Lithuania: Yang Hidup Telah Mati

Rossa, demikian Rukman Rosadi dipanggil, menyutradari pementasan dengan naskah drama Liathuania karya Rupert Brooke semalam, dan malam ini (17 dan 18 Juni 2011) di Salihara pada pukul 20.30 WIB. Ia juga—rupa-rupanya—turut berperan di dalamnya sebagai orang asing.

Setting panggung mendatangkan kesan yang mungkin mengena pada konsep pementasan bulan ini: realis. Suasananya terbangun melalui setting. Sekali lagi, melalui setting. Dan biasanya, ini akan mendatangkan dua kemungkinan: aktor dimudahkan memainkan perannya atau aktor kesulitan menyatukan perannya dengan setting. Bagi saya, pilihan yang pertama adalah kemungkinan yang akan saya pilih.

Setelah 10 menit lewat dari jadwal yang ditentukan (saya benci keterlambatan ini), seseorang bersuara nyaman menerangkan ketentuan-ketentuan saat menonton. Yaaa, soal handphone, pengambilan gambar, dsb dst. Dari panggung yang remang, saya melihat dua aktor mengambil posisi. Lalu, menyalalah lampu. Menyalalah rasa ingin tahu saya. Dan ketika lampu menyala seutuhnya, saya tidak lagi begitu tertarik. Rossa (orang asing) dan Intan Kumalasari (Sinah) gagal menghidupi setting. Saya sedih. “Apakah tidak lagi ada pementasan teater yang sesuai harapan saya?”

Tapi, saya tidak segera menamatkan kekecewaan saya di situ. Saya harus menyaksikan peranan mereka hingga akhir. Bukankah pementasan yang tidak bagus pun mampu menjadi guru yang luar biasa?

Musik membangun suasana kian hebat. Sepi. Sunyi. Seram (begitu kata yang dilontarkan Rossa). Namun, suasana mencekam oleh kesunyian yang membunuh sungguh-sungguh gagal dimunculkan. Saya malah mendapat kesan: membosankan. Saya lantas memerhatikan penonton yang lain: mereka pun gelisah. Malah mereka menunjukkannya dengan posisi tubuh yang bergeser ke sana-sini. Mengangkat pantat dan duduk lagi. Maksud saya, aktor belum mampu memberikan kegelisahan sendiri (di antara mereka: Rossa dan Intan) di panggung. Tapi, ya sudahlah. Masih ada harapan pada aktor yang lain.

Lalu, muncul ibu (Wheni P. Putri). Ia datang dengan wajah dan tubuh yang gelisah. Semua diam. Tapi tidak juga suasana mencekam, gelisah, tidak nyaman, terbangun di atas panggung. “Sayang sekali panggung itu terbunuh oleh mereka. Mereka tidak bersatu roh dengan panggung. Bahkan di antara mereka pun, tidak. Masing-masing aktor berdiri sendiri. Mereka seperti membangun keaktoran tanpa mengaitkan dan menumbuhkannya dengan keaktoran yang lain. Sehingga mereka tumbuh dan mati sendiri(-sendiri). Pembangunan self-actor itu pun tidak berhasil.”

Saya tidak mengharapkan salah satu pun dari mereka bicara: saya tidak merasa penasaran akan apa yang mereka perbuat berikutnya karena itu tidak berhasil mereka sampaikan kepada saya (penonton). Mereka tidak mengaksikan apa-apa terhadap saya; saya tidak mereaksikan sesuatu (hukum aksi-reaksi). Sehingga akhirnya pasangan kita hanya mengatakan, “Saya tidak tahu lagi. Terserah kamu sajalah.”

Tak lama, ibu angkat bicara. Beberapa detik sebelum ia bicara, saya mengharapkan sesuatu yang setidaknya menyenangkan saya: wujud sang ibu (make up dan kostum) tidak tercoreng oleh bunyi suaranya. Ia bicara; adrenalin di tangan kanan saya bergejolak. Rasanya kepingin melempar botol minum saya ke arahnya. Mengecewakan. “Hei! Engkau sang ibu yang sudah tua. Mungkin 55 atau bahkan 60 tahun. Anak laki-lakimu hilang. Anak perempuanmu keras kepala. Suamimu tidak tegas. Begitukah wujudmu? Begitukah “getar” suramu? Mana kegetiran, mana ketegaran, mana ketidakberdayaanmu, mana kekerasan hatimu, mana keperempuananmu, mana keibuanmu?! Raib bersama api di dalam tungku?” Astaga. Akan jadi apa pementasan ini hingga 60 menit ke depan?”

Saya harus betul-betul bersabar. Lalu angka 25ribu yang sudah saya bayarkan di loket tadi melayang ke awang. Hahahaaa. Capek dweeehhh…. *geram

Dialog demi dialog terlontar begitu saja. Seperti kartu-kartu yang dimainkan oleh pemabuk kere di lapo tuak pinggir jalan dengan hati yang membosankan. Tidak berarti. Akhirnya, saya pasrah saja: saya akan menikmati jalan cerita (belaka), setting, permainan lampu yang tepat, musik jangkrik yang ramai, dan belajar dari make up serta kostum mereka saja(lah). Lumayan, bisa di-share-kan kepada anak didik saya di sekolah dan teman di kampus.

Saya menghibur diri lagi dengan berpikir: siapa tahu ada kejutan di akhir cerita (bukan jalan cerita). Cerita berakhir dengan: orang asing yang datang itu adalah anaknya yang hilang belasan tahun yang lalu, bahwa ibu dan anak perempuannya terlanjur membunuhnya secara keji dengan kapak demi uang yang si orang asing bawa, dan bahwa mereka kaget luar biasa. Ending itu justru semakin menguatkan pendapat saya bahwa orang asing tidak mampu membangun keaktorannya sebagai anak hilang yang menginjakkan kakinya kembali ke kampung halaman, di hadapan ibu, adik, dan bapaknya. Sangat tidak! Tidak satu pun dari mereka yang menyatu. Jutru, benda-benda matilah yang saling menyatu: setting panggung, make up, kostum, musik, dsb dan benda-benda mati itulah yang membangun realis. Yang hidup tidak. Yang hidup telah mati!

Penonton di sebelah saya memberi standing-applause dengan ragu-ragu. Ketika tidak ada yang berdiri, ia duduk lagi. Ketika ada yang juga akhirnya berdiri, ia berdiri lagi. Lalu entah karena apa, duduk lagi. Ia planga-plongo ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, berdiri dengan sungguh-sungguh. Astaga! Bahkan untuk memberikan apresiasi pun, ia tidak percaya diri. Saya? Saya memilih bertepuk tangan kecil sambil duduk dengan malas. “Ayo, pulang!”

5 thoughts on “Lithuania: Yang Hidup Telah Mati

  1. anda pasti orang yg tidak sabaran dan selalu gelisah…untuk melihat hdup dan realitas harus memiliki ketenangan untuk membaca detil, bukan saja pada yg terlihat, tapi pada operasi pikiran dan perasaan yg membuat aktifitas terlahir…dari komen anda terlihat bahwa sepanjang hidup anda adalah pemuja yg tampak..coba lebih sabar membaca kehidupan..termasuk hidup anda sendiri…ada yg sesungguhnya tidak bisa hanya dibaca oleh subyektifitas dua mata kita. Semoga lebih sukses membaca…

  2. hahahaaaa… yang jelas, saya adalah orang yang sekarang sedang tertawa. tertawa membaca ulang tulisan saya, dan (bertambah) tertawa untuk komen anda, Elang. terima kasih, yaaaaa…. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s