Harapan Besar bagi Bangsa

Saya adalah salah satu orang yang sempat tidak lagi ambil pusing dengan negeri ini akan jadi apa, negeri ini sedang berjalan ke mana, negeri ini akan berakhir seperti apa; apakah akan menjadi buruk atau bagus; menjadi kacau atau damai, saya sudah tidak ambil pusing.

Kok?

Pertanyaan itu tidak sekonyong-konyong datang begitu saja sampai akhirnya Indonesia ada di titik seperti sekarang ini. Dan lantas ketika pertanyaan itu mencuat ke permukaan, jawabannya tentu tidak sekonyong-konyong ada seperti di mana ada gula di situ ada semut—di mana ada pertanyaan, di situ juga akan ada jawaban.

Lalu, mengapa sikap tidak ambil pusing terhadap negeri sendiri ini bisa muncul yah? Ah, saya pikir-pikir lagi, tampaknya saya mulai bisa memetakannya ketika teman sekantor saya bertanya: mengapa Ibu begitu antusias jika membicarakan Pak Ahok dan Pak Jokowi (intinya, tentang bangsa ini). Ditanya begitu, saya merasa senang (karena saya dipandang sebagai orang yang antusias, bukan alay) dan juga merasa tertampar. “Iya, yah?!” pikir saya.

Lalu ia bertanya lagi, “Dulu (sebelum zaman Pak Ahok dan Pak Jokowi) apakah juga seantusias ini, Bu?” Saya segera menjawab, “Tidak. Dulu saya tidak ambil pusing dengan bangsa dan negeri ini. Negeri ini seperti berjalan semau gue (gue=pihak-pihak tertentu). Elu elu, gue gue. Jadilah seperti saya yang “dulu itu”, yaitu yang tidak mau ikutan pusing apalagi ambil ke-pusing-an itu.  Bukankah para wakil rakyat itu tidak ambil pusing dengan kita—padahal itu adalah tanggung jawab mereka untuk mengambil ke-pusing-an rakyat sehingga mereka harus mengatasinya dan rakyat jadi enggak pusing. Lha, sekarang mereka malah nambah-nambahin kepuyengan hidup kita dengan bersikap “enggak mau tahu” bahkan lempar batu sembunyi tangan.

Sekarang, harapan itu mulai menyala semakin benderang dengan kehadiran dan sepak terjang Pak Ahok di Ibu Kota dan Pak Jokowi di Indonesia (bahkan hingga Papua yang sejak zaman presiden pertama nggak dijamah; Papua dijadiin bahan tontonan aja). Bukankah ini luar biasa? Kita semua tahu banyak hal yang mereka berdua telah lakukan. Dan giat-gigihnya beliau berdua telah merasuk ke dalam sikap “masa bodo” saya; mengusiknya; membuatnya gelisah; dan menyalakan api harapan di dalamnya. Dari situlah saya mulai mengikuti perkembangan bangsa dan negeri ini (melalui berita-berita kedua tokoh perubahan ini). Dari situ pula mulai muncul kecintaan dan kebanggaan saya sebagai seorang warga negara Indonesia. Dan, “Ah!” kemudian saya sadar bahwa saya adalah manusia Indonesia. Pemilik bangsa ini. Saya adalah bagian dari negeri Indonesia tercinta. Saya ikut berinvestasi melalui doa-doa bagi kemajuan bangsa ini dan melalui pendidikan di tempat saya bekerja saat ini. Dulu, mungkin saya berdoa sebagai sebuah kewajiban. Namun sekarang, saya berdoa dengan keyakinan dan dengan segenap kekuatan bagi kemajuan dan kebangunan bangsa ini. Indonesia! Ketika ada ancaman dari dalam ataupun dari luar, darah saya ikut menggelegak. Emosi saya ikut “terpancing”. Secara spontan, saya ikut mengambil posisi “siap tempur” demi bangsa dan negeri tercinta. Bagi Anda yang belum memiliki atau belum ada di posisi ini, mungkin itu karena Anda belum mengenali dan menyadari hubungan Anda dengan bangsa-negeri ini. Anda belum melihat batu mulia di dalam negeri ini.

Harapan bagi bangsa ini pasti ada sejak awal. Lalu harapan itu “redup” ketika orang-orang yang seharusnya menjaga nyala harapan itu malah meredupkan/mematikannya. Lalu harapan itu kembali menyala ketika ada orang-orang yang mau “pasang badan” untuk menyalakan dan menjaga nyala api harapan itu. Berdua saja (Pak Ahok dan Pak Jokowi), mereka tentu tidak sanggup (untuk jangka waktu yang panjang). Mereka tentu punya ketahanan yang tidak akan berlangsung selama-lamanya. Lalu bagaimana? KITA. Kitalah yang dapat membuat mereka tahan melakukan bagian mereka dengan ikut meng-“ambil “pusing” negeri ini. Mengapa? Karena negeri ini memiliki harapan yang besar. Nyala harapan itu saat ini masih bisa diperbesar lagi karena di dalam negeri ini ada banyak sekali “terang” yang belum dinyalakan. Kita bisa menjadi ahok-ahok dan jokowi-jokowi kecil untuk memantik nyala api di manapun dan bagaimanapun. Sekaranglah saatnya! Iya, sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s