Teguran

cfc668bd-c0fe-4314-8beb-943cbf065635-1360x2040Salah satu metode yang digunakan di dalam pembelajaran adalah diskusi. Kemarin, di kelas saya, diskusi berjalan dengan cukup hangat. Salah satu siswa mencoba menjawab pertanyaan dengan cukup baik. Cukup baik dengan pengertian jawabannya berpotensi benar. Lalu, saya meminta siswa ybs untuk mengulangi jawabannya. Ia kaget karena dia lupa apa jawabannya barusan. Singkat kata, dia tidak dapat mengulangi jawabannya. Saya minta siswa lain untuk mengulangi jawaban temannya tadi; mereka juga tidak dapat mengulangi jawaban temannya tersebut. Saya cukup gigih mengincar jawaban yang tadi karena memang soal tergolong sulit dan akan sangat dramatis jika mereka berhasil mendapatkan jawabannya melalui diskusi kelas. Sayangnya, ia tidak menggunakan kesadarannya ketika ia berkata-kata sehingga dalam waktu sekejap, ia lupa apa yang baru saja dikatakannya!

Salah satu alasan siswa lupa, menurut mereka saat itu, adalah mereka merasa takut bahwa diminta mengulangi jawaban berarti jawaban mereka salah. Saya tercekat: kok bisa mereka berpikir begitu? Lalu, mereka teruskan jawaban mereka: nanti ternyata jawaban kami salah (lalu teman-teman jadi tahu: merasa malu). Nanti Miss akan bilang kok begini, kok begitu jawabanmu? Sudah dipikirkan belum sebelum menjawab? dsb dll. Lalu saya sampaikan kepada mereka (juga kepada diri saya sendiri): Pertama, ini masih kelas diskusi, kelas dalam proses belajar. Salah tidak jadi masalah. Kalau di ujian, kita salah, itu baru jadi masalah (untuk nilai rapotmu). Kedua, ini soal kualitas mental bahwa ketika saya meminta mereka mengulangi jawabannya itu dengan niat positif, namun entah bagaimana mereka mencurigai saya bahwa saya akan mempermalukan mereka. Lagipula, kalaupun kita memang melakukan kesalahan lalu ditegur atau dinyatakan salah, ya tentu tidaklah menjadi soal. Tentu hal yang sebaiknya kita lakukana dalah “menerima saja”. Jadilah manusia yang lapang hati dan tegar!

Kualitas karakter kanak-kanak, kalau melakukan kesalahan dan dikatakan salah untuk kemudian ditegur, ia akan menciut dan menghindari situasi-situasi yang berpotensi (menurutnya) mempermalukannya di depan umum/orang lain. Akibatnya, ia akan mandek bahkan gagal berkembang. Kualitas karakter dewasa, kalau melakukan kesalahan, ia bersedia menerima teguran dan berikutnya, ia akan memaksimalkan dirinya agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Kalaupun terjadi, ia akan lapang hati menerima bahwa ia manusia yang sedang terus belajar.

Komitmen

tumblr_lxcioiAyso1qjf359o1_500Sulitnya anak muda zaman sekarang diajak berkomitmen. Tentu ada banyak sekali faktor yang membuat situasi ini muncul. Zaman. Teknologi. Latar belakang keluarga dan bagaimana mereka dibesarkan. Masa lalu yang pahit. Kejelimetan pergesekan kepentingan dan silang pendapat. Apapun itu. Saya hanya tak habis pikir. Mungkin saya terlalu curiga atau bahkan sedang ada di posisi yang berseberangan dengan anak muda zaman sekarang. Sebelum saya melihat dengan kacamata anak muda zaman sekarang, saya akan jelaskan dulu apa yang saya lihat dan alami sebagai saya yang ada di posisi saya sekarang.

Saya seorang guru. Ada saat-saat di mana saya dan beberapa siswa berkumpul bersama untuk menge-golkan sebuah keinginan. Awalnya ide itu muncul dari percakapan biasa siswa-siswa dan saya di lorong. Lalu saya seriuskan ide tersebut. Saya bermaksud menjadi wadah bagi aspirasi mereka. Ada ruang, ada tempat, dan ada guru. Itu cukup untuk mengeluarkan jawaban “silakan” oleh pihak sekolah agar kami boleh menggunakan ruangan musik untuk latihan di luar jam sekolah. Latihan pertama, semua hadir. Lalu latihan berikutnya, hilang satu-satu. Betul setiap siswa yang tidak hadir itu memiliki alasan masing-masing. Semua orang yang tidak komit memiliki alasan dan banyak cadangan alasan untuk tidak memenuhi harapan bersama. Tulisan ini bukanlah sebuah “ujung telunjuk yang mengarah kepada mereka”, namun sebuah “telapak tangan yang mengurut dada” dan “jemari yang mengurut kening kepala” karena ini terjadi tidak kali ini saja dan tidak di sekolah tempat saya bekerja saja. Di banyak tempat dan di banyak waktu, ini kerap terjadi.

Lalu, saya coba mundur selangkah untuk dapat melihat gambaran yang lebih luas. Rupanya, itu tidak hanya terjadi di kalangan anak muda, tetapi di berbagai kalangan, dan di mana saja.

Saya duduk.

Arus zaman begitu kuat! Apakah kita sudah terbawa gelombang era yang gila ini? Komitmen (berpegang teguh pada integritas) ikut terbawa laju zaman dan hilang entah ke mana sampai-sampai terasa bahwa komitmen itu telah menjadi gangguan, membebani, menyusahkan, dan telah menjadi penghalang; lalu tanpa kita sadari—atau kita telah kehilangan kesadaran, kita telah mengucapkan “selamat tinggal” pada komitmen.

Ketika memberi menjadi ….

Bagi sebagian orang, memberi bantuan itu adalah sebuah keharusan. Bagi yang lainnya, memberi bantuan itu adalah sebuah panggilan. Jika Anda adalah salah satu orang penganut “memberi adalah sebuah panggilan”, maka Anda akan merasakan apa yang akan saya bagikan di sini.

Ketika “memberi” telah menjadi “panggilan”, maka anda akan mengalami kesulitan untuk tidak memberi. Terkadang, ketika seseorang itu begitu tidak baik dan rasanya orang itu tidak pantas untuk menerima bantuan, hati kita akan gelisah karena “memberi” itu “memanggil-manggil” untuk dilakukan. Ketika orang tipe ini menolak untuk memenuhi panggilannya; betapa kerasnya hatinya–lebih keras dari hati orang yang “memberi bantuan sebagai sebuah keharusan”.

Waspada aja.

Headphones

20170129_092243Saya ingat, saya bisa beli dan memiliki sendiri headphones seperti ini dan sebagus ini waktu masih menjadi mahasiswa tahun pertama. Ingatan akan headphones ini membawa saya pada deretan nostalogia semasa kuliah. Walkman. Buku. Kopi. Menulis dan diskusi. Asyik sekali. Kala itu belum ada hal-hal lain yang menjadi wajib untuk saya pikirkan selain tentang kuliah saya dan kehidupan pribadi saya.

Sekarang, 13 tahun kemudian, headphones ini masih ada dan tergolong awet. Masih saya gunakan dan masih bersedia untuk memperdengarkan lagu-lagu manis di telinga. Realitas bahwa sekarang saya tidak lagi boleh memikirkan tentang diri saya sendiri saja akan menjadi lebih ringan dan asyik untuk dijalani jika dilakukan sambil menikmati manisnya kehidupan ini–bagaimanapun itu.

Pamor Uang

Uang bukanlah segalanya. Jangan sampai manusia diperhamba oleh uang; kitalah yang harus menjadi tuan atas uang karena manusialah yang memiliki uang, bukan uang yang memiliki manusia.

Pernyataan di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dan kita (saya) yakin bahwa kita berjuang untuk mewujudkan hal tersebut.

Terpikir, ini gagasan sekilas saya saja, bahwa uang atau hal-hal yang berkaitan dengan uang, telah menjadi topik utama dan topik besar pembicaraan sehari-hari. “Alamak, harga cabai naik drastis; Duh, baju itu mahal sekali; OMG di FO itu lagi diskon 50%+20%, beli beliii!; Saya mau cicil rumah, jadi harus ngehemat; pulsa di konter situ mahal 1000 perak, mending beli di konter yang sebelah sana; Wah, tarif listrik naik lagi; POM macet lagi, padahal bayarnya muahal; Pinjem motor ya, ntar bensinnya gw isi penuh deh!; Vermak jins kalau potong saja 15 ribu; Beli 5 gratis 1; dan seterusnya, dan seterusnya.

Memang, akan setiap hari kita membicarakan uang ataupun yang berkaitan dengan seputaran uang. Jelas, itu tidak salah sama sekali. Hanya kepikiran saja: uang (telah) lebih populer daripada Tuhan?

TIGA SERANGKAI

orangtua-bertanya-guru-130905bOrangtua, anak-siswa, dan orangtua: ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak boleh berbenturan apalagi dibenturkan. Ketiganya harus saling memahami fungsinya dan tujuannya.

Orangtua, anak/siswa, dan orang tua: tentulah kita langsung paham bahwa “target”nya adalah anak/siswa karena memang merekalah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga membutuhkan bimbingan dan teladan dari orang yang memang seharusnya memberikan hal tersebut.

Namun, fakta di lapangan, agaknya mengherankan saya—setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan cerita-cerita dari beberapa teman seprofesi dengan saya: guru. Terkadang, anak dimasukkan ke sekolah karena orangtua berharap guru dapat melakukan semua pen-didik-an yang harus anaknya terima. Dengan demikian, orangtua tidak lagi mengemban tanggung jawab (yang mungkin mereka rasa sebagai beban). Semua tanggang jawab orangtua sudah dilimpahkan kepada guru. Harapannya, ketika anaknya pulang dari sekolah, anak tersebut sudah berbeda alias menjadi seperti yang mereka idam-idamkan, seperti yang mereka impi-impikan. Apalagi ketika anaknya lulus sekolah, wah, harapan itu semakin tinggi dan harapan itu bagi mereka sudah seharusnya mereka terima—mengingat pula mereka sudah membayar uang sekolah yang sangat mahal dan semakin mahal sekarang-sekarang ini. Mungkin hal ini terjadi karena ada pengaruh ekonomi: orangtua semakin giat mencari uang karena tingkat kebutuhan ekonomi dan gaya hidup sekarang ini terus melonjak dan meningkat. Ketika mereka sibuk sekali bekerja, mereka sudah kehabisan waktu dan ketika ada waktu, mereka sudah lelah untuk melakukan bagian mereka dalam mendidik anak mereka. Dengan demikian, tanggung jawab yang mereka harus lakukan terhadap anak mereka dilimpahkan sepenuhnya kepada guru dengan alasan: saya sudah bayar uang sekolah mahal-mahal—uang yang mahal itu saya dapatkan dari kerja keras yang sangat menyusahkan. Ah, padahal, mereka tidak perlu juga sih untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah yang super mahal—kalau memang tidak mampu-mampu amat (ini ada hubungannya dengan karakter—ingat Mamon di Matius 6:24). Mengapa? Ada banyak sekolah yang tidak begitu mahal—memang tidak pula murah banget—yang mutunya tidak kalah dengan sekolah yang mahal-mahal amat itu.

Demikian pula dengan guru. Menurut saya, guru pun perlu mengevalusasi diri. Fungsinya adalah untuk mencuci dan menyegarkan kembali panggilannya sebagai guru yang tugasnya mulia. Selain itu, terkadang guru juga perlu belajar komunikasi terbuka dan belajar berinteraksi dengan wibawa seorang guru. “Kasarnya” begini, guru harus berani mengungkapkan hal-hal yang terjadi di lapangan secara terbuka kepada orangtua ataupun siswa. Jangan malah bicara di belakang, jangan malah menggerutu di belakang dan menyebarkan aura negative kepada yang lain, jangan pula malah disimpan sendiri sehingga persoalan yang seharusnya mudah untuk diselesaikan malah tidak selesai. Tahu-tahu beberapa bulan atau tahun kemudian, masalah tersebut muncul lagi secara mendadak dan semakin sulit untuk diselesaikan.Parahnya lagi, guru yang bersangkutan resign. Repot!

Guru juga harus mampu berinteraksi secara terbuka dan penuh wibawa. Bukan berarti kaku, yaaa…. Maksud saya adalah ketika guru harus berhadapan dengan berbagai karakter orang tua (dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang berbeda, bahkan dengan motivasi yang kita tidak tahu), guru harus siap dan tetap tenang menghadapinya. Dengan satu motivasi, bahwa orang tua adalah partner kerja kita di dalam mendidik anak. So, jangan takut. Lagipula wajar juga sih kalau ada orang tua yang datang ke sekolah atau harus diundang ke sekolah untuk berdiskusi (bahkan untuk meluapkan kemarahannya) kepada sekolah/guru tertentu. Terimalah mereka dengan senang hati. Dengarkanlah mereka dengan sabar. Setelah mereka selesai bicara, barulah buka mulut untuk berdiskusi baik-baik. Ingat, guru adalah guru. Siapapun yang akan dihadapi, guru adalah guru. Artinya, ketika guru harus berhadapan dengan orangtua siswa, itu berarti guru sedang menghadapi murid juga: murid yang padanya kita belajar bersabar. Ini bukanlah sebuah sindiran. Ini seriusan.

Anak pun harus memahami siapa dirinya: murid. Artinya, dia sedang membutuhkan didikan dan memang harus diajar. Anak/ssiwa harus mau diajar, harus rendah hati, dan mau taat melakukan bagiannya sebagai murid. Anak harus paham bahwa guru dan orangtua memiliki porsi yang sama sebagai otoritas yang bertanggung jawab mendidik dan membesarkannya. Sayangnya, kadang-kadang, ada anak yang memanfaatkan latar belakang keluarganya untuk mengintimidasi guru dengan bilang, “Awas lho, nanti saya laporkan ke pengacara keluarga saya!” Kadang-kadang ada anak yang memprovokasi guru atau orangtuanya sendiri untuk membuat suasana semakin panas. Kadang-kadang, ada juga anak yang takut mengungkapkan pikiran dan perasaannya karena tekanan tertentu. Anak adalah murid yang harus bertumbuh—mau tidak mau, mereka harus bertumbuh dan akan tetap bertumbuh. Namun, bagaimana proses yang ia alami akan menentukan bentuk tumbuhnya.

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today. -Stacia Tauscher

Believers Characters

the-passion-of-the-christ

Mother Theresa once said: “If we are busy to hate people, we do not have time to love people.

I would expand that into this:

If we are busy talking about other people, busy arranging and planning our personal ambitions, busy thinking about ourselves, busy planning our dreams and justifying compromises we take to make them come true, THEN we will have no time to love other people personally, we will have no time to build our community, we will have no time to think of our common interest—for our good —we will have no time to build and realize our vision.

None of us is here now in … (your workplace) by accident. I believe we each have our own story about why we are here. I have my own story. And I believe that you have your own story in which God has led you until you are all here, together. Remember: TOGETHER! I meet Pak This and I will work together with him. I meet Pak That, so I will work together with him. I meet Miss This and Miss That, to work together with them, and so on.

Each of us is here to fulfill God’s purpose for us on this earth: to fulfill His Kingdom on this earth, and on this small earth: … (your workplace). With all the weaknesses of the place where we are now, God is forming our character, shaping our hearts and minds.

Proverbs 27:17 says: As iron sharpens iron, so one man sharpens another (NIV).

So, according to Proverbs 27:17, we all here to sharpen each other. No matter what!

Sharpening means to make sharper, more mature, be better, finding our best form that we should get, that is sharp. What for? To be able to cut everything that needs to be cut: broken branch and broken leaves so that new branches can grow and bear fruits.

Sharpening does not mean undermining others and/or magnifying ourselves. Sharpening is not criticizing blindly to hurt other people’s feelings deliberately. Sharpening here can indeed be a PROCESS. Which means we will feel uncomfortable, a PROCESS is not a “good” condition. But the ultimate goal is for the common good. One of the PROCESSES is man sharpens man. So, A sharpens B and B sharpens A. Not: A sharpens B, and then after B becomes sharp, B stabs A from behind. This is clearly not the work of God’s disciples. It is the job of the evil one. Be aware of this, guys.

1 Corinthians 13:13 says: And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love (NIV). Love means character. Three characteristics of a good disciple who has love are having a humble heart, being teachable (not being sarcastic), and being obedient and faithful.

Luke 6:49 says: But the one who hears my words and does not put them into practice is like a man who built a house on the ground without a foundation. The moment the torrent struck that house, it collapsed and its destruction was complete.” (NIV)

God is our teacher. We all the students (BE HUMBLE). If all heard God’s word (TEACHABLE), but if we do not put God’s Word into practise (FAITHFULNESS), so we are like a man who built a house (this school) on the ground without a foundation.

Sometimes, an admirer only be a mere admirer. He/she does not become someone who he/she admired. For example: I really admire Ahok. He is assertive, true, and brave. But I myself am not like him (meaning his character). A true admirer is supposed to imitate the object of their admiration. So, when I admire Ahok, then I should try to be like him. When I was fourteen, I loved and admired the band The Moffatts. When I loved them, I tried to be like them. So, when I admire Jesus, I should strive to be like Jesus. Clearly, not to be like Jesus who die on the cross to redeem our sins, but to be like Jesus in His character: willing to empty Himself for humanity’s sins. When Jesus emptied himself, he abandoned his prestige, was not concerned with self-interest, and did not feel insulted when people insulted Him because of His righteousness. He, Jesus, remained calm, prayed, and remained righteousness. He focused on doing His part of His mission and it was finished when finally He said in John 19:30 (NIV): It is finished.

2 Timothy 4:7-8 says “I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith. Now there is in store for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will award to me on that day—and not only to me, but also to all who have longed for his appearing.”

I hope, when at last, we are called by God, we would and could say: Oh, Lord, it is finished. I have completed my task here on earth. I have fulfilled my highest calling.

Friends, wherever God has put us: at work here, in our home, in church, and even on the street, at the mall, and elsewhere, may we live our lives as a blessing wherever we are. Just focus on your part in fulfilling God’s promises. Stop focusing on personal ambition. Stop justifying anything and everything to get higher positions; stop trying so hard to collect treasures and money (Mamon), fame, honor and adulation from humankind, all of which are just temporary. Let’s start focusing on God’s glory and righteousness.

Mother Theresa once said: “If we are busy to hate people, we do not have time to love people. I conclude and close this morning devotion with this: If we are busy loving ourselves, we will have no time to love our God, Jesus Christ!

*Editor: Joshua Frear