PERBEDAAN dan HUBUNGAN

Manusia membutuhkan orang lain. Manusia butuh merasa ada di dalam suatu komunitas, merasa dianggap, ataupun merasa menjadi bagian dari sekelompok orang dan merasa memiliki suatu komunitas. Manusia membutuhkan hal tersebut karena itu adalah hakikat dasar manusia.

Berada di dalam komunitas baru dengan segala sesuatu yang baru tentulah tidak mudah. Apalagi jika seseorang tersebut masuk ke dalam lingkungan yang orang-orangnya sudah saling terikat sebelumnya. Orang baru tersebut akhirnya—dapat saja—menjadi orang asing yang sungguh-sungguh asing dengan lingkungannya dan kemudian merasa asing dengan diri sendiri: apakah kita yang “aneh” atau lingkungan kitakah yang memang “baru” sehingga kita butuh kerja keras untuk beradaptasi dengan sekitar kita?

Bagaimana sebuah komunitas berinteraksi dan berkomunikasi akan menentukan kualitas hubungan setiap anggota di dalamnya. Semakin jarang komunikasi dan interaksi dilakukan, maka akan semakin jauh jarak dan hubungan di antara keduanya. Semakin jarang orangtua berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak-anaknya atau dengan tetangga-tetangganya, maka akan semakin jauh dan semakin sulit hubungan di antara keduanya. Semakin jarang suami dan istri menjalin komunikasi dan interaksi, maka hubungannya akan semakin jauh, tidak menarik, membosankan, dan akhirnya merasa tidak memiliki ikatan. Demikian pula di tempat kerja: jika semakin sibuk atau memilih sibuk dengan pekerjaan, maka akan semakin sedikit peluang atau malah tidak ada peluang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan karyawan lain. Namun, kondisinya bisa saja karyawan tersebut harus memilih bekerja demi target kerja tercapai, demi prestasi agar mendapat promosi dan mendapat penghasilan ekstra untuk bayar uang sekolah anak. Atau memang karena karyawan tersebut memiliki karakter pendiam, atau pasif, atau pekerja, atau pemikir, atau eksklusif, atau memang sedang dalam proses adaptasi.

Berbagai perbedaan telah menjadi kekayaan diri kita dan perbedaan juga menjadi “pemberat” dalam menjalin hubungan yang dekat dan kuat. Bagaimanapun, perbedaan tidak dapat dielakkan. Bagaimanapun, kita tidak dapat hidup sendirian. Di tengah-tengah keberbedaan, kita harus berinteraksi dan berkomunikasi. Dan pada akhirnya, bagaimanapun, manusia harus menggeliat, bergesekan, atau mungkin harus berbenturan di dalam usaha menjalin, membangun hubungan satu dengan yang lainnya. Jelas ini tidak mudah, namun ini harus dan pasti bisa dipilih dan diusahakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s