Lazimnya Momen Istimewa

positif Ini hanya (bermula dari) sebuah perspektif akibat mendengar sebuah puisi diperkatakan lewat speaker kedai kopi, dilanjutkan dengan lagu mendayu yang menyayat hati, tetesan air mata, isakan tangis yang berderai-derai lebay (di speakernya asli begitu).

Mengungkapkan rasa terima kasih dan penyataan kebanggaan atas perjuangan orangtua ataupun guru (atau orang berjasa lainnya di dalam hidup kita) jelas tidak perlu menunggu momen yang tepat. Semisal waktu ulang tahun mereka, waktu harus berpisah dengan mereka karena kita menikah, karena dia pindah kerja, karena meninggal, dsb. Memang, momen-momen tersebut adalah momen yang kuat untuk menyatakan hal-hal positif kepada orang lain. Namun alangkah baiknya jika momen-momen sehari-hari yang mungkin kita pandang biasa (lazim, lumrah, standar) kita pakai untuk menyatakan hal-hal positif terhadap mereka sehingga setiap hari (momen) menjadi istimewa dan setiap hari yang istimewa itu menjadi lazim (terbiasa, tetapi tidak mengurangi nilai/kualitas keistimewaannya). Walaupun jelas, pada momen-momen tertentu tersebut di atas, cara mengungkapkan hal-hal positif tersebut berbeda. Kan nggak lucu kalau setiap hari kita baca puisi dan melantunkan lagu yang mendayu menyayat hati untuk mengungkapkan rasa syukur dan bangga kita terhadap orangtua kita. Misalnya, karena orang tua kita mau membelikan kita gadget terbaru, kita baca puisi sambil bermain gitar di halaman depan rumah. Lalu, dia belikan kita T-shirt gaya terbaru, kita bikin lagu dan nyanyi dari lantai dua disaksikan tetangga-tetangga dan tukang sayur keliling. Hm.

Makanya perlu yang namanya hikmat. Untuk momen berharga sehari-hari, cukup katakan, “Ma, Pa, terima kasih kalian adalah orang tua yang berharga bagiku.”; “Pak, Bu, nasihat itu berharga sekali. Saya akan ingat selalu.” “Nek, Kek, saya belajar ketulusan dan ketenangan dari kalian. Aku bersyukur dapat belajar banyak dari pengalaman hidup kalian. Tuhan Yesus memberkati.” Mudah kan?

Kepada mereka yang baik dan menyenangkan, kata-kata itu begitu mudah kita lontarkan. Apalagi jika kita adalah orang bertipe ekstrovert. Bagaimana jika mereka adalah orang-orang yang menyebalkan dan menjengkelkan? “Liat mukanya aja enek!” (gitu kali yah ….) Ditambah lagi jika kita adalah orang yang introvert. Alamak! Yang ada malah makan hati. Susah bener….

Semua itu butuh proses. Bergantung bagaimana karakter kita. Kalau kita mau merendahkan hati, tidak gengsi-gengsian, dan berani untuk memulai, hal itu mudah pada akhirnya, walau begitu sulit pada awalnya. Nikmati saja prosesnya. Bukankah hidup ini adalah proses? Jika proses di dalam hidup kita sudah selesai, bukankah itu bukan hidup namanya?

Saya sendiri kesulitan untuk memulainya. Mengapa? Karena saya memulainya dengan berani (baca: nyali) belaka. Akhirnya saya celaka. Yang perlu saya lakukan pertama kali adalah merendahkan diri, menyingkirkan gengsi, dan berdoa agar diberikan hikmat untuk berani memulai. Tetap saja saya jatuh pada awalnya, tapi setidaknya respons kita akan “ke-jatuh-an” itu berbeda dengan yang sebelumnya.

Ketimbang berkata, “Tuhan, saya belum bisa mengatakan hal-hal yang positif kepada si A, si B, dst. Saya selalu saja jatuh dan gagal. Maafkan aku selalu menjadi orang yang mengecewakan-Mu,” sambil menangis-nangis seperti anak kecil. Jauh lebih baik kita berkata, “Tuhan, saya bersyukur karena Engkau sedang mengajarkan aku dan memberikan aku kekuatan untuk mengatakan hal-hal positif kepada si A, si B, dst. Aku jatuh, Tuhan. Tapi aku belajar dan aku mau selalu lebih baik dan kemudian menang! Karena aku mau menyenangkan-Mu,” sambil tersenyum dan bergembira. Jika kita berjuang untuk mengatakan hal-hal positif kepada orang lain, mengapa kita tidak mengatakan hal-hal positif juga kepada diri kita sendiri, kepada Tuhan? (saat ini penulis terkagum-kagum karena dapat menuliskan ini karena ini muncul begitu saja di dalam benak penulis) Semoga ini menyegarkan dan menguatkan jiwa Anda. GB.

**Saya harap kita tidak terjebak pada positive thinking yang ditawarkan dunia ini. Apa bedanya positive thinking dunia ini dengan positive thinking sesuai firman Tuhan? Kita akan bahas itu di tulisan berikutnya.**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s