Debby Bermimpi

dream Dia diam. Dia akan tetap diam hingga ada orang yang bertanya. Sulit sekali bergaul dengan dia memang. Dan aku menjadi satu-satunya orang yang entah bagaimana mengerti kebiasaan (buruk)nya itu.

Ketika ia melihatku mendekatinya, wajahnya berubah seperti anak gadis di jendela kaca di pagi hari. Merekah dan siap untuk bercerita. Matanya terlihat tidak sabar.

“Kau sudah makan?” kataku sambil terus menikmati perubahan raut wajahnya.

“Aku sudah makan. Kau?”

Kulihat jam tanganku sembari memikirkan apa jawaban terbaik yang dapat aku katakan. Masih pukul 10 pagi. “Ini bukan jam makan pagi dan bukan jam makan siang.”

“Kalau begitu, ngopi.” Katanya dengan cepat dan membunyikan nama salah satu cafe di Cikini.

Namanya Debby. Ia sangat pemalu namun begitu antusias terhadap banyak hal. Banyak orang menyenangi keberadaannya. Anehnya, ia sering sangat gugup jika harus tampil di depan umum. Dan entah mengapa, ia hanya punya beberapa teman dekat. Beberapa di antara beberapa itu sudah pindah ke pulau seberang dan sangat sibuk. Hingga hanya akulah sahabat terdekatnya saat ini.

Usai menyatakan kegembiraannya bertemu denganku, Debby segera membuka pintu curhatannya. Begini.

“Kemarin aku ke rumah teman kampusku. Angkatan di atasku. Dia seorang presenter hebat. Sering diundang sebagai pembicara di beberapa seminar dan bahkan ditawari untuk menjadi dosen muda di salah satu universitas ternama. Intinya, dia adalah orang yang hebat. Dia bahkan menganggap panggung sebagai rumahnya sendiri. Semua biasa. Semua lazim. Dia hanya perlu membuka mulut, dan semua orang mendengarkan dia dengan seksama. Beberapa kali aku ikut ”
Aku mengangguk dan memerhatikannya dengan cermat.

“Kami sedang membereskan materi-materi yang akan ia bicarakan di seminar minggu depan. Hardcopy, kliping, majalah, foto-foto, dan sebagainya. Sambil membereskan itu semua, ia terus bercerita tentang topik-topik seminar yang telah ia lakoni dan yang ingin suatu saat ia tangani. Negeri-negeri yang akan ia tuju, dan orang-orang yang ingin ia ajak kerja sama.”

Debby mengubah posisi duduknya. Ia mulai kian bersemangat.
“Seperti orang lain pada umumnya, aku menceritakan keinginanku, passion-ku pada lawan bicaraku. Aku bilang bahwa aku merasa aku akan menjadi pembicara bagi kaum muda. Aku tertarik dan sangat bergairah untuk memberikan wawasan bagi kaum wanita tentang diri sebagai perempuan, bagaimana menghargai dan memperlakukan diri mereka, bagaimana mereka menjalankan peran mereka sebagai apapun di tengah-tengah dunia sosial, hingga sebagai penjaga bangsa.”

Aku mulai tertarik dengan pembicaraannya: visi yang besar yang penuh harapan. “Lalu?” tanyaku akhirnya.

“Aku hanya berkata-kata. Namun, tanggapannya mengecewakan aku.”

“Oh, ya? Apa katanya?”

“Kamu tidak akan bisa berbicara di hadapan banyak orang. Kamu tidak bisa,” kisahnya. Debby seperti sedang berkata bahwa pendapat seniornya itu tentu tidak benar lewat tatapan matanya.

“Apa responsmu waktu itu?”

“Aku terhenyak. Aku diam saja. Aku kaget. Tidak menyangka ia akan berkata-kata seperti itu. Bukankah dia seorang motivator juga?”

“Ya. Dia sedang melakukan tugasnya sebagai motivator. Kau mengerti kan maksudku?”

Debby terdiam, berusaha mengerti. Tak lama, ia tersenyum tanda paham. “Oke.”

“Oke.” Kataku pula. “Aku tunggu undangan seminarmu kapanpun itu. Aku pasti hadir.”

Debby tersenyum dengan tatapan jauh penuh kepastian harapan karena ia dan siapapun boleh bermimpi dan tak dapat hidup tanpa pengharapan. Debby telah menikmati hidupnya—tentu dengan usaha keras untuk mencapai mimpinya.

2 thoughts on “Debby Bermimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s