Refleksi Paskah: “Sudah Selesai.”

Minggu kemaren tanggal 4 April 2010, saya bergereja di dua tempat. Pertama di GKI Kwitang Jakarta dan yang kedua di GII Hok Im Tong Plaza Semanggi. Saya datang terlambat hampir 30 menit di GKI Kwitang karena perjalanan dari Sukabumi yang tidak terduga: macet. Karena memang hanya ada satu jalan, yang tidak pula terlalu memadai untuk truk, bus, mini bus, mobil pribadi, angkot, dan sepeda motor. Selain itu, dan tampaknya ini yang menjadi alasan mendasar, saya terlambat bangun. Mestinya bangun pukul 04.15 sehingga bisa berangkat satu jam kemudian; pada kenyataannya saya terbangun pukul 05.09. Itu pun setelah dibangunkan beker berkali-kali.

Di GKI Kwitang saya mendapat sesuatu yang menyalakan kembali perasaan saya bahwa Yesus pernah sangat menderita. Dan Ia telah merasakan kesakitan yang sangat. Bahkan Ia pun sudah pernah mengalami kesesakan yang mendalam. Bagaimana Ia melihat ke arah langit dan mungkin memohon di dalam hatinya (terpancar dari mata-Nya melalui slide The Passion of The Christ diiringi lagu We Are The Reason) agar Bapa menolong-Nya. Tetapi tidak. Bapa tidak lantas turun dari langit dan menyelamatkan Yesus karena Yesus sendirilah yang akan menjadi Juru Selamat atas umat manusia. Dengan segala sakit dan derita, dan keperihan yang mendalam, Ia lunaskan “pekerjan-Nya” sehingga Ia berkata, “Sudah selesai!”

Wow!!! Sepasang kata itu benar-benar membebaskan.

Saya tadinya merasa bahwa sayalah yang paling menderita, atau setidaknya saya merasa bahwa saya pernah merasa bahwa dalam penderitaan tertentu, hanya sayalah yang merasakan penderitaan tersebut. Tetapi saya salah besar! Yesus telah lebih dulu mengalami sakit yang bahkan lebih dari apa yang saya rasakan itu!: ditinggalkan sahabat (Petrus, Yudas, dkk—di masa penderitaan Yesus tak satu pun murid yang mendampingi-Nya) bahkan disangkal! Ia dicambuk, Ia dikhianati (ini bagian yang paling sulit saya terima jika terjadi di hidup saya.), Ia juga diludahi, Ia dituding, Ia tidak dianggap (rejected), …. Tetapi Ia tetap fokus pada misi-Nya, dan Ia berhasil.

“Sudah selesai.” Demikian Ia berkata.

Tidak seorang pun dapat menyempurnakan karya penyelamatan itu karena karya penyelamatan itu sendiri sudah sempurna. Dan memang sempurna sejak dari awal. Jadi, apa yang telah saya dan mungkin Anda lakukan—kebaikan bahkan kejahatan—tidak akan mengubah karya keselamatan itu, sedikit pun juga! Sama sekali tidak. Dan tidak ada gunanya saya berbuat baik untuk menyelamatkan diri karena saya sudah diselamatkan—asal saya percaya sampai kedatangan-Nya yang kedua kalinya (taat dan setia).

Hati saya tersentuh. Dan saya jadi tahu betapa sombongnya saya dengan sulit memberi maaf pada orang lain (tidak hanya kata maaf, tetapi dengan sepenuh hati memaafkan. Kesalahan yang telah diperbuat seseorang itu tidak hanya sekadar saya lupakan, tetapi menghilang. Tak ada lagi. Kata maaf yang terlontar sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan/perseturuan di antara dua orang tadi. “Sudah selesai.”). Dan saya pun jadi tahu betapa sok kuatnya saya menahan rasa sakit sendirian. Yesus sendiri memohon pertolongan dari Bapa. Lalu, “Siapa saya begitu angkuhnya (sok kuat) mampu mengatasi masalah-masalah hidup saya?!”

 

Tepat setelah ibadah, seorang teman meng-SMS saya bahwa dia belum ke gereja dan akan ke gereja. “Mau ikut?” katanya di SMS. Dengan senang hati saya jawab bahwa saya ingin sekali ikut. Pertama, jujur, karena saya ingin bertemu dengan dia. Kedua, saya rindu untuk mendengar Firman Tuhan—di hari Minggu yang sama dan tema yang sama: paskah.

Saya datang 30 menit sebelum ibadah. Saya punya waktu untuk mempersiapkan diri: lahir batin. Dan ibadah pun dimulai. GII HIT bukanlah gereja yang asing bagi saya karena di masa kuliah dulu saya sering sekali ibadah di GII HIT Cikapayang Bandung.

Ibadah berjalan dengan hikmad sekaligus tenang dan dingin—AC-nya kenceng benge bow. Keadaan itu cukup berhasil mengubah fokus saya. Namun, semoga saya tidak kehilangan poin-poin khotbah.

Dari khotbah yang disampaikan Ev. Yanto, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Pertama tentang, “Sudah selesai”, dan kedua tentang Maria tidak mengenal Yesus di kubur-Nya. Yang kedualah yang akan saya coba bagikan.

Silakan baca dan perhatikan Yohanes 20:11-18 berikut ini.

20:11 Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

20:12 dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

20:13 Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

20:14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

20:15 Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

20:16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

20:17 Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

20:18 Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

Ada tiga hal mengapa Maria tidak mengenal Yesus pada saat itu. Pertama, fokus Maria pada saat itu adalah rasa kehilangan. Bahwa ada yang hilang. Pikirannya sedang ada di sesuatu yang hilang, yaitu Yesus—padahal yang hilang itu sedang ada di dekatnya! Kedua, karena Yesus memanggil Maria dengan sapaan yang tidak biasa. Yesus memanggilnya dengan “Ibu” (Yoh. 20:13). Sama seperti ketika pacar kita memanggil dengan kata sayang, padahal biasanya dengan nama saja. Ketiga, karena mata Maria bengkak dan berair mata. Sejak Yesus ditangkap (mungkin, sejak disiksa), Maria menangis terus-menerus sehingga kelopak matanya membengkak. Dan pada saat itu pun matanya dipenuhi air mata dan itu menyulitkannya untuk dapat melihat dengan jelas. Saya sendiri pernah mencobanya dengan membiarkan mata saya terbuka ketika mandi. Lalu mata saya penuh dengan air. Benarlah, saya sulit melihat dengan jelas—apalagi jika sebelumnya saya menangis dan mata saya bengkak.

Huff…. Saya merasa kantong yang saya bawa ke gereja dalam keadaan kosong, sekarang diisi oleh hal-hal berharga yang tak bisa dicuri orang. [07/04/2010]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s