ADIL & KASIH

Tuhan Yesus adalah Allah yang kasih dan adil. Jika Ia hanya kasih, maka dosa menjadi kacang goreng di dunia ini. Setiap orang dapat begitu saja melakukan perbuatan dosa tanpa ada konsekuensi yang menjadi pengerem perbuatan dosa. Manusia cukup datang dan meminta ampun pada Tuhan, dan masalah selesai! Jika Ia hanya adil, maka manusia menjadi robot karena setiap dosa (segala sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan) akan diganjar dengan hukuman. Jelas tidak ada manusia yang mau dengan senang hati dihukum, sekalipun atas kesalahan yang telah ia lakukan. Bukankah manusia cenderung memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, yang menurutnya paling benar? Sehingga ketika ia dinyatakan salah, ia tidak dengan mudah menerimanya—apalagi dengan perasaan senang.

Tuhan Yesus adalah Nabi, Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes 9:5), dan dia adalah Guru (Yoh 13:13). Bagi seorang guru, seperti saya, Yesus adalah teladan satu-satunya untuk mempelajari kasih dan keadilan dalam mengajar, dalam menilai, dan membimbing murid, dalam menjatuhkan konsekuensi atas berbagai kesalahan, dengan bijaksana, penuh hikmat, kesabaran, ketekunan, kesungguh-sungguhan dalam melakukan peran sebagai guru setiap saat (setiap hari lepas hari, apapun kondisi sang guru, bagaimanapun situasi dan kondisi pribadi yang sedang terjadi/dialami). Itu tidak mudah. Namun, setidaknya kita (saya) belajar untuk menjadi seperti Kristus. Sekali lagi ini tentu tidak mudah. Namun, jangan sampai pikiran “tidak mudah” itu menghalangi usaha kita untuk berubah hari lepas hari, sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, semakin sulit, tetapi semakin menyenangkan dan mendatangkan sukacita karena perubahan di dalam Kristus pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Catat! Bagi kita. Jadi, perubahan ini adalah untuk diri kita sendiri juga.

Menghadapi seorang murid yang cerewet di segala waktu dan menjawab pertanyaan guru dengan asal-asalan bahkan dengan nada menantang, misalnya. Sekali dua kali mungkin masih bisa sabar, tetapi bagaimana jika setiap hari, setiap kali bertemu, bahkan setiap kali menulis sesuatu di WA group kelas? Sebelum memarahi siswa tersebut, sekalipun memarahi adalah hal yang perlu dilakukan (1 Sam 3:13), hal pertama yang saya percaya perlu guru lakukan adalah mengajar anak tersebut tentang sikapnya yang tidak tepat karena bisa saja dia tidak tahu mengenai hal itu. Lalu masuklah ke tahap berikutnya, membimbingnya, mengarahkannya, mengevaluasinya, memberikan penghargaan dan atau konsekuensi. Di sinilah perlu kesabaran ekstra bergantung kondisi di lapangan.

Menjadi guru adalah panggilan yang mulia karena Tuhan kita Yesus adalah Guru yang mulia. (Manusia guru berproses di dalam memproses muridnya. Yesus tidak, karena Dia adalah Tuhan.) Adakah guru yang tidak mulia? Jelas ada. Yaitu mereka yang tidak menjadikan Kristus sebagai Guru di dalam hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s