3 Wanita di Toilet

Kutarik jinku ke bawah. Bekasnya masih ada di situ, di paha sebelah kanan. Biru.

Bayangan seseorang di lantai mengalihkan perhatianku. Aku tidak bisa berlama-lama di ruang sempit ini, walau terkadang aku merasa lebih nyaman berada di dalamnya ketimbang di dalam kamarku yang ukurannya enam kali lebih luas.

Begitu aku keluar, dua wanita sedang mengantre. Orang pertama tampak wajar. Orang kedua tampak tertekan menunggu giliran. Usai memandang mereka, mataku beradu di cermin yang lebar. Hampir selebar toilet. Luas. Hingga rasa-rasanya sulit untuk menyembunyikan tingkah lakumu dari orang lain.

Aku memandang gambar di kaos-T-ku. Tidak ada yang istimewa di situ. Seuntai benang kusut mencuat dari balik kerah. Kusorongkan bahuku ke cermin agar aku dapat membaca detail persoalan benang itu: dari mana ia berasal dan apakah apa yang akan kulakukan akan mengundang bagian benang yang lain. Tangan kiriku menahan bagian kerah dekat benang, tangan kananku menarik benang—sedikit kupaksa. Berhasil. Kupelintir-pelintir benang itu, lalu kumasukkan ke dalam kantong belakang jinku. Aku urung membuang ke tong sampah karena di mulut tong tersangkut selembar tisu yang kurang enak dipandang. Aku berkaca lagi. Dari situ, aku dapat melihat orang pertama keluar dari toilet, dan orang kedua menggantikannya.

Sekarang aku bersebelahan dengan orang pertama. Aku mencuri-curi pandang melihat detail gambar di kaos-T-nya. Masih tidak ada yang istimewa. Tapi bekas luka baret di dekat tulang belikatnya menggodaku untuk bertanya. Tapi urung.

Orang pertama memandang wajahnya sendiri di cermin. Ketika ia merasakan ada seseorang sedang memperhatikan, ia mendelik ke arahku. Aku senyum saja, dan aku berusaha tampak biasa-biasa saja. Seperti tahu, orang pertama itu menggaruk pelan bekas luka baret itu, lalu menarik krah bajunya seperti hendak menutupi bekas luka itu. Tatapannya memancarkan ketidaknyamanan. Krah bajunya jatuh. Ditarik lagi. Jatuh lagi. Akhirnya ia jadi sebal sendiri dan bertanya, “Kenapa, Mbak?” Aku hanya melihatnya dengan tatapan bertanya, “Apanya yang kenapa?” Orang pertama pergi.

Aku berniat pergi juga karena tanganku sudah bersih dan rambutku juga sudah rapi. Ketika aku melangkah ke mesin pengering tangan di dekat pintu keluar, orang kedua keluar dengan wajah dan mungkin dengan perasaan lega. Ia tidak ke cermin. Tidak pula mencuci tangan. Ia hanya berlalu dengan senyum di muka. Seolah-olah hendak berkata, “Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku.” Tidak ada gambar di bagian belakang kaos-T-nya. Hanya samar senyumnya tertinggal di cermin.

Aku lantas memberi senyum pada diriku sendiri. Tak lama, aku sadar bahwa tinggal seorang aku di ruang itu. Dengan lampu kuning yang nyaman. Dengan aroma-terapi memenuhi ruangan. Dengan bekas kepentok meja di paha kiri. “Aduh.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s