Dear John —inspired by true story

Seperti biasa, dia duduk di pos satpam kantornya menungguku datang menjemputnya. Begitu aku terlihat dari kejauhan, ia duduk seperti salah tingkah. Tapi bukan salah tingkah! Agaknya ia sedang menahan antusiasmenya bertemu denganku. Atau mungkin, ia ingin agar aku segera ada di dekatnya agar ia bisa menceritakan kejadian menarik yang terjadi hari ini.

Begitu aku benar-benar dekat, ia bangkit dari duduk dan menyambutku dengan wajah yang merekah hangat. Senyum itu membuatku bisa melupakan kepenatanku. Di dalam senyum itu aku temukan ketulusan yang membuatku lupa apa yang terjadi di kantor. Apa yang terjadi di perjalanan. Apa yang terjadi di masa laluku.

“Hai, Bang John!” sambut Lulu. Ia selalu memanggilku begitu, Bang John. Selalu ada embel-embel “Bang”. Panggilan itu membuatku merasa lebih tua. Memang aku lebih tua beberapa tahun. Tetapi panggilan itu membuatku merasa aku tidak lebih dari sekadar “abang” baginya. Ditambah sikapnya yang kekanak-kanakan itu. Anehnya, ia manja begitu hanya denganku. Tidak dengan yang lain. Dan pikirku, dia adalah wanita dewasa, tetapi mengapa tidak terhadap aku?

“Udah lama?” tanyaku akhirnya.

“Wuh, dari tadi udah nungguin, Mas.” Sambar Pak Susno satpam kantor Lulu. “Sampe bosen tadi Mbaknya! Hampir aja dia pulang! Untung saya tahan!” katanya lagi berlagak serius.

“Nggak mungkin pulang duluan, Pak. Nyebrang jalan aja masih susah. Maju, mundur. Maju, mundur. Akhirnya nggak jadi-jadi.” Aku tertawa.

“Udah blom ngeledekinnya? Kalo enggak, gw pulang beneran nieh.”

“Ya udah yuk, pulang.” Kataku dengan tenang. “Mau makan dulu nggak?”

“Minum aja, Bang. Belom laper. Jus!”

“Okeh.” Aku melihat ke arah Pak Susno. “Pamit, Pak! Makasih, ya udah nahanin Lulu tadi.” Aku dan Pak Susno cekikikan. Lulu manyun.

Aku dan Lulu sudah lama berkenalan. Namun, perkenalan kami sejak 3 tahun yang lalu hanya sebuah perkenalan yang biasa. Tidak ada cerita-cerita selain “Hai, Bang John!”, “Selamat hari Minggu, Lu!”, atau “Apa kabar, Bang John?”,  “Ke mana aja, Lu? Kok nggak pernah keliatan lagi?”.

Kami bertemu di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran; berbeda departemen. Mungkin itu yang membuat perkenalan kami di tahun pertama hanya sebuah perkenalan biasa: jarang bertemu selain di ibadah awal minggu di aula kantor setiap Senin pagi. Itupun aku duduk dengan teman sedepartemen denganku. Demikian juga Lulu. Kalaupun ada acara jalan-jalan yang diadakan kantor, kami cenderung berkerumun dengan teman sesama departemen atau dengan teman satu jenis kelamin. Cowok, cowok. Cewek, cewek.

Di tahun kedua, Lulu pindah kerja. Aku tahu dia pindah setelah beberapa bulan. Sejak saat itu, pertemananku dengan Lulu hanya lewat facebook. Aku beberapa kali menuliskan sesuatu di wall-nya. Tetapi jarang sekali dibalas. Mungkin dia sibuk. Kami SMS-an. Tapi sangat jarang. Dalam setahun, mungkin hanya 5 SMS. Dan itu pun bukan SMS yang penting. Beberapa kali aku meng-SMS-nya, tetapi malah tidak terkirim. Nomornya sudah tidak aktif. “Bagaimana kami bisa menjadi dekat seperti sekarang, aku juga kurang tahu. Dan entah dari mana awalnya,” pikirku di dalam perjalanan menuju warung makan.

“Bang?” Lulu menyenggolkan lengannya ke lenganku. “Bengong aja! Mikirin apa?”

“Aku takut berpikir yang macam-macam. Dia suka padaku, misalnya.” Aku tersenyum.

“Eh, ditanyain malah senyum-senyum. Lagi jatuh cinta, yaaaa?” Lulu meledekku dengan wajahnya yang tak henti-hentinya ceria. Betul-betul membuatku semangat! Siapa sebenarnya Lulu ini? Mengapa Tuhan mempertemukan kami kembali? Dan mengapa setelah 3 tahun setelah aku lupa padanya?

“Abang?! Tadi senyum-senyum. Sekarang ngelamun. Kenapa, Bang?”

“Enggak, lagi mikir aja.”

“Mikir apa?”

“Dari mana aku harus memulainya, Lu. Hidupku memiliki cerita yang panjang. Dan kamu pasti tidak akan menyangka bahwa aku sekarang adalah aku dari masa laluku.”

“Di kantor lancar, Bang?”

“Lancar. Bukan itu, Lu. Gw lagi mikir aja … hidup gw ajaib.”

“Oh, ya?” Lulu tampak antusias. Aku tahu dia akan bilang apa selanjutnya: ayo, cerita, Bang!

“Cerita dong, Bang. Tapi tahan dulu. Ntar di jus ceritanya, ya ….”

Lulu selalu senang mendengarkan cerita-ceritaku. Tentang bosku, teman-temanku, keponakanku, kakakku, teman di gerejaku, kegiatanku seharian, buku yang sedang kubaca, atau film yang baru kami tonton. Dia selalu senang mendengarkanku berkisah. Dan ia tekun mendengarkanku. Tidak ada protes selain, “Trus, trus …?” Begitu antusias. Dia seperti malaikat di dalam hidupku. Singgah ke kantornya di daerah Kramat dari kantorku di daerah Semanggi, sungguh bukan sebuah persoalan. Aku senang melakukannya. Aku bersyukur rumah kami searah.

Aku memesan jus avokad, Lulu memesan jus mangga.

Awalnya, kami bercerita tentang hal-hal yang biasa. Kemacetan. Keringat yang bau. Tubuh-tubuh yang penat. Debu jalanan. Waktu yang berjalan cepat. Keinginan Lulu untuk pulang. Ya, dia anak rantau. Sendirian di kota Jakarta. Tapi ia tidak merasa kesepian. Ia memiliki banyak teman di sini. She’s an angel. Semua orang ingin berteman dengan seorang malaikat!

“Kata siapa, Bang? Kadang-kadang gw juga merasa kesepian.”

“Ah, masa’?”

Dia selalu ceria. Dia selalu tekun mendengarkan ceritaku yang panjang dan mungkin membosankan. Dia memberiku semangat untuk menjalani hidup. Ketika tidak ada pilihan atau ketika aku harus memilih di antara pilihan yang semuanya yang terbaik atau bahkan sama sekali tidak baik, ia memberiku pertimbangan yang matang sehingga aku memilih dan mampu menjalani setiap konsekuensi. Pekerjaanku saat ini misalnya. Aku hanya pegawai rendahan. Jabatanku lebih rendah daripada pekerjaanku yang sebelumnya. Gajiku otomatis lebih kecil. Tetapi feedback yang kudapatkan: aku merasa lebih nyaman, terjamin, dan memiliki rekan kerja yang sehati. Perusahaan kami maju pesat dalam setahun. Aku naik jabatan dan gajiku otomatis naik. Namun, betul setahun pertama aku bekerja di sini, rasanya sebuah penyiksaan panjang. Namun Lulu, malaikat ini memberiku dukungan.

“Gw kan manusia biasa, Bang. Gw pernah merasa kesepian seperti setiap orang di dunia ini. Kalau ada yang bilang dia nggak pernah kesepian, berarti dia pembohong besar!”

Lihat, dia mengatakan dia pernah kesepian pun dengan penuh keyakinan. Dia tidak malu mengakui itu. Tapi aku lantas jadi penasaran. Lalu aku bertanya, “Mungkin hidup lu nggak seperti hidup gw.”

“Oh, ya? Tell me ….” Ia mengatur posisi duduknya, bersiap-siap mendengarkan kisahku.

Aku pernah lari dari rumah setelah mendaratkan kepalan tanganku di pelipis bapakku. Waktu itu umurku baru 17 tahun. Ketika aku merasa mulai menjadi seorang laki-laki. Bapakku melarangku pergi dengan seorang gadis manis—ia manis bagiku. Dan memang dia manis. Menurut Bapakku, belum waktunya bagiku untuk terlalu sering berduaan dengannya. Dan memang, aku sudah keluar dari track. Benar-benar melampaui batas. Untung dia tidak hamil. Dan gadis itu tidak meminta pertanggungan jawab. Tapi gadis itu berubah drastis. Ia menjadi pendiam dan kasar. Aku pernah bilang, aku akan menunggunya selesai kuliah dan tetap akan menikahinya. Tetapi ia memilih bersama laki-laki lain yang mau menerimanya apa adanya dan mampu menghidupinya dengan lebih dari cukup. Namun, aku tahu, dia tersiksa di dalam rumah besar itu. Aku? Aku belum memiliki apa-apa selain nyali yang berlebihan sekaligus merugikan. Dia membuangku.

Lulu tidak lagi berkata “Trus trus?”. Lulu hanya diam dengan tatapan mata yang biasa-biasa saja. Tapi di situ terbaca: silakan lanjutkan ceritamu, Bang.

Aku tidak lagi dianggap di dalam keluargaku. Tidak seorang pun lagi memandangku sebagai anak yang pantas diperjuangkan. Orangtuaku tidak mau membiayaiku kuliah karena adikku lebih pantas mendapatkan sekolah yang layak—karena adikku memang lebih baik ketimbang aku. Aku tidak sakit hati padanya. Tapi aku sakit hati, bahkan dendam terhadap kehidupanku sendiri. Aku tidak tahu siapa yang harus aku persalahkan!

Aku harus bekerja sendiri untuk membiayai hidupku. Tapi untunglah tanteku—yang tidak menikah—bersedia menyekolahkanku, dengan syarat aku tidak boleh pacaran sampai aku lulus kuliah dan bekerja. Di tahun ketiga aku kuliah, ayahku meninggal. Beberapa bulan kemudian, ibuku meninggal. Aku tidak ada di samping mereka saat itu. Aku tinggal bersama tanteku. Tapi kata adikku, Bapak mencariku. Ia berpesan agar aku meninggalkan hidupku yang gelap.

“Begitulah, Lu. Hidup gw nggak mudah. Kalau gw ceritain semuanya, bagaimana konflik di tengah-tengah keluarga besar gw, jelas semalam aja nggak akan cukup. Sekarang, malah adik gw yang cewek yang kabur sama cowoknya. Kalau gw nasihatin, dia malah mengungkit masa lalu gw. Pusing!” Aku menyeruput jusku. “Minggu depan tante gw pindah ke rumah yang lebih kecil untuk menghemat pengeluaran. Dia butuh uang untuk biaya kontrakan dan ongkos pindahan. Dia butuh uang 2,3 juta. Dia cuma punya 1 juta. Gw bisa bantu sisanya. Dan sabtu ini gw harus nyicil barang-barang. Masukkin ke dus. Mencari truk. Mencari pembeli. Banyaklah.” Aku menghela nafas. “Tante gw udah menua. 56 tahun. Mungkin karena dulu dia sering ke bar, dia sakit-sakitan sekarang. Dia harus check up sekali sebulan. Suntik dan obat. Sekali suntik 300ribu.” Aku tertawa. “That’s my life!” aku menyeruput jusku hingga habis. “Mau makan?”

“Belum laper, Bang. Abang udah laper?”

“Belom sih.”

Kami diam sesaat. Mungkin Lulu sedang berusaha merangkai kata-kata yang tepat dan sopan untuk menanggapi ceritaku agar aku tidak terseinggung.

Keep smiling, Bang!”

“Iya. Harus!”

“Kok kyanya terpaksa gitu. Maksud gw, apa yang terjadi di masa lalu abang itu kan pilihan abang. Sekarang abang sedang menjalani konsekuensinya.”

“Tapi gw udah berubah, Lu.”

“Iya, abangku. Abang udah berubah. Gw bisa liat kok. Abang baik. Cute lagi.” kata-katanya hampir bikin aku terbahak dan mencubit pipinya. “Tapi konsekuensi tetep harus ditanggung. Dan abang menjalaninya dengan baik. Abang hidup—kalau kata bapak abang: hidup di dunia gelap—sejak abang umur 17 tahun. Tarolah 15 tahun sampe abang kuliah. Berarti berapa tahun tuh?”

“Yaaa, tarolah 9 tahun.”

“Nah, abang bikin Tuhan sebel itu udah 9 tahun. Konsekuensi yang abang jalanin baru berapa tahun?”

“Hm.”

“Tarolah 5 tahun. Itu kalau mau hitung-hitungannya. Tapi lihat deh, Tuhan menyertai abang. Bikin abang kuat menghadapi segala konsekuensi atas perbuatan abang. Lain lagi ceritanya kalau abang nggak berubah. Konsekuensi tetep jalan, tapi abang nggak akan sanggup menanggungnya. Konsekuensi hanya akan jadi penderitaan panjang karena abang menganggap konsekuensi itu sebuah hukuman. Tapi sekarang, konsekuensi itu adalah pelajaran berharga!”

Aku hanya terdiam. Mungkinkah itu alasan Tuhan mempertemukan kita, Lu? Dan mungkin, ketika konsekuensi itu sudah selesai, Lulu juga harus pergi: bagian dari sebuah konsekuensi?!

“Bang? Kok mukanya sedih gitu sih? Omongan gw salah, ya?”

“Bukan. Bukan omongan lu, Lu. Omongan lu bener.”

“Trus? Nancep, ya? Sorry, Bang.”

“Bukan. Kata-kata lu bener. Nancep, iya. Tapi bener. Dan gw seneng. Pikiran gw jadi terbuka. Tapi, tadi gw mikir gini, kalau lu suatu saat harus pergi, kita berpisah gitu maksud gw, itu akan jadi konsekuensi dari perbuatan di masa lalu gw, rasanya nggak adil!”

“Ya, mungkin itu bagian dari konsekuensi. Tapi, gw nggak kepikiran ninggalin tuh, Bang. Gw nggak punya alasan untuk ninggalin abang.”

“Setelah lu dengar cerita gw tadi?” Lu mau, jika suatu saat gw mau lu jadi cewek gw? Hh, jangan-jangan dia tenang begitu, itu karena dia menganggap gw hanya sebagai “abang”. Bodohnya gw!

“Itu kan masa lalu, Bang. Abang kan udah, bahkan sedang menjalani konsekuensinya. So what? Itu nggak akan mengubah pandangan gw ke abang: gw menjauh ato apalah. Gw kan bukan orang suci, Bang. Tuhan aja yang Maha Suci mau deketin abang. Bantuin malah.”

“Lulu …. Lu tau nggak sih, You are such an angel!”

“Hahaaa …! Lebay deh ah …. Tapi makasih, Bang. Makan yuk!”

“Gw traktir, ya!”

“Lho? Ultahnya masih lama kan, Bang?”

“Traktiran kan nggak mesti pas ultah. Gw pengen traktir aja.”

“Hm?” Wajah Lulu bertanya mengapa.

“Karena gw seneng menjalani konsekuensi ini.”

“Gw aja yang traktir, Bang.”

“Kenapa?”

“Minggu depan gw balik ke Kalimantan. Ibu lagi sakit.”

“Sakit apa?”

“Lever.”

Aku terdiam. Aku seperti takut ditinggalkan. Tetapi, bukankah Lulu juga takut ditinggalkan oleh ibunya? Demikian pula ibunya? Hh, aku tidak boleh egois. “Berapa lama, Lu?”

“Hm, Sampe Ibu sembuh. Doain, yaa ….”

Aku terdiam sejenak. “Ya. Kantor udah tahu?”

“Udah, Bang. Kantor sih kasih waktu paling lama seminggu. Lebih dari itu, gw dianggap mengundurkan diri. Tapi kalau gw mau kerja di situ lagi, pintu terbuka lebar.”

“Lulu. Kenapa nggak cerita?”

“Bukannya nggak mau cerita. Mm, blom dapet waktu yang tepat aja, Bang.” Lulu menatapku penuh arti. Tidak ada kesuraman di dalam pancaran matanya. “Ini juga bagian dari konsekuensi hidup gw, Bang. Gw akan cerita begitu gw balik dari Kalimantan. Okeh? So, wait for me.” Lulu nyengir.

“Hm.” ••iratampubolon

3 thoughts on “Dear John —inspired by true story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s