SEKOLAH PENJARA

1993. Huh, akhirnya aku bisa menulis dengan pulpen. Menulis dengan pensil seperti di kelas satu dan dua, sungguh-sungguh memuakkan. Setiap kali tulisan dihapus, bukuku jadi kotor. Kadang-kadang jadi berkerut bahkan sobek. Guru kelasku akan memarahiku. Padahal seharusnya dia mengajariku bagaimana caranya menghapus dengan baik agar bukuku tidak kotor atau sobek. Tapi yang jelas sekarang, aku sudah kelas tiga. Kelas baru, guru baru.

Sekolahku tidak baru. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini. Langit-langitnya dari tripleks. Tripleksnya sudah membusuk karena air hujan merembes dari atap yang bocor halus. Sewaktu-waktu tripleks itu bisa saja lepas lalu menimpa Ramli dan Beni. Bangku-meja sekolahku banyak yang sudah bolong-bolong. Masuk pertama usai libur caturwulan, kami harus mengusir kecoa dari dalam laci meja.

Ya, sekolahku tidak seperti sekolah Amel. Sekolahnya bagus. Saking bagusnya, aku enggan menginjakan kaki di atas ubin putih sekolahnya. Berdecak kagum ketika melongok ke dalam ruang kelas. Bangku-mejanya masih baru dan kokoh. Di dinding kelas ada peta Indonesia dan dunia. Menurut Amel sekolahku adalah sekolah buruk karena itulah letaknya jauh. “Hanya sekolah-sekolah buruk yang letaknya jauh. Dan hanya anak-anak bodoh yang bersekolah di sekolah yang buruk.” Dia mencibir lalu berlari dan berkelok di simpang menuju rumahnya. Sejak saat itu, aku malas bicara dengannya.

“Ratna!” Pekik seseorang. Aku kenal suara itu. Fajri. Dia satu-satunya kawan-laki-laki terdekatku. Rumahnya tidak jauh dari sekolah. Tapi mengapa dia datang di menit-menit terakhir? “Aku terlambat bangun. Semalam batuk ibuku kambuh.” Katanya.

“O.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Menurut ibuku, ibu Fajri mengidap penyakit parah. Sewaktu-waktu dia bisa meninggal. “Semoga lekas sembuh.”

“Ya. Semoga. Sudah mengerjakan PR?”

“Sudah. Memang kenapa?”

“Aku belum mengerjakannya. Semalam begitu melelahkan. Ayahku harus menjemput  Pak Munto ke rumahnya. Selama itu aku harus menjagai ibu.” Pak Munto itu dukun kampung. Rumahnya di tengah hutan. “Jadi, aku tidak sempat mengerjakan PR.” Dia berhenti sesaat, lalu melanjutkan perkataannya lagi. “Batuknya sepanjang malam. Sekalipun dia menyuruhku tidur, aku tidak bisa tidur. Batuknya mengganggu. Kasihan juga. Jadi, boleh kupinjam?”

“Tentu.” Kami berlari menuju sekolah. Pak Kari sedang memukul bel. Anak-anak berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Debu beterbangan di lapangan.

Di jam Bahasa Indonesia, Fajri mengerjakan PR. Maksudku, menyalin PR-ku ke PR-nya. Bu Yeni, guru kelas kami yang sedang menerangkan “kata sapaan”, mendekati Fajri. Aku tercekik. Aku ingin meng-shh-shh Fajri, tapi aku sudah membeku sebelum bisa melakukannya.

“Apa yang kau kerjakan?” Bu Yeni melipat tangan di dada. Matanya tajam seperti hendak mengiris-iris kepala Fajri. Bahkan tampak seperti hendak membentur-benturkan kepala Fajri ke meja.

Sejenak Fajri menengokku. Aku terkesiap. Aku tak bisa membantunya. Aku mau, tapi tidak bisa.

“Jangan celingak-celinguk. Jawab pertanyaan ibu. Apa yang kamu kerjakan?” Ruang kelas berubah jadi kuburan. Murid-murid adalah mayatnya, Bu Yeni setannya, Fajri korbannya.

“Ini, Bu.” Hanya itu yang bisa diucapkan Fajri. Bu Yeni tak puas. Dirampasnya dua buku tulis itu. Setelah menyimak isi buku, Bu Yeni lantas berkata, “Matematika. Matematika! Matematika?!” Dia mengulang-ulang dengan nada yang berbeda-beda dan menakutkan. “Kau tidak tahu sekarang pelajaran apa?!” Buku itu dicampakkannya ke wajah Fajri. Aku ingin membela, tapi aku takut. Tanganku meremas-remas sandaran bangku. Aku ingin berdiri dan menceritakan sebab Fajri tidak mengerjakan PR-nya. Tapi aku hanya bisa duduk dan melihat Fajri dihabisi Bu Yeni.

“PR siapa yang kamu salin?”

“Oh, tidak.” Pekikku dalam hati.

Bu Yeni melihat nama di sampul bukuku. “Ratna. Ratna? O, Ratna.” Bu Yeni berbalik dan menatapku yang sedang duduk menyerong untuk melihat Fajri di deretan belakang. “Jangan pernah meminjamkan PR-mu pada orang lain!” Rasanya Bu Yeni berteriak di telingaku. Bu Yeni melangkah ke arahku. “Sok pintar kamu.” Tuduh Bu Yeni.

“Ibunya sakit, Bu.” Aku bicara dengan keringat di sekujur tubuh. “Makanya dia tidak bisa mengerjakan PR.”

“Heh! Jangan menjawab! Yang sakit ibunya, kamu sok-sok-an jadi pahlawan. Heh?!” Buku itu dilemparkannya ke arahku. Karena lemparannya buruk, buku itu jatuh di kakiku. Bu Yeni tampak kecewa. Setelah kupungut buku tulisku, Bu Yeni memintanya kembali. Kuberikan dengan ragu-ragu. “Apa yang akan dilakukannya dengan buku tulisku?” Pikirku. Pletak! Bu Yeni memukul kepalaku dengan bukuku. Aku ingin menangis. Aku ingin berdiri dan memukul perutnya. Tapi melihat Fajri yang sedang berlinang air mata, aku menjadi kuat. Aku tidak boleh menangis. Aku harus menguatkan Fajri dengan tidak menangis.

“Simpan buku-buku kalian. Jangan keluarkan buku-buku yang tidak berhubungan dengan mata pelajaran yang sedang diterangkan.” Bu Yeni berdiri di sisi mejanya. “Heh, Fajri.” Katanya lagi. “Simpan air matamu itu buat yang lain.” Bu Yeni mengambil kapur dan melanjutkan pelajaran. Air mata Fajri kian menjadi, tapi dia tidak bersuara.

“Ya, Tuhan. Fajri, jangan menangis lagi. Kau membuatku sedih.” Kataku dalam hati. Duh, jangan-jangan dia ingat ibunya.

Sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia, Fajri hanya diam. Wajahnya menghadap ke papan tulis, tapi air matanya masih saja merembes dari sudut matanya. Dan dia tidak bersuara sedikitpun. Di jam istirahat, kuhampiri dia. Dia masih diam. Lalu kutanya apa dia baik-baik saja.

“Aku baik-baik saja.” Katanya, lalu menarik ingus.

“Tapi air matamu masih keluar.”

“Aku tidak tahu mengapa dia mengalir terus. Itu bukan atas kehendakku.”

Kuajak dia jajan. Dia menggeleng. Karena menurutku, mungkin dia tidak punya uang, maka kutawarkan jajan gratis. “Aku traktir.” Dia menggeleng lagi. Aku menyerah. Kutinggalkan dia di kelas.

Besoknya, Fajri tidak masuk. Alfa. Lusa, dia tidak masuk juga. Alfa dua kali. Besoknya lagi, bangkunya kosong. Alfa tiga kali. Aku khawatir. Sepulang sekolah, aku mampir ke rumahnya. Aku bersyukur, ada Fajri di situ. Dia sedang duduk-duduk di bawah pohon jambu airnya.

“Fajri?”

“Ratna. Kenapa ke sini?” Katanya.

“Kenapa tidak sekolah?”

“Aku tidak akan sekolah lagi.”

“Ha? Apa?”

“Sekolah menyiksaku. Menyiksa orang tuaku juga.”

“Apa katamu?”

“Ayahku saja tidak pernah memarahiku seperti waktu itu. Aku sekolah bukan untuk dimarahi, tapi untuk belajar.” Fajri marah. “Ayahku kerja mati-matian untuk bisa bayar.” Ia menggerutu.

“Ya. Ibuku juga tidak pernah memukul kepalaku. Paling mencubit.”

“Bapakku sudah tidak mampu bayar. Lagipula, aku akan lebih berguna kalau membantu ayahku di pasar daripada membuang-buang waktu di sekolah. Yang penting sekarang, aku sudah bisa membaca dan menulis. Urusan hitung-menghitung bisa kupelajari sambil membantu ayahku berjualan kelapa di pasar.”

Ya, ya. Dia benar juga. Tapi…, “Tapi, kita akan sulit bertemu.” Kataku.

“Ya. Tapi kita tetap berteman.” Fajri memberikan kelingking kanannya. Kuraih kelingkingnya. Kelingking kami saling kait.

Besoknya, Bu Yeni melempar penghapus papan tulis ke arah Beni. Karena dia bukan pelempar yang bagus, penghapus itu mendarat di wajah anak yang duduk di depan Beni, Shinta.

Shinta menangis seketika. Bu Yeni melompat dari bangkunya dan berlari ke bangku Shinta. Bu Yeni panik. Bu Yeni membersihkan wajah Shinta dari kapur sambil meminta maaf, dan terus menyalahkan Beni. “Ini gara-gara kamu, Beni. Kalau kamu tidak nakal, tentu tidak begini jadinya!” Katanya membela diri.

“Kira-kira kenapa Bu Yeni ingin melempar penghapus papan tulis padamu?” Tanyaku pada Beni usai bel sekolah berdentang.

“Entahlah. Bu Yeni sering menghukum kita tanpa alasan yang jelas.”

“Dia itu gila!” Sambung Ramli, kawan sebangku Beni.

“Kau lihat wajah Bu Yeni tadi?” Kata Beni. Ramli menirukan mimik Bu Yeni dengan agak berlebihan. Lalu mereka tertawa terpingkal-pingkal. Aku ikut tertawa. Haha. Aku belum pernah tertawa sepuas ini di sekolah. Sejak saat itu, Beni dan Ramli menjadi kawan dekatku, setelah Fajri.

Ujian akhir caturwulan sebentar lagi tiba. Seperti biasa, setiap murid diharuskan melunasi SPP karena tanda lunas adalah syarat bisa ikut ujian. Salah satu kebiasaan buruk di sekolah ini adalah mengumumkan nama anak-anak yang belum melunasi kewajibannya, pada upacara bendera selama dua minggu berturut-turut. Nama Beni sempat disebut di upacara bendera yang pertama, tapi ia segera melunasinya sehingga Senin berikutnya, namanya tidak ada dalam pengumuman. Nama Ramli disebut dua kali. Upacara bendera pertama dan kedua. Ketika nama mereka berdua diumumkan lewat mikrofon oleh kepala sekolah, mereka bisa saling  ledek lalu tertawa terpingkal-pingkal. Tapi di upacara bendera kedua, Ramli tidak menanggapi kelakar Beni. Beni menghentikan candanya.

Di kelas, kulihat Ramli diam saja. Di jam istirahat, dia kabur ke belakang gedung. Dari balik dinding, kulihat dia hanya duduk-duduk sambil melempar-lemparkan batu-batu kecil.

“Beni, aku tidak mau kehilangan kawan lagi.” Kataku.

“Apa maksudmu?” Katanya sambil menggoyang-goyangkan kakinya di atas meja guru.

“Aku, maksudku kita, sudah kehilangan Fajri. Aku tidak mau kehilangan Ramli.”

“Bagaimana kalau kau kehilangan aku?” Dia menatapku jauh ke balik mataku.

“Tentu aku tidak mau. Kau juga temanku. Jangan bercanda.” Kataku agak malu-malu. Dia tersenyum. Aku tak tahu makna senyumannya itu.

“Tadi Ramli sempat bilang bahwa dia pasti bisa melunasi SPP.” Beni menurunkan kakinya dari atas meja guru, lalu jongkok di bangku guru. “Tapi aku tidak tahu uang dari mana.” Beni menatap lurus ke lantai.

“Bagaimana kalau dari tabungan kita?” Usulku.

“Tabungan kita? Apa sih maksudmu?”

“Aku punya tabungan di bambuku. Mungkin sudah 700 perak. Kau punya tabungan berapa?”

“Aku tidak menabung, Ratna. Lagipula uang jajanku cuma 50. Menabung bagaimana? Lima puluh habis buat beli es dan kerupuk berkuah. Sesekali aku juga berbagi dengan Ramli.”

“Begitu, ya? Hm, kalau saja ada duit 550 lagi. Dari mana, ya?”

“Bukan 550, tapi lebih. Dia belum bayar sama sekali.”

Aku hanya menarik nafas dan kembali ke bangkuku. Di sana, aku berpangku tangan. “Maaf, Ramli. Kami tidak bisa membantu.” Kataku dalam hati.

Hampir setiap hari Bu Yeni mengingatkan Ramli untuk melunasi SPP-nya sebelum ujian caturwulan dua dimulai Senin depan. Kadang-kadang peringatannya dibarengi ancaman; tinggal kelas.

“Mengapa dia bisa jadi guru?” Kataku dalam hati.

Besoknya Ramli datang bersama orang tuanya. Orang tuanya memohon keringanan waktu agar Ramli bisa mengikuti ujian. Ibu Ramli keluar dari ruang kepala sekolah dengan mata sembab.

Kuajukan permohonan pada ibuku untuk mau menolong ibu Ramli. “Ibu sangat mau menolong. Jeni,” Jeni itu nama adikku. “Caturwulan depan, masuk sd. Ibu sedang menabung untuknya. Uang masuk sekolah, sewaktu-waktu bisa naik.” Kata ibuku sambil melipat baju.

“Jeni tidak usah disekolahkan saja, Bu.”

“Apa katamu?” Ibu berhenti melipat pakaian. Ibu menatapku tajam. Tatapannya hampir sama seperti tatapan Bu Yeni pada Fajri. Aku jadi takut. “Menyekolahkan kalian adalah kewajian ibu. Kalau kau ingin menolong orang lain, jangan korbankan adikmu sendiri.”

Aku ingin menceritakan apa yang telah terjadi di sekolah selama ini, tapi selalu tak ada waktu. Kami hanya bertemu sore hari. Pulang dari pasar, ibu menyiapkan makan malam. Mengerjakan ini-itu. Mandi, makan, lalu tidur. Besoknya, pagi-pagi betul, ibuku sudah bersiap-siap ke pasar lagi. Yah, kalau ada percakapan, paling hanya menanyakan ada PR atau tidak. Sedang mengerjakan PR apa? Kalau sudah harus bayar SPP, beritahu ibu, ya?

Tepat seperti dugaanku, Ramli tidak sekolah lagi. Tapi kami sering bertemu di kaki bukit. Dia sedang menggembalakan kerbau sambil menyabit rumput. Sering pula kulihat dia sedang jongkok di pematang menunggu umpannya dimakan belut.

Beni kehilangan gairah belajar. Hampir setiap hari dia dimarahi dengan berbagai alasan; karena tidak memperhatikan, karena tidak mencatat, karena tidak bisa menjawab pertanyaan, kadang-kadang karena tidak melakukan apapun. Maksudku karena Bu Yeni hanya ingin marah. Tapi aku tak tahu mengapa Beni yang selalu jadi sasaran.

“Kuharap dia mati saja.” Kata Beni suatu ketika. “Sekolah adalah neraka.” Lanjutnya.

“Beni, jangan menyerah. Nanti, kalau kita sudah naik kelas, kita akan bertemu guru baru!” Kataku bersemangat.

“Dasar kau. Makanya berteman jangan hanya dengan kawan sekelas, tapi satu sekolah.” Katanya sambil melipat kedua tangannya di belakang tempurung kepalanya. “Guru di kelas empat tidak jauh berbeda dengan Bu Yeni. Paling bedanya Bu Yeni ibu-ibu, Pak Aris bapak-bapak.” Beni menunggu isyarat apakah aku mengerti segala apa yang dikatakannya.”Guru kelas lima.” Lanjutnya sambil berbisik. “Dia guru baru. Pindahan dari SD 8. Pindahan bukan selalu berarti dipindahkan. Bisa jadi diusir. Kau kenal Alwis?”

“Ha?”

“Alwis. Ya, ya, kau tidak akan mengenalnya. Dia duduk di kelas lima. Entah karena apa, Pak Aris tidak membolehkannya permisi ke belakang. Dia disuruh menahan kencingnya sampai jam istirahat. Dan kau mau tahu kebiasaan guru kelas enam?”

Aku bingung sekaligus takut untuk menjawab iya atau tidak. Sebelum aku menjawab, Beni sudah berkata-kata lagi. “Bu Yeni memukul kita dengan buku, dengan penghapus papan tulis, dengan penggaris. Guru kelas enam tidak segan-segan menempeleng kepala orang dengan tangannya. Cubitannya bisa bikin kau menahan sakitnya selama beberapa hari.”

“Dari mana kau tahu semua ini?”

“Aku tahu banyak. Aku tidak melebih-lebihkan cerita, dan aku tidak sedang menakut-nakutimu. Aku sendiri tidak takut.” Katanya dengan wajah ragu-ragu. “Kuharap kau tahu anak yang bernama Weri.”

“Ya, aku tahu. Dia yang dimandikan di upacara bendera kemarin kan?” Jawabku. Weri dihukum karena dianggap tidak mandi sebelum ke sekolah. Pak Hamid, wakil kepala sekolah mendapat tugas menginterogasi anak-anak. Pak Hamid menentukan siapa-siapa yang belum mandi berdasarkan bau badan. Kami semua bau! Bagaimana tidak bau. Kami harus berjalan jauh bahkan berlari dari rumah menuju sekolah. Rumah Weri dua kali lipat jauhnya dari rumahku. Dan dia tidak punya uang untuk naik mobil umum.

“Iya. Usai dia dimandikan dan dipermalukan dalam upacara bendera, dia dikunci di WC. Ya ampun, bayangkan bau WC kita. Tidak ada air, tai yang mengapung di lubang WC, lumut di mana-mana, kencing di dinding.”

“Berapa lama dia dikunci?”

“Sampai jam pulang. Bayangkan itu.”

Aku tidak mau sekolah lagi. Aku tidak mau. Sungguh-sungguh tidak mau!

“Ratna!!” Pekik ibuku. Ibu memaksaku untuk menamatkan sekolah dasarku.

Caturwulan tiga, Beni pindah sekolah. Aku ingin menyusulnya, tapi ibuku tidak punya uang untuk membayar kepindahanku. Dan ibuku tidak punya waktu dan tenaga untuk mengadakan perlawanan. Dia cuma penjual nanas.

Setiap kali mendapat hukuman dari guru, aku tidak punya teman berbagi lagi. Yang paling membuatku tak tahan adalah menyaksikan kawan sekelasku ditangani guru. Pak Aris tidak-segan-segan menjewer telinga kami, menepuk-tepuk kedua pipi korbannya sambil tertawa-tawa, meremas kedua lengan murid sampai sang murid kencing di celana. Yang belum pernah kena hukum, biasanya menjerumuskan kawan sendiri dengan menertawakannya. Bahkan ada yang bilang, “Syukur, syukuuur….” Lalu pantatnya menari-nari di hadapanku.

Dengan alasan sekolahku berharga murah, ibuku memasukkan Jeni ke sekolah yang sama denganku. “Ya, Tuhan. Ibuku baru saja membelikan Jeni tiket masuk menuju masa kecil yang suram.” Kataku dalam hati.

Mengapa kami diwajibkan bersekolah, sementara kami punya hak untuk tidak sekolah? Ketika pertanyaan ini kuajukan pada ibu, dia menjawab dengan acuh, “Ini demi kebaikanmu dan adikmu.”

“Apa?? Kebaikan kami?” Sungguh tak bisa kubayangkan kebaikan macam apa. Aku berlalu dari hadapan ibu.

Sejak saat itu, aku dan Jeni berangkat sekolah sama-sama. Sayang kami tidak bisa pulang sama-sama. Murid kelas satu dan dua pulang jam 10. Aku sudah kelas empat sekarang. Hah, kuharap Jeni baik-baik saja di “sel”-nya.

Jatinangor | 18 Oktober 2007

Irayati Tampubolon

Lahir di Bukittinggi, 23 Mei 1985

Masih Bergiat di Teater Djati

Sekarang tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s