Fragmen “Lupa”

Sepertinya dia marah padaku. Aku tahu dari bagaimana ia menolak untuk melihatku. Aku tahu dari apa yang ia tulis. Memang, ia tidak menujukkan kalimat-kalimat itu di dalam perasaanku, karena ia terlalu menyayangiku—ia tidak tega dan tidak pernah rela menyakiti perasaanku. Setiap kali ia memiliki keinginan untuk mengungkapkan kemarahannya, ia alamatkan semuanya itu kepada orang lain melalui apa pun. Dan ketika aku melihat dan berhasil membaca maksud yang sesungguhnya, aku akan menghampirinya dan menatapnya lama. Begitulah senantiasa—kami berbicara lewat pandangan mata. Terkadang aku melihat ke retina matanya terlalu tajam. Terkadang ia memandangku dengan tatapan yang menyedihkan perasaanku hingga rasanya aku ingin memeluk dan menenangkannya. Rasanya aku ingin bilang padanya, “Bicaralah, Daniel.” Aku semakin sulit menerjemahkan isi hatimu. Entah hatimu yang kian kabur, entah mataku yang kian lelah mencermati maksud hatimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s