The Revenant: Film Berhasil!

20160217_220718Sudah lama tidak nonton film bagus seperti ini!

Itu kalimat yang segera muncul ketika saya berniat menulis di sini.

Saya cukup setia mengikuti film-film yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Awalnya dari Titanic (SMP kelas 1). Begitu kuliah, saya bongkar daftar film-film yang dibintangi Leo di internet lalu bergegas meminjamnya ke tempat penyewaan film (kala itu mahasiswa). Lumayan jauh juga sih dari SMP kelas 1 ke tingkat mahasiswa semester 1 atau 2. Itu ada sekitar 6 tahun kemudian. Maklumlah, di kota kelahiran saya belum begitu marak dan lazim orang menonton film selain film yang ada di televisi.

Lama kemudian rasanya Leo baru main film lagi. Sewaktu dia vakum, berita seputar Leo adalah tentang kekasih dan istrinya. Tidak ada yang hit karena memang pria ini “bersih” sehingga tidak ada bahan yang bisa dijadikan gosip hangat—apalagi gosip yang bertahan lama. Begitu muncul The Revenant, saya langsung “catat”: kudu nonton!

Kemarin (17/2) saya tonton itu film. Kalau film bagus, nontonnya di bioskoplah. Bagaimanapun, pembangunan suasana di bioskop itu beda buanget. Kecuali bioskop ecek-ecek, yaa….

Dari segi cerita, ceritanya tidak begitu rumit dipahami. Mungkin cenderung cukup umum. Dan memang persoalan manusia dari zaman dulu sampai sekarang itu, umum. Sering terjadi, berulang, menyejarah, siklus, berputar! Oke, mari kita kembali ke cerita saja. Ceritanya sangat padat, sangat kuat, sangat hebat! Dengan durasi 2 jam 36 menit, cerita The Revenant sangat ketat. Mulai dari Glass dan Hawk yang sedang berburu, lalu di kamp mereka terjadi perang dengan sangat mengejutkan antara suku Ree dengan orang kulit putih. Adegan pembunuhan pertama yang saya saksikan adalah sebuah anak panah menancap dengan cepat, sekejap, dan sekonyong-konyong di leher orang kulit putih. Spontan saya teriak. Itu sangat amat memukau. Jelas, bukan pembunuhan itu yang memukau, tetapi betapa itu masuk akal terjadi pada masa itu—dan mungkin juga sekarang; dalam bentuk yang lain. Dari awal hingga akhir, saya kerap menarik nafas seperti ingin segera tahu apa yang akan terjadi berikutnya, dan ingin tahu bagaimana nanti akhir ceritanya. Akhiri saja! Ceritanya sangat tidak bisa ditebak. Atau lebih tepatnya, karena begitu ketatnya alur cerita, penonton dibuat tidak sempat memikirkan hal-hal lain selain mengikuti alur cerita. Tidak ada celah bahkan titik sekecil apapun pada ceritanya sehingga membuat saya bosan dan malas berpikir dalam kesekaligusan mengikuti jalan cerita. Saya berpikir sepanjang film itu. Dan saya suka! Film itu hidup! Bagaimana Glass (Leo) diganyang oleh induk beruang yang besarnya bisa 7 kali lipat tubuh Glass dan beratnya entah berapa ton! Kekuatannya entah berapa kali hantaman buldoser! Tidak ada gerak-gerik beruang yang menunjukkan bahwa itu adalah permainan komputer belaka. Dahsyat! Ah! #tepokmeja

Selain itu, sinematografinya juga keren. Detail! Dari awal hingga akhir, film ini menghargai detail dan tidak penat-penat terus bergiat dengan detail. Betapa luar bisa kerja kerasnya. Saya sangat penasaran, bagaimana teknik pengambilan gambar. Kamera apa yang dia pakai karena ketika saya menontonnya, saya seperti melihat layar cembung/cekung sehingga seolah-olah saya dapat melihat seluruh apa yang ada di dalam situ (film). Gimana yah ngejelasinnya! Yang saudah nonton dan merhatiin film ini, mungkin bisa ngerti lah maksud saya. Lalu, semua pancaindera saya jadi aktif. Penglihatan, pendengaran, perasa, peraba, penciuman, bahkan perasaan/insting saya. Gambar yang detail ditampilkan, suara yang berhasil ditangkap dan direkam sangat detail—bahkan hingga titik-titik air yang menetes-netes dari ujung dedaunan, rasa sakit, perih, bau darah, hangatnya api, dinginnya sapuan angin, bahkan emosi yang ditampilkan di film, itu hidup dan berhasil mengena kepada penonton (saya). Terus terang, film ini berhasil menggerakkan rasa dan tubuh saya untuk “berbuat”. Untuk bergerak. Untuk melakukan sesuatu. Bahkan untuk terlibat di dalam film. Saya simpulkan: film ini berhasil! Sama seperti khotbah yang cerdas, yang giat, yang padat, yang dalam, yang tidak membosankan, dst, dsb sehingga membuat jemaat atas inisiatifnya sendiri atau secara otomatis bergerak untuk ikut di dalam isi khotbah dan melakukan kebenaran yang disampaikan di dalamnya, maka: khotbah tersebut berhasil! Memang tidak mudah membut film ataupun khotbah yang hasilnya “berhasil” seperti ini. Namun, bukan tidak mungkin!

Di luar itu semua, saya senang Leo main film lagi dan meraih Golden Globe. Dia layak mendapatkannya. Saya masih menunggu penghargaan untuknya di Academy Awards. Kalau dia tidak tembus Academy Awards pun, bagi saya, dia sangat amat pantas menjadi aktor hebat yang dielu-elukan. Bahkan jika ada penghargaan yang lebih tinggi dari AA, dia pun layak untuk itu. bukan hanya karena kerja kerasnya di dalam film-filmnya, tetapi juga karena kehidupannya yang “lurus”. BRAVO, LEO!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s