Apa Iya Sia-sia?

“Apa sih yang sedang saya lakukan ini? Bukankah ini sia-sia?”

Jumat, pukul 15.30 WIB (se-on-time mungkin), saya bergegas pulang. Dalam sekejap saya harus mencuci pakaian yang sudah saya rendam lebih kurang 3 hari 2 malam—karena tidak sempat mencucinya. Lalu, saya harus cepat-cepat mandi, mencuci piring, masak air untuk persediaan air panas, mengisi botol minum, dan sedikit beberes kamar. Setelah pakaian yang sebelumnya saya sudah cuci direndam lagi dengan pewangi, saya jemur. Tidak lupa merendam pakaian untuk kloter berikutnya; dicuci esok sore/malam sekembali dari Jakarta.

Ya, dalam 50-60 menit, semua saya bereskan dengan secepat kilat. Agar semua tetap bernilai maksimal alias yang terbaik, saya kerahkan seluruh energi yang saya miliki sambil tetap menikmatinya. Lebih tepatnya, berusaha menikmatinya. Dan, seeet!! Saya sudah di ojeg menuju depan Melati Mas untuk menunggu bus Mayasari 117 menuju UKI. Saya pikir, setidaknya saya akan menunggu bus paling lama 15 menit. Dan tahu apa yang terjadi? 60 menit kemudian, bus itu baru muncul. Wajah saya yang tadinya santai-santai saja, di menit ketigapuluh dan seterusnya, kian tegang. Bahkan mungkin tidak enak untuk dilihat. Pikiran saya mulai melayang-layang pada waktu dan energi yang sudah saya kerahkan sedemikian rupa untuk mengerjakan banyak hal tadi demi mengejar bus, demi tiba tepat waktu di COOL, Community of Love (semacam PA kelompok dari jemaat gereja). Ibaratnya begini, “Tahu gini, gw bakal santai-santai aja di kosan ngerjain ini-itu.” Terus terang, saya sempat geram dan sesak karena hal ini.

Lalu, bus datang. Saya naik bus bahkan sudah seperti tak ada minat. Saya ingin marah pada supir dan keneknya: ke mana aja sih, lama banget?! Hahahaha. Konyol sekali kan kalau hal itu sungguhan saya lakukan.😛

Duduklah saya dengan manis di bus. Mendengarkan lagu rohani melalui BB untuk menenangkan batin. Saya juga meng-SMS salah satu teman, bilang, “Saya bete. Saya kesal. Menunggu bus sampai satu jam!” Tak lama, dia menelepon. Kami berbincang-bincang. Dan saya senang lagi.

Walah. Macet. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Masih macet. Padat. Ngetem. Sudah pukul 19.30 WIB saat tiba di Pasar Rebo. Begini ceritanya, saya yakin saya akan terlambat sampai di UKI, Kp. Melayu, lalu Salemba UI. Benar saja, pada pukul 20.00 WIB saya baru tiba di UKI. Dan 30 menit kemudian tiba di Salemba UI. Akhirnya, saya dan teman saya baru dapat bergabung dengan kawan-kawan COOL, 20.35 WIB. Sedang berlangsung sharing Firman Tuhan. Lalu sharing pribadi, beberapa pengumuman, pujian, doa berkelompok, pujian, dan doa penutup. Oiya, ramah tamah. Semua itu sekitar 40 menit. Usaha dan perjalanan yang susah payah kulakukan selama 5 jam “hanya” untuk yang 40 menit itu. Itu belum termasuk durasi di perjalanan pulang: salah jalan, macet, dan terkantuk-kantuk. Sampai di UKI (kosan adik saya) sekitar pukul 22.30 WIB. So, perjuangan selama 6 jam untuk 40 menit.

Kalau dipikir-pikir, itu seperti buang-buang waktu dan energi. Tapi, apa iya?

Tidak. Hingga sesuatu hal membuat itu menjadi “iya”.

Di tengah jalan, ketika saya mengejar waktu menuju Salemba UI, teman saya mem-BBM bahwa dia tidak ikut COOL. Itu berarti saya juga tidak bisa ikut karena saya tidak tahu tempatnya. Deg! Saya spontan kesal sekali padanya. Dia tidak tahu sudah banyak hal yang saya lalui untuk datang tepat waktu (walau pada akhirnya terlambat juga), dan apa saja yang sudah saya korbankan agar saya dapat menghadiri COOL. Dia, bagiku, seperti enak-enakan saja bilang “tidak jadi”. Alasannya: gw baru bangun tidur dan gw belom mandi. Emosi tinggal naga! Tidak apa-apa sih kalau dia bilang tidak ikut COOL—kalau 3 jam yang lalu dia infokan begitu, saat saya belum akan berangkat.

Yang muncul di benak saya adalah mengapa dia baru bangun dan belum mandi sedangkan waktu sudah pukul 19.45-an WIB saat itu. Sedangkan COOL dimulai pukul 19.00 WIB. Kebiasaannya adalah ia akan tiba 30 menit sebelum sebuah acara berlangsung. Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi ini semua. Dan benar saja. Dia belum tidur 36 jam! WOW banget! Terus terang, saya kesal padanya. Saya ingin tunjukkan marah saya padanya. Tapi lantas tertahan karena dia sendiri sedang capek sekali. Kasihan.

Dan saya semakin geram karena dia tidak dapat mengatur waktunya sendiri. Jika dia memang sangat lelah, ya sebaiknya dia istirahat. Tidak perlu ikut COOL. Dia boleh saja membatalkan. Tapi jangan di tengah jalan tanpa penjelasan yang masuk akal. Ya, jika dirunut ke belakang lagi, mungkin saja dia lupa untuk mengabari saya. Lalu, mengapa dia lupa? Apa karena dia pun sebenarnya tidak mau mengecewakan saya? Kalau benar begitu, mengapa? Mengapa…., mengapa, …. mengapa?

Pelajaran yang seharusnya dia dapatkan adalah (kali aja dia lagi baca tulisan ini hehehehe) mengatur waktu dengan baik dan memperhitungkan rencana dengan baik. Sedangkan pelajaran yang saya dapatkan adalah ungkapkan dengan baik apa yang ada di dalam hati dan pikiran secara tuntas. Pelajaran untuk pembaca adalah untuk hasil yang kita pandang sedikit pun membutuhkan pengorbanan dan proses yang rumit. Tapi semuanya, selama untuk Tuhan, pasti baik dan indah adanya.

Hhh. Sekarang saya sudah lega. Kami sudah saling memaafkan. Tinggal buktinya aja nih yang belum kelihatan. Apa itu buktinya? Yaaa, bisa berupa McFlurry Caramel atau Coffee. Atau mungkin yaaa, segelas jamu tradisional pegel linu dan ronde di Mentjos. Hahaha…. Ganti ah rondenya: biji salak. Belum pernah coba.🙂

Saya tergerak untuk menambahkan: Tuhan itu mengajar kita lewat hal-hal yang tidak kita duga. Cara-Nya ajaib. Cara-Nya di luar dugaan. Dan ketika kita berhasil, kita telah menang.

Kita dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Bersyukurlah karena setiap dan segala proses yang terjadi di hidup kita, karena itu berarti Dia peduli. Dia sedang memelihara kita, Dia sedang mempersiapkan kita untuk mampu menghadapi apa yang di depan, yang kita tidak tahu apa. Bersiap-siaplah! (penulis sedang dagdigdug saat menulis ini)

Jangan keraskan hati agar proses itu tidak menyakitimu. Lembutkanlah hatimu, dan nikmatilah proses itu: dijamah Tuhan, dibentuk Tuhan, dikeringkan, dibakar, diamplas, dicat, dibakar lagi, dibuat mengilat, dibuat indah, dibuat mulia—sebagai tanah liat.

So, itu tidaklah sia-sia.

3 thoughts on “Apa Iya Sia-sia?

  1. Jadi blog walking.. Setuju dgn tulisannya Mbak, ini namanya menghargai proses dan percaya gak ada yang sia-sia. Nice share.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s