. sesuatu yang condong ke “i want to touch u and i’ll pay it 4 u”. Anjis! gw emosi. Kesenonohan ini tidak bisa dibiarkan!! Continue reading ‘My First Revenge: I Did It Well!’

Adu Mulut di Senen: Apa Liat-liat?!

•February 17, 2009 • Leave a Comment

“Bosseeeennn!!” iya, minggu kemaren gw bosen banged di kamar. padahal gw melakukan sesuatu: bersih-bersih kamar, memberi sedikit sentuhan di dinding, yaitu berupa dua paku baru yang tertancap untuk ngegantungin meja-lipat kecil, dan gitar gw. trus ngerapiin buku2 yang numpuk dan ditempeli rambut rontok hehe… trus gw juga sarapan. karena semuanya udah selesai, gw bisa sedikit nyantai. gw ambil posisi enak untuk baca sambil dengerin (dan sesekali ngikutin) Norah Jones. judul lagunya yang paling sering gw “iringi”: Shoot the Moon & Turn Me On. what a glorious songs! i ilke those songs, ‘coz suit to my voice hehe… maksood looo?? :P setelah agak lama, gw merasa bosan yang sangat, sampe-sampe gw guling-gulingan di lante, bergumul dengan bantal pink gw itu. ga seru.trus, gw cari akal. dan muncullah ide: bikin kopi. “Ngopi sambil baca n dengerin lagu, enak juga kali, ya?” pikir gw. tapi ke-enak-an itu hanya berlangsung sebentar. rasa bosen itu jauh lebih kuat dan gw nyerah. ga pasrah, man! karena gw masih bisa melakukan sesuatu, yaitu pergi ke suatu tempat. tapi tapi tapi, keuangan lagi ga mencukupi hingga gaji berikutnya… setelah gw pikir-pikir–bahwa ke mana pun gw pergi, pasti akan mengeluarkan budjet–maka gw urungkan niat.

ternyata, di ujung Jakarta sana, muncul ide di kepala temen gw (yang sebelumnya gw sms sih hehe…) untuk pergi ke mall. haha, pasti gw ngeluarin budjet. tapi gpp, gw udah ga mikirin itu. “Ksian jiwa gw klo dibatasi oleh ketiadacukupan dana.”

Deal!

gw berangkat pake transjakarta naik dari Kwitang, trus transit di Senen. orang-orang numpuk bow. biasa sih klo lagi hari libur gitu. jadi ga surprise juga…  gw lagi asyik tuh ngelirik ke kiri berharap-harap bus transjakarta muncul. soalnya kaki gw udah mule pegel berdiri hampir setengah jam. panas pula. polusi lagi… gw cari keasyikan lagi dengan nyimak obrolan dua ABG cowok di kanan gw. mereka lagi ngomongin soal traktiran haha… ga punya modal juga mereka. tapi seru deh mereka ngobrolnya.

ga lama, “Kok sudut mata gw nangkep seseorang sedang ngeliatin gw, ya?” Continue reading ‘Adu Mulut di Senen: Apa Liat-liat?!’

Kisah Despereaux: Baca dehh…

•February 13, 2009 • Leave a Comment

gw ga akan jabarin apa isi dan mengapa gw bisa takjub sama ini buku, bahkan segera menobatkan buku ini sebagai salah satu buku fav gw…

bagi gw, buku ini deket banged sama kisah hidup gw. selain itu, buku ini baik dari segi penceritaannya. sangat cocok untuk siapa pun yang pastinya ga akan berhenti bertumbuh kejiwaannya dan pengetahuannya. terutama yang pertama: psike-nya.

isinya mengharukan dan bisa jadi cermin bersih yang sanggup menangkap dan memberi bayangan diri hingga ke pori-pori. tuhh, ga hanya cream kecantikan yang bisa nyerap hingga ke pori-pori. buku ini, buktinya, bisa! sebaiknya bacanya di ruang pribadi atau seenggaknya, di waktu pribadi. maksud gw, klo mo baca di tengah keramaian pun sebenernya bisa aja, tapi cari/tentukan waktu yang pas yang kira-kira ga akan banyak gangguan. kan klo baca komik (setau gw sih), masih bisa diinterupsi2 gitu… kaleee…

pengen baca buku-buku Kate DiCamillo yang lain… sayang, kemaren, Minggu, gw ke Gramedia Matraman, habis.

eh, gw malah ketemu buku Lady Chatterley’s Lover karya D.H. Lawrence. kata pengantarnya ditulis sama GM yang juga telah dimuat di caping majalah Tempo. pengen beli, tapi harganya 99.000. gw habis beli tas 400rb. so, gw lagi kere bulan ini. tapi gpp, bisa nanti habis gajian belinya :)

satu hal, dari banyak hal yang patut digarisbawahi, dari Kisah Despereaux yang telah gw baca dan niatnya mo gw baca lagi (nanti-nanti) adalah bahwa cerita adalah semacam cahaya. that’s why i need to read book(s) regularly. itu semacam lampu bagi sisi dunia gw yang gelap…hihihii… yup. gw punya dua dunia. dan selalu begitu: terang dan gelap. ketika gw (tikus got) kecemplung ke gorong-gorong, dia rindu akan cahaya, maka gw membaca buku. dengan membaca buku, mata (batin) serasa diterangi. sedangkan kalau gw berada dalam sisi terang (tikus kastil: despereaux tilling), gw sudah membaca banyak buku dan gilirannya gw melihat/menikmati terang itu sambil tersenyum. dan itu perlu proses baca yang terus-menerus. baca udah kya obat seumur hidup karena seumur hidup gw bisa kecemplung (ato malah rindu pada) gelap. lagi pula, seperti si tikus got dalam Kisah Despereaux, dia belum tentu selalu nyaman dalam terang dalam waktu lama.

demikian pula, gw menjadi si Despereaux yang punya banyak mimpi dan ingin memperjuangkannya! harus diri sendiri yang melakukannya, karena orang lain juga punya mimpi yang harus mereka perjuangkan! sikap saling, ya saling mendukung dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang lain meraih mimpi2nya…. ya, seperti kata nidji dan agnes monica, semua berawal dari mimpi. maka teruslah bermimpi; bukan bermimpi di siang bolong…

Anak Membatu

•February 11, 2009 • Leave a Comment

Dia selalu sendiri. Sedari dulu, sejak ia terlahir ke bumi. Tanpa ayah di samping ibu saat ibu melahirkannya. Dan tak lama berselang, ketika ibunya sudah cukup kuat berjalan, ia ditinggalkan di rumah neneknya yang sudah tua dan cuma ingin mati. Ia dan neneknya jarang bicara, dan ia pun tak memiliki kerinduan untuk membuka mulut dan menggerakkan rahang untuk mengucapkan sepatah kata.
Sejak dulu, ia tak punya kawan berbagi mimpi, entah karena ia memang tak punya mimpi. Meski di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan: ke mana ibu-bapakku pergi sejak dulu?, “Diamlah!” yang keluar dari bibir neneknya yang bergetar dan tambah tua, tak mampu mendaratkan tamparan di mulut bocah itu.
“Tak perlu kau risaukan ibu-bapakmu. Pikirkan saja hidupmu!”
Lalu terdiamlah ia hingga lama. Ketika ia rebah di kasur dengan tubuh neneknya menggolek tak bergerak di sisinya, matanya menerawang langit-langit. Tak ada yang dipikirkannya, tapi ia sulit memejamkan mata.
“Tidurlah, Nak.”
“Iya, Nek.”
“Pejamkan saja matamu. Nanti akan tidur sendiri.”

Pagi datang disambut kematian neneknya di ranjang. Tinggallah ia sendiri sekarang. Ia kubur neneknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia gali tanah tanpa mengeluh dan air mata. Ia masukkan jasad sang nenek tanpa ada perasaan yang membangkitkan kesedihan di hatinya. Lalu ditutupnya lubang kematian itu dengan tanah. Ditaburnya dedaunan kering dan basah di atas kubur. Lalu ia duduk dekat kuburan. Untuk pertama kalinya, ia memikirkan dirinya: “Ke mana aku akan pergi… untuk apa aku hidup?” Hingga matahari terbenam di balik batang pisang, tanpa merasakan perutnya yang lapar dan kerongkongannya yang dahaga, ia masih saja terduduk hingga akhirnya membatu.