Nagari Balik Bukit

Layaknya seutas tali membentang dari ujung tempat matahari terbit hingga ke sana tempat matahari tenggelam, bukit itu telah jadi pagar kampungku dengan istana di balik bukit—demikian kata orang-orang kampung. Aku dan teman-teman sebayaku suka sekali pergi mengunjungi istana di balik bukit itu. Orang tua kami akan berteriak menyambar tatkala kami ketahuan sembunyi-sembunyi mendaki bukit. Namun, semakin kuat suara orang tua kami memanggil-manggil kami untuk kembali, semakin kami mempercepat langkah untuk berjalan miring menerobos lorong sempit sampai akhirnya berhasil menembus bukit. Di sana kami dihidangkan dengan pemandangan yang berbeda dari kampung kami. Kampung kami sulit air sehingga pohon tak begitu banyak. Tanaman hijau tak berumur panjang dan bunga warna-warni cukup jarang. Di istana balik bukit ini, sawah-sawah membentang luas. Pohon pisang, pohon jambu, dan pohon damar tumbuh di mana-mana, bahkan selalu berbuah pada musimnya. Bunga ungu, kuning, dan merah muda menghiasi perbukitan ini. Indah sekali.

Siapa yang tidak tergoda untuk selalu mengunjungi tempat ini. Kecuali ketika umurku bertambah, tubuhku semakin besar, sampai akhirnya aku tidak muat lagi melewati lorong sempit bukit. Jika ada istana sebegini indah di balik bukit kampungku, ada apa lagikah jauh di balik bukit demi bukit itu?

***

Subuh-subuh aku sudah dibangunkan Ayah. Awalnya kupingku panas mendengar suaranya. Namun, kali ini, sebelum Ayah bangun pun, aku sudah siap ke sumur! Aku ingin bertemu Rusmanizar. Sayangnya, kalau Ayah mendapati suara cekikikan tertahannya Rusmanizar karena leluconku, maka tidak lama kemudian terdengar suara Ayah dari kejauhan seperti mencari-cari. Tapi aku tahu, dia memanggil namaku bukan untuk mencari, tapi untuk menyuruhku segera pulang. Kalau kutanya mengapa aku harus cepat-cepat pulang? Ayah hanya akan menjawab: tak baik anak laki-laki dan perawan berduaan saja. Lama-lama, bisa digoda setan.

Benar saja. Tak lama kudengar namaku dipanggil dari kejauhan. “Ujang!”

Eh. Itu bukan suara Ayah. Bukan pula Bundo. Siapa gerangan pemilik suara itu?

“Jang!” Teriak orang itu lagi.

“Eh, Galado?! Itu sungguh kau? Kapan kau tiba? Kota sudah mengubah kau rupanya…. Aku hampir tak mengenalimu! Wajahmu terlihat lebih hitam memang, tapi kau terlihat lebih kuat. Kau agak gemuk sekarang. Bajumu juga bagus sekali.” Aku berpaling pada Rusmanizar. “Rusmanizar, masih ingat dengan Galado? Kawan lama kita. Tujuh tahun merantau, ingat pulang juga dia.” Kataku bersemangat. Rusmanizar mengulum-ulum senyumnya. Pipinya memerah.

Kami duduk bertiga di pematang dekat sumur. Betapa aku sangat merindukan kawan lamaku ini. Kawan karib. Kawan berlari-lari ke balik bukit.

“Ceritakanlah padaku dunia luar sana, Galado!” Kataku antusias. Aku memang benar-benar ingin tahu dunia luar. Aku ingin seperti dulu, lari ke balik bukit melihat istana bunian—padahal tak ada bunian di sana. Aku ingin ke negeri orang. Ingin melihat istana di seberang laut sana. Kalau boleh melihat-lihat anak gadis orang juga. Haha. Tapi tak akan kuduakan Rusmanizar.” Rusmanizar yang sedari tadi duduk diam mendengarkan percakapan kami, akhirnya tergelak juga. “Ah, uda ….” Katanya manja.

“Dunia mana, Jang. Dunia ini cuma satu, Kawan.”

“Iya iya. Aku sudah paham bahwa dunia satu adanya. Tapi aku tak tahu dunia di balik pagar bukit nan tinggi menjulang ini, Galado. Aku ingin benar-benar menyeberang dengan kapal atau menumpang bus menuju kota dekat matahari terbit.” Tiba-tiba suasana senyap. Aku kemudian sadar kalau mata kaki kananku miring karena terbentur batu sungai sebelas tahun lalu, ketika aku lulus SD. Dengan kondisi seperti ini, aku dapat pergi ke mana?

“Ah. Aku lupa kalau kakiku seperti ini.” Kataku sedih.

“Suatu saat pasti bisa. Yang kita perlukan adalah kemauan. Jalan pasti Tuhan siapkan, Jang.” Galado sangat yakin dengan perkataannya. Matanya berbinar-binar seperti melihat masa depan yang cerah dengan jelas. Aku terbawa oleh antusiasmenya.

Galado menceritakan ragam orang di kota. Banyak mobil dan sepeda motor. Bahkan sepedapun sudah beragam bentuk dan rupa. Rumah, besar-besar. Jalan-jalan diaspal mulus. Lampu malam berwarna-warni. Pernah pula dia bersua dengan bule. Mereka sering ke kampung-kampung dan dijuluki bule kampung atau diledek bule miskin. Kami tertawa. Namun, mengenai bule, aku tak tertarik sama sekali. Galado cerita pula tentang toko-toko dan gedung-gedung bertingkat. Ada banyak jenis kue-kue dengan beragam rasa dan bentuk-bentuk yang unik. Bahasa-bahasa yang bagi telingaku asing dan aneh juga tersedia. Fangki. Gue.

Di tengah perjalanan kami pulang, Rusmanizar pamit kembali ke rumahnya karena Bundonya pasti sudah menunggu. Dan entah mengapa, kali ini, cerita Galado berhasil mengalihkan perhatianku dari Rusmanizar.

Kuajak Galado main ke rumahku sekalian kupertemukan dengan orang tuaku.

“Siapa, Jang?” Teriak Ayah dari balik jendela. Di situ ada lubang dinding kayu yang bolong dan kemudian digunakan sebagai lubang pengintipan.

“Galado, Yah. Kawan lama Ujang.”

“Galado Pembawa Bencana?” Ledek Ayah.

“Ini Galado Pembawa Rezeki, Yah. Dia baru datang dari Jawa.”

“Alah! Banyak kato kau, Jang.”

Mendengar itu, Galado berhenti melangkah dan mohon pamit. “Sudahlah, Jang. Aku pulang saja.”

“Jangan masukkan ke hati kata-kata Ayahku.”

“Jang, orang-orang hanya melihat bahwa aku ini pergi merantau di saat Ibuku sedang membutuhkanku sebagai pengganti Ayahku yang meninggal. Dan dua tahun aku di perantauan, adikku yang paling kecil meninggal pula. Aku tidak bisa pulang karena aku terikat kontrak kerja dengan pengusaha di Jawa. Jang, dengan uang yang ada di kantongku, memang aku tidak bisa menghidupkan Ayahku ataupun adikku kembali. Tentu ada penyesalan di hatiku. Tapi apakah hidup dalam penyesalan itu berguna? Sekarang, Ibuku senang dengan kepulanganku. Bahkan ia berulang-ulang mengatakan bahwa Ibu dan Adikku tidak pernah mengutuki kepergian dan ketidakpulanganku pada waktu itu. Aku masih punya adik satu lagi. Mohamad. Ibuku, alhamdullillah, masih hidup dan sehat.” Galado terdiam untuk memastikan apakah aku mengerti segala perkataannya. “Jang, aku merasa tidak perlu menjelaskan semua ini kepada orang-orang kampung. Lihat sajalah tanahnya. Kering dan gersang. Tanaman sulit tumbuh. Ternak kekurangan gizi. Aku menolak tinggal di tempat yang membuatku menjadi orang yang terpuruk. Jadi aku pergi. Aku pergi bukan dengan kemarahan, tetapi dengan janji di hati: suatu saat, aku akan membangun kampungku. Tapi tampaknya, kampung ini sudah menolakku lebih dulu, bahkan atas kejadian yang sudah 7 atau 8 tahun lalu. Jadi, Jang, saat ini, aku sekalian pamit padamu. Aku, Ibuku dan Adikku akan aku bawa serta ke Jawa. Di sana aku sudah punya rumah. Kecil. Tapi aku rasa itu cukup untuk kami bertiga. Maafkan aku kalau aku ada salah padamu, Jang.” Galado menarik napas. “Jang, dengan kondisi kakimu itu pun, kau bisa menjadi Ujang yang terbaik. Pikirkanlah. Semoga kita bertemu lagi, Jang!”

Setelah menepuk pundakku, Galado berlalu dengan langkah yakin. Aku tergidik.

***

Beberapa bulan telah berlalu. Aku teringat dengan perkataan Galado. Kubuka mataku lebar-lebar dan kuperhatikan tanah kelahiranku. Betul kata Galado. Di sini kering. Apalagi Rusmanizar akan “diberikan” kepada orang lain. Hidupku semakin tandus. Yah, orang tua mana yang mau menyerahkan dan mempercayakan anak gadisnya kepada laki-laki dengan cacat kaki sepertiku ini.

Hidupku sekarang tak jauh-jauh dari menggembalakan tiga ekor kambing, mengisi 2 drum air di belakang rumah, dan memandikan ayam kesayangan Ayah. Usiaku sudah hampir 23 tahun. Mau bagaimana ini aku?

“Ah, Ujang. Lama nian di sumur!”

“Memangnya ada apa, Bundo?” Aku bergegas berdiri.

“Ayah menunggu di kaki bukit.”

“Kaki bukit?” Bukit di kampung ini hanya satu. Apa aku tidak salah dengar Ayah ada di situ?

“Bergegaslah, Jang. Tampaknya sudah lama Ayah menunggu. Bawalah nasi ini. Sebentar lagi matahari sudah berdiri di atas ubun-ubun.”

Sepanjang jalan aku memutar otak. Seumur-umur, baru kali ini Ayah mengajakku bertemu di bukit. Dan itu adalah bukit tempat aku, Galado, Rusmanizar, dan Siti main-main. Siti sudah menikah beberapa tahun lalu. Adiknya Siti memiliki kemiripan dengan Rusmanizar. Mungkin suatu saat, aku akan berjodoh dengannya.

Aku mengambil langkah seribu hingga sampailah aku di kaki bukit. Aku dapat melihat Ayah. Sesekali aku hendak menegur sebelum benar-benar sampai, tapi tak pernah jadi. Punggungnya melengkung ke depan. Beberapa lembar rumput tersangkut di bajunya. Di pinggangnya ada sabit. Aku langsung saja duduk di sisinya.

“Yah…”

“Apa yang kau bawa itu?”

“Nasi. Bundo yang suruh bawa tadi. Lapar, Yah?”

“Mari kita makan.” Katanya tanpa basa-basi.

Dalam makan, kami banyak diam. Kadang-kadang terdengar suara helaan napas Ayah yang begitu panjang. Ketika itulah aku berusaha mengucapkan sesuatu: masakan Bundo selalu enak ya, Yah. Atau: tambah, Yah? Setelah itu, tak lama, sunyi lagi. Hanya suara ranting bergesekan atau suara angin mendesis mengisi kesenyapan di antara kami.

“Jang,” kata Ayah menyudahi makannya. “Nanti,” matanya menjurus jauh ke kaki langit seolah tak mengacuhkan wajahku yang bingung. “Nanti…, kalau kau sudah di negeri seberang, jangan lupa kampung halaman, ya, Nak?”

“Maksud, Ayah?”

“Sudah saatnya kau pergi merantau. Benar kata Galado.” Ayah menarik napas lagi. “Mungkin kecintaan Ayah yang buta akan kampung kita ini telah membuat Ayah salah menilai Galado. Namun, Ayah harus pakai ini,” kata Ayah sambil menunjuk kepalanya, “… untuk bisa jernih melihat.” Ayah menatapku tajam. “Jika kau memang ingin merantau dan berani pergi dengan kondisi kakimu yang seperti itu, Ayah merestuimu, Jang. Asal, kembalilah. Bangunlah kampung kita yang kering ini. Yang gersang ini. Jangan sampai kampung ini semakin kosong karena kampung ini menolak kita. Dan jika kau bertemu Galado di Jawa, sampaikan maaf Ayah padanya.” Tentu meminta maaf itu bukan perkara yang mudah bagi seorang laki-laki dewasa. Apalagi maaf kepada anak ingusan. Namun, Ayah melakukannya. Dan dia telah melakukan sesuatu yang benar.

Ayah bangkit dari duduknya. Ia melangkah menjauh dengan keyakinan dan kesiapan hati untuk ditinggal pergi oleh anak satu-satunya. Dan aku, berdiri di antara bukit dan Ayah. Ooh! Aku merasa baru saja keluar dari penjara!

[2005 – 2017]

***

Advertisements

Teguran

cfc668bd-c0fe-4314-8beb-943cbf065635-1360x2040Salah satu metode yang digunakan di dalam pembelajaran adalah diskusi. Kemarin, di kelas saya, diskusi berjalan dengan cukup hangat. Salah satu siswa mencoba menjawab pertanyaan dengan cukup baik. Cukup baik dengan pengertian jawabannya berpotensi benar. Lalu, saya meminta siswa ybs untuk mengulangi jawabannya. Ia kaget karena dia lupa apa jawabannya barusan. Singkat kata, dia tidak dapat mengulangi jawabannya. Saya minta siswa lain untuk mengulangi jawaban temannya tadi; mereka juga tidak dapat mengulangi jawaban temannya tersebut. Saya cukup gigih mengincar jawaban yang tadi karena memang soal tergolong sulit dan akan sangat dramatis jika mereka berhasil mendapatkan jawabannya melalui diskusi kelas. Sayangnya, ia tidak menggunakan kesadarannya ketika ia berkata-kata sehingga dalam waktu sekejap, ia lupa apa yang baru saja dikatakannya!

Salah satu alasan siswa lupa, menurut mereka saat itu, adalah mereka merasa takut bahwa diminta mengulangi jawaban berarti jawaban mereka salah. Saya tercekat: kok bisa mereka berpikir begitu? Lalu, mereka teruskan jawaban mereka: nanti ternyata jawaban kami salah (lalu teman-teman jadi tahu: merasa malu). Nanti Miss akan bilang kok begini, kok begitu jawabanmu? Sudah dipikirkan belum sebelum menjawab? dsb dll. Lalu saya sampaikan kepada mereka (juga kepada diri saya sendiri): Pertama, ini masih kelas diskusi, kelas dalam proses belajar. Salah tidak jadi masalah. Kalau di ujian, kita salah, itu baru jadi masalah (untuk nilai rapotmu). Kedua, ini soal kualitas mental bahwa ketika saya meminta mereka mengulangi jawabannya itu dengan niat positif, namun entah bagaimana mereka mencurigai saya bahwa saya akan mempermalukan mereka. Lagipula, kalaupun kita memang melakukan kesalahan lalu ditegur atau dinyatakan salah, ya tentu tidaklah menjadi soal. Tentu hal yang sebaiknya kita lakukana dalah “menerima saja”. Jadilah manusia yang lapang hati dan tegar!

Kualitas karakter kanak-kanak, kalau melakukan kesalahan dan dikatakan salah untuk kemudian ditegur, ia akan menciut dan menghindari situasi-situasi yang berpotensi (menurutnya) mempermalukannya di depan umum/orang lain. Akibatnya, ia akan mandek bahkan gagal berkembang. Kualitas karakter dewasa, kalau melakukan kesalahan, ia bersedia menerima teguran dan berikutnya, ia akan memaksimalkan dirinya agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Kalaupun terjadi, ia akan lapang hati menerima bahwa ia manusia yang sedang terus belajar.

Komitmen

tumblr_lxcioiAyso1qjf359o1_500Sulitnya anak muda zaman sekarang diajak berkomitmen. Tentu ada banyak sekali faktor yang membuat situasi ini muncul. Zaman. Teknologi. Latar belakang keluarga dan bagaimana mereka dibesarkan. Masa lalu yang pahit. Kejelimetan pergesekan kepentingan dan silang pendapat. Apapun itu. Saya hanya tak habis pikir. Mungkin saya terlalu curiga atau bahkan sedang ada di posisi yang berseberangan dengan anak muda zaman sekarang. Sebelum saya melihat dengan kacamata anak muda zaman sekarang, saya akan jelaskan dulu apa yang saya lihat dan alami sebagai saya yang ada di posisi saya sekarang.

Saya seorang guru. Ada saat-saat di mana saya dan beberapa siswa berkumpul bersama untuk menge-golkan sebuah keinginan. Awalnya ide itu muncul dari percakapan biasa siswa-siswa dan saya di lorong. Lalu saya seriuskan ide tersebut. Saya bermaksud menjadi wadah bagi aspirasi mereka. Ada ruang, ada tempat, dan ada guru. Itu cukup untuk mengeluarkan jawaban “silakan” oleh pihak sekolah agar kami boleh menggunakan ruangan musik untuk latihan di luar jam sekolah. Latihan pertama, semua hadir. Lalu latihan berikutnya, hilang satu-satu. Betul setiap siswa yang tidak hadir itu memiliki alasan masing-masing. Semua orang yang tidak komit memiliki alasan dan banyak cadangan alasan untuk tidak memenuhi harapan bersama. Tulisan ini bukanlah sebuah “ujung telunjuk yang mengarah kepada mereka”, namun sebuah “telapak tangan yang mengurut dada” dan “jemari yang mengurut kening kepala” karena ini terjadi tidak kali ini saja dan tidak di sekolah tempat saya bekerja saja. Di banyak tempat dan di banyak waktu, ini kerap terjadi.

Lalu, saya coba mundur selangkah untuk dapat melihat gambaran yang lebih luas. Rupanya, itu tidak hanya terjadi di kalangan anak muda, tetapi di berbagai kalangan, dan di mana saja.

Saya duduk.

Arus zaman begitu kuat! Apakah kita sudah terbawa gelombang era yang gila ini? Komitmen (berpegang teguh pada integritas) ikut terbawa laju zaman dan hilang entah ke mana sampai-sampai terasa bahwa komitmen itu telah menjadi gangguan, membebani, menyusahkan, dan telah menjadi penghalang; lalu tanpa kita sadari—atau kita telah kehilangan kesadaran, kita telah mengucapkan “selamat tinggal” pada komitmen.

Ketika memberi menjadi ….

Bagi sebagian orang, memberi bantuan itu adalah sebuah keharusan. Bagi yang lainnya, memberi bantuan itu adalah sebuah panggilan. Jika Anda adalah salah satu orang penganut “memberi adalah sebuah panggilan”, maka Anda akan merasakan apa yang akan saya bagikan di sini.

Ketika “memberi” telah menjadi “panggilan”, maka anda akan mengalami kesulitan untuk tidak memberi. Terkadang, ketika seseorang itu begitu tidak baik dan rasanya orang itu tidak pantas untuk menerima bantuan, hati kita akan gelisah karena “memberi” itu “memanggil-manggil” untuk dilakukan. Ketika orang tipe ini menolak untuk memenuhi panggilannya; betapa kerasnya hatinya–lebih keras dari hati orang yang “memberi bantuan sebagai sebuah keharusan”.

Waspada aja.

Headphones

20170129_092243Saya ingat, saya bisa beli dan memiliki sendiri headphones seperti ini dan sebagus ini waktu masih menjadi mahasiswa tahun pertama. Ingatan akan headphones ini membawa saya pada deretan nostalogia semasa kuliah. Walkman. Buku. Kopi. Menulis dan diskusi. Asyik sekali. Kala itu belum ada hal-hal lain yang menjadi wajib untuk saya pikirkan selain tentang kuliah saya dan kehidupan pribadi saya.

Sekarang, 13 tahun kemudian, headphones ini masih ada dan tergolong awet. Masih saya gunakan dan masih bersedia untuk memperdengarkan lagu-lagu manis di telinga. Realitas bahwa sekarang saya tidak lagi boleh memikirkan tentang diri saya sendiri saja akan menjadi lebih ringan dan asyik untuk dijalani jika dilakukan sambil menikmati manisnya kehidupan ini–bagaimanapun itu.

Pamor Uang

Uang bukanlah segalanya. Jangan sampai manusia diperhamba oleh uang; kitalah yang harus menjadi tuan atas uang karena manusialah yang memiliki uang, bukan uang yang memiliki manusia.

Pernyataan di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dan kita (saya) yakin bahwa kita berjuang untuk mewujudkan hal tersebut.

Terpikir, ini gagasan sekilas saya saja, bahwa uang atau hal-hal yang berkaitan dengan uang, telah menjadi topik utama dan topik besar pembicaraan sehari-hari. “Alamak, harga cabai naik drastis; Duh, baju itu mahal sekali; OMG di FO itu lagi diskon 50%+20%, beli beliii!; Saya mau cicil rumah, jadi harus ngehemat; pulsa di konter situ mahal 1000 perak, mending beli di konter yang sebelah sana; Wah, tarif listrik naik lagi; POM macet lagi, padahal bayarnya muahal; Pinjem motor ya, ntar bensinnya gw isi penuh deh!; Vermak jins kalau potong saja 15 ribu; Beli 5 gratis 1; dan seterusnya, dan seterusnya.

Memang, akan setiap hari kita membicarakan uang ataupun yang berkaitan dengan seputaran uang. Jelas, itu tidak salah sama sekali. Hanya kepikiran saja: uang (telah) lebih populer daripada Tuhan?

TIGA SERANGKAI

orangtua-bertanya-guru-130905bOrangtua, anak-siswa, dan orangtua: ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak boleh berbenturan apalagi dibenturkan. Ketiganya harus saling memahami fungsinya dan tujuannya.

Orangtua, anak/siswa, dan orang tua: tentulah kita langsung paham bahwa “target”nya adalah anak/siswa karena memang merekalah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga membutuhkan bimbingan dan teladan dari orang yang memang seharusnya memberikan hal tersebut.

Namun, fakta di lapangan, agaknya mengherankan saya—setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan cerita-cerita dari beberapa teman seprofesi dengan saya: guru. Terkadang, anak dimasukkan ke sekolah karena orangtua berharap guru dapat melakukan semua pen-didik-an yang harus anaknya terima. Dengan demikian, orangtua tidak lagi mengemban tanggung jawab (yang mungkin mereka rasa sebagai beban). Semua tanggang jawab orangtua sudah dilimpahkan kepada guru. Harapannya, ketika anaknya pulang dari sekolah, anak tersebut sudah berbeda alias menjadi seperti yang mereka idam-idamkan, seperti yang mereka impi-impikan. Apalagi ketika anaknya lulus sekolah, wah, harapan itu semakin tinggi dan harapan itu bagi mereka sudah seharusnya mereka terima—mengingat pula mereka sudah membayar uang sekolah yang sangat mahal dan semakin mahal sekarang-sekarang ini. Mungkin hal ini terjadi karena ada pengaruh ekonomi: orangtua semakin giat mencari uang karena tingkat kebutuhan ekonomi dan gaya hidup sekarang ini terus melonjak dan meningkat. Ketika mereka sibuk sekali bekerja, mereka sudah kehabisan waktu dan ketika ada waktu, mereka sudah lelah untuk melakukan bagian mereka dalam mendidik anak mereka. Dengan demikian, tanggung jawab yang mereka harus lakukan terhadap anak mereka dilimpahkan sepenuhnya kepada guru dengan alasan: saya sudah bayar uang sekolah mahal-mahal—uang yang mahal itu saya dapatkan dari kerja keras yang sangat menyusahkan. Ah, padahal, mereka tidak perlu juga sih untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah yang super mahal—kalau memang tidak mampu-mampu amat (ini ada hubungannya dengan karakter—ingat Mamon di Matius 6:24). Mengapa? Ada banyak sekolah yang tidak begitu mahal—memang tidak pula murah banget—yang mutunya tidak kalah dengan sekolah yang mahal-mahal amat itu.

Demikian pula dengan guru. Menurut saya, guru pun perlu mengevalusasi diri. Fungsinya adalah untuk mencuci dan menyegarkan kembali panggilannya sebagai guru yang tugasnya mulia. Selain itu, terkadang guru juga perlu belajar komunikasi terbuka dan belajar berinteraksi dengan wibawa seorang guru. “Kasarnya” begini, guru harus berani mengungkapkan hal-hal yang terjadi di lapangan secara terbuka kepada orangtua ataupun siswa. Jangan malah bicara di belakang, jangan malah menggerutu di belakang dan menyebarkan aura negative kepada yang lain, jangan pula malah disimpan sendiri sehingga persoalan yang seharusnya mudah untuk diselesaikan malah tidak selesai. Tahu-tahu beberapa bulan atau tahun kemudian, masalah tersebut muncul lagi secara mendadak dan semakin sulit untuk diselesaikan.Parahnya lagi, guru yang bersangkutan resign. Repot!

Guru juga harus mampu berinteraksi secara terbuka dan penuh wibawa. Bukan berarti kaku, yaaa…. Maksud saya adalah ketika guru harus berhadapan dengan berbagai karakter orang tua (dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang berbeda, bahkan dengan motivasi yang kita tidak tahu), guru harus siap dan tetap tenang menghadapinya. Dengan satu motivasi, bahwa orang tua adalah partner kerja kita di dalam mendidik anak. So, jangan takut. Lagipula wajar juga sih kalau ada orang tua yang datang ke sekolah atau harus diundang ke sekolah untuk berdiskusi (bahkan untuk meluapkan kemarahannya) kepada sekolah/guru tertentu. Terimalah mereka dengan senang hati. Dengarkanlah mereka dengan sabar. Setelah mereka selesai bicara, barulah buka mulut untuk berdiskusi baik-baik. Ingat, guru adalah guru. Siapapun yang akan dihadapi, guru adalah guru. Artinya, ketika guru harus berhadapan dengan orangtua siswa, itu berarti guru sedang menghadapi murid juga: murid yang padanya kita belajar bersabar. Ini bukanlah sebuah sindiran. Ini seriusan.

Anak pun harus memahami siapa dirinya: murid. Artinya, dia sedang membutuhkan didikan dan memang harus diajar. Anak/ssiwa harus mau diajar, harus rendah hati, dan mau taat melakukan bagiannya sebagai murid. Anak harus paham bahwa guru dan orangtua memiliki porsi yang sama sebagai otoritas yang bertanggung jawab mendidik dan membesarkannya. Sayangnya, kadang-kadang, ada anak yang memanfaatkan latar belakang keluarganya untuk mengintimidasi guru dengan bilang, “Awas lho, nanti saya laporkan ke pengacara keluarga saya!” Kadang-kadang ada anak yang memprovokasi guru atau orangtuanya sendiri untuk membuat suasana semakin panas. Kadang-kadang, ada juga anak yang takut mengungkapkan pikiran dan perasaannya karena tekanan tertentu. Anak adalah murid yang harus bertumbuh—mau tidak mau, mereka harus bertumbuh dan akan tetap bertumbuh. Namun, bagaimana proses yang ia alami akan menentukan bentuk tumbuhnya.

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today. -Stacia Tauscher