Bicara Benar, Bicarakan Kebenaran

Right-Wrong-It-Depends-1000x949Kebenaran itu kalau tidak diungkapkan alias disimpan sendiri, tidak ada gunanya. Kebenaran itu harus disingkapkan. Kebenaran itu harus dinyatakan kepada siapapun dengan cara yang sesuai dengan keadaan. Sesuai keadaan di sini maksudnya adalah metode yang tepat, BUKAN kebenaran itu yang disesuaikan dengan keadaan. Karena jika demikian, maka apa yang akan diungkapkan itu bukanlah kebenaran. Maka, jangan ragu untuk mengungkapkan kebenaran jika Anda tahu kebenaran. Yang penting—setelah kebenaran itu—adalah metode penyampaiannya: lihat waktu yang tepat, pertimbangkan kondisi lingkungan saat itu, dan pastikan bahwa motivasi Anda adalah untuk sungguh-sungguh menyatakan kebenaran, BUKAN untuk menjatuhkan pihak lain—lalu Anda mengambil keuntungan darinya.

Sayangnya, cukup sering kita dapati situasi di mana orang yang mengungkapkan kebenaran itu memaksakan kehendaknya agar kebenaran itu juga diamini oleh pendengarnya. Sekalipun orang ini sudah memenuhi ketiga syarat metode di atas, hal ini (memaksakan kehendak) dapat saja terjadi. Mengapa? Biasanya, karena orang ini BARU mengetahui sebuah kebenaran. Nah, jika seperti ini situasinya, maka bukan lagi kebenaran itu yang menjadi pokok bahasannya, tetapi juga kemauan si pembicara. Akhirnya, kebenaran itu menguap ke udara dan tersisalah perasaan dongkol. Jika kita pernah atau sedang melakukan pemaksaan kehendak semacam ini, lalu merasa dongkol, maka lihatlah ini sebagai proses yang mendewasakan; untuk menguatkan jiwa kita dan melatih perasaan kita menjadi perasaan yang lemah lembut. Perasaan itu digunakan sebagai pendeteksi keadaan sekitar: mendeteksi apakah kebenaran sudah diselewengkan atau kebenaran itu sedang didiamkan/diabaikan, atau sudah tidak ada lagi kebenaran. Juga untuk mendeteksi kapan momen yang baik untuk kita angkat bicara atau untuk menutup mulut.

Bagaimana halnya dengan orang-orang yang menolak kebenaran yang sudah disampaikan dengan metode yang baik? Cukup sering yang menjadi sasaran balik adalah orang yang menyampaikan kebenaran itu. Dibilang “sok pintar”, kemudian orang itu diabaikan. Nah yang begini, tidak perlu dihiraukan. Pendengar kebenaran itu menerima, menolak, atau menampik kebenaran, itu bukan urusan kita. Dan kita tidak perlu pula merasa tersinggung atau merasa disia-siakan. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran, bukan mengurusi perasaan kekanak-kanakan kita. Kalaupun kita menjadi tersinggung, anggaplah itu sebagai petunjuk bahwa kita memang belum dewasa. Dengan demikian, respons kita bukanlah “berhenti menyampaikan kebenaran”, melainkan “melatih mental/hati/perasaan kita agar menjadi kuat dan tidak mudah tersinggung/cengeng”!

Mari kita simak percakapan Tini dan Tono yang berteman sudah 2 tahun, berikut ini.

Tini         : Ton, lu ngerokok mulu. Batuk lu ntar tambah parah.

Tono      : Diem lu. Sono lu urus hidup lu aja.

Ketika Anda (terpaksa) memilih untuk berhenti mengatakan kebenaran karena orang lain menyuruh Anda untuk diam, ataupun karena Anda merasa tersinggung lalu terdiam, berhati-hatilah. Itu dapat mengeraskan atau membekukan perasaan Anda dan kebenaran dalam kehidupan Anda akan mulai merosot. Ketika kebenaran itu surut, hidup ini akan dikelilingi oleh perasaan putus asa dan terlewati dengan sia-sia. Sayang!

Advertisements

Drama Musikal Petualangan Sherina: Butuh Disiplin dan Komitmen Lebih

IMG20180216133952Pengalaman bergiat dan aktif di teater kampus dan beberapa sekolah lebih dari sepuluh tahun, telah mengasah “kemampuan alamiah” saya dalam berteater—yang tentu masih harus terus digali dan diolah. Setelah vakum berteater hampir tiga tahun, termasuk vakum menjadi penikmat pementasan langsung (via youtube sih masih yah), membuat saya rindu untuk menyusup masuk dalam tubuh drama panggung. Minimal dengan menyaksikan sebuah pementasan yang melegakan dahaga sisi dramatika batin saya. #eeaaaa

Lalu, muncullah iklan Drama Musikal Petualangan Sherina di layar laptop saya. Wow! Segera saya klik dan beli tiketnya. Harga tiket normalnya lumayan mahal juga sih. Tapi, ya sudahlah. Saya pilih pementasan di hari Jumat, 16 Februari 2018 pukul 14.00 WIB. Itu bertepatan dengan Tahun Baru Chinese. Saya pikir bakal sepi. Long weekend kan tuh. Ternyata rame juga. Daaan…., tibalah hari H-nya! Saya degdegan juga euy!

Saya bertanya kepada salah satu panitia, di mana pintu 4 (demikian yang tercantum di tiket saya sebagai pintu untuk saya masuk teater). Dia bilang, di lantai dua. Lalu saya naik, dan di situ tidak ada pintu masuk 4. Saya turun lagi dan bertanya kepada panitia yang lain. Lalu dia katakan pintu masuk 4 yang tepat, yaitu di lantai satu, tidak jauh dari pintu utama tempat pengunjung masuk ke gedung Teater Jakarta.

Saya masih mengabaikan kelalaian sepele tadi. Ya sudahlah, pikir saya.

Hingga pukul 13.15, saya tidak melihat ada tanda-tanda pintu masuk dibuka. Panitianya sih sudah stand by di depan pintu. Beberapa orang sudah ngantre di depan pintu-pintu masuk. Lalu saya tanya salah satu panitia yang ada di dekat antrean, kapan pintu dibuka? Lalu dia menjawab, jam satu, Kak. Kata saya, “Mbak, ini udah jam 13.15.” Lalu, dengan ditenang-tenangkan, dia bilang, “Kalau gitu, nanti jam 13.30, Kak.” Hahahaha!

Saya mulai mengerutkan dahi.

Karena akan masih cukup lama pintu masuk dibuka, maka saya berkeliling untuk membeli camilan. Pukul 13.40, saya ke depan pintu masuk 4 lagi. Sudah banyak yang mengantre, dan pintu BELUM juga dibuka! OMG. Dalam 15-20 menit akan mempersilakan masuk ratusan orang ke dalam gedung, itu adalah waktu yang jelas-jelas tidak cukup! Apalagi ditambah dengan pemeriksaan tiket, pemeriksaan tas, dan pemeriksaan badan di pintu masuk. WOW!

Saya mulai mengacu ke harga tiket saya dan bagaimana panitia menge-treat kami. Tidak sebanding. Tapi, ya sudahlah. Mungkin mereka juga panik dengan pementasan mereka ini. Ini kan hari pertama dan pementasan pertama!

Sekitar 13.45, pintu dibuka dan pengunjung masuk dengan cepat. Antreannya pun cukup berantakan. Saya tidak perlu jelaskan detail-detailnya di sini. Intinya, tertangkaplah kesan bahwa mereka belum siap dan tidak siap dengan segala kemungkinan dan yang di luar dugaan, di lapangan. Tapi, gapapalah. Mungkin mereka masih belajar merangkak untuk berjalan dan kemudian berlari. No problemo. #sabaaarrr

Saya masuk pukul dua kurang beberapa menit. Hingga pukul 14.15 WIB, belum ada tanda-tanda pementasan akan dimulai. Di dalam rentang waktu menunggu itu, saya membunuh waktu dengan main game di HP dan WA-an dengan teman. Lalu, 14.16 WIB, pementasan dimulai. Dimulai dengan pengumuman/pemberitahuan dari Tike dan Ronald (penyiar radio—hanya audionya saja), lalu dilanjutkan dengan orkestra. Layar dibuka.

Keaktoran

Saya sangat suka dengan pemeran Sherina dan Saddam. Mereka sangat natural memainkan perannya. Sisi kekanak-kanakan seorang bocah seumuran mereka, itu tampak orisinal. Mereka berhasil menggoda sukacita dalam hati saya. Mereka lucu sekaligus “pure”. Aktingnya sangat baik dan mereka apal dialog dengan sangat baik. Mereka melakukan tari-tarian dengan lancar. Penuh percaya diri sekaligus apa adanya. Memang betul yah kata orang bijaksana untuk belajar ketulusan dari anak kecil. Dua jempol untuk mereka!

Lalu, yang kemudian menjadi pusat perhatian saya adalah Abby (Zuz Natasha) dan Danang (Pak Raden). Pasangan suami-istri dalam kehidupan nyata ini memang sudah saya sukai sebelumnya. Mereka berdua juga menjadi salah satu faktor pendorong bagi saya untuk menonton pementasan ini. Permainan Abby sungguh-sungguh ciamik! Dia bisa nyanyi, bisa menari, bisa akting, juga seorang model, dan full of expressions! Dia adalah satu-satunya aktor dewasa yang terhitung PAKET LENGKAP di mata saya! Saya yakin, dia sejajar dengan aktor teater di Broadway sana. Saat closing pementasan (ketika para actor diperkenalkan dan dipanggil masuk ke atas panggung), dari bahasa tubuhnya, tertangkap impresi bahwa Abby adalah orang yang rendah hati.

Lalu, Danang bagaimana? Ya, sehari-hari saya nontonin dia di The Comment, NetTV. Memang dia begitu orangnya di TV dan di panggung teater. Nggak kaget sih liat pemeranannya: selalu lucu, PD, dan keliatan lelah. Hahahaha!

So, secara keseluruhan, dari sisi keaktoran, semua di atas rata-rata. Abby, sempurna!

Cerita

Saya merasa ceritanya (khususnya bagian ending) itu agak dipaksakan. Tiba-tiba Saddam memberikan kotak yang isinya rok Sherina bekas kena lem, dan sudah dibersihkan. Bagi orang yang sudah pernah menonton filmnya, tentu dapat mengerti ending yang seperti itu. Tapi bagi orang yang tidak menonton filmnya sebelumnya, itu menjadi ending yang gawat! Akhirnya memang, muncul kesan ceritanya terlalu buru-buru diselesaikan. Mengapa? Karena di tengah cerita, bagian rok itu tidak di follow-up sebelumnya. Tiba-tiba muncul di akhir. So, itu kurang “anti-klimaks”. Biasanya sih, ending yang dipaksakan itu karena penulis naskah sudah capek hati atau karena durasi sudah berlebihan (hingga akhirnya perkiraan bahwa aktor akan kelelahan dsb dll menjadi pertimbangan juga). Jika itu benar, maka sayang sekali! Durasi pementasan kemarin itu hanya sekitar 1 jam 40 menit. Dimulai 14.16 (ada pemberitahuan dulu dan musik orkestra hingga 5 menitan-lah) dan berakhir pukul 16.12 (di tengah-tengah ada jeda hampir 25 menit (yang katanya hanya 15 menit, malah molor!). Dan, menurut saya, dengan durasi tidak lebih dari 2 jam, tanpa istirahat (jeda pun) itu tidak masalah. Sayang sekali! Saya tahu, mungkin aktor anak kecil menjadi pertimbangan: mereka butuh rehat atau minum dsb, atau panitia perlu ganti batre mic wireless. Tapi dengan intensitas kemunculan aktor yang sama di hampir setiap adegan, yang tidak rapat seperti itu, saya rasa tidak perlu jeda—apapun alasannya. Kecuali, ada sesuatu di tengah-tengah pementasan (aktor kelelahan parah, misal dehidrasi (enggak mungkin sih karena pementasan ini sangat ringan) atau wireless beberapa aktor mati, atau para penari tiba-tiba sakit perut karena salah makan atau makan siang mereka basi, nah itu, bolehlah ada jeda. Dan hal ini pun harus dikonfirmasi saat konferensi pers. Ya, saya harap hal-hal seperti ini diperhitungkan oleh tim produksi dan tim artistik di kemudian hari.

Properti dan Lampu

Properti dan Lampu? Ah, sudahlah. Tidak perlu dipertanyakan. Bagus! Indah! Wah! Saya yakin, yang bikin bukan panitia. #sorry gaeeess… Apalagi orang yang mengarahkan saya di pintu masuk 4 lantai dua tadi, pasti bukan dia yang bikin. Ngarahin pengunjung ke tempat yang tepat saja gagal, apalagi melakukan hal-hal detail seperti properti yang keren yang nongol di panggung itu. Tapi kalau panitia yang bikin sendiri (bukan memesan ke pihak luar), ANDA HEBAT!!

Cuma, ada catatan di kepala saya bahwa ketika pergantian properti (yang dinaikkan, diturunkan, ditarik masuk panggung, digerek keluar panggung), itu tidak lancar. Ada yang diturunkan dengan kasar, ada yang dinaikkan dengan kasar, ada yang didorong dan ditarik dengan tidak hati-hati. Belum lagi soal timing lampu dan dialog aktor dimulai, itu nggak pas. Kadang lampunya terlambat, kadang aktornya yang kecepetan. Tapi yang paling sering, lampunya dan propertinya yang kurang baik: terlambat, berisik karena ada prop yang beradu, dan ada properti yang belum pada tempatnya, lampu sudah menyala full. Gawat sih ini. Seolah-olah latihannya masih minim karena kurang dana. Hahahaha. Maaf yak. Saya cukup berpengalaman dalam hal ini. Jadi, kita terbuka saja. Cuma, saya rasa panitia ini tidak kekurangan dana-lah. SDM-nya juga banyak—walau kurang dimaksimalkan. So, saya yakin bahwa ini adalah faktor kurangnya disiplin dan komitmen!

Akhir Pementasan

Di akhir pementasan, setelah perkenalan tim artistik dan tim produksi, salah seorang (kemungkinan PIC atau sutradara) muncul di tengah depan panggung. Ia memberikan pesan seputar persatuan dan kesatuan dengan tidak memandang perbedaan, kita sama, dsb. Lalu ia mengajak kami yang tahu lirik lagu (yang akan dinyanyikan) untuk ikut bernyanyi. Pada saat ia berbicara, seharusnya orkestra tetap memainkan musik. Jangan diam. Jangan senyap begitu! Karena pesan yang dia sampaikan, itu serius. Tidak ada musik sebagai pendamping, membuat suasana menjadi mencekam—apalagi, orang yang sedang bicara itu juga terlihat tegang. Kalian pikirin sampe ke situ nggak sih? #mulaigeraaaaam

Ngomong-ngomong soal musik, kedengarannya ada satu kondensor yang on-off karena tiba-tiba terdengar suara trombone keras, lalu hilang seketika, lalu muncul lagi. Saya dapat melihat banyak audiens kaget saat suara trombone tiba-tiba keras. #kocak

Secara keseluruhan, pementasan ini sudah baik. Tapi ketahuilah, disiplin dan komitmen itu harus jadi pondasi untuk menyiapkan suatu pementasan. Karena pada akhirnya, disiplin dan komitmen yang ditunjukkan selama proses persiapan, itu menentukan bagaimana akhirnya. Dan saya rasa, disiplin dan komitmen yang kurang, telah menghasilan pementasan yang (sekadar) baik (saja). Tidak berkesan pada akhirnya; selain melegakan tenggorakan batin sesaat saja. Sekalipun demikian, saya ucapkan selamat atas pementasan Drama Musikal Petualangan Sherina ini. Semoga menjadi pembelajaran bagi tim produksi dan tim artistik dan tentu menjadi pengingat bagi para penonton akan pentingnya nilai-nilai memaafkan serta kerja sama di antara kita semua.

Panggilan Tertinggi BUKANLAH Profesi

Sekitar lima tahun yang lalu, saya belum dapat menjawab dengan yakin pertanyaan seorang siswa kepada saya. Begini tanyanya: “Miss, apakah menjadi guru adalah panggilan tertinggi Miss?” Mendengar pertanyaan itu, hati saya ragu. Pada saat itu, saya ragu menjawab karena sepertinya ada yang “salah” dengan pertanyaannya itu. Sekarang, saya dapat menjawab siapapun yang menanyakan pertanyaan yang sama: Apakah menjadi guru adalah panggilan tertinggi saya.

Profesi adalah Metode. Panggilan tertinggi bukanlah profesi. Profesi adalah alat yang digunakan untuk memenuhi panggilan tertinggi kita. Panggilan tertinggi kita adalah panggilan TUHAN bagi orang-orang kepercayaan-Nya (orang-orang pilihan-Nya), sebagaimana tertulis di Matius 28:18-20: Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dan ini kemudian berhubungan juga dengan “menjadi terang dan garam” yang tertulis di Matius 5:13-16: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. …. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Apakah dengan menjadi guru, menjadi pedagang, pengusaha, ibu rumah tangga, pembantu, penyanyi, pelayan penuh di rumah Tuhan, OB, security, presiden, menteri, dll, dst, panggilan tertinggi TUHAN atas kita dapat kita genapi secara “sempurna”?

Profesi berkaitan dengan kapasitas diri. Jika kapasitas (skil, kepribadian, kemampuan, talenta, bakat, tingkat pendidikan) kita saat ini cocoknya menjadi guru (atau profesi lainnya), itu tentu tidak menjadi masalah SELAMA kita terus menggali dan mengembangkan diri sepenuhnya. Ada orang yang puas dan merasa aman menjadi pekerja karena gajinya sudah memuaskan dan telah menjamin masa tuanya. Selain itu, pekerjaan tertentu tersebut tidak bermasalah. Semua baik. Bagi saya, di situlah awal kemandekan perkenanan Tuhan. Jika kita berhenti berusaha memaksimalkan diri dengan terus belajar, bukankah itu tanda awal dari keangkuhan? Dan keangkuhan adalah awal dari kejatuhan?

Kapasitas Diri. Ada masa di mana seseorang yang terus belajar dan hidup tunduk kepada Tuhan akan mendapati bahwa dirinya secara pribadi dan kapasitas dirinya diperluas oleh Tuhan. Ketika kemampuannya ditingkatkan, akan ada tanggung jawab yang lebih besar (lebih besar dari sekadar guru, misalnya) yang harus dikerjakan. Apakah, misalkan, perluasan kapasitas yang berakibat pada peralihan profesi dari seorang guru menjadi manager adalah pengkhianatan panggilan tertinggi? Tentu tidak. Profesi bukanlah panggilan tertinggi. Ketika saya menjadi guru, saya akan mendapat pelatihan dalam hidup ini melalui berbagai hal. Ketika saya dan Anda berhasil melewatinya dengan sukacita, tentu otot-otot rohani juga dikuatkan. Hikmat dan pengetahuan juga ditambahkan oleh Tuhan (selama kita hidup berkenan di hadapan-Nya). Tuhan tahu betul seberapa jauh kita bisa melompat ke jenjang yang lebih tinggi untuk memenuhi panggilan tertinggi kita dalam hidup. Dia yang paling tahu. Jadi, stop menjadi orang yang sok tahu! Latihan-latihan yang kita alami, nikmati, dan lewati di ranah profesi kita saat ini, itu adalah latihan untuk kita dapat melangkah maju, melompat naik, bahkan berlari-lari sedemikian rupa!  Tugas kita adalah latihan, latihan, dan latihan dalam hidup. 

Satu lagi, maju dan naik ke anak tangga yang lebih tinggi untuk semakin mendekati penggenapan panggilan tertinggi kita, itu tidak dilihat berdasarkan kenaikan pendapatan atau kecepatan penumpukan kekayaan. Tidak sama sekali! Jika kita memilih Mamon daripada TUHAN, maka anak tangga yang kita naiki bukanlah anak tangga yang benar: itu bukan menuju NAIK (kemuliaan), melainkan menuju TURUN (kehancuran). Itulah mengapa kita perlu melihat apa yang TUHAN lihat, yaitu kekekalan; dan bukan melihat apa yang manusia lihat, yaitu kebahagiaan sesaat. Itulah mengapa kita perlu menggunakan mata rohani kita untuk melihat.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak mengembangkan kapasitas dirinya? Oh, itu sama dengan hamba yang mendapat satu talenta dan tidak melipatgandakannya. Sehingga Tuannya menyebutnya hamba yang jahat dan malas serta tidak berguna. Orang yang jahat (maunya nyaman sendiri alias egois) dan malas akan mendapatkan konsekuensi sebagaimana tertulis di Matius 25:30: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” 

Panggilan Tertinggi dan Pengaruh. Saya tidak sedang mengatakan bahwa seseorang yang menjadi guru seumur hidupnya adalah orang yang tidak mengembangkan diri. Hasil mengembangkan diri secara maksimal tidak lantas harus mengubah profesi, melainkan seberapa besar pengaruh Anda terhadap lingkungan Anda. Ketika kita menjadi guru biasa yang memilih berhenti berkembang, tentu pengaruh baik kita sangat kecil. Malahan justru pengaruh buruklah yang kita sebarkan: jahat, malas, dan tidak berguna. Jika kita memaksimalkan diri, tentu kita memberi pengaruh baik bagi sekitar kita: baik, rajin, bermanfaat. Lalu, ada kalanya kita harus beralih profesi sesuai dengan perluasan kapasitas kita sehingga pengaruh kita semakin luas lagi. Misalnya, tadinya jadi guru. Pengaruh saya “hanya” akan diseputaran lingkungan guru dan siswa dan mungkin beberapa orang tua. Jika, dengan kapasitas yang saya miliki, lalu saya menjadi manager perusahaan, maka pengaruh saya adalah ke seluruh karyawan perusahaan saya. KEBETULAN, itu akan meningkatkan penghasilan saya. Itu adalah perkenanan Tuhan. Dengan penghasilan yang besar itu, saya dapat lebih efisien juga untuk menjadi dampak bagi orang-orang miskin di pelosok negeri ini sesuai dengan panggilan tertinggi saya. Atau, saya yang tadinya guru, akhirnya beralih menjadi misionaris di pelosok-pelosok Indonesia. Tidak ada peningkatan penghasilan. Namun, Tuhan pelihara luar biasa juga kok–karena perkenanan Tuhan. Intinya, pengaruh baik kita semakin luas dalam menggenapi panggilan Tuhan atas kita (Matius 28:18-20 dan Matius 5:13-16).

Apakah hal ini berlaku bagi “profesi” yang lain? Yes! Orang-orang yang “berprofesi” sebagai ibu rumah tangga bisa memulai dengan tidak bergosip atau menyebarkan fitnah. Mulailah dengan membagikan kisah-kisah inspiratif dan gagasan-gagasan yang membangun di dekat gerobak abang sayur komplek bareng emak-emak yang lain. Di situlah PENGARUH Anda dan usaha memenuhi panggilan tertinggimu mulai digenapi. 🙂

Selamat berkarya dan berjuang, Kawans!

Coco: Tabur 2 Amanat Berharga

Pixar-Coco-920x584Film yang baik adalah film yang mengantarkan penontonnya setidaknya pada sebuah amanat yang jelas—bukan karena penonton harus mencari-cari amanatnya tuh apa. Alur dan bagaimana film itu disajikan, dari awal hingga akhir, mengantarkan penonton pada pesan yang kuat. Kuat atau tidaknya pesan yang hendak disampaikan, itu bergantung penggarapan film dengan memperhatikan segi artistik dan proses produksi film. Nah, film Coco yang disutradarai Lee Unkrich (2017) adalah salah satu film yang kuat sekali amanat dan penggarapan amanatnya.

Ada dua amanat yang saya serap. Pertama, bahwa seseorang (Ernesto de la Cruz) yang mengaku-akukan dirinya sebagai teman, partner, atau sudah seperti keluarga sendiri pun dapat dengan tega mengkhianatai hingga membunuh rekannya (Hector) demi tercapainya tujuan pribadi: ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan. Seseorang dapat begitu sadisnya mengeksploitasi potensi, kebisaan, kelebihan, dan kekuatan “rekannya” sendiri untuk dijadikan tangga naik menuju kesuksesan pribadi. Di film itu, Hector, dengan ketulusannya, tidak pernah mencurigai temannya. Namun, pembalasan bagi orang yang telah menjahati orang lain (apalagi orang yang tulus hatinya) akan menerima pembalasan yang lebih menyakitkan. Ernesto de la Cruz mati tertimpa lonceng besar di acara besarnya: di bumi dan di akhirat.

Amanat yang kedua yang saya resapi adalah bahwa keluarga itu selalu memiliki tempat yang istimewa di dalam hati. Keluarga memang bukan segala-galanya, tetapi tidak lantas berarti keluarga pantas diabaikan begitu saja. Tidak ada syarat yang dijejalkan untuk dipenuhi dalam menunjukkan rasa cinta dan sayang kita pada keluarga besar kita. Hal ini terlihat dari adegan ketika Imelda (buyut Miguel yang akhirnya mengirim Miguel ke alam orang hidup tanpa syarat). Ya, kasihi saja. Cintai dan rawatlah kehangatan keluargamu. Toh, dalam film Coco, keluarga besar Hector yang masih hidup di bumi, adalah keluarga yang baik. Sekalipun Tantenya Miguel yang bernama Rosita) begitu cerewet, sok tahu, dan sok galak menjadi penghambat, kehadirannya dengan segala keberadaannya juga harus diterima karena orang-orang seperti itu dapat ditaklukkan dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Apalagi ketika kita berhasil meyakinkannya dengan tindakan. Yap, orang-orang seperti itu jangan dilawan dengan mulut, debat, dan kecerewetan karena bakalan kalah. Percuma. Cuma hanya akan buang-buang energi!

Tentu ada banyak amanat baik lainnya, seperti raihlah mimpimu, kejar dan tangkaplah itu! Jangan menunggu mimpi itu yang datang menghampirimu karena itu tidak mungkin terjadi. Lalu, amanat lainnya, jangan lupakan orang-orang baik di hidupmu; dilupakan itu sama dengan membunuhnya untuk selama-lamanya; dsb dst dll. Namun, bagi saya, dua amanat di atas akhirnya menjadi lebih super-powerful. Walau begitu, tentu amanat-amanat baik lainnya juga saya terima dengan senang hati. Oh, sungguh film ini menyegarkan jiwa dan perasaan saya. Dan dari segi sinematografi (animasi), mata dan imajinasi saya sangat dimanjakan dan diberi kesejukan.

Bagi yang sudah nonton Coco, Anda pasti paham maksud saya. Yang belum nonton, gih buruan nonton mumpung masih tayang di beberapa studio bioskop Jabodetabek.

NB. Nyaris nangis sih di akhir cerita. Amanatnya bagus. Udah lama nggak nonton film yang kuat di amanatnya. Banyak film sekarang sibuk dengan pamer skil dan kecanggihan teknologi. Boseeen.

Menghadapi Pengkhianatan

tumblr_inline_oycp0suGpl1r0w9kc_540Kedengarannya kata itu tidak asing dan tidak pula bersahabat di hati. Apalagi jika kita sudah pernah mengalami hingga akhirnya memahami betul apa arti kata itu yang sebenar-benarnya. Ya, yang sebenar-benarnya; bukan sekadar lewat kamus, googling, video-sharing, atau mendengar berbagi-kisah dari kawan. Mengetahui arti “pengkhianatan” sebagai sebuah pengetahuan tentu berbeda tingkat dan kedalaman mutu maknanya dengan pengkhianatan sebagai sebuah pengalaman. Jika di antara Anda ada yang sudah pernah mengalami atau sedang mengalami pengkhianatan, saya rasa, saya dapat memahami perasaan Anda. Ya, karena saya sudah pernah mengalaminya. Tentu kita akan sama-sama kenal dengan kata: kecewa, terkejut (tidak menyangka), marah, sedih, dendam, putus asa, dsb. Sudah, cukup! Jangan diteruskan. Ntar kalo diterusin malah ancur nih laptop gw banting! Ahahahaha! #becanda-serius

Namun, tahukah kita bahwa untuk menjadi manusia yang luar biasa, kita harus mengalami, memahami, dan tentu harus berhasil melewati kisah pengkhianatan yang ada. Itu bagian dari proses, bro and sist. (Dah macam orang bijak aje gueeeh.)

Di awal-awal, sama seperti bayi yang sedang berlatih berdiri di kedua kakinya lalu jatuh berkali-kali, tentu dalam peristiwa dikhianati, kita akan mengalami jatuh dan menangis. Tentu kita akan merasakan sakit. Di tengah-tengah derita yang kita sedang tanggung, eh malah ada yang menertawakan. Kadang-kadang malah orangtua kita sendiri ikut tertawa–yang menurut kita adalah orang yang seharusnya memberikan dukungan. Di mata kita, mereka lebih seperti musuh yang menertawakan kita. Saat kita terjatuh dalam proses belajar, itu malah dianggap sebagai sebuah lelucon. Emangnya mereka dulu waktu kecil sewaktu belajar jalan nggak pake acara jatoh? Nah, di bagian inilah rasa sakit itu terlipatgandakan! Orang yang nyata-nyata bukan musuh kita saja bisa tega menertawakan kita, apalagi orang-orang yang jelas-jelas memusuhi kita–orang-orang yang telah mengkhianati kita dan menanti-nantikan kejatuhan kita. Hati-hati, gaes. Kadang-kadang fokus kita untuk belajar berjalan, melangkah maju, berlari sekencang-kencangnya, dibuyarkan oleh perasaan ditertawakan, dikhianati, ditenggelamkan/dimatikan, dan dicampakkan begitu saja–bahkan oleh orang yang paling kita percayai sekalipun. Yap, bahkan oleh orang yang terdekat sekalipun. Melalui tulisan ini, saya bukan sedang mengajarkan siapapun untuk mencurigai orang-orang terdekat; bukan mengajarkan untuk jangan memiliki teman dekat; bukan mengajarkan untuk mengkhianati sebelum dikhianati. Gila apa?! Saya sedang mengatakan dan mungkin mengajarkan siapapun kita bahwa siapapun akan pernah mengalami pengkhianatan. Bahkan orang yang paling introvert sedunia, orang yang paling kuper se-alam raya, dan orang teranti-sosial di dunia dan akhirat (belum ada riset sih, tapi yaaa kurang-lebih bisa diterimalah yaaa. Hehe.) pasti akan pernah mengalami pengkhianatan setidaknya satu kali. Sampai di titik “mengalami” dan di titik “biarkanlah waktu yang akan menyelesaikannya”, itu berarti Anda adalah manusia. Ya, manusia yang sama seperti kebanyakan manusia lainnya di bumi ini, yakni manusia alakadarnya. Namun, jika Anda berhasil menjalani pengkhianatan itu dengan tetap fokus pada mimpi dan tujuan utama Anda; jika Anda berhasil melewati pengkhianatan itu dengan efektif karena tenaga Anda tidak terkuras oleh emosi yang tidak terkendali alias membabi buta; dan jika Anda berhasil memenangkan pengkhianatan itu dengan tetap diam bahkan mendoakan orang yang mengkhianati Anda (hubungan Anda dengan orang itu tetap baik-baik saja dengan peningkatan level mawas diri.), Anda adalah segelintir manusia hebat yang ada di dunia ini! Ya, Anda bukanlah manusia alakadarnya; Anda adalah manusia luar biasa yang nilainya lebih dari emas dan permata. So, bagaimana kita mengambil alih pengkhianatan itu dan menuntaskannya, akan menentukan siapa kita: emas-permata, baja-besi, batu alam, atau batu kali? Atau, hanya seonggok jerami yang lekas terbakar oleh persoalan-persoalan kecil dan mampu memantik perasaan Anda menjadi nyala api yang menghanguskan diri Anda sendiri? Tentu Anda akan sepakat dengan saya bahwa itu percuma, teramat sia-sia, bahkan tindakan bodoh. Dan akan lebih bodoh lagi jika kita malah sibuk mengawasi dan ngepoin bagaimana akhirnya nasib orang yang mengkhianati kita. Tenang, gaes. Percayalah, Gusti ora sare. (Nggak ada maksud politis. Cuma icip-icip dikitlah. Ahahaha.)

Kembali, ini adalah bagaimana kita menggunakan kekuatan-dalam kita dalam memenangkan pertarungan di medan pengkhianatan. Selamat memilih.

Btw, jangan sampai salah pilih yah kya yang JKT58 itu tuh. Ahahahaha. (Copas: Nggak ada maksud politis. Cuma icip-icip dikit. Ahahaha.)

NB. Setiap orang akan mengalami setidaknya sekali pengalaman pengkhianatan. Itu berarti, setiap orang diberikan kesempatan untuk menjadi manusia hebat! Wanna take it or not??

Mengambil Keputusan

64128209d591421e644f8005f931d301Bagi sebagian orang, mengambil keputusan adalah perkara yang mudah. Sebaliknya bagi sebagian orang lainnya, mengambil keputusan adalah sesuatu yang rumit. Njelimet. Akan makan apa hari ini, akan terus tidur atau akan bangun untuk berangkat kerja, akan nonton film ini atau itu, akan diet atau tidak, dst. Walaupun contoh-contoh tersebut bagi sebagian orang adalah perkara yang tidak mudah, namun saya pikir, contoh-contoh di atas tidak termasuk perkara yang sulit untuk diputuskan.

Jadi, kita harus membedakan dulu: apakah kita yang memang lambat mengambil keputusan ataaau apakah sesuatu yang akan diputuskan itu memang kompleks (butuh waktu untuk berpikir)? Soal mau tetap tidur atau bangun untuk bekerja (kondisi tubuh sehat), tentu bukanlah perkara yang sulit untuk diputuskan. Logikanya, kita dapat mengambil keputusan dengan cepat, sekejap, segera. Yaaa, paling lama 2 menit. Lebih dari itu, itu berarti males aja (semoga situ nggak tersinggung yaaa …. Ehehehe). Tentu berbeda “durasi” pengambilan keputusan terhadap hal ini: beli rumah atau beli apartemen? Atau malah beli tanah kosong saja untuk dibangun dengan konsep sendiri dan dana bertahap? Tentu ada berbagai pertimbangan dan perhitungan-perhitungan yang harus dipikirkan masak-masak sebelum akhirnya ketok palu.

Tentu risiko pasti akan ada pasca-keputusan. Namun, proses pengambilan keputusan menentukan seberapa besar risiko yang akan ditanggung. Selain itu, berbagai pertimbangan dan perhitungan akan mengarahkan kita pada pencapaian tujuan yang sebenarnya karena selama dalam proses berpikir tersebut kita melihat gambaran yang luas dan lebih dalam mengenai “perkara” yang akan kita putuskan. Yang saya tahu, jika seseorang berhasil mengambil keputusan dalam hal-hal yang kecil dan mudah, ia akan berhasil mengambil keputusan atas perkara yang besar. Perkara kecil itu adalah latihan agar kita matang mengambil keputusan atas perkara yang besar. Lha, kalau pilihan “tetap tidur atau bangun untuk berangkat kerja” saja gagal diputuskan, bagaimana bisa mengambil keputusan untuk banting stir dari menjadi seorang penjual mebel menjadi seorang presiden yang disiplin, tegas, santun, dan visioner? #mikiiir #bangunlahdaritidur #kerjakerjakerja

Nagari Balik Bukit

Layaknya seutas tali membentang dari ujung tempat matahari terbit hingga ke sana tempat matahari tenggelam, bukit itu telah jadi pagar kampungku dengan istana di balik bukit—demikian kata orang-orang kampung. Aku dan teman-teman sebayaku suka sekali pergi mengunjungi istana di balik bukit itu. Orang tua kami akan berteriak menyambar tatkala kami ketahuan sembunyi-sembunyi mendaki bukit. Namun, semakin kuat suara orang tua kami memanggil-manggil kami untuk kembali, semakin kami mempercepat langkah untuk berjalan miring menerobos lorong sempit sampai akhirnya berhasil menembus bukit. Di sana kami dihidangkan dengan pemandangan yang berbeda dari kampung kami. Kampung kami sulit air sehingga pohon tak begitu banyak. Tanaman hijau tak berumur panjang dan bunga warna-warni cukup jarang. Di istana balik bukit ini, sawah-sawah membentang luas. Pohon pisang, pohon jambu, dan pohon damar tumbuh di mana-mana, bahkan selalu berbuah pada musimnya. Bunga ungu, kuning, dan merah muda menghiasi perbukitan ini. Indah sekali.

Siapa yang tidak tergoda untuk selalu mengunjungi tempat ini. Kecuali ketika umurku bertambah, tubuhku semakin besar, sampai akhirnya aku tidak muat lagi melewati lorong sempit bukit. Jika ada istana sebegini indah di balik bukit kampungku, ada apa lagikah jauh di balik bukit demi bukit itu?

***

Subuh-subuh aku sudah dibangunkan Ayah. Awalnya kupingku panas mendengar suaranya. Namun, kali ini, sebelum Ayah bangun pun, aku sudah siap ke sumur! Aku ingin bertemu Rusmanizar. Sayangnya, kalau Ayah mendapati suara cekikikan tertahannya Rusmanizar karena leluconku, maka tidak lama kemudian terdengar suara Ayah dari kejauhan seperti mencari-cari. Tapi aku tahu, dia memanggil namaku bukan untuk mencari, tapi untuk menyuruhku segera pulang. Kalau kutanya mengapa aku harus cepat-cepat pulang? Ayah hanya akan menjawab: tak baik anak laki-laki dan perawan berduaan saja. Lama-lama, bisa digoda setan.

Benar saja. Tak lama kudengar namaku dipanggil dari kejauhan. “Ujang!”

Eh. Itu bukan suara Ayah. Bukan pula Bundo. Siapa gerangan pemilik suara itu?

“Jang!” Teriak orang itu lagi.

“Eh, Galado?! Itu sungguh kau? Kapan kau tiba? Kota sudah mengubah kau rupanya…. Aku hampir tak mengenalimu! Wajahmu terlihat lebih hitam memang, tapi kau terlihat lebih kuat. Kau agak gemuk sekarang. Bajumu juga bagus sekali.” Aku berpaling pada Rusmanizar. “Rusmanizar, masih ingat dengan Galado? Kawan lama kita. Tujuh tahun merantau, ingat pulang juga dia.” Kataku bersemangat. Rusmanizar mengulum-ulum senyumnya. Pipinya memerah.

Kami duduk bertiga di pematang dekat sumur. Betapa aku sangat merindukan kawan lamaku ini. Kawan karib. Kawan berlari-lari ke balik bukit.

“Ceritakanlah padaku dunia luar sana, Galado!” Kataku antusias. Aku memang benar-benar ingin tahu dunia luar. Aku ingin seperti dulu, lari ke balik bukit melihat istana bunian—padahal tak ada bunian di sana. Aku ingin ke negeri orang. Ingin melihat istana di seberang laut sana. Kalau boleh melihat-lihat anak gadis orang juga. Haha. Tapi tak akan kuduakan Rusmanizar.” Rusmanizar yang sedari tadi duduk diam mendengarkan percakapan kami, akhirnya tergelak juga. “Ah, uda ….” Katanya manja.

“Dunia mana, Jang. Dunia ini cuma satu, Kawan.”

“Iya iya. Aku sudah paham bahwa dunia satu adanya. Tapi aku tak tahu dunia di balik pagar bukit nan tinggi menjulang ini, Galado. Aku ingin benar-benar menyeberang dengan kapal atau menumpang bus menuju kota dekat matahari terbit.” Tiba-tiba suasana senyap. Aku kemudian sadar kalau mata kaki kananku miring karena terbentur batu sungai sebelas tahun lalu, ketika aku lulus SD. Dengan kondisi seperti ini, aku dapat pergi ke mana?

“Ah. Aku lupa kalau kakiku seperti ini.” Kataku sedih.

“Suatu saat pasti bisa. Yang kita perlukan adalah kemauan. Jalan pasti Tuhan siapkan, Jang.” Galado sangat yakin dengan perkataannya. Matanya berbinar-binar seperti melihat masa depan yang cerah dengan jelas. Aku terbawa oleh antusiasmenya.

Galado menceritakan ragam orang di kota. Banyak mobil dan sepeda motor. Bahkan sepedapun sudah beragam bentuk dan rupa. Rumah, besar-besar. Jalan-jalan diaspal mulus. Lampu malam berwarna-warni. Pernah pula dia bersua dengan bule. Mereka sering ke kampung-kampung dan dijuluki bule kampung atau diledek bule miskin. Kami tertawa. Namun, mengenai bule, aku tak tertarik sama sekali. Galado cerita pula tentang toko-toko dan gedung-gedung bertingkat. Ada banyak jenis kue-kue dengan beragam rasa dan bentuk-bentuk yang unik. Bahasa-bahasa yang bagi telingaku asing dan aneh juga tersedia. Fangki. Gue.

Di tengah perjalanan kami pulang, Rusmanizar pamit kembali ke rumahnya karena Bundonya pasti sudah menunggu. Dan entah mengapa, kali ini, cerita Galado berhasil mengalihkan perhatianku dari Rusmanizar.

Kuajak Galado main ke rumahku sekalian kupertemukan dengan orang tuaku.

“Siapa, Jang?” Teriak Ayah dari balik jendela. Di situ ada lubang dinding kayu yang bolong dan kemudian digunakan sebagai lubang pengintipan.

“Galado, Yah. Kawan lama Ujang.”

“Galado Pembawa Bencana?” Ledek Ayah.

“Ini Galado Pembawa Rezeki, Yah. Dia baru datang dari Jawa.”

“Alah! Banyak kato kau, Jang.”

Mendengar itu, Galado berhenti melangkah dan mohon pamit. “Sudahlah, Jang. Aku pulang saja.”

“Jangan masukkan ke hati kata-kata Ayahku.”

“Jang, orang-orang hanya melihat bahwa aku ini pergi merantau di saat Ibuku sedang membutuhkanku sebagai pengganti Ayahku yang meninggal. Dan dua tahun aku di perantauan, adikku yang paling kecil meninggal pula. Aku tidak bisa pulang karena aku terikat kontrak kerja dengan pengusaha di Jawa. Jang, dengan uang yang ada di kantongku, memang aku tidak bisa menghidupkan Ayahku ataupun adikku kembali. Tentu ada penyesalan di hatiku. Tapi apakah hidup dalam penyesalan itu berguna? Sekarang, Ibuku senang dengan kepulanganku. Bahkan ia berulang-ulang mengatakan bahwa Ibu dan Adikku tidak pernah mengutuki kepergian dan ketidakpulanganku pada waktu itu. Aku masih punya adik satu lagi. Mohamad. Ibuku, alhamdullillah, masih hidup dan sehat.” Galado terdiam untuk memastikan apakah aku mengerti segala perkataannya. “Jang, aku merasa tidak perlu menjelaskan semua ini kepada orang-orang kampung. Lihat sajalah tanahnya. Kering dan gersang. Tanaman sulit tumbuh. Ternak kekurangan gizi. Aku menolak tinggal di tempat yang membuatku menjadi orang yang terpuruk. Jadi aku pergi. Aku pergi bukan dengan kemarahan, tetapi dengan janji di hati: suatu saat, aku akan membangun kampungku. Tapi tampaknya, kampung ini sudah menolakku lebih dulu, bahkan atas kejadian yang sudah 7 atau 8 tahun lalu. Jadi, Jang, saat ini, aku sekalian pamit padamu. Aku, Ibuku dan Adikku akan aku bawa serta ke Jawa. Di sana aku sudah punya rumah. Kecil. Tapi aku rasa itu cukup untuk kami bertiga. Maafkan aku kalau aku ada salah padamu, Jang.” Galado menarik napas. “Jang, dengan kondisi kakimu itu pun, kau bisa menjadi Ujang yang terbaik. Pikirkanlah. Semoga kita bertemu lagi, Jang!”

Setelah menepuk pundakku, Galado berlalu dengan langkah yakin. Aku tergidik.

***

Beberapa bulan telah berlalu. Aku teringat dengan perkataan Galado. Kubuka mataku lebar-lebar dan kuperhatikan tanah kelahiranku. Betul kata Galado. Di sini kering. Apalagi Rusmanizar akan “diberikan” kepada orang lain. Hidupku semakin tandus. Yah, orang tua mana yang mau menyerahkan dan mempercayakan anak gadisnya kepada laki-laki dengan cacat kaki sepertiku ini.

Hidupku sekarang tak jauh-jauh dari menggembalakan tiga ekor kambing, mengisi 2 drum air di belakang rumah, dan memandikan ayam kesayangan Ayah. Usiaku sudah hampir 23 tahun. Mau bagaimana ini aku?

“Ah, Ujang. Lama nian di sumur!”

“Memangnya ada apa, Bundo?” Aku bergegas berdiri.

“Ayah menunggu di kaki bukit.”

“Kaki bukit?” Bukit di kampung ini hanya satu. Apa aku tidak salah dengar Ayah ada di situ?

“Bergegaslah, Jang. Tampaknya sudah lama Ayah menunggu. Bawalah nasi ini. Sebentar lagi matahari sudah berdiri di atas ubun-ubun.”

Sepanjang jalan aku memutar otak. Seumur-umur, baru kali ini Ayah mengajakku bertemu di bukit. Dan itu adalah bukit tempat aku, Galado, Rusmanizar, dan Siti main-main. Siti sudah menikah beberapa tahun lalu. Adiknya Siti memiliki kemiripan dengan Rusmanizar. Mungkin suatu saat, aku akan berjodoh dengannya.

Aku mengambil langkah seribu hingga sampailah aku di kaki bukit. Aku dapat melihat Ayah. Sesekali aku hendak menegur sebelum benar-benar sampai, tapi tak pernah jadi. Punggungnya melengkung ke depan. Beberapa lembar rumput tersangkut di bajunya. Di pinggangnya ada sabit. Aku langsung saja duduk di sisinya.

“Yah…”

“Apa yang kau bawa itu?”

“Nasi. Bundo yang suruh bawa tadi. Lapar, Yah?”

“Mari kita makan.” Katanya tanpa basa-basi.

Dalam makan, kami banyak diam. Kadang-kadang terdengar suara helaan napas Ayah yang begitu panjang. Ketika itulah aku berusaha mengucapkan sesuatu: masakan Bundo selalu enak ya, Yah. Atau: tambah, Yah? Setelah itu, tak lama, sunyi lagi. Hanya suara ranting bergesekan atau suara angin mendesis mengisi kesenyapan di antara kami.

“Jang,” kata Ayah menyudahi makannya. “Nanti,” matanya menjurus jauh ke kaki langit seolah tak mengacuhkan wajahku yang bingung. “Nanti…, kalau kau sudah di negeri seberang, jangan lupa kampung halaman, ya, Nak?”

“Maksud, Ayah?”

“Sudah saatnya kau pergi merantau. Benar kata Galado.” Ayah menarik napas lagi. “Mungkin kecintaan Ayah yang buta akan kampung kita ini telah membuat Ayah salah menilai Galado. Namun, Ayah harus pakai ini,” kata Ayah sambil menunjuk kepalanya, “… untuk bisa jernih melihat.” Ayah menatapku tajam. “Jika kau memang ingin merantau dan berani pergi dengan kondisi kakimu yang seperti itu, Ayah merestuimu, Jang. Asal, kembalilah. Bangunlah kampung kita yang kering ini. Yang gersang ini. Jangan sampai kampung ini semakin kosong karena kampung ini menolak kita. Dan jika kau bertemu Galado di Jawa, sampaikan maaf Ayah padanya.” Tentu meminta maaf itu bukan perkara yang mudah bagi seorang laki-laki dewasa. Apalagi maaf kepada anak ingusan. Namun, Ayah melakukannya. Dan dia telah melakukan sesuatu yang benar.

Ayah bangkit dari duduknya. Ia melangkah menjauh dengan keyakinan dan kesiapan hati untuk ditinggal pergi oleh anak satu-satunya. Dan aku, berdiri di antara bukit dan Ayah. Ooh! Aku merasa baru saja keluar dari penjara!

[2005 – 2017]

***