berpuasa yuk

reflection-24 Tulisan ini adalah buah pemikiran saya. Jangan lihat ini dari keberbedaan kita, tetapi lihatlah ini sebagai sebuah sudut pandang yang lain. Siapa tahu bermanfaat untuk membuka cakrawala berpikir kita.

Masa berpuasa (puasa ada di dalam setiap ajaran agama) adalah masa menahan diri dari hawa nafsu tubuh, hati, dan pikiran. Tentu Anda sepakat bahwa menahan diri (baca: mengendalikan diri) dari hawa nafsu tidak hanya pada saat berpuasa (puasa makan-minum), tetapi apalagi di saat kita tidak berpuasa. Ada yang bilang bahwa puasa itu adalah latihan mengendalikan diri. Ujiannya, ya pada setiap hari di dalam keseharian kita (saat tidak berpuasa).

Selama berpuasa, ada saja tantangan yang kita hadapi. Entah tiba-tiba soto warung depan yang biasanya tidak begitu enak, kok rasanya terbayang begitu enak sekali. Entah tiba-tiba anak gadis tetangga begitu menggoda—padahal ia tampil seperti biasa alias sama menarik atau tidak menariknya. Entah orang-orang di sekitar kita tampak begitu menyebalkan dan memancing amarah—padahal mereka bertindak dan bersikap seperti biasa. Atau, terpancing mengkritisi orang-orang di sekitar yang kita nilai tidak becus bekerja, tidak becus menyeberang jalan, tidak becus mengendari kendaraan, tidak becus mendidik anak, tidak becus melakukan pekerjaannya. Haha. Entah mengapa kita melihat diri kita begitu suci dan orang lain tidak, ataupun melihat diri kita begitu kotor dan orang lain (sok) suci.

Di satu sisi, itu adalah ujian. Di sisi lain, itu adalah cermin. Cermin yang mau mengatakan bahkan menyingkapkan siapa diri kita yang “sesungguhnya”, yakni bahwa di dalam diri kita tersembunyi sisi kemunafikan. Jangan marah dulu, Kawan. Kita simak sharing pemikiran saya di bawah ini.

Ujian identik dengan: sebelumnya sudah diberi bahan pelajaran dan beberapa kali latihan. Nah, ujian adalah waktu di mana kita harus “menjawab” pertanyaan sesuai dengan pelajaran yang sudah diajarkan dan sesuai dengan latihan yang sudah dilakukan. Perbedaannya adalah usai ujian ada hasil atau nilai yang keluar sebagai ukuran seberapa kemampuan kita dalam memahami bahan pelajaran (dalam hal ini aplikasinya dalam kehidupan nyata). Nah, sebagai cermin penyingkapan adalah untuk memperlihatkan kepada diri kita sendiri (dan mungkin juga kepada orang lain) siapa diri kita yang sebenarnya: jujur-berintegritas atau seorang yang munafik. Jujur dan berintegritas artinya di dalam kehidupan tak-puasa, kita sama dengan kehidupan saat-puasa. Kita tidak berlagak suci pada saat-puasa. Siapa kita sebelum puasa dan saat puasa, itulah diri kita. Untuk orang yang jujur-berintegritas, ada evaluasi diri dalam refleksi pribadinya. Berbeda dengan orang yang munafik. Sebelum puasa, dia berdosa. Saat puasa, dia suci banget sampai-sampai malaikat Tuhan heran melihatnya. Namun, pasca puasa, Setan yang terkagum-kagum karena kejahatannya lebih jahat daripada Setan. Perhatikan, bahwa poin ini bermaksud untuk mengatakan bahwa ia menjadi suci saat puasa hanya untuk menunjukkan bahwa ia sedangberpuasa. Perhatikan motivasi orang ini. Perhatikan motivasi Anda berpuasa. Berpuasa menyingkapkan siapa Anda yang sesungguhnya dan nilailah berapa poin Anda begitu Anda melihat siapa diri Anda yang sesungguhnya.

So, menurut pandangan saya, berpuasa (salah satunya) adalah masa bercermin (melihat siapa dan bagaimana “nilai” diri kita saat ini), serta masa untuk siap menerima kenyataan “cermin” itu dengan lapang hati, kerendahan hati, dan semangat yang menyala-nyala untuk memperbaiki diri pasca berpuasa. Nah, singkapan itulah yang kita latih terus menerus di dalam kehidupan pascapuasa! Ngerti nggak? Hehe.

Menurut saya, latihan dan ujian iman yang sesungguhnya adalah saat kita tidak berpuasa (makan-minum). Masa berpuasa adalah masa kita menyaksikan (menyatakan), merenungkan, dan memberi nilai pada kehidupan iman kita, kualitas kepribadian kita, dan membuat komitmen baru untuk kehidupan pascapuasa agar pada puasa berikutnya, kita mendapati diri kita lebih baik dari puasa yang sebelumnya. Sehingga, ketika siapa diri kita yang sesungguhnya itdisingkapkan, kita mendapati bahwa diri kita bukanlah seorang yang munafik, melainkan seorang hamba Tuhan yang terus naik dan naik, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih baik, lebih baik, hingga akhirnya kita menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Amin!

One thought on “berpuasa yuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s