Guru, Apa yang Menggerakkanmu?

Teacher-Stress-dv1453015 Menjadi guru bukanlah perkara yang mudah—sekalipun itu sudah jelas-jelas menjadi panggilan hidup kita. Apalagi jika itu bukan panggilan hidup kita! Saya dapat membayangkan betapa susah payahnya Anda setiap hari karena Anda memaksakan diri untuk mengerjakan panggilan yang bukanlah panggilan Anda! Setiap hari adalah hari yang berat. Setiap kelas dipandang sebagai kelas yang hanya akan membuat Anda lelah. Setiap anak akan Anda pandang sebagai manusia yang sulit dan bermasalah. Anda sendiri akan merasa ada di dalam jebakan dan tidak ada jalan keluar selain resign—dan kebanyakan dari kita (terutama yang sudah berusia 40 tahun-an) lebih memilih untuk tetap bertahan ketimbang resign lalu mencari pekerjaan yang lain. Hal semacam ini sungguh hanya akan membuat proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan setiap hari semakin berat. Hari-hari Anda akan dipenuhi keluhan, gerutu, dan hal-hal negatif lainnya. Lalu, dalam kurang dari dua tahun, Anda menjadi lebih tua 5 atau 10 tahun!

Sungguh, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas seizin Tuhan dan semua ada dalam pengawasan dan kendali Tuhan. Jika saat ini ada di antara Anda (para guru) yang merasa bahwa menjadi guru bukanlah panggilanku, sebaiknya mulailah memikirkan beberapa pertanyaan ini: Apa yang mengendalikanku dalam mengajar? Apa yang menjadi motivasiku dalam usaha mencapai target belajar mengajar? (atau jangan-jangan Anda tidak memiliki target apapun?) Apa yang menggerakkanku untuk memperjuangkan sesuatu ataupun memberikan yang terbaik dalam segala hal? Atau, apakah aku sudah (setidaknya mencoba) memberikan yang terbaik?

Menjadi guru adalah panggilan hidup. Panggilan itu datangnya dari Tuhan dan harus dikembalikan kepada-Nya demi kemuliaan-Nya. Segala sesuatu yang kita bawa ke hadapan Tuhan haruslah yang terbaik! Bahkan berkali lipat kualitas dan kebaikannya. Jika saat ini Anda merasa bahwa menjadi guru bukanlah panggilan hidup Anda sementara Anda sudah menjadi seorang guru, jangan berhenti membaca artikel ini. Teruskan saja dulu. Saya akan lanjutkan. Pertanyaan saya sederhana saja. Apakah ada hal-hal di berikut ini di dalam pikiran Anda yang datang hingga berkali-kali: (mengumpulkan) uang, (meraih) ketenaran, (lebih melihat) kekurangan diri alias merasa “ah, gw ga bisa nih jadi guru”, merasa takut jika akan ada komplain dari siswa/guru rekan kerja/orangtua, atau pikiran tentang nama-nama/wajah-wajah orang yang tidak menyenangkan di sekitar lingkungan sekolah.

Di zaman ini, setiap kita pasti butuh uang. Kita juga butuh dianggap dan mendapatkan apresiasi dari orang lain. Setiap kita memiliki kekurangan (dan jangan lupa bahwa kita juga punya kelebihan!), pasti ada saat di mana kita akan mendapatkan masukan/komplain/kritikan untuk mengasah kemampuan kita menghadapinya, mengasah kemampuan kita mengambil keputusan dan mencari solusi, melatih kita untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Dan tentu setiap kita punya daftar nama orang yang kita tidak senangi karena ketidakcocokan berbagai hal dengan orang-orang tersebut. Namun, cobalah berpikir “terbalik”: apakah kita sudah pasti hanya memiliki hal-hal yang pasti menyenangkan orang lain? Lihat diri kita sendiri. Kita pun memiliki bagian-bagian yang berpotensi tidak menyenangkan orang lain, yang membuat orang lain tidak nyaman dengan kita! Tuhan saja pun memberikan berkat-Nya kepada semua orang: yang percaya kepada-Nya (yang menyenangkan Dia) dan yang tidak percaya kepada-Nya (yang tidak menyenangkan-Nya)—Matius 4:44, 45.

Sebenarnya, yang perlu dibenahi adalah pola pikir kita; perspektif kita; cara kita memandang; dan kondisi pikiran kita. Apakah pikiran kita tertutup? Apakah beban hidup dan berbagai pikiran di atas telah mengganggu dan menguasai Anda dan membuat fokus Anda berubah dari “melayani Tuhan” kepada “masalah-masalah”? Jika iya, maka segeralah bereskan hal tersebut. Jika itu beres, saya yakin, hari-hari Anda di sekolah dan di kelas adalah hari-hari yang menyenangkan. Hari yang Anda tunggu-tunggu. Bertemu rekan kerja ataupun siswa adalah momen yang berharga dan tidak ingin Anda lewatkan. Anda akan berusaha keras untuk memberikan pembelajaran terbaik tanpa merasa lelah. Hidup Anda menjadi begitu ringan. Hati Anda bebas merasakan sukacita. Kaki Anda nyaman melangkah di lorong kelas. Dan, Anda selalu tersenyum. Lalu, tanpa Anda sadari, hari gajian pun tiba! 

Jika Anda sudah membereskan “masalah-masalah” itu di hadapan Tuhan dan Anda masih saja merasa ada yang tidak “cocok” atau yang membuat hati Anda tidak tertanam di sekolah, sebaiknya Anda segera bertanya kepada Tuhan memohon petunjuk-Nya: apakah panggilan hidup Anda yang sebenarnya. Dan jika guru bukanlah panggilan hidup Anda, tetapi sesuatu yang lainlah yang menjadi panggilan hidup Anda, sebelum terlambat, lakukanlah apa yang sebaiknya Anda perlu dan harus lakukan. Ini demi kebaikan Anda sendiri! Semoga tulisan ini meneguhkan Anda. Gbu.

One thought on “Guru, Apa yang Menggerakkanmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s