+ ThinKing

1864692660_1376848738 Setelah sekian lama, akhirnya saya didatangi ide untuk memenuhi janji saya, yakni untuk menulis tentang perbedaan positive thinking menurut dunia dan menurut Kekristenan.

Pada dasarnya, positive thinking menurut Kekristenan lebih dari sekadar berpikir positif menurut dunia (Dr. Apin Militia Christi, M.Th.). Positive thinking menurut Kekristenan memiliki dasar yang jelas, yakni kebenaran Firman Tuhan. Segala sesuatu yang tidak berdasarkan kebenaran Firman Tuhan adalah salah. Apa yang salah katakan salah, apa yang benar katakan benar.Ya, ya iya. Tidak, ya tidak . Positive thinking menurut dunia ini adalah berpikir positif atas dasar pemikiran manusia, hikmat manusia, pengalaman manusia, perenungan manusia, yang kemudian dapat saja jatuh pada praktek mengandalkan kekuatan manusia. Misalnya, saya dapat menjadi sukses karena saya mengusahakannya; saya jatuh karena saya akan melompat tinggi di atas kedua kaki saya dan berada di puncak gunung; dsb. Berbeda dengan positive thinking menurut Kekristenan. Di dalam positive thinking Kekristenan, ada Tuhan di dalam pemikiran baik tersebut. Misalnya, Tuhan mengizinkan aku jatuh karena Tuhan sedang menguatkan kakiku untuk aku dapat berdiri tegap di atas gunung kemuliaan-Nya lalu menyaksikan kebaikan-Nya kepada sesamaku; aku mampu karena Tuhan yang memampukanku, dsb. Dari situ ada ucapan syukur di dalam segala hal.

Seperti yang umumnya kita ketahui, bahkan secara hurufiah, positive thinking berarti segala sesuatu yang mengarah kepada yang baik. Namun, positive thinking Kekristenan mengacu pada segala sesuatu yang mengarahkan kita semakin mendekat kepada Sumber Kebenaran dan Kebaikan, yakni pribadi Tuhan Yesus. Positive thinking menurut dunia ini mengacu pada kebenaran-perenungan manusia dunia; dan manusia itu sendiri memiliki acuan kebenaran pada “sesuatu” atau “sosok” tertentu (yang berbeda-beda).

Kedua jenis positive thinking ini beda-beda tipis. Keduanya dapat saja sejalan dengan garis akhir yang berbeda. Atau, sejalan sekaligus searah sekaligus sepenanggungan sekaligus sepenumpangan. Namun, menurut saya, keduanya tetap saja berbeda. Sekalipun, pada kenyataannya, positive thinking dunia rupa-rupanya banyak juga yang “menggunakan” Firman Tuhan (Kekristenan) sebagai landasannya—tanpa menyebutkannya kepada umum atas alasan apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s