Jawaban atau Godaan

Baru saja menetapkan hati pada sesuatu hal—sesuatu hal itu adalah hal yang cukup rumit: susah-susah gampang—lalu datanglah reaksi yang sekaligus menguji keyakinan hati: apakah itu jawaban atau justru godaan. Kesulitan membedakan keduanya, membuatku kembali pada titik tengah alias bingung. Itu sering terjadi, terutama belakangan ini.

Uniknya, dari awal hingga akhir proses itu terjadi, aku melibatkan Yang Maha Berkuasa, sehingga pertanyaan-pertanyaan spontan (mungkin juga cukup menukik) kulontarkan pada-Nya. Aku sempat berpikir apakah Engkau sedang mempermainkan aku atau memang Engkau sedang menguji kesungguhan hatiku? Oleh karena Dia adalah Yang Maha Baik, aku yakin Dia tidak sedang mempermainkan aku. Lantas, Engkau sedang menguji kesungguhan hatiku. Baiklah. Aku mau bersungguh-sungguh. Tapi aku tidak mampu melakukannya sendirian. Aku butuh Engkau.

Pernah, aku berbicara (tidak dengan sikap berdoa pada umumnya) dengan Tuhan di suatu malam. Aku meminta 2 permintaan dengan hati yang entahlah apa namanya. Mungkin berserah, mungkin kalah, mungkin kosong, mungkin termangu (meminjam petikan puisi Chairil Anwar, Aku). Pagi, setelah sadar dari tidur, Tuhan menjawab kedua permintaan itu. Apa yang bisa aku katakan pada-Nya? Hanya bilang, Tuhan mendengar doa(-doa)ku. Tuhan menjawab doa(-doa)ku. “Terima kasih.”

Baru saja, sebentar ini, aku berdoa meminta pertolongan Tuhan mengenai sesuatu yang selama ini cukup mengganggu dan pada kondisi tertentu mampu mengusik ketenangan hidupku, dan bahkan menguasai perasaan batinku; tidak lama kemudian (kurang dari 5 menit), Tuhan menyodorkan sebuah pertanyaan “uji-an”. Dan aku, lagi-lagi, termangu dibuatnya.

Begitulah. Aku lebih banyak bicara pada Dia. Selain karena dia lebih bisa dipercaya, juga karena Dia memberikan jawaban bahkan melakukan sesuatu bagiku. Dan aku tidak perlu membicarakan orang lain alias bergosip. Terus terang, aku tidak begitu menyukai orang yang membicarakan orang lain tanpa melakukan sesuatu. Ketika aku melakukan hal itupun, aku tidak menyukai diriku. Ending-nya, Tuhan melakukan bagian-Nya di dalam hidupku. Aku juga mau melakukan bagianku. Aku tidak mau menjadi pendengar dan pendoa saja. Aku mau melakukan sesuatu. Kerjakan.” Tuhan akan memenuhi kebutuhanmu—bahkan sebelum Engkau (menyadari dan) memintanya.”

Selamat hari Minggu, Temans. Say good things each day dan every day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s