LIMITLESS: 100%

Oke. Film ini jadi incaran saya sejak lama. Baru bisa ditonton semalam karena baru “Now Showing” beberapa hari ini di BSD Plasa. Mengapa musti nunggu tayang di BSD Plasa? Karena pada weekdays, hanya di BSD Plasa yang HTM-nya 10 ribu *hahahaaa…. Yup. Alasan keuangan. Dan lihatlah ke kalender.😀
Limitless disutradari oleh Neil Burger. Ia juga menyutradari beberapa film lain. Salah satu filmnya yang juga sudah saya tonton adalah The Illusionist dibintangi Edward Norton. That was an awesome film. Edward really good in it. Tapi sayang, belakangan ia kurang bagus. Dia coba masuk ke film action; padahal dia cocok di film psikologi. Aktor watak.

Si Ganteng Bradley Cooper pun memiliki berbagai prestasi yang tidak perlu diragukan lagi. Predikat ganteng dan seksi tidak akan lewat dari mata kebanyakan wanita. Saya sendiri, mengakui kegantengan dan keseksiannya, namun tidak menarik. *its different😀 (hanya aku dan Tuhan yang tahu :P) Oke. Back to the track. Cooper pernah juga berakting di puluhan film sebelumnya. Salah satu filmnya yang saya suka adalah He’s Just Not Into It (sebagai Ben). Oh, he was really a nice and sweet guy in here. You will fall in love with him *I guest. Aren’t you? Just watch it first….

Robert de Niro? Oh, c’mon. No question on him. He’s still good.

Ketiga orang hebat ini bertemu di dalam LIMITLESS. Tak terbatas. Kira-kira begitu terjemahan bebasnya. Bagi saya, film ini cukup menginspirasi pada awalnya. Hidup yang manusiawi dari seorang penulis buku yang mengalami stagnasi hingga hidupnya (diluar penulisan buku) berantakan. Perawakannya yang gagah tinggal kenangan: ia lebih mirip gelandangan yang bau dan semrawut. Rambut acak-acakan. Baju kotor. Rumah tidak teratur. Semua serba tidak terawat. Selama seminggu, bahkan berbulan-bulan tidak satu kalimat pun berhasil ia rangkai. Ia terdesak oleh teken kontrak yang sudah ia materaikan dengan penerbit. Ia putus cinta dengan kekasihnya. Tetapi ia masih berusaha untuk melakukan sesuatu walaupun ia tidak tahu betul apa yang semestinya ia lakukan. Manusiawi sekali. Dan kemanusiawiannya itu patut dihargai (menginspirasi).

Sepulang dari restoran, secara tidak sengaja, ia bertemu mantan kakak iparnya. Ia ditawari sebuah pil yang aneh. Bukan narkoba. Tetapi obat yang diracik secara ilegal dan didistribusikan secara tidak resmi. Awalnya ia menolak. Tapi ia penasaran juga. Ia telan. 30 detik kemudian, obat itu bereaksi. Ia mampu memaksimalkan fungsi otaknya hingga 100%–pada umumnya di dalam kehidupan sehari-hari, manusia hanya mampu “menggunakan” otaknya hingga 20%. Pada kondisi itu, ia mampu belajar bahasa asing secara otodidak dalam sehari ato beberapa hari saja. Ia mampu mempelajari rumus, saham, berita, dsb dengan sekejap hingga banyak orang jatuh cinta padanya, menarawarinya banyak pekerjaan yang menarik dan menggiurkan. Namun, kebergantungannya pada obat itu sangat memualkan. Ia muntah. Ia tidak berdaya.

Lalu, cerita menjadi tidak masuk akal dengan keberadaan obat itu. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa segala sesuatu dapat dilakukan secara instan. Tujuan pernyataan itu benar, tetapi bagaimana hal itu disampaikan bikin saya kepingin muntah. Saya tidak bisa mengatakannya di sini. Karena rasa mual itu kembali lagi. *huweekkk ….

… yang kita butuhkan hanyalah “pil” setiap hari. Namun, juga ingin mengatakan bahwa segala sesuatu yang instan akan mendatangkan dampak yang sangat tidak baik apabila keinstanan itu diintensifkan. Kita dapat memaksimalkan fungsi otak kita—tanpa obat itu sekalipun. Masalahnya adalah, apakah kita sudah mengusahakannya? Dengan perkataan lain, setiap orang mampu menjadi cerdas asalkan ia menyadari hal itu dan melatih diri agar kesadaran itu tetap terjaga. Akan tetapi, “kedagingan” manusia terkadang menggoda kita untuk tidur, beristirahat, untuk bermalas-malasan—apalagi ketika sudah mencapai tujuan.

Hh, banyak PR kita sebagai manusia. Karena seorang manusia memiliki banyak identitas. Dan setiap identitas harus dihidupi secara bersamaan dan secara maksimal. Berat rasanya. Rumit. Bikin pusing. Bikin mual. Tetapi kembalilah ke kemanusiawian kita. Dengan begitu, kita dapat menghargai diri sendiri dan menginspirasi orang lain. Kemanusiawian kita … bahwa kita membutuhkan Yang Maha Agung untuk menguatkan dan memampukan kita menjadi manusia “seutuhnya” yang menghidupi hidup yang diberikan-Nya. Pil yang ada di dalam film itu bisa jadi setiap doa yang kita naikkan kepada Yang Maha Agung untuk memacu adrenalin kita sehingga kita dapat memaksimalkan fungsi hidup kita 100%. *Penemuan inih!!! Hahahaaaa …. Tinggal pelaksanaannya aja yang masih dalam tanda tanya wkwkwkwk…. [21Juni2011]

3 thoughts on “LIMITLESS: 100%

  1. membaca lagi tulisan sendiri, gw jadi mengingat proses di balik penulisan ini. mana tulisan yang berangkat dari antusiasme yang tinggi atau yang dipaksakan. dan tulisan ini–tanpa bermaksud angkuh–memiliki yang pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s