PENCAPAIAN; TEA TIME IS SUCCEEDED!

Apa sih pencapaian itu? Mengapa orang ingin bahkan berhasrat mencapai sesuatu? Untuk apa memasang target? Lalu, setelah tercapai pencapaian itu, apa lagi?

Gagasan ini hendak saya tulis bukan karena iseng. Namun karena ia muncul seperti begitu saja pagi tadi. Saya melihat orang-orang sibuk mencapai, menggapai, meraih, menjangkau, bahkan mungkin menundukkan capaian mereka—hingga mungkin mengabaikan sekitar. Lalu, saya menengok ke dalam diri saya sendiri. Saya tidak tahu apa yang hendak dicapai banyak orang—masing-masing. Namun, saya tahu apa yang hendak saya capai. Melunaskan pembacaan banyak buku, film, tulisan, dsb—dan saya sedang merenungkannya saat-saat ini. . . . .

Lalu, apa yang telah kita sisihkan dan abaikan ketika kita hendak mencapai sesuatu? Sahabat, keluarga, Tuhan? Atau bahkan diri kita sendiri?

Apakah capaian kita itu adalah capaian yang sesungguhnya? Sudahkah merupakan capaian yang benar dan yang seharusnya dicapai? Siapa yang menentukan capaian itu? Mengapa lalu gelisah ketika capaian itu tidak tercapai? (mengandalkan diri sendiri?) Mengapa lalu seseorang di luar diri kita menjadi gemas terhadap kita ketika pencapaian yang harus (diharuskan untuk) kita capai, tidak tercapai? (oportunis?) Siapa dia? Mengapa seolah-olah orang itu menjadi seperti berotoritas? Lalu, bagaimana seharusnya?

Pencapaian itu tidak selalu berupa sesuatu yang besar dan tampak oleh orang banyak, misalnya jabatan, prestasi belajar atau kerja, piala, bonus, tepuk tangan, dsb. Lalu, yang seperti apa? Bisa saja, pencapaian untuk dapat memasukkan kedua kaos kaki, masing-masing di kiri dan kanan sepatu, lalu menaruhnya di rak sepatu—tanpa menggerutu. Ingat, tanpa menggerutu. Pencapaian berupa “tetap tersenyum dengan tulus kepada orang yang bahkan telah berbuat tidak mengenakkan (kedengarannya mungkin konyol dan sia-sia). Tetap merasa bahagia sekalipun becek nyiprat ke pakaian kita yang baru (baru beli, baru dicuci dan disetrika dengan sangaaat tulus dan penuh perjuangaaaan). Tetap dapat bersyukur saat ban kempes, dorong motor di bawah sinar matahari yang terik, perut lapar, HP lowbat, dan sudah ditunggu orang penting di suatu tempat yang cukup jauh, kemudian diserang sakit kepala. Sulit. Sulit…. Maka gagal. Pencapaian tidak berhasil.

Menurut sudut pandang saya, saat pencapaian kita tersendat, terhenti, atau mungkin dipaksa untuk mandek, ada sesuatu yang hendak dinyatakan di situ. Mengubah capaian, mengubah bagaimana pencapaian, mengubah pelaku capaian, mengubah sesuatu di dalam diri kita, atau melepaskan capaian itu sama sekali. Atau mungkin, hanya sedang memberi kita petunjuk untuk henti sejenak, bernafas, dan menikmati apa yang telah tercapai, apa yang sedang dicapai, atau berkaca pada yang di belakang dan yang di depan (di hadapan kita); bukan masa yang akan datang. Berkaca pada yang akan terjadi di depan, ya kabur. Ngerti, ya maksudnya??

Kok rasanya mulai ngawur, ya? Hahaha. Yang jelas, saya senang. Tea Time The Boys’ Brigade (SMA Athalia) kemarin terhitung sukses. Dan yang saya lihat adalah bahwa Tuhan bertindak. Dan saya bersorak-sorai atas pertolongan-Nya. Dia tahu betul apa yang ada di dalam hati syaa dan yang terucap di bibir saya sehari sebelum kegiatan itu diselenggarakan. God, help me. And He helped us. Tea Time is succeeded!

Itulah pencapaian yang telah tercapai. Hingga saat ini, saya masih bersukacita. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s