Filosofi Wadah

images Saya butuh wadah untuk menaruh buah pepaya yang sudah dikupas dan kemudian akan dimasukkan ke kulkas. Setelah mencari ke sana-sini, akhirnya dengan sedikit terpaksa, saya memungut wadah bekas es krim yang cukup besar dan lebar. Sesuai kebutuhan, pikir saya. Saya pungut tutup wadah itu tidak jauh dari pasangannya. Dua-duanya sama kotornya. Sudah lama tak dipakai dan diletakkan di bagian paling bawah rak sehingga sangat strategis bagi debu. Debu itu berkarat di sela-sela wadah dan tutupnya yang berdesain cukup rumit demi fungsi dan keindahannya.

Saya bersihkan wadah itu. Saya amati bahwa wadah ini memang sangat kotor dan cenderung menjijikkan, tetapi ternyata masih sangat layak untuk digunakan jika dibersihkan. Atau mungkin orang enggan untuk menggunakannya dan sudah jijik duluan untuk menyentuh wadah tersebut karena penampakkannya yang tidak higienis.

Muncul pertanyaan: apakah demikian halnya dengan iman kita (mereka yang beriman, dan dengan ukuran yang berbeda-beda). Apabila iman itu dibiarkan dan tidak digunakan (seperti wadah yang dipakai, kotor, lalu dibersihkan) maka tidak terjadi pembersihan (retret, refleksi, evaluasi, dan sejenisnya), maka iman itu berdebu, kotor, dan tampak menjijikan. Atau karena ia (orang yang beriman) tidak menggunakan imannya sesuai fungsinya bahkan hingga waktu yang sangat lama, maka imannya menjadi kotor dan berkarat. Iman itu ada, namun tidak aktif. Sehingga ketika muncul kesadaran untuk kembali mengaktifkannya, sebuah proses yang berat sekaligus menyakitkan harus dilakukan dan dinikmati (disyukuri) karena pada akhirnya demi kebaikannya juga. Dengan demikian, ia kembali berfungsi mendatangkan berkat. Bukankah jika ia tidak berguna sebaiknya dibuang dan dibakar saja?

Adapun, orang yang tidak merindukan retret atau tidak mengalami apa-apa usai retret dan semacamnya, perlu bertanya pada dirinya sendiri apakah pada pra-retret ia sudah menggunakan imannya dengan maksimal hingga ia perlu pembersihan. Namun jelas, tentu ada banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan, misalnya intensitas retret, tema, waktu, dan sebagainya. Karena dapat saja seseorang rindu ikut retret untuk mengisi wadahnya yang kosong agar ia dapat membagikan sesuatu kepada orang lain.

Baiklah, sebelum ini terlalu melebar, saya tutup dengan satu pernyataan: berpikirlah, dan pikirkanlah apa yang perlu dan mampu kita pikirkan—terinspirasi dari perkataan teman. Semoga tulisan ini memberkati pembaca. Gbu 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s