Headphones

20170129_092243Saya ingat, saya bisa beli dan memiliki sendiri headphones seperti ini dan sebagus ini waktu masih menjadi mahasiswa tahun pertama. Ingatan akan headphones ini membawa saya pada deretan nostalogia semasa kuliah. Walkman. Buku. Kopi. Menulis dan diskusi. Asyik sekali. Kala itu belum ada hal-hal lain yang menjadi wajib untuk saya pikirkan selain tentang kuliah saya dan kehidupan pribadi saya.

Sekarang, 13 tahun kemudian, headphones ini masih ada dan tergolong awet. Masih saya gunakan dan masih bersedia untuk memperdengarkan lagu-lagu manis di telinga. Realitas bahwa sekarang saya tidak lagi boleh memikirkan tentang diri saya sendiri saja akan menjadi lebih ringan dan asyik untuk dijalani jika dilakukan sambil menikmati manisnya kehidupan ini–bagaimanapun itu.

Pamor Uang

Uang bukanlah segalanya. Jangan sampai manusia diperhamba oleh uang; kitalah yang harus menjadi tuan atas uang karena manusialah yang memiliki uang, bukan uang yang memiliki manusia.

Pernyataan di atas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dan kita (saya) yakin bahwa kita berjuang untuk mewujudkan hal tersebut.

Terpikir, ini gagasan sekilas saya saja, bahwa uang atau hal-hal yang berkaitan dengan uang, telah menjadi topik utama dan topik besar pembicaraan sehari-hari. “Alamak, harga cabai naik drastis; Duh, baju itu mahal sekali; OMG di FO itu lagi diskon 50%+20%, beli beliii!; Saya mau cicil rumah, jadi harus ngehemat; pulsa di konter situ mahal 1000 perak, mending beli di konter yang sebelah sana; Wah, tarif listrik naik lagi; POM macet lagi, padahal bayarnya muahal; Pinjem motor ya, ntar bensinnya gw isi penuh deh!; Vermak jins kalau potong saja 15 ribu; Beli 5 gratis 1; dan seterusnya, dan seterusnya.

Memang, akan setiap hari kita membicarakan uang ataupun yang berkaitan dengan seputaran uang. Jelas, itu tidak salah sama sekali. Hanya kepikiran saja: uang (telah) lebih populer daripada Tuhan?

TIGA SERANGKAI

orangtua-bertanya-guru-130905bOrangtua, anak-siswa, dan orangtua: ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak boleh berbenturan apalagi dibenturkan. Ketiganya harus saling memahami fungsinya dan tujuannya.

Orangtua, anak/siswa, dan orang tua: tentulah kita langsung paham bahwa “target”nya adalah anak/siswa karena memang merekalah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga membutuhkan bimbingan dan teladan dari orang yang memang seharusnya memberikan hal tersebut.

Namun, fakta di lapangan, agaknya mengherankan saya—setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan cerita-cerita dari beberapa teman seprofesi dengan saya: guru. Terkadang, anak dimasukkan ke sekolah karena orangtua berharap guru dapat melakukan semua pen-didik-an yang harus anaknya terima. Dengan demikian, orangtua tidak lagi mengemban tanggung jawab (yang mungkin mereka rasa sebagai beban). Semua tanggang jawab orangtua sudah dilimpahkan kepada guru. Harapannya, ketika anaknya pulang dari sekolah, anak tersebut sudah berbeda alias menjadi seperti yang mereka idam-idamkan, seperti yang mereka impi-impikan. Apalagi ketika anaknya lulus sekolah, wah, harapan itu semakin tinggi dan harapan itu bagi mereka sudah seharusnya mereka terima—mengingat pula mereka sudah membayar uang sekolah yang sangat mahal dan semakin mahal sekarang-sekarang ini. Mungkin hal ini terjadi karena ada pengaruh ekonomi: orangtua semakin giat mencari uang karena tingkat kebutuhan ekonomi dan gaya hidup sekarang ini terus melonjak dan meningkat. Ketika mereka sibuk sekali bekerja, mereka sudah kehabisan waktu dan ketika ada waktu, mereka sudah lelah untuk melakukan bagian mereka dalam mendidik anak mereka. Dengan demikian, tanggung jawab yang mereka harus lakukan terhadap anak mereka dilimpahkan sepenuhnya kepada guru dengan alasan: saya sudah bayar uang sekolah mahal-mahal—uang yang mahal itu saya dapatkan dari kerja keras yang sangat menyusahkan. Ah, padahal, mereka tidak perlu juga sih untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah yang super mahal—kalau memang tidak mampu-mampu amat (ini ada hubungannya dengan karakter—ingat Mamon di Matius 6:24). Mengapa? Ada banyak sekolah yang tidak begitu mahal—memang tidak pula murah banget—yang mutunya tidak kalah dengan sekolah yang mahal-mahal amat itu.

Demikian pula dengan guru. Menurut saya, guru pun perlu mengevalusasi diri. Fungsinya adalah untuk mencuci dan menyegarkan kembali panggilannya sebagai guru yang tugasnya mulia. Selain itu, terkadang guru juga perlu belajar komunikasi terbuka dan belajar berinteraksi dengan wibawa seorang guru. “Kasarnya” begini, guru harus berani mengungkapkan hal-hal yang terjadi di lapangan secara terbuka kepada orangtua ataupun siswa. Jangan malah bicara di belakang, jangan malah menggerutu di belakang dan menyebarkan aura negative kepada yang lain, jangan pula malah disimpan sendiri sehingga persoalan yang seharusnya mudah untuk diselesaikan malah tidak selesai. Tahu-tahu beberapa bulan atau tahun kemudian, masalah tersebut muncul lagi secara mendadak dan semakin sulit untuk diselesaikan.Parahnya lagi, guru yang bersangkutan resign. Repot!

Guru juga harus mampu berinteraksi secara terbuka dan penuh wibawa. Bukan berarti kaku, yaaa…. Maksud saya adalah ketika guru harus berhadapan dengan berbagai karakter orang tua (dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang berbeda, bahkan dengan motivasi yang kita tidak tahu), guru harus siap dan tetap tenang menghadapinya. Dengan satu motivasi, bahwa orang tua adalah partner kerja kita di dalam mendidik anak. So, jangan takut. Lagipula wajar juga sih kalau ada orang tua yang datang ke sekolah atau harus diundang ke sekolah untuk berdiskusi (bahkan untuk meluapkan kemarahannya) kepada sekolah/guru tertentu. Terimalah mereka dengan senang hati. Dengarkanlah mereka dengan sabar. Setelah mereka selesai bicara, barulah buka mulut untuk berdiskusi baik-baik. Ingat, guru adalah guru. Siapapun yang akan dihadapi, guru adalah guru. Artinya, ketika guru harus berhadapan dengan orangtua siswa, itu berarti guru sedang menghadapi murid juga: murid yang padanya kita belajar bersabar. Ini bukanlah sebuah sindiran. Ini seriusan.

Anak pun harus memahami siapa dirinya: murid. Artinya, dia sedang membutuhkan didikan dan memang harus diajar. Anak/ssiwa harus mau diajar, harus rendah hati, dan mau taat melakukan bagiannya sebagai murid. Anak harus paham bahwa guru dan orangtua memiliki porsi yang sama sebagai otoritas yang bertanggung jawab mendidik dan membesarkannya. Sayangnya, kadang-kadang, ada anak yang memanfaatkan latar belakang keluarganya untuk mengintimidasi guru dengan bilang, “Awas lho, nanti saya laporkan ke pengacara keluarga saya!” Kadang-kadang ada anak yang memprovokasi guru atau orangtuanya sendiri untuk membuat suasana semakin panas. Kadang-kadang, ada juga anak yang takut mengungkapkan pikiran dan perasaannya karena tekanan tertentu. Anak adalah murid yang harus bertumbuh—mau tidak mau, mereka harus bertumbuh dan akan tetap bertumbuh. Namun, bagaimana proses yang ia alami akan menentukan bentuk tumbuhnya.

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today. -Stacia Tauscher

Believers Characters

the-passion-of-the-christ

Mother Theresa once said: “If we are busy to hate people, we do not have time to love people.

I would expand that into this:

If we are busy talking about other people, busy arranging and planning our personal ambitions, busy thinking about ourselves, busy planning our dreams and justifying compromises we take to make them come true, THEN we will have no time to love other people personally, we will have no time to build our community, we will have no time to think of our common interest—for our good —we will have no time to build and realize our vision.

None of us is here now in … (your workplace) by accident. I believe we each have our own story about why we are here. I have my own story. And I believe that you have your own story in which God has led you until you are all here, together. Remember: TOGETHER! I meet Pak This and I will work together with him. I meet Pak That, so I will work together with him. I meet Miss This and Miss That, to work together with them, and so on.

Each of us is here to fulfill God’s purpose for us on this earth: to fulfill His Kingdom on this earth, and on this small earth: … (your workplace). With all the weaknesses of the place where we are now, God is forming our character, shaping our hearts and minds.

Proverbs 27:17 says: As iron sharpens iron, so one man sharpens another (NIV).

So, according to Proverbs 27:17, we all here to sharpen each other. No matter what!

Sharpening means to make sharper, more mature, be better, finding our best form that we should get, that is sharp. What for? To be able to cut everything that needs to be cut: broken branch and broken leaves so that new branches can grow and bear fruits.

Sharpening does not mean undermining others and/or magnifying ourselves. Sharpening is not criticizing blindly to hurt other people’s feelings deliberately. Sharpening here can indeed be a PROCESS. Which means we will feel uncomfortable, a PROCESS is not a “good” condition. But the ultimate goal is for the common good. One of the PROCESSES is man sharpens man. So, A sharpens B and B sharpens A. Not: A sharpens B, and then after B becomes sharp, B stabs A from behind. This is clearly not the work of God’s disciples. It is the job of the evil one. Be aware of this, guys.

1 Corinthians 13:13 says: And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love (NIV). Love means character. Three characteristics of a good disciple who has love are having a humble heart, being teachable (not being sarcastic), and being obedient and faithful.

Luke 6:49 says: But the one who hears my words and does not put them into practice is like a man who built a house on the ground without a foundation. The moment the torrent struck that house, it collapsed and its destruction was complete.” (NIV)

God is our teacher. We all the students (BE HUMBLE). If all heard God’s word (TEACHABLE), but if we do not put God’s Word into practise (FAITHFULNESS), so we are like a man who built a house (this school) on the ground without a foundation.

Sometimes, an admirer only be a mere admirer. He/she does not become someone who he/she admired. For example: I really admire Ahok. He is assertive, true, and brave. But I myself am not like him (meaning his character). A true admirer is supposed to imitate the object of their admiration. So, when I admire Ahok, then I should try to be like him. When I was fourteen, I loved and admired the band The Moffatts. When I loved them, I tried to be like them. So, when I admire Jesus, I should strive to be like Jesus. Clearly, not to be like Jesus who die on the cross to redeem our sins, but to be like Jesus in His character: willing to empty Himself for humanity’s sins. When Jesus emptied himself, he abandoned his prestige, was not concerned with self-interest, and did not feel insulted when people insulted Him because of His righteousness. He, Jesus, remained calm, prayed, and remained righteousness. He focused on doing His part of His mission and it was finished when finally He said in John 19:30 (NIV): It is finished.

2 Timothy 4:7-8 says “I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith. Now there is in store for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will award to me on that day—and not only to me, but also to all who have longed for his appearing.”

I hope, when at last, we are called by God, we would and could say: Oh, Lord, it is finished. I have completed my task here on earth. I have fulfilled my highest calling.

Friends, wherever God has put us: at work here, in our home, in church, and even on the street, at the mall, and elsewhere, may we live our lives as a blessing wherever we are. Just focus on your part in fulfilling God’s promises. Stop focusing on personal ambition. Stop justifying anything and everything to get higher positions; stop trying so hard to collect treasures and money (Mamon), fame, honor and adulation from humankind, all of which are just temporary. Let’s start focusing on God’s glory and righteousness.

Mother Theresa once said: “If we are busy to hate people, we do not have time to love people. I conclude and close this morning devotion with this: If we are busy loving ourselves, we will have no time to love our God, Jesus Christ!

*Editor: Joshua Frear

The Revenant: Film Berhasil!

20160217_220718Sudah lama tidak nonton film bagus seperti ini!

Itu kalimat yang segera muncul ketika saya berniat menulis di sini.

Saya cukup setia mengikuti film-film yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Awalnya dari Titanic (SMP kelas 1). Begitu kuliah, saya bongkar daftar film-film yang dibintangi Leo di internet lalu bergegas meminjamnya ke tempat penyewaan film (kala itu mahasiswa). Lumayan jauh juga sih dari SMP kelas 1 ke tingkat mahasiswa semester 1 atau 2. Itu ada sekitar 6 tahun kemudian. Maklumlah, di kota kelahiran saya belum begitu marak dan lazim orang menonton film selain film yang ada di televisi.

Lama kemudian rasanya Leo baru main film lagi. Sewaktu dia vakum, berita seputar Leo adalah tentang kekasih dan istrinya. Tidak ada yang hit karena memang pria ini “bersih” sehingga tidak ada bahan yang bisa dijadikan gosip hangat—apalagi gosip yang bertahan lama. Begitu muncul The Revenant, saya langsung “catat”: kudu nonton!

Kemarin (17/2) saya tonton itu film. Kalau film bagus, nontonnya di bioskoplah. Bagaimanapun, pembangunan suasana di bioskop itu beda buanget. Kecuali bioskop ecek-ecek, yaa….

Dari segi cerita, ceritanya tidak begitu rumit dipahami. Mungkin cenderung cukup umum. Dan memang persoalan manusia dari zaman dulu sampai sekarang itu, umum. Sering terjadi, berulang, menyejarah, siklus, berputar! Oke, mari kita kembali ke cerita saja. Ceritanya sangat padat, sangat kuat, sangat hebat! Dengan durasi 2 jam 36 menit, cerita The Revenant sangat ketat. Mulai dari Glass dan Hawk yang sedang berburu, lalu di kamp mereka terjadi perang dengan sangat mengejutkan antara suku Ree dengan orang kulit putih. Adegan pembunuhan pertama yang saya saksikan adalah sebuah anak panah menancap dengan cepat, sekejap, dan sekonyong-konyong di leher orang kulit putih. Spontan saya teriak. Itu sangat amat memukau. Jelas, bukan pembunuhan itu yang memukau, tetapi betapa itu masuk akal terjadi pada masa itu—dan mungkin juga sekarang; dalam bentuk yang lain. Dari awal hingga akhir, saya kerap menarik nafas seperti ingin segera tahu apa yang akan terjadi berikutnya, dan ingin tahu bagaimana nanti akhir ceritanya. Akhiri saja! Ceritanya sangat tidak bisa ditebak. Atau lebih tepatnya, karena begitu ketatnya alur cerita, penonton dibuat tidak sempat memikirkan hal-hal lain selain mengikuti alur cerita. Tidak ada celah bahkan titik sekecil apapun pada ceritanya sehingga membuat saya bosan dan malas berpikir dalam kesekaligusan mengikuti jalan cerita. Saya berpikir sepanjang film itu. Dan saya suka! Film itu hidup! Bagaimana Glass (Leo) diganyang oleh induk beruang yang besarnya bisa 7 kali lipat tubuh Glass dan beratnya entah berapa ton! Kekuatannya entah berapa kali hantaman buldoser! Tidak ada gerak-gerik beruang yang menunjukkan bahwa itu adalah permainan komputer belaka. Dahsyat! Ah! #tepokmeja

Selain itu, sinematografinya juga keren. Detail! Dari awal hingga akhir, film ini menghargai detail dan tidak penat-penat terus bergiat dengan detail. Betapa luar bisa kerja kerasnya. Saya sangat penasaran, bagaimana teknik pengambilan gambar. Kamera apa yang dia pakai karena ketika saya menontonnya, saya seperti melihat layar cembung/cekung sehingga seolah-olah saya dapat melihat seluruh apa yang ada di dalam situ (film). Gimana yah ngejelasinnya! Yang saudah nonton dan merhatiin film ini, mungkin bisa ngerti lah maksud saya. Lalu, semua pancaindera saya jadi aktif. Penglihatan, pendengaran, perasa, peraba, penciuman, bahkan perasaan/insting saya. Gambar yang detail ditampilkan, suara yang berhasil ditangkap dan direkam sangat detail—bahkan hingga titik-titik air yang menetes-netes dari ujung dedaunan, rasa sakit, perih, bau darah, hangatnya api, dinginnya sapuan angin, bahkan emosi yang ditampilkan di film, itu hidup dan berhasil mengena kepada penonton (saya). Terus terang, film ini berhasil menggerakkan rasa dan tubuh saya untuk “berbuat”. Untuk bergerak. Untuk melakukan sesuatu. Bahkan untuk terlibat di dalam film. Saya simpulkan: film ini berhasil! Sama seperti khotbah yang cerdas, yang giat, yang padat, yang dalam, yang tidak membosankan, dst, dsb sehingga membuat jemaat atas inisiatifnya sendiri atau secara otomatis bergerak untuk ikut di dalam isi khotbah dan melakukan kebenaran yang disampaikan di dalamnya, maka: khotbah tersebut berhasil! Memang tidak mudah membut film ataupun khotbah yang hasilnya “berhasil” seperti ini. Namun, bukan tidak mungkin!

Di luar itu semua, saya senang Leo main film lagi dan meraih Golden Globe. Dia layak mendapatkannya. Saya masih menunggu penghargaan untuknya di Academy Awards. Kalau dia tidak tembus Academy Awards pun, bagi saya, dia sangat amat pantas menjadi aktor hebat yang dielu-elukan. Bahkan jika ada penghargaan yang lebih tinggi dari AA, dia pun layak untuk itu. bukan hanya karena kerja kerasnya di dalam film-filmnya, tetapi juga karena kehidupannya yang “lurus”. BRAVO, LEO!

Harapan Besar bagi Bangsa

Saya adalah salah satu orang yang sempat tidak lagi ambil pusing dengan negeri ini akan jadi apa, negeri ini sedang berjalan ke mana, negeri ini akan berakhir seperti apa; apakah akan menjadi buruk atau bagus; menjadi kacau atau damai, saya sudah tidak ambil pusing.

Kok?

Pertanyaan itu tidak sekonyong-konyong datang begitu saja sampai akhirnya Indonesia ada di titik seperti sekarang ini. Dan lantas ketika pertanyaan itu mencuat ke permukaan, jawabannya tentu tidak sekonyong-konyong ada seperti di mana ada gula di situ ada semut—di mana ada pertanyaan, di situ juga akan ada jawaban.

Lalu, mengapa sikap tidak ambil pusing terhadap negeri sendiri ini bisa muncul yah? Ah, saya pikir-pikir lagi, tampaknya saya mulai bisa memetakannya ketika teman sekantor saya bertanya: mengapa Ibu begitu antusias jika membicarakan Pak Ahok dan Pak Jokowi (intinya, tentang bangsa ini). Ditanya begitu, saya merasa senang (karena saya dipandang sebagai orang yang antusias, bukan alay) dan juga merasa tertampar. “Iya, yah?!” pikir saya.

Lalu ia bertanya lagi, “Dulu (sebelum zaman Pak Ahok dan Pak Jokowi) apakah juga seantusias ini, Bu?” Saya segera menjawab, “Tidak. Dulu saya tidak ambil pusing dengan bangsa dan negeri ini. Negeri ini seperti berjalan semau gue (gue=pihak-pihak tertentu). Elu elu, gue gue. Jadilah seperti saya yang “dulu itu”, yaitu yang tidak mau ikutan pusing apalagi ambil ke-pusing-an itu.  Bukankah para wakil rakyat itu tidak ambil pusing dengan kita—padahal itu adalah tanggung jawab mereka untuk mengambil ke-pusing-an rakyat sehingga mereka harus mengatasinya dan rakyat jadi enggak pusing. Lha, sekarang mereka malah nambah-nambahin kepuyengan hidup kita dengan bersikap “enggak mau tahu” bahkan lempar batu sembunyi tangan.

Sekarang, harapan itu mulai menyala semakin benderang dengan kehadiran dan sepak terjang Pak Ahok di Ibu Kota dan Pak Jokowi di Indonesia (bahkan hingga Papua yang sejak zaman presiden pertama nggak dijamah; Papua dijadiin bahan tontonan aja). Bukankah ini luar biasa? Kita semua tahu banyak hal yang mereka berdua telah lakukan. Dan giat-gigihnya beliau berdua telah merasuk ke dalam sikap “masa bodo” saya; mengusiknya; membuatnya gelisah; dan menyalakan api harapan di dalamnya. Dari situlah saya mulai mengikuti perkembangan bangsa dan negeri ini (melalui berita-berita kedua tokoh perubahan ini). Dari situ pula mulai muncul kecintaan dan kebanggaan saya sebagai seorang warga negara Indonesia. Dan, “Ah!” kemudian saya sadar bahwa saya adalah manusia Indonesia. Pemilik bangsa ini. Saya adalah bagian dari negeri Indonesia tercinta. Saya ikut berinvestasi melalui doa-doa bagi kemajuan bangsa ini dan melalui pendidikan di tempat saya bekerja saat ini. Dulu, mungkin saya berdoa sebagai sebuah kewajiban. Namun sekarang, saya berdoa dengan keyakinan dan dengan segenap kekuatan bagi kemajuan dan kebangunan bangsa ini. Indonesia! Ketika ada ancaman dari dalam ataupun dari luar, darah saya ikut menggelegak. Emosi saya ikut “terpancing”. Secara spontan, saya ikut mengambil posisi “siap tempur” demi bangsa dan negeri tercinta. Bagi Anda yang belum memiliki atau belum ada di posisi ini, mungkin itu karena Anda belum mengenali dan menyadari hubungan Anda dengan bangsa-negeri ini. Anda belum melihat batu mulia di dalam negeri ini.

Harapan bagi bangsa ini pasti ada sejak awal. Lalu harapan itu “redup” ketika orang-orang yang seharusnya menjaga nyala harapan itu malah meredupkan/mematikannya. Lalu harapan itu kembali menyala ketika ada orang-orang yang mau “pasang badan” untuk menyalakan dan menjaga nyala api harapan itu. Berdua saja (Pak Ahok dan Pak Jokowi), mereka tentu tidak sanggup (untuk jangka waktu yang panjang). Mereka tentu punya ketahanan yang tidak akan berlangsung selama-lamanya. Lalu bagaimana? KITA. Kitalah yang dapat membuat mereka tahan melakukan bagian mereka dengan ikut meng-“ambil “pusing” negeri ini. Mengapa? Karena negeri ini memiliki harapan yang besar. Nyala harapan itu saat ini masih bisa diperbesar lagi karena di dalam negeri ini ada banyak sekali “terang” yang belum dinyalakan. Kita bisa menjadi ahok-ahok dan jokowi-jokowi kecil untuk memantik nyala api di manapun dan bagaimanapun. Sekaranglah saatnya! Iya, sekarang!

Guru, Apa yang Menggerakkanmu?

Teacher-Stress-dv1453015 Menjadi guru bukanlah perkara yang mudah—sekalipun itu sudah jelas-jelas menjadi panggilan hidup kita. Apalagi jika itu bukan panggilan hidup kita! Saya dapat membayangkan betapa susah payahnya Anda setiap hari karena Anda memaksakan diri untuk mengerjakan panggilan yang bukanlah panggilan Anda! Setiap hari adalah hari yang berat. Setiap kelas dipandang sebagai kelas yang hanya akan membuat Anda lelah. Setiap anak akan Anda pandang sebagai manusia yang sulit dan bermasalah. Anda sendiri akan merasa ada di dalam jebakan dan tidak ada jalan keluar selain resign—dan kebanyakan dari kita (terutama yang sudah berusia 40 tahun-an) lebih memilih untuk tetap bertahan ketimbang resign lalu mencari pekerjaan yang lain. Hal semacam ini sungguh hanya akan membuat proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan setiap hari semakin berat. Hari-hari Anda akan dipenuhi keluhan, gerutu, dan hal-hal negatif lainnya. Lalu, dalam kurang dari dua tahun, Anda menjadi lebih tua 5 atau 10 tahun!

Sungguh, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas seizin Tuhan dan semua ada dalam pengawasan dan kendali Tuhan. Jika saat ini ada di antara Anda (para guru) yang merasa bahwa menjadi guru bukanlah panggilanku, sebaiknya mulailah memikirkan beberapa pertanyaan ini: Apa yang mengendalikanku dalam mengajar? Apa yang menjadi motivasiku dalam usaha mencapai target belajar mengajar? (atau jangan-jangan Anda tidak memiliki target apapun?) Apa yang menggerakkanku untuk memperjuangkan sesuatu ataupun memberikan yang terbaik dalam segala hal? Atau, apakah aku sudah (setidaknya mencoba) memberikan yang terbaik?

Menjadi guru adalah panggilan hidup. Panggilan itu datangnya dari Tuhan dan harus dikembalikan kepada-Nya demi kemuliaan-Nya. Segala sesuatu yang kita bawa ke hadapan Tuhan haruslah yang terbaik! Bahkan berkali lipat kualitas dan kebaikannya. Jika saat ini Anda merasa bahwa menjadi guru bukanlah panggilan hidup Anda sementara Anda sudah menjadi seorang guru, jangan berhenti membaca artikel ini. Teruskan saja dulu. Saya akan lanjutkan. Pertanyaan saya sederhana saja. Apakah ada hal-hal di berikut ini di dalam pikiran Anda yang datang hingga berkali-kali: (mengumpulkan) uang, (meraih) ketenaran, (lebih melihat) kekurangan diri alias merasa “ah, gw ga bisa nih jadi guru”, merasa takut jika akan ada komplain dari siswa/guru rekan kerja/orangtua, atau pikiran tentang nama-nama/wajah-wajah orang yang tidak menyenangkan di sekitar lingkungan sekolah.

Di zaman ini, setiap kita pasti butuh uang. Kita juga butuh dianggap dan mendapatkan apresiasi dari orang lain. Setiap kita memiliki kekurangan (dan jangan lupa bahwa kita juga punya kelebihan!), pasti ada saat di mana kita akan mendapatkan masukan/komplain/kritikan untuk mengasah kemampuan kita menghadapinya, mengasah kemampuan kita mengambil keputusan dan mencari solusi, melatih kita untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Dan tentu setiap kita punya daftar nama orang yang kita tidak senangi karena ketidakcocokan berbagai hal dengan orang-orang tersebut. Namun, cobalah berpikir “terbalik”: apakah kita sudah pasti hanya memiliki hal-hal yang pasti menyenangkan orang lain? Lihat diri kita sendiri. Kita pun memiliki bagian-bagian yang berpotensi tidak menyenangkan orang lain, yang membuat orang lain tidak nyaman dengan kita! Tuhan saja pun memberikan berkat-Nya kepada semua orang: yang percaya kepada-Nya (yang menyenangkan Dia) dan yang tidak percaya kepada-Nya (yang tidak menyenangkan-Nya)—Matius 4:44, 45.

Sebenarnya, yang perlu dibenahi adalah pola pikir kita; perspektif kita; cara kita memandang; dan kondisi pikiran kita. Apakah pikiran kita tertutup? Apakah beban hidup dan berbagai pikiran di atas telah mengganggu dan menguasai Anda dan membuat fokus Anda berubah dari “melayani Tuhan” kepada “masalah-masalah”? Jika iya, maka segeralah bereskan hal tersebut. Jika itu beres, saya yakin, hari-hari Anda di sekolah dan di kelas adalah hari-hari yang menyenangkan. Hari yang Anda tunggu-tunggu. Bertemu rekan kerja ataupun siswa adalah momen yang berharga dan tidak ingin Anda lewatkan. Anda akan berusaha keras untuk memberikan pembelajaran terbaik tanpa merasa lelah. Hidup Anda menjadi begitu ringan. Hati Anda bebas merasakan sukacita. Kaki Anda nyaman melangkah di lorong kelas. Dan, Anda selalu tersenyum. Lalu, tanpa Anda sadari, hari gajian pun tiba! 

Jika Anda sudah membereskan “masalah-masalah” itu di hadapan Tuhan dan Anda masih saja merasa ada yang tidak “cocok” atau yang membuat hati Anda tidak tertanam di sekolah, sebaiknya Anda segera bertanya kepada Tuhan memohon petunjuk-Nya: apakah panggilan hidup Anda yang sebenarnya. Dan jika guru bukanlah panggilan hidup Anda, tetapi sesuatu yang lainlah yang menjadi panggilan hidup Anda, sebelum terlambat, lakukanlah apa yang sebaiknya Anda perlu dan harus lakukan. Ini demi kebaikan Anda sendiri! Semoga tulisan ini meneguhkan Anda. Gbu.