EKSPERIMEN KECIL

Pernahkah kamu melakukan sebuah eksperimen sederhana yang tidak memerlukan bahan kimia yang sulit dan rumit? Tidak membutuhkan energi dan waktu yang relatif banyak? Tidak membutuhkan keahlian tinggi? Gratis pula!!!

It’s a simple experiment. Semua orang mampu melakukannya! Dan hasilnya, langsung kamu rasakan. Efek samping? Hm, baca saja dulu J

Oke. Ekperimen ini agen Gandum Baru (GB) lakukan beberapa waktu yang lalu selama tiga hari. See, just in three days! Eksperimen ini GB namai: Menjadi Orang yang Bahagia dan Menyenangkan. Mungkin, kamu bisa mencapai gol ini dengan cara kamu sendiri. Tapi, ini salah satu cara yang GB lakukan. Dan berhasil!

Di dalam tiga hari, agen GB tersenyum kepada siapa pun yang agen GB temui: di rumah/kosan, di tempat kerja, di gereja, di tempat makan. Tidak hanya kepada orang yang menjadi rekan kerja langsung, tapi juga kepada satpam, OB, pelayan, kasir, tukang parkir, dsb. Sapalah mereka: selamat pagi!, sudah makan atau mari makan, see you tomorrow, GBU, hati-hati di jalan.

Hindari menggunakan kata-kata yang memiliki arti negatif. Gunakanlah kata-kata positif. Misalnya, baik; bagus; indah; cantik; menarik; semua pasti bisa diatasi, kita harus bekerja sama; apa yang sudah dicapai sudah baik; kita melakukan yang terbaik, maka hasilnya jelaslah yang terbaik pula; semua ini (hal yang dipandang orang lain buruk) pasti ada maksud baiknya; kita berdoa saja; Tuhan pasti mendengar; ceria sekali, Bu/Pak?; hari ini sudah cukup baik, dan masih ada hari esok untuk menjadi lebih baik lagi; terima kasih; semoga berhasil; aku akan berusaha membantu, dst.

Jika ada teman yang geram atas perlakuan teman kerja yang lain, ambilkan segelas air putih dan katakan sesuatu, misalnya, “Minum dulu. Air putih ini akan melegakan hatimu. Membasuh kegeramanmu (sambil menaik-naikan kedua alis dan cengengesan).” Atau katakan, “Minum dulu. Tapi minumnya sambil lihat gw, yaaa …” (sambil centil-centil bercanda). Kalau kata Bertrand Russell, anything you’re good at contributes to happiness (Apapun yang menjadi keahlianmu akan mendatangkan kebahagiaan). Kalau kamu mampu menenangkan hati teman lewat segelas air putih sambil tersenyum, jangan memaksakan diri untuk memberi jus avokad di Pizza Hut.

Bagaimana dengan efek samping? Adakah efek sampingnya? Efek sampingnyaaa, agen GB merasa terbeban: apakah setelah lewat tiga hari ini agen GB masih akan menjadi orang yang bahagia dan menyenangkan banyak orang?

Naaah, dari situlah muncul sebuah pertanyaan yang menjadi jawaban: apa motivasi di dalam hati agen GB? Jika motivasi itu tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, siap-siap saja untuk sebuah akhir yang tidak menyenangkan! Tetapi jika motivasi kita sesuai dengan kehendak Tuhan, Tuhan pasti menyertai. Bagaimana mengetahui kehendak Tuhan? Yaaa, ngobrollah sama Tuhan (1 Tes 5:17: berdoalah senantiasa).

Tuhan selalu baik dan kasih-Nya tidak akan pernah berubah! Selama ada Kristus di dalam hati kita, maka semua akan berakhir dengan indah. Kalaupun ada kejatuhan di dalam perjalanan hidup, Tuhan pasti menolong. Dan pada akhirnya, kita akan berkata ,”Sudah selesai…” sambil mengucap syukur. Setuju? Bagi yang setuju, silakan tersenyum dan katakan “amin”. Bagi yang tidak setuju, baca lagi artikel ini sampe akhirnya kamu setuju. Hehehe.••

SIAPA DI SITU?

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yohanes 10:10

Hari ini Anya harus tinggal sendiri di rumah karena kedua orangtuanya harus keluar kota menghadiri upacara pemakaman salah satu keluarga. Kakaknya, Jimmie, sedang pergi latihan band dengan teman-temannya.

Sekitar pukul satu siang, seseorang mengetok pintu rumah. Seperti pesan Jimmie, Anya harus mengintip dulu dari jendela sebelum membukakan pintu. Dari balik jendela, Anya dapat melihat seorang laki-laki dewasa sedang berdiri membelakangi pintu sambil menunggu pintu dibukakan. Anya menunggu agar laki-laki itu pergi, tetapi laki-laki itu mengetok pintu lagi sambil berteriak, “Selamat siang? Apakah ada orang di rumah?”

“Tidak ada!” teriak Anya. Oops! Dia sadar kalau itu jawaban yang bodoh. “Maksud saya ada. Tapi Anda siapa?” Anya meralat perkataannya sendiri.

“Saya Rudy. Saya hendak menawarkan pakaian anak-anak. Sebentar lagi natal! Kau tahu itu, kan?”

“Tidak, terima kasih.”

“Apa keluarga ini tidak merayakan natal?” Rudy menginterogasi.

“Kami merayakan natal. Maaf, aku tidak butuh baju natal sekarang. Kalau mau, datanglah lagi besok.”

“Aku hanya datang hari ini. Tidak ada besok atau lusa, atau tahun depan. Buka saja. Mungkin kau ingin melihat-lihat. Tidak mesti bayar sekarang. Bisa kredit. Bisa cicil kok.”

Anya mulai tergoda. Tetapi akhirnya Anya meminta maaf dan mengatakan bahwa dia tidak bisa membukakan pintu untuk orang asing. Rudy masih bersikeras agar Anya membukakan pintu. Dan akhirnya, Anya melakukan hal yang sedikit agak kasar: Anya menutup korden jendela dan menyalakan musik keras-keras.

Sepulun menit kemudian, Anya mengintip ke balik pintu. Sudah tidak ada orang. Anya bernapas lega. Anya kembali ke sofa untuk menonton TV. Telinganya masih awas terhadap suara-suara di luar.

Setengah jam kemudian, Jimmie—kakaknya, mengetok pintu.

“Anya? Apa kau di rumah? Mengapa menutup korden?”

Tanpa mengintip lagi, Anya membuka pintu dan merangkul kakaknya. “Kak Jimmie!! Aku tidak mau ditinggal sendirian lagi di rumah. Aku takut.”

“Kenapa? Kau ada di rumah. Ini adalah tempat yang aman, adikku.” Jimmie mengelus-elus kepala Anya yang baru berulang tahun yang ke-12 tahun dua minggu lalu.

“Tadi ada orang asing. Katanya namanya Rudy. Aku takut.” Anya terus bercerita dan hampir saja menangis.

“Kau sudah melakukan hal yang benar.” Jimmie merangkul adiknya masuk ke rumah.

***

Orang-orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi adalah anggota kerajaan surga. Mereka sudah ada di dalam rumah—zona aman (sudah diselamatkan melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib), tetapi iblis tidak tinggal diam. Iblis memiliki berbagai akal dan cara untuk berusaha melemahkan iman kita.

Suara Rudy asing bagi Anya, maka ia tidak membukakan pintu apalagi mempersilakan orang asing itu masuk karena Anya tidak mengenal siapa orang itu—dan yang terpenting, Anya tidak mengetahui tujuan utama Rudy. Tetapi ketika Jimmie yang datang, Anya tidak perlu lagi mengintip dari balik jendela karena Anya mengenali suara kakaknya. Dan ia tahu, kakaknya tidak akan menyakitinya karena ia tahu kakaknya tidak akan menyakitinya.

Yesus adalah Juruselamat bagi orang-orang yang percaya. Bagaimana cara kita hidup selama masih di dunia yang fana dan berdosa ini hingga Yesus datang untuk kedua kalinya? Hiduplah sebagai umat tebusan TUHAN yang menyenangkan Dia. Hiduplah sebagaimana Yesus hidup karena Dia adalah Firman itu sendiri. Dengan mengenal TUHAN melalui Yesus, kita mengenal suara-Nya dan tidak di-/terjerumus ke dalam kegelapan.

Iblis mampu “menirukan” suara Tuhan sehingga perkataannya seolah-olah adalah perkataan TUHAN. Iblis punya agen-agen rahasia. Dan orang-orang yang iblis pakai sebagai agen bisa saja orang-orang yang kita kasihi (orangtua, saudara, teman) atau orang-orang yang kita idolakan (pendeta, guru, artis) atau kesenangan-kesenangan (internetan, foya-foya, kongkow, membaca banyak buku, mendengarkan musik). Tanpa kita sadari, hal-hal itu menjadi pencuri yang membunuh dan membinasakan hidup kita (Yoh 10:10a).

Domba yang mengenali suara gembalanya (Yesus) tidak akan terjatuh, melainkan mendapat kelimpahan (Yoh 10:10b), yaitu TUHAN mengenali setiap dombanya, dibawa dan dipimpin juga kaya di dalam kebenaran, diberi damai sejahtera dan rasa aman, mendapatkan kehidupan kekal, tinggal di dalam kerajaan kekal, memiliki keluarga di dalam Tuhan, dan masih banyak lagi.

Ya, kelimpahan di sini bukanlah uang. Jika kamu kecewa dan mengharapkan hepeng memenuhi setiap saku celana dan perbendaharaan di kediamanmu, yaaaa silakan bukakan saja pintu untuk si Rudy—orang yang tidak kamu kenal itu. Hehehe.

Going Home

Image

Natal tahun ini rasanya berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Setidaknya natal-natal yang ssaya ingat. Tahun ini, waktu mengejar-kejarku. Bahkan cenderung meneror. Untuk melakukan hal yang sekecil dan semudah apapun, rasanya saya tidak diberi waktu yang pantas. Rasanya. Rasanya …. Untuk memberi, untuk menyiapkan diri, untuk berbakti, dan untuk mengerti.
Jika melihat pada orang lain, saya tahu bahwa saya tidak sendirian—meskipun tidak semua orang mengalami hal demikian. Lalu ssaya tahu, bahwa apa yang dapat saya berikan—yang terbaik—dalam sedikitnya waktu, sudah cukup. Pernyataan “jika saya diberi waktu lebih banyak, saya yakin saya mampu lebih baik dari ini” sudah berubah menjadi “berikanlah yang terbaik dengan segala kapasitas yang ada: kemampuan, waktu, energi, dana yang dimiliki. Jangan memaksakan diri.”
Dan saya belajar lagi satu hal: memahami kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan—bahkan doa saya. Dan ketika kenyataan sejalan dengan harapan saya, itu bukan karena Sang Kenyataan menuruti kemauan saya, tetapi karena Sang Kenyataan memang berjalan demikian.
Sekarang, jika saya meminta waktu untuk menjadi manusia berhasil menurut versi saya, maka tidak akan pernah ada waktu yang cukup. Menjadi Ira yang memiliki tenaga luar biasa untuk menolong semua orang, memiliki kemampuan yang luar biasa menarik sehingga orang lain termotivasi, tidak pernah memiliki mood down, memiliki uang untuk sekadar beli rak dan buku-bukunya, waktu untuk melahap dan menelan isi buku-buku, lampu yang tepat untuk membaca di dalam ruangan yang tidak membosankan (sempit), berbakti pada orang tua dengan memberikan apa yang mereka belum miliki, dapat berjalan tegak apapun yang terjadi, dan sebagainya.
Tapi sekarang, dengan apa yang ada pada diri saya, seberapa pun waktu yang diberikan, maka saya akan berusaha secara maksimal. Di situlah letak “memberikan yang terbaik”. Seperti seorang janda miskin yang hanya punya sekeping uang untuk dipersembahkan di bait Allah. Maka, apa yang ada pada saya, itulah yang akan saya berikan.
Kepulangan ke rumah natal kali ini, saya tidak memiliki banyak hal untuk dibagikan. Kesabaran, ketekunan, kekuatan, kebanggaan, kesukaan, … tidak banyak. Saya hanya punya sedikit dan masih berusaha menambahkan dan mematangkannya.
Aku akan membiarkan Tuhan melakukan bagian-Nya—kadang-kadang aku memaksakan diri melakukan bagian-Nya di dalam hidupku. Yang pasti, sesedikit yang saya punya itulah yang akan saya bagikan. Mungkin wujud dan nilainya tidak seindah kado di bawah pohon natal, tetapi aku akan belajar membungkusnya dengan indah, memberinya pita sebagai pemanis, dan menuliskan Firman-Nya di sana.

Tanpa Masalah: Tanpa Oksigen

“Bisa nggak sih sehari aja nggak ada masalah?” aku membatin. Persoalan datang rasa-rasanya bukan dari diriku, tetapi dari luar kepadaku. Apakah karena aku tidak memiliki masalah atau karena aku memiliki masalah dan dapat mengatasinya, maka masalah dari luar menghampiriku? Terkadang masalah dari luar datang beruntun dengan yang dari dalam. Aku merasa terjepit. Sehari kemarin aku merasa lega dapat menuntaskan banyak pekerjaan dan mengatasi persoalan. Aku bisa bernafas lega. Lalu, malamnya, masalah itu datang. Dan tiba-tiba kepalaku terasa berat dan yang kuinginkan hanya tidur. Aku bicara pada Tuhan. Dan entah berapa lama kemudian, aku terlelap. Pagi ini, kepalaku masih berat. Dan siapakah yang peduli. Tidak seorangpun. Dan aku harus belajar dan membiasakan diri untuk tidak mengharapkan orang lain datang menolong—mungkin mereka pun memiliki masalah sendiri. Tuhan yang akan melakukan itu. Barusan—sebelum aku menulis artikel ini—jika saja pertanyaanku di awal diganti menjadi “Bisa nggak sih sehari aja nggak ada oksigen?”. Dan setelah mengetik kalimat itu, terpikir pertanyaan lain lagi, “Bisa nggak sih sehari aja nggak ada karbondioksida?”. Laluuuuu, bisa nggak bisa nggak lainnya. Hehe.

Nyamuk Nakal

Menyusuri gang Kramat di Jakarta untuk menemui seorang teman. Di sepanjang jalan, aku mendapati banyak orang yang tidak kukenal, tetapi sekaligus begitu menyenangkanku—seperti pulang kampung. Penjaja kaki lima, warung tegal, penjual CD-DVD bajakan, pemuda yang kerjaannya nongkrong dan memerhatikan jalanan, jalannan yang basah dan air yang menggenang, deretan motor dan tukang ojeg yang menanti dengan harap sambil memikirkan “jika aku dapat uang, maka aku akan …”, udara yang lembab, deru kendaraan yang berpacu dengan jarum detik, dan dengan anak-anak kecil yang tidak terurus. Begitu bervariasi di dalam segala keberadaannya. Atau mungkin itu semacam galeri kehidupan nyata—yang lain, yang lain dari galeri kehidupan yang kutempuh dan tapaki di Serpong sini?

Dengan melihat pemandangan semacam itu, pikiranku seperti mendarat dan hatiku merasa nyaman. Inilah kehidupan nyata yang dapat kugapai dan tidak mengada-ada. Tidak ada lapis dan dusta. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada perlombaan, tidak ada hasrat. Cukup cita-cita, kebersamaan, dan beberapa tawa yang mampu menggelitik perasaan pendengar yang sedang galau, terus menceracau.

Namun, jarak pandangku dengan lukisan Kramat-nyata-bergerak itu masih jauh. Aku tidak nyemplung ke dalamnya. Tidak ada persentuhan, pengadukan, pergesekan, tabrakan, dan mungkin juga pemusingan. Lalu, aku pun mengambil jarak yang sama di galeri yang lain. Kupikir, aku akan melihat hal yang sama seperti yang ada pada galeri yang pertama. Tetapi aku malah melihat yang lain, yakni pengelabuan. Ada kelambu yang menyamarkan pemandangan, tetapi berhasil menghalangi nyamuk. Manakah yang lebih penting, pemandangan (orang) yang ada di balik luar kelambu atau orang yang ada di balik dalam kelambu? Atau malah nyamuk?

3 Wanita di Toilet

Kutarik jinku ke bawah. Bekasnya masih ada di situ, di paha sebelah kanan. Biru.

Bayangan seseorang di lantai mengalihkan perhatianku. Aku tidak bisa berlama-lama di ruang sempit ini, walau terkadang aku merasa lebih nyaman berada di dalamnya ketimbang di dalam kamarku yang ukurannya enam kali lebih luas.

Begitu aku keluar, dua wanita sedang mengantre. Orang pertama tampak wajar. Orang kedua tampak tertekan menunggu giliran. Usai memandang mereka, mataku beradu di cermin yang lebar. Hampir selebar toilet. Luas. Hingga rasa-rasanya sulit untuk menyembunyikan tingkah lakumu dari orang lain.

Aku memandang gambar di kaos-T-ku. Tidak ada yang istimewa di situ. Seuntai benang kusut mencuat dari balik kerah. Kusorongkan bahuku ke cermin agar aku dapat membaca detail persoalan benang itu: dari mana ia berasal dan apakah apa yang akan kulakukan akan mengundang bagian benang yang lain. Tangan kiriku menahan bagian kerah dekat benang, tangan kananku menarik benang—sedikit kupaksa. Berhasil. Kupelintir-pelintir benang itu, lalu kumasukkan ke dalam kantong belakang jinku. Aku urung membuang ke tong sampah karena di mulut tong tersangkut selembar tisu yang kurang enak dipandang. Aku berkaca lagi. Dari situ, aku dapat melihat orang pertama keluar dari toilet, dan orang kedua menggantikannya.

Sekarang aku bersebelahan dengan orang pertama. Aku mencuri-curi pandang melihat detail gambar di kaos-T-nya. Masih tidak ada yang istimewa. Tapi bekas luka baret di dekat tulang belikatnya menggodaku untuk bertanya. Tapi urung.

Orang pertama memandang wajahnya sendiri di cermin. Ketika ia merasakan ada seseorang sedang memperhatikan, ia mendelik ke arahku. Aku senyum saja, dan aku berusaha tampak biasa-biasa saja. Seperti tahu, orang pertama itu menggaruk pelan bekas luka baret itu, lalu menarik krah bajunya seperti hendak menutupi bekas luka itu. Tatapannya memancarkan ketidaknyamanan. Krah bajunya jatuh. Ditarik lagi. Jatuh lagi. Akhirnya ia jadi sebal sendiri dan bertanya, “Kenapa, Mbak?” Aku hanya melihatnya dengan tatapan bertanya, “Apanya yang kenapa?” Orang pertama pergi.

Aku berniat pergi juga karena tanganku sudah bersih dan rambutku juga sudah rapi. Ketika aku melangkah ke mesin pengering tangan di dekat pintu keluar, orang kedua keluar dengan wajah dan mungkin dengan perasaan lega. Ia tidak ke cermin. Tidak pula mencuci tangan. Ia hanya berlalu dengan senyum di muka. Seolah-olah hendak berkata, “Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku.” Tidak ada gambar di bagian belakang kaos-T-nya. Hanya samar senyumnya tertinggal di cermin.

Aku lantas memberi senyum pada diriku sendiri. Tak lama, aku sadar bahwa tinggal seorang aku di ruang itu. Dengan lampu kuning yang nyaman. Dengan aroma-terapi memenuhi ruangan. Dengan bekas kepentok meja di paha kiri. “Aduh.”

Jawaban atau Godaan

Baru saja menetapkan hati pada sesuatu hal—sesuatu hal itu adalah hal yang cukup rumit: susah-susah gampang—lalu datanglah reaksi yang sekaligus menguji keyakinan hati: apakah itu jawaban atau justru godaan. Kesulitan membedakan keduanya, membuatku kembali pada titik tengah alias bingung. Itu sering terjadi, terutama belakangan ini.

Uniknya, dari awal hingga akhir proses itu terjadi, aku melibatkan Yang Maha Berkuasa, sehingga pertanyaan-pertanyaan spontan (mungkin juga cukup menukik) kulontarkan pada-Nya. Aku sempat berpikir apakah Engkau sedang mempermainkan aku atau memang Engkau sedang menguji kesungguhan hatiku? Oleh karena Dia adalah Yang Maha Baik, aku yakin Dia tidak sedang mempermainkan aku. Lantas, Engkau sedang menguji kesungguhan hatiku. Baiklah. Aku mau bersungguh-sungguh. Tapi aku tidak mampu melakukannya sendirian. Aku butuh Engkau.

Pernah, aku berbicara (tidak dengan sikap berdoa pada umumnya) dengan Tuhan di suatu malam. Aku meminta 2 permintaan dengan hati yang entahlah apa namanya. Mungkin berserah, mungkin kalah, mungkin kosong, mungkin termangu (meminjam petikan puisi Chairil Anwar, Aku). Pagi, setelah sadar dari tidur, Tuhan menjawab kedua permintaan itu. Apa yang bisa aku katakan pada-Nya? Hanya bilang, Tuhan mendengar doa(-doa)ku. Tuhan menjawab doa(-doa)ku. “Terima kasih.”

Baru saja, sebentar ini, aku berdoa meminta pertolongan Tuhan mengenai sesuatu yang selama ini cukup mengganggu dan pada kondisi tertentu mampu mengusik ketenangan hidupku, dan bahkan menguasai perasaan batinku; tidak lama kemudian (kurang dari 5 menit), Tuhan menyodorkan sebuah pertanyaan “uji-an”. Dan aku, lagi-lagi, termangu dibuatnya.

Begitulah. Aku lebih banyak bicara pada Dia. Selain karena dia lebih bisa dipercaya, juga karena Dia memberikan jawaban bahkan melakukan sesuatu bagiku. Dan aku tidak perlu membicarakan orang lain alias bergosip. Terus terang, aku tidak begitu menyukai orang yang membicarakan orang lain tanpa melakukan sesuatu. Ketika aku melakukan hal itupun, aku tidak menyukai diriku. Ending-nya, Tuhan melakukan bagian-Nya di dalam hidupku. Aku juga mau melakukan bagianku. Aku tidak mau menjadi pendengar dan pendoa saja. Aku mau melakukan sesuatu. Kerjakan.” Tuhan akan memenuhi kebutuhanmu—bahkan sebelum Engkau (menyadari dan) memintanya.”

Selamat hari Minggu, Temans. Say good things each day dan every day!

~jago kandang~

Pernah liat anjing yang beraninya menyalak di dalem pagar majikannya? Atau yang menyalak luar biasa dekat majikannya saja seolah hendak mencari perhatian tuannya? Atau anjing yang tidak menyalak, tapi membusungkan dadanya—lagi-lagi di dekat kandang atau majikannya? Pernah? Gw belum. Hahahaaaa. Kalau ada anjing yang begitu, kasih tahu gw, ya. Tapi sebelumnya, pastikan dulu: itu anjing atau anjing-anjingan? Gw pengen kenalan aja. Anjing dengan tampang kya apa sih yang begitu itu.

Gw jadi inget seekor anjing luar biasa di dalam novel Of Mice and Man karya John Steinbeck. Anjing itu tidak menyalak, dan memang tidak sanggup menyalak lagi. Tapi ia menjalani fungsinya yang lain sebagai anjing: menemani majikannya yang tua. Dan anjing itu menikmati tugasnya itu. Anjing itu kemudian ditembak mati oleh teman sekamar si pemilik anjing dengan pistol (pistol yang diambilnya dari bawah bantal si pemilik anjing) secara tidak wajar karena alasan bahwa anjing itu sudah tua, tidak bisa menyalak, dan bau.

SEKOLAH PENJARA

1993. Huh, akhirnya aku bisa menulis dengan pulpen. Menulis dengan pensil seperti di kelas satu dan dua, sungguh-sungguh memuakkan. Setiap kali tulisan dihapus, bukuku jadi kotor. Kadang-kadang jadi berkerut bahkan sobek. Guru kelasku akan memarahiku. Padahal seharusnya dia mengajariku bagaimana caranya menghapus dengan baik agar bukuku tidak kotor atau sobek. Tapi yang jelas sekarang, aku sudah kelas tiga. Kelas baru, guru baru.

Sekolahku tidak baru. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini. Langit-langitnya dari tripleks. Tripleksnya sudah membusuk karena air hujan merembes dari atap yang bocor halus. Sewaktu-waktu tripleks itu bisa saja lepas lalu menimpa Ramli dan Beni. Bangku-meja sekolahku banyak yang sudah bolong-bolong. Masuk pertama usai libur caturwulan, kami harus mengusir kecoa dari dalam laci meja.

Ya, sekolahku tidak seperti sekolah Amel. Sekolahnya bagus. Saking bagusnya, aku enggan menginjakan kaki di atas ubin putih sekolahnya. Berdecak kagum ketika melongok ke dalam ruang kelas. Bangku-mejanya masih baru dan kokoh. Di dinding kelas ada peta Indonesia dan dunia. Menurut Amel sekolahku adalah sekolah buruk karena itulah letaknya jauh. “Hanya sekolah-sekolah buruk yang letaknya jauh. Dan hanya anak-anak bodoh yang bersekolah di sekolah yang buruk.” Dia mencibir lalu berlari dan berkelok di simpang menuju rumahnya. Sejak saat itu, aku malas bicara dengannya.

“Ratna!” Pekik seseorang. Aku kenal suara itu. Fajri. Dia satu-satunya kawan-laki-laki terdekatku. Rumahnya tidak jauh dari sekolah. Tapi mengapa dia datang di menit-menit terakhir? “Aku terlambat bangun. Semalam batuk ibuku kambuh.” Katanya.

“O.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Menurut ibuku, ibu Fajri mengidap penyakit parah. Sewaktu-waktu dia bisa meninggal. “Semoga lekas sembuh.”

“Ya. Semoga. Sudah mengerjakan PR?”

“Sudah. Memang kenapa?”

“Aku belum mengerjakannya. Semalam begitu melelahkan. Ayahku harus menjemput  Pak Munto ke rumahnya. Selama itu aku harus menjagai ibu.” Pak Munto itu dukun kampung. Rumahnya di tengah hutan. “Jadi, aku tidak sempat mengerjakan PR.” Dia berhenti sesaat, lalu melanjutkan perkataannya lagi. “Batuknya sepanjang malam. Sekalipun dia menyuruhku tidur, aku tidak bisa tidur. Batuknya mengganggu. Kasihan juga. Jadi, boleh kupinjam?”

“Tentu.” Kami berlari menuju sekolah. Pak Kari sedang memukul bel. Anak-anak berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Debu beterbangan di lapangan.

Di jam Bahasa Indonesia, Fajri mengerjakan PR. Maksudku, menyalin PR-ku ke PR-nya. Bu Yeni, guru kelas kami yang sedang menerangkan “kata sapaan”, mendekati Fajri. Aku tercekik. Aku ingin meng-shh-shh Fajri, tapi aku sudah membeku sebelum bisa melakukannya.

“Apa yang kau kerjakan?” Bu Yeni melipat tangan di dada. Matanya tajam seperti hendak mengiris-iris kepala Fajri. Bahkan tampak seperti hendak membentur-benturkan kepala Fajri ke meja.

Sejenak Fajri menengokku. Aku terkesiap. Aku tak bisa membantunya. Aku mau, tapi tidak bisa.

“Jangan celingak-celinguk. Jawab pertanyaan ibu. Apa yang kamu kerjakan?” Ruang kelas berubah jadi kuburan. Murid-murid adalah mayatnya, Bu Yeni setannya, Fajri korbannya.

“Ini, Bu.” Hanya itu yang bisa diucapkan Fajri. Bu Yeni tak puas. Dirampasnya dua buku tulis itu. Setelah menyimak isi buku, Bu Yeni lantas berkata, “Matematika. Matematika! Matematika?!” Dia mengulang-ulang dengan nada yang berbeda-beda dan menakutkan. “Kau tidak tahu sekarang pelajaran apa?!” Buku itu dicampakkannya ke wajah Fajri. Aku ingin membela, tapi aku takut. Tanganku meremas-remas sandaran bangku. Aku ingin berdiri dan menceritakan sebab Fajri tidak mengerjakan PR-nya. Tapi aku hanya bisa duduk dan melihat Fajri dihabisi Bu Yeni.

“PR siapa yang kamu salin?”

“Oh, tidak.” Pekikku dalam hati.

Bu Yeni melihat nama di sampul bukuku. “Ratna. Ratna? O, Ratna.” Bu Yeni berbalik dan menatapku yang sedang duduk menyerong untuk melihat Fajri di deretan belakang. “Jangan pernah meminjamkan PR-mu pada orang lain!” Rasanya Bu Yeni berteriak di telingaku. Bu Yeni melangkah ke arahku. “Sok pintar kamu.” Tuduh Bu Yeni.

“Ibunya sakit, Bu.” Aku bicara dengan keringat di sekujur tubuh. “Makanya dia tidak bisa mengerjakan PR.”

“Heh! Jangan menjawab! Yang sakit ibunya, kamu sok-sok-an jadi pahlawan. Heh?!” Buku itu dilemparkannya ke arahku. Karena lemparannya buruk, buku itu jatuh di kakiku. Bu Yeni tampak kecewa. Setelah kupungut buku tulisku, Bu Yeni memintanya kembali. Kuberikan dengan ragu-ragu. “Apa yang akan dilakukannya dengan buku tulisku?” Pikirku. Pletak! Bu Yeni memukul kepalaku dengan bukuku. Aku ingin menangis. Aku ingin berdiri dan memukul perutnya. Tapi melihat Fajri yang sedang berlinang air mata, aku menjadi kuat. Aku tidak boleh menangis. Aku harus menguatkan Fajri dengan tidak menangis.

“Simpan buku-buku kalian. Jangan keluarkan buku-buku yang tidak berhubungan dengan mata pelajaran yang sedang diterangkan.” Bu Yeni berdiri di sisi mejanya. “Heh, Fajri.” Katanya lagi. “Simpan air matamu itu buat yang lain.” Bu Yeni mengambil kapur dan melanjutkan pelajaran. Air mata Fajri kian menjadi, tapi dia tidak bersuara.

“Ya, Tuhan. Fajri, jangan menangis lagi. Kau membuatku sedih.” Kataku dalam hati. Duh, jangan-jangan dia ingat ibunya.

Sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia, Fajri hanya diam. Wajahnya menghadap ke papan tulis, tapi air matanya masih saja merembes dari sudut matanya. Dan dia tidak bersuara sedikitpun. Di jam istirahat, kuhampiri dia. Dia masih diam. Lalu kutanya apa dia baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja.” Katanya, lalu menarik ingus.

“Tapi air matamu masih keluar.”

“Aku tidak tahu mengapa dia mengalir terus. Itu bukan atas kehendakku.”

Kuajak dia jajan. Dia menggeleng. Karena menurutku, mungkin dia tidak punya uang, maka kutawarkan jajan gratis. “Aku traktir.” Dia menggeleng lagi. Aku menyerah. Kutinggalkan dia di kelas.

Besoknya, Fajri tidak masuk. Alfa. Lusa, dia tidak masuk juga. Alfa dua kali. Besoknya lagi, bangkunya kosong. Alfa tiga kali. Aku khawatir. Sepulang sekolah, aku mampir ke rumahnya. Aku bersyukur, ada Fajri di situ. Dia sedang duduk-duduk di bawah pohon jambu airnya.

“Fajri?”

“Ratna. Kenapa ke sini?” Katanya.

“Kenapa tidak sekolah?”

“Aku tidak akan sekolah lagi.”

“Ha? Apa?” Continue reading

Menunggu

Menunggu jam pulang. Menunggu tanggal gajian. Menunggu sampai di rumah. Menunggu bak penuh. Menunggu hujan. Menunggu matahari. Menunggu pagi. Menunggu malam. Menunggu siang segera berakhir. Menunggu waktu libur agar bisa memperbaiki laptop ke Jakarta. Menunggu tamu. Menunggu harga tiket pesawat turun. Menunggu apa yang akan disampaikan. Menunggu sempat mencuci pakaian sendiri. Menunggu ia punya waktu luang. Menunggu lagu buruk selesai. Menunggu film favorit tayang di bioskop. Menunggu tukang galon datang. Menunggu casan baterai penuh. Menunggu SMS. Menunggu proses selesai. Menunggu anak tangga terakhir tampak. Menunggu akhir perjalanan. Menunggu jawaban atas pertanyaan. Menunggu langit kembali cerah di mata. Menunggu tersenyum. Menunggu antrean di kasir. Menunggu layar dibuka. Menunggu bala bantuan. Menunggu doa dijawab. Menunggu pekikan selesai. Menunggu satu waktu agar tidak berakhir. Menunggu jujur pada diri sendiri. Menunggumu. Menunggu kepergianmu. Menunggu merindu. Menunggu pesanan datang. Menunggu tukang sampah datang. Menunggu angin berbalik arah. Menunggu laptop loading. Menunggu kapan ia mengedipkan mata. Menunggu rambut memanjang. Menunggu lagu itu dilagukan. Menunggu toko buka. Menunggu pembangunan. Menunggu kesungguhan. Menunggu baju baru. Menuggu kiriman. Menunggu hari tua. Menunggu motivasi. Menunggu ide. Menunggu inspirasi. Menunggu kesiapan. Menunggu apa lagi kemudian. Menunggu suara itu muncul lagi. Menunggu kawan. Menunggu pelayan. Menunggu hadirat. Menunggu mekar. Menunggu waktu. Menunggu momen yang tepat untuk menghabisi dan melahap. Menunggu ia selesai bicara. Menunggu diam. Menunggu lipatan. Menunggu di ruang tunggu. Menunggu ditunggu. Menunggu tungguan. Menunggu hari Minggu. Menunggu ia pun jemu.