Going Home

Natal tahun ini rasanya berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Setidaknya natal-natal yang ssaya ingat. Tahun ini, waktu mengejar-kejarku. Bahkan cenderung meneror. Untuk melakukan hal yang sekecil dan semudah apapun, rasanya saya tidak diberi waktu yang pantas. Rasanya. Rasanya …. Untuk memberi, untuk menyiapkan diri, untuk berbakti, dan untuk mengerti.
Jika melihat pada orang lain, saya tahu bahwa saya tidak sendirian—meskipun tidak semua orang mengalami hal demikian. Lalu ssaya tahu, bahwa apa yang dapat saya berikan—yang terbaik—dalam sedikitnya waktu, sudah cukup. Pernyataan “jika saya diberi waktu lebih banyak, saya yakin saya mampu lebih baik dari ini” sudah berubah menjadi “berikanlah yang terbaik dengan segala kapasitas yang ada: kemampuan, waktu, energi, dana yang dimiliki. Jangan memaksakan diri.”
Dan saya belajar lagi satu hal: memahami kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan—bahkan doa saya. Dan ketika kenyataan sejalan dengan harapan saya, itu bukan karena Sang Kenyataan menuruti kemauan saya, tetapi karena Sang Kenyataan memang berjalan demikian.
Sekarang, jika saya meminta waktu untuk menjadi manusia berhasil menurut versi saya, maka tidak akan pernah ada waktu yang cukup. Menjadi Ira yang memiliki tenaga luar biasa untuk menolong semua orang, memiliki kemampuan yang luar biasa menarik sehingga orang lain termotivasi, tidak pernah memiliki mood down, memiliki uang untuk sekadar beli rak dan buku-bukunya, waktu untuk melahap dan menelan isi buku-buku, lampu yang tepat untuk membaca di dalam ruangan yang tidak membosankan (sempit), berbakti pada orang tua dengan memberikan apa yang mereka belum miliki, dapat berjalan tegak apapun yang terjadi, dan sebagainya.
Tapi sekarang, dengan apa yang ada pada diri saya, seberapa pun waktu yang diberikan, maka saya akan berusaha secara maksimal. Di situlah letak “memberikan yang terbaik”. Seperti seorang janda miskin yang hanya punya sekeping uang untuk dipersembahkan di bait Allah. Maka, apa yang ada pada saya, itulah yang akan saya berikan.
Kepulangan ke rumah natal kali ini, saya tidak memiliki banyak hal untuk dibagikan. Kesabaran, ketekunan, kekuatan, kebanggaan, kesukaan, … tidak banyak. Saya hanya punya sedikit dan masih berusaha menambahkan dan mematangkannya.
Aku akan membiarkan Tuhan melakukan bagian-Nya—kadang-kadang aku memaksakan diri melakukan bagian-Nya di dalam hidupku. Yang pasti, sesedikit yang saya punya itulah yang akan saya bagikan. Mungkin wujud dan nilainya tidak seindah kado di bawah pohon natal, tetapi aku akan belajar membungkusnya dengan indah, memberinya pita sebagai pemanis, dan menuliskan Firman-Nya di sana.

One thought on “Going Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s