SIBUK

Kesibukan telah menjadi salah satu ciri manusia usia produktif di kota-kota besar. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ayah sibuk dengan usaha mencari uang sebanyak-banyaknya seiring meningkatnya kebutuhan sehari-hari (bahkan meningkatnya standar (gaya) hidup masyarakat); ibu yang bekerja membantu perekonomian keluarga dan sibuk mengurus rumah tangga; bahkan anak ikut sibuk, sibuk mengurusi pe er, tugas sekolah, persiapan ulangan, proyek kelompok, pergaulan dan segala perubahan biologis dan psikologis pribadinya yang bergejolak dan minta diladeni.

Semua orang begitu sibuk dengan pikiran dan perasaannya. Sibuk bergelut dengan proses hidup dalam rangka mencapai target hidup (atau bahkan sekadar menyelesaikan satu hari untuk masuk ke hari berikutnya hingga akhirnya ia mati). Bahkan ketika duduk sendirian pun, kita begitu sibuk dengan angan-angan dan ingatan akan masa lalu. Sibuk dengan rencana-rencana baru. Sibuk dengan kekesalan karena ada banyak hal yang belum juga dapat dilaksanakan dan berusaha mencari waktu dan segumpal energi untuk menuntaskannya di kesempatan lain. Sisa waktu yang sedikit dan langka ada hanya untuk menarik nafas dan kemudian segera sibuk lagi.

Sebenarnya, apa sih sibuk itu? Mengapa orang “memilih” untuk sibuk dan menjadikan “sibuk” sebagai alasan untuk tidak dapat melakukan ini dan itu, yang mana ini dan itu-lah yang seharusnya dilakukan? Bangun pagi dengan tubuh yang lelah, sibuk seharian, dan kembali tidur dalam kelelahan yang sama. Oh!

Apakah salah menjadi manusia yang sibuk?

Kesibukan memang tidak dapat dihindari—terutama di kota besar. Setiap orang memiliki beban hidup masing-masing, tanggung jawab masing-masing, dan PR besar-kecil masing-masing. Setiap orang tentu berhasrat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Bukankah mimpi adalah awal dari gairah hidup? Namun, apakah mimpi itu dibangun dari angan-angan kosong belaka? Apakah mimpi itu hanya sekadar suntikan morfin yang membuai-buai kita hingga akhirnya kita sadar bahwa itu hanya omong kosong belaka? Lalu, kemudian kita kembali berangan-angan (menyuntikkan morfin) karena itu jauh lebih mudah ketimbang mengusahakan segala sesuatu untuk mewujudkan mimpi.

Manusia telah menjadi sibuk dan ‘tersesat” di tengah-tengah kesibukannya. Kita mulai kehilangan arah dalam hidup. Kita tiba-tiba merasa hampa, merasa sesak, merasa bosan, merasa sedih, merasa ingin marah, merasa sendirian, merasa ada yang selalu saja kurang, merasa sakit, merasa terhempas. Tujuan hidup kita semakin samar hingga akhirnya hilang dari pandangan mata. Kemudian, kita sadar bahwa aku harus kembali ke arah yang benar, namun aku sudah terlalu jauh dari arah semula dan aku tidak tahu ke mana jalan yang membawa aku mendekati jalur yang sebenarnya dan kembali ke jalur yang tepat. Tiba-tiba kita merasa ada di dalam labirin—yang kita tidak pernah mulai! Kita sibuk mencari jalan. Kita sibuk menghabiskan hari-hari untuk berpindah ke hari-hari berikutnya dan mati di tengah jalan (yang salah) karena kelelahan.

Yang kita butuhkan adalah melekat pada Tuhan. Sibuklah dengan urusan kehidupanmu, namun undang, ajaklah, gandenglah Tuhan di dalam kesibukan-kesibukan kita. Bicaralah padanya di waktu dan tempat yang privat. Sibuklah dengan Tuhan. Sibuklah di dalam kesibukan kita di dalam dan hanya untuk Tuhan. Dengan demikian, kita tidak merasa sibuk, kelelahan, apalagi tersesat. Tuhan adalah kawan dan jawaban.

Berilah dirimu waktu untuk tenang bersama Tuhan. Bicaralah (berdoalah) dengannya. Duduklah diam di hadapannya tanpa ada gangguan daftar pekerjaan yang panjang. Just you and God! Hal ini bukan untuk kebaikan Tuhan karena Tuhan pasti selalu baik-baik saja—bahkan sangat luar biasa! Ini adalah untuk kita: demi ketenangan kita, demi kesehatan tubuh-jiwa-dan roh kita, ini adalah demi damai sejahtera di dalam batin kita, demi jernihnya pikiran kita, demi kekuatan yang selalu baru yang akan dianugerahkan Tuhan kepada kita, demi kita dapat menikmati hadirat-Nya dan manisnya kasih-Nya. Ini adalah untuk kebaikan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s