Tetap Tenang dalam Badai

1223228676191825_a
Apapun kondisi dan situasi yang kita sedang hadapi (yang tidak menyenangkan), kita harus tetap tenang. Sekalipun ini begitu mudah untuk dikatakan, mungkin ini tidak selalu mudah untuk dilakukan. Namun, ini harus kita usahakan. Lalu, bagaimana kita dapat tenang di dalam situasi dan kondisi tidak menyenangkan itu?
Manusia, bagaimanapun, tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Namun, bukan berarti manusia lantas, sekonyong-konyong, mengandalkan manusia. Bersandar pada sesama adalah konyol karena manusia itu terbatas. Apalagi dalam keterbatasannya, manusia itu labil. Sulit diprediksi. Sulit ditebak. Dan… mungkin sering belum dewasa (rohani dan jiwani). Dengan demikian, manusia harus mengandalkan Sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat ketimbang sesamanya. Siapa lagi kalau bukan TUHAN. Dialah pencipta segala yang ada di bumi dan di surga. Dia tetap dan tidak berubah. Dia stabil dan pasti menepati janjiNya (konsisten). Pertanyaannya, ketika badai hidup datang, siapakah sosok pertama yang manusia cari? Manusia atau TUHAN? Mari kita jujur saja.

Secara psikologis, manusia memang butuh uluran tangan dari sesamanya, setidaknya butuh didengarkan oleh sesamanya karena manusia itu dapat dilihat/ditemui, dapat diajak langsung bertukar pikiran, pasti keberadaannya, dapat dijadikan tempat menyandarkan kepala di bahunya, dapat memeluk dan dipeluk, dsb. Sayangnya, manusia lupa bahwa manusia itu terdiri dari tidak hanya tubuh dan jiwa, tetapi juga roh. Dengan demikian, manusia juga perlu bahkan harus memerhatikan rohnya. Roh manusia ini hanya dapat “dicurhatkan” kepada Roh TUHAN. Justru, inilah yang paling penting. Jika roh kita sudah baik kondisinya, maka jiwa kita, dan tubuh kita ikut menjadi baik. Itulah mengapa, menurut saya, orang yang dekat dan mencintai TUHAN dengan sungguh-sungguh dan setia, bereslah jiwa dan tubuhnya. TUHAN menciptakan tubuh, jiwa, dan roh di dalam setiap manusia. Semuanya penting, semuanya perlu diperhatikan. Cara efektif untuk meng-cover semuanya adalah dengan “memerhatikan” kondisi roh kita melalui doa setiap hari siang dan malam, membaca dan menggali Firman Tuhan, memuji, dan menyembah TUHAN.

Situasi dan kondisi buruk yang kita alami bukanlah sesuatu yang berarti buruk lagi ketika roh kita dekat dan melekat pada TUHAN. Mengapa? Karena kita mengerti bagaimana TUHAN berpikir akan manusia (ini dapat terjadi hanya jika kita ada di dalam TUHAN). Dengan demikian, kita malah akan melihat situasi dan kondisi buruk itu sebagai proses untuk melatih kekuatan roh kita, untuk membangkitkan roh kita, untuk membangun roh kita, untuk meneguhkan roh kita, untuk membentuk otot roh kita, untuk menyalakan api roh kita lebih besar lagi. Selamat bekerja dan melayani. Gbu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s