Iman nami

 

Belakangan, di kosan, di ruang ibadah, di sekolah, kerap dibicarakan mengenai iman. Hati saya pun tergerak untuk menulis mengenai hal ini. Dengan menulis, saya dapat sambil merenungkan (menembakannya kepada diri saya sendiri). Merenung itu asyik. Nikmat dan nyaman banget memikirkan dan duduk “diam” di kaki-Nya. Mendengarkan Dia bicara, mempersilakan Dia menyatakan isi hati dan pikiran-Nya.

Iman. Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”, demikian ayat itu berbunyi. Kita percaya bahwa keselamatan itu digenapi, walaupun kita “belum” bersama-sama Dia di Firdaus. Kita percaya bahwa penderitaan, kesesakan, ketidaknyamanan, dan segala hal yang tidak mengenakan di dalam hidup kita adalah rencana Tuhan bagi kita, demi kebaikan kita—karena tidak ada satu rancangan pun (yang berasal dari Tuhan), adalah rancangan kecelakaan. Semua yang berasal dari Dia adalah kebaikan, kebenaran, dan indah pada waktunya. Berarti kalau kita bikin rencana, serahkan semua rancangan itu di dalam Tuhan. Bahkan ketika “akan” merancangkan sesuatu, libatkanlah Tuhan sehingga apa yang akan terjadi di depan adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Bahkan ketika rancangan itu gagal, Tuhan sedang bekerja di dalam kegagalan itu. Iman. Iman!

Hm. Ketika apa yang sudah kita doakan dan imani di dalam Tuhan itu tidak mewujud sesuai dengan apa yang sudah Tuhan janjikan kepada kita, bisa jadi Dia sedang menguji iman kita. Bisa jadi pula Dia sedang memberi kita kesempatan untuk mengetahui orang seperti apakah sih kita ini. Bingung nggak? Kalau bingung, sini tak jelasin.

Ketika doa kita tidak dijawab dengan ya, ketika rencana kita sudah berjalan dengan baik pada awalnya, lalu tandas di tengah jalan, atau ketika kita merasa Tuhan tidak mendengarkan kita, Tuhan sedang menguji kita apakah di saat seperti itu iman kita masih tetap teguh kepada-Nya? Mungkin agar kita tahu bahwa iman kita hanya seperti ini: beriman ketika apa yang kita harapkan digenapi, lalu menjadi goyah iman ketika apa yang kita harapkan tidak digenapi, bahkan mungkin dihancurkan. (ingat: merenungkan berarti menembakannya kepada diri kita sendiri; tidak ada sikap menghakimi orang lain.)

Ketika merenungkan hal ini, tercipta sebuah ilustrasi-visual seperti ini: dua orang sedang bergenggaman tangan. Sebutlah si A dan si B. Ketika si B didorong /ditarik oleh si C bahkan barengan dengan si D, apakah genggaman tangan si B terlepas dari si A? Ketika pencobaan datang, apakah tangan kita terlepas dari tangan Tuhan? Apakah kita menjauh dari Tuhan, bahkan memaki-maki Tuhan? Atau …. genggaman tangan si B semakin erat menggenggam tangan si A? Kita semakin dekat kepada Tuhan, semakin akrab dengan Tuhan?—tentu tidak dengan bersungut-sungut, mengeluh, komplain ini-itu, mendumel! Ibaratnya gini: kita tetap berjalan di jalan Tuhan, tapi sambil mengeluh, sambil ngomel-ngomel, sambil komplan-komplain, itu bukan iman namanya. Itu namanya tertekan. Itu namanya terjajah. Hellooo?! (mengutip khotbah Pak Gilbert Lumoindong)

Ketika si B mengalami pencobaan, si A akan melakukan gerakan menggenggam secara lebih kuat yang mungkin akan menimbulkan sakit atau perih di tangan si B. Namun ketahuilah (dan percayalah), si A (Tuhan) melakukan itu karena dia tidak mau si B (manusia) terlepas—karena si A sayang pada si B. KECUALI: kita sendiri yang menolak kasih sayang-Nya dengan melepaskan diri dari genggaman tangan-Nya. Ngambek. Pundung. Atau memilih jalan sendiri (free will)

Temans dan pembacas, memiliki iman itu tidak gampang (ini saya ngomongnya serius lho); iman itu juga berarti taat! Dan yang namanya taat itu tidak gampang—setidaknya menurut saya. Asli. Taat berarti menghilangkan segala keinginan daging di dalam diri kita. Sedangkan keinginan itu terkadang muncul tanpa kita kehendaki. Muncul aja gitu entah dari mana.

Saya jadi teringat lagi sebuah pernyataan yang bilang begini: conversion takes only a moment—transformation takes a lifetime. (terjemahin sendiri, ya. Kalo udah, bagi-bagi ke eike hahahaa). Well, untuk kamu yang merasa beriman itu gampang, saya ucapkan selamat. Saya saluuuut. Beneran. Berarti kamu sukses memiliki iman yang sejati.

Contoh dalam hidup saya, jangan jauh-jauh deh, soal doa aja. Doa rajin, tapi dengan sungguh-sungguh, itu tidak selalu. Nah lho. Padahal, berdoa itu enak banget lho. Nikmat. Tapi harus dengan sungguh-sungguh. Ini saya. Bagaimana dengan Anda? Monggo dijawab sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi temans dan pembacas. Gbu, guys …. [28Mei2012]

 

3 thoughts on “Iman nami

      • ini dia
        “Ketika orang-orang yang bertakwa ditanya, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”(QS An-Nahl: 30).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s