TIGA SERANGKAI

orangtua-bertanya-guru-130905bOrangtua, anak-siswa, dan orangtua: ketiganya tidak dapat dipisahkan dan tidak boleh berbenturan apalagi dibenturkan. Ketiganya harus saling memahami fungsinya dan tujuannya.

Orangtua, anak/siswa, dan orang tua: tentulah kita langsung paham bahwa “target”nya adalah anak/siswa karena memang merekalah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga membutuhkan bimbingan dan teladan dari orang yang memang seharusnya memberikan hal tersebut.

Namun, fakta di lapangan, agaknya mengherankan saya—setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi dan berdasarkan cerita-cerita dari beberapa teman seprofesi dengan saya: guru. Terkadang, anak dimasukkan ke sekolah karena orangtua berharap guru dapat melakukan semua pen-didik-an yang harus anaknya terima. Dengan demikian, orangtua tidak lagi mengemban tanggung jawab (yang mungkin mereka rasa sebagai beban). Semua tanggang jawab orangtua sudah dilimpahkan kepada guru. Harapannya, ketika anaknya pulang dari sekolah, anak tersebut sudah berbeda alias menjadi seperti yang mereka idam-idamkan, seperti yang mereka impi-impikan. Apalagi ketika anaknya lulus sekolah, wah, harapan itu semakin tinggi dan harapan itu bagi mereka sudah seharusnya mereka terima—mengingat pula mereka sudah membayar uang sekolah yang sangat mahal dan semakin mahal sekarang-sekarang ini. Mungkin hal ini terjadi karena ada pengaruh ekonomi: orangtua semakin giat mencari uang karena tingkat kebutuhan ekonomi dan gaya hidup sekarang ini terus melonjak dan meningkat. Ketika mereka sibuk sekali bekerja, mereka sudah kehabisan waktu dan ketika ada waktu, mereka sudah lelah untuk melakukan bagian mereka dalam mendidik anak mereka. Dengan demikian, tanggung jawab yang mereka harus lakukan terhadap anak mereka dilimpahkan sepenuhnya kepada guru dengan alasan: saya sudah bayar uang sekolah mahal-mahal—uang yang mahal itu saya dapatkan dari kerja keras yang sangat menyusahkan. Ah, padahal, mereka tidak perlu juga sih untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah yang super mahal—kalau memang tidak mampu-mampu amat (ini ada hubungannya dengan karakter—ingat Mamon di Matius 6:24). Mengapa? Ada banyak sekolah yang tidak begitu mahal—memang tidak pula murah banget—yang mutunya tidak kalah dengan sekolah yang mahal-mahal amat itu.

Demikian pula dengan guru. Menurut saya, guru pun perlu mengevalusasi diri. Fungsinya adalah untuk mencuci dan menyegarkan kembali panggilannya sebagai guru yang tugasnya mulia. Selain itu, terkadang guru juga perlu belajar komunikasi terbuka dan belajar berinteraksi dengan wibawa seorang guru. “Kasarnya” begini, guru harus berani mengungkapkan hal-hal yang terjadi di lapangan secara terbuka kepada orangtua ataupun siswa. Jangan malah bicara di belakang, jangan malah menggerutu di belakang dan menyebarkan aura negative kepada yang lain, jangan pula malah disimpan sendiri sehingga persoalan yang seharusnya mudah untuk diselesaikan malah tidak selesai. Tahu-tahu beberapa bulan atau tahun kemudian, masalah tersebut muncul lagi secara mendadak dan semakin sulit untuk diselesaikan.Parahnya lagi, guru yang bersangkutan resign. Repot!

Guru juga harus mampu berinteraksi secara terbuka dan penuh wibawa. Bukan berarti kaku, yaaa…. Maksud saya adalah ketika guru harus berhadapan dengan berbagai karakter orang tua (dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang berbeda, bahkan dengan motivasi yang kita tidak tahu), guru harus siap dan tetap tenang menghadapinya. Dengan satu motivasi, bahwa orang tua adalah partner kerja kita di dalam mendidik anak. So, jangan takut. Lagipula wajar juga sih kalau ada orang tua yang datang ke sekolah atau harus diundang ke sekolah untuk berdiskusi (bahkan untuk meluapkan kemarahannya) kepada sekolah/guru tertentu. Terimalah mereka dengan senang hati. Dengarkanlah mereka dengan sabar. Setelah mereka selesai bicara, barulah buka mulut untuk berdiskusi baik-baik. Ingat, guru adalah guru. Siapapun yang akan dihadapi, guru adalah guru. Artinya, ketika guru harus berhadapan dengan orangtua siswa, itu berarti guru sedang menghadapi murid juga: murid yang padanya kita belajar bersabar. Ini bukanlah sebuah sindiran. Ini seriusan.

Anak pun harus memahami siapa dirinya: murid. Artinya, dia sedang membutuhkan didikan dan memang harus diajar. Anak/ssiwa harus mau diajar, harus rendah hati, dan mau taat melakukan bagiannya sebagai murid. Anak harus paham bahwa guru dan orangtua memiliki porsi yang sama sebagai otoritas yang bertanggung jawab mendidik dan membesarkannya. Sayangnya, kadang-kadang, ada anak yang memanfaatkan latar belakang keluarganya untuk mengintimidasi guru dengan bilang, “Awas lho, nanti saya laporkan ke pengacara keluarga saya!” Kadang-kadang ada anak yang memprovokasi guru atau orangtuanya sendiri untuk membuat suasana semakin panas. Kadang-kadang, ada juga anak yang takut mengungkapkan pikiran dan perasaannya karena tekanan tertentu. Anak adalah murid yang harus bertumbuh—mau tidak mau, mereka harus bertumbuh dan akan tetap bertumbuh. Namun, bagaimana proses yang ia alami akan menentukan bentuk tumbuhnya.

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today. -Stacia Tauscher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s