Kenyataan – Kebenaran

Sungguh sangat mengagetkan ketika mengetahui bahwa “kebenaran” yang selama ini kita pandang sebagai kebenaran ternyata adalah sesuatu yang salah! Belum lagi jika”kebenaran” tersebut sudah kita yakini dan pegang teguh selama bertahun-tahun, belasan taun, puluhan tahun, atau seumur hidup kita.

Seorang siswa membanting pulpennya ke pinggir meja ketika mengetahui bahwa kata hubung “maka dari itu” tidak (lagi) tepat, khususnya dalam penulisan. Kata hubung itu sudah seharusnya diganti dengan kata hubung “oleh karena itu” atau “oleh sebab itu”. Siswa SMA tersebut mendebat gurunya dan mengatakan bahwa sejak SD, yang ia tahu dan diajarkan oleh gurunya, adalah kata hubung “maka dari itu”. Guru SMA itu menjelaskan bahwa bahasa selalu mengalami perubahan tertata dan disepakati bersama (oleh ahli bahasa). “Oke, dulu kata hubung ‘maka dari itu’, betul digunakan. Namun, sekarang adalah ‘oleh karena itu’ atau ‘oleh sebab itu’. Kalaupun kamu selama ini salah, toh sekarang sudah tahu bahwa ada perbaikannya.”

Tampak wajah siswa SMA tersebut masih marah dan tidak suka dengan kondisinya (kenyataan) saat itu. Ia memang tidak marah karena dikoreksi, namun ia kesal pada dirinya sendiri, pada guru yang mengoreksi karena ia merasa tidak patut dikoreksi (jika ia tahu bahwa yang benar adalah ‘oleh karena itu’ atau ‘oleh sebab itu’, ia tentu tidak melakukan kesalahan remeh sekaligus parah itu), pada keadaan yang ia alami: selama ini ia menerapkan kata hubung tersebut secara salah karena mendapatkan informasi yang salah dari gurunya selama ini!

Bagaimana dengan kita? Mungkin kebenaran “kata hubung” hanyalah persoalan sepele. Bayangkan jika kebenaran yang selama ini kita yakini dan pegang teguh, bahkan yang kita perjuangkan dengan taruhan nyawa ternyata adalah kebenaran yang salah! Misalnya, tentang iman. Bayangkan, iman (kepercayaan, agama) yang kita anut itu ternyata salah! Padahal, kebenaran tersebut sudah digenggam di hati begitu eratnya sejak zaman nenek luhur. Ketika anda tahu bahwa ternyata Anda dan segenap keturunan anda rupanya salah, bagaimana perasaan, pikiran, keadaan jiwa Anda saat itu? Mungkin tidak hanya pulpen yang akan Anda banting ke pinggir meja, tetapi orang yang menyatakan bahwa anda telah menganut/ memercayai/ mengimani sesuatu yang salah itu yang akan Anda banting ke pinggir meja dengan keras. Lalu mengoyakkan jiwa anda dengan menyakitkan, dst (silakan anda teruskan sendiri). Kecuali, kecuali jika anda adalah penganut yang ecek-ecek, gampangan, dan tidak pedulian! Anda bahkan mungkin tidak mendengarkan pengajar anda yang menyatakan kebenaran tersebut, atau segera menolak perkataannya bahkan sebelum ia selesai berkata-kata.

Ini sepenggal renungan, pemikiran yang saya dapat, sekadar berbicara kepada diri sendiri, dan mengajak anda berpikir dan bersiap-siap. Hanya itu. Selebihnya, anda akan mengalaminya. Gbu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s