KELUARGA MASA KINI

Sejauh yang kita tahu, pengertian keluarga adalah terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Keluarga yang demikian sangat lazim dan umum sekali ada di dalam kenyataan. Lalu bagaimana dengan keluarga masa kini?

Sudah tidak aneh lagi, mungkin—setidaknya bagi saya—bahwa keluarga masa kini tidak lagi terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Memang setiap orang berasal dari seorang ayah dan ibu. Baik secara harfiah, maupun secara batiniah. Namun, hal itu tidak menjamin bahwa anak-anak pasti mutlak “memiliki” ayah dan ibu, pasti dibesarkan dan menjadi tanggung jawab yang serius dari orang-orang yang menjadi orangtua biologis mereka.

Banyak bayi di zaman sekarang ini ditemukan di sungai, di tong sampah, atau di depan pintu rumah panti/rumah penduduk. Mereka semua jelaslah berasal dari kandungan seorang wanita dan hasil persenggamaan antara laki-laki dan perempuan. Anak-anak itu, kemudian, dibesarkan oleh orang-orang yang bukan orangtua kandung mereka, melainkan oleh orang lain yang memiliki hati sebagai orangtua. Pada akhirnya, terbangunlah sebuah keluarga.

Ada juga anak yang lahir dan dibesarkan oleh orangtua kandungnya. Namun, pada usia tertentu—usia anak belasan tahun, lima tahun, atau bahkan sebelum anak bisa mengingat, orangtua tersebut berpisah. Tinggallah anak dengan salah satu orangtua kandungnya, atau tinggal bersama kakek atau neneknya. Atau, dikirim ke rumah salah satu saudara orangtuanya yang jauh (berada di luar kota, atau luar propinsi, atau luar pulau, atau luar negeri). Di tempat yang baru, bersama orang-orang yang baru dan bertanggung jawab terhadap dirinya, anak tersebut “membangun” keluarga yang baru. Keluarga.

Contoh lain keluarga masa kini adalah anggota keluarga yang lengkap: ayah, ibu, dan anak. Semua berada di dalam satu rumah dan menjalankan hidup sebagaimana apa adanya: di dalam kekurangan, kecukupan, atau kekayaan yang melimpah. Namun, kelengkapan daftar hadir tersebut timpang karena tidak dibarengi dengan “kehadiran” pemuasan kebutuhan batin dan spiritual. Dengan demikian, terjadi banyak konflik, perang dingin, atau ketimpangan jiwa. Apakah yang demikian itu dapat disebut sebagai keluarga? Di tengah-tengah konflik keluarga yang ada, anggota keluarganya mungkin saja ada yang mulai tidak tahan hingga akhirnya memilih sign out dari “keanggotaan” keluarga. Atau malah dikeluarkan!

Keluarga masa kini (baca: yang seperti ini) tidak boleh dijadikan tren. Dalam perkataan lain, jangan dibiarkan dikendalikan oleh “zaman”.

Keluarga masa kini sungguh sangat dinamis dan kompleks; tidak sesederhana kehadiran ayah, ibu, dan anak-anak belaka. Keluarga bukanlah benda mati. Ia hidup dan memiliki keinginan, kebutuhan, hasrat, dan cita-cita. Pergesekan pasti terjadi, keinginan dan kebutuhan dapat saja tidak terpenuhi, keinginan dan kebutuhan menang-menangan, hasrat saling tarik dengan sesama anggota keluarga yang lain, cita-cita sulit disatukan. Namun demikian, keluarga itu manis dan ngangenin. Bagi beberapa orang yang berada dalam situasi yang sulit saat ini, keluarga yang baik adalah tempat dan suasana yang tetap menjadi dambaan, atau impian. Keluarga bahagia bukanlah ilusi. Keluarga bahagia dapat diwujudkan. Pertanyaannya, apakah kita mau memilih dan berjuang untuk mewujudkannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s