KOMITMEN

Di satu ibadah di Gereja HKBP Bukittinggi pada akhir Desember 2010 yang lalu, saya diingatkan tentang sebuah kata yang barulah saya betul-betul pahami apa maksudnya. Komitmen. Kata itu biasanya saya dengar dari sepasang kekasih yang menjalani hubungan tidak sebagai main-main, tetapi hubungan yang jelas tujuannya, yang lazim disebut kesetiaan, pernikahan, ke-satu-an, dan sebagainya.

Mungkin karena belum paham apa itu komitmen, saya juga jadi tidak tahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada tujuan yang pasti (visi), tidak ada cara mencapai tujuan yang jelas (misi) karena sejak awal saya tidak punya pengertian yang benar tentang komitmen.

Komitmen adalah tujuan yang kita (saya) ajukan dan dengan serius kita gumuli, geluti, gelisahkan untuk dicapai dengan cara yang benar dan terus-menerus (hingga komitmen itu terwujud).

Sejauh ini, ada satu komitmen (mungkin juga berarti sama dengan cita-cita) yang sejak dulu menancap dan berakar di benak saya. Namun, akar itu seperti berhenti menjalar. Komitmen itu tidak bertumbuh dan tidak juga mati, namun keberadaannya cukup “mengusik” keseriusan saya dalam menjadikannya sebagai komitmen. Dalam perkataan lain: ia sendiri mempertanyakan saya apakah saya serius melontarkan komitmen itu, saat itu hingga kini.

Berdasarkan pemahaman saya yang baru tentang komitmen, saya menyadari bahwa saya serius, tetapi saya tidak serius mengusahakannya. Saya mati, tetapi Sang Komitmen menolak untuk turut mati. Komitmen itu menghidupkan saya dan sekarang sedang menghidupi saya. Saya tidak merasa malu, tetapi saya gentar. Akankah saya bisa? Banyak sekali hal yang mengikat kebebasan saya. Selain itu, apa iya saya mampu?

Mengingat kembali ceramah pendeta di satu ibadah di akhir Desember 2010 lalu tentang komitmen, yaitu seseorang yang berkomitmen, ia akan melakukan usaha-usaha nyata untuk mewujudkan komitmen itu—“Misalnya, saya….” katanya, “Begitu saya lulus sidi (katekisasi), saya berkomitmen untuk menjadi pendeta. Tapi tidak hanya sampai di situ. Usai dari bangku SMA, ya saya ambil kuliah S1 Teologi. Demikian pula jika Anda berkomitmen untuk menjadi dokter, ya ketika SMA, Anda harus mengambil jurusan IPA. Lalu berkuliah di jurusan kedokteran.”

Saya? Saya memiliki kerinduan untuk menjadi dosen di kampus asal almamater saya. Sekarang saya sudah S1 Sastra Indonesia. Untuk menjadi dosen yang bermutu, tidak cukup hanya lulus dengan IPK yang bagus ataupun memiliki keterampilan ini dan itu. Syarat mutlak: memiliki ijazah S2 dari universitas berakreditasi. Itu menjadi syarat terberat saya saat ini. Di situlah saya “mati”. Namun, sekarang saya tidak mau mati begitu saja. Saya mau usaha—walau mungkin akhirnya saya mati juga (mati terhormat—bukan gila hormat). Saya mau coba. Kalau tahun lalu saya gagal S2, tahun ini saya akan coba lagi dengan serius (tahun lalu, saya tidak serius: ikut tes, tetapi tidak melakukan persiapan yang matang. Sungguh, saya pantas diganjar dengan tampilan di layar “Maaf, Anda Tidak Lulus”).

Tadi saya coba browsing beberapa universitas yang terkenal: visi-misi, program, biaya, pendaftaran, fasilitas, dan alamatnya. Informasi yang saya dapat: pendaftaran sudah tutup; biaya yang cukup hingga sangat mahal; jauh. Yang cukup bikin geram adalah, pendaftaran sudah tutup L Tapi tidak mengapa. Masih ada bulan-bulan berikutnya. Semoga dibukakan jalan.

Setelah mengenal lebih jauh arti komitmen, saya memberanikan diri menyebutkan 3 komitmen  untuk ke depan (tidak mesti dicapai di tahun 2011). Yang pertama adalah yang sudah saya ceritakan di atas. Yang kedua, menulis novel yang baru (tidak mengedit novel yang lama melulu. Cukup! Bikin yang barulah, Ra.) Yang ketiga, rahasia! (kalo yang ketiga, pengennya tercapai di 2011. Hehehe.) Soal hatilah pokoknya. Hahahaaa.

Nah, kalau tentang blog, saya mau (desire) menulis sesering mungkin sebagai ajang latihan mencapai komitmen kedua. Biasanya yang menjadi penggoda kemalasan saya menulis blog adalah: bingung mau nulis apa; tidak punya waktu; sedang stres; capek fisik; banyak main keluar sama temen. Ada alasan yang bisa disiasasti, tetapi juga ada alasan yang tidak bisa disiasati.

Dan yang paling penting saat ini adalah saya harus menjaga kesehatan yang, sungguh, belakangan ini terasa drop secara drastis. Waktu saya banyak “pergi” begitu saja seperti angin untuk beristirahat, untuk bersantai, untuk bermenung. Saya perlu mengatur waktu dengan baik. Bangun jam berapa, bekerja hingga jam berapa, bersantai jam berapa, belajar, juga tidur. Ya, kalau bisa dibilang, kembali pada prinsip jadwal harian saya seperti di SMP dulu.

Juga. Banyak buku bagus yang saya beli, namun itu hanya kian menambah daftar panjang buku yang belum saya baca. Bahkan masih ada buku yang terpajang lengkap dengan plastik bening pembungkusnya. Mereka agaknya mulai sedih, meratap, bahkan ngomel-ngomel. “Maaf, ya K.” Padahal, buku-buku itu sangat baik dan bagus untuk saya konsumsi, baik sebagai inspirasi dan motivasi menulis karya yang baru, juga untuk menulis esai yang biasanya dijadikan syarat masuk S2. “Ayolah, Ra. Ayo!!” |iratampubolon|

2 thoughts on “KOMITMEN

  1. Tawaran Pluralitas Palalangon

    Natal di Palalangon tak ubahnya seperti perayaan Lebaran. Anak-anak bergembira mengenakan pakaian baru. Berlari lintang-pukang di halaman gereja sambil menunggu orang tua mereka selesai beribadat.

    Natal di Palalangon pun tak seperti di kota besar. Tak ada penjagaan ketat petugas. Jalannya ibadat berlangsung khidmat dengan kicauan burung dan suara gemerisik daun yang diterpa angin.

    Natal di Palalangon juga menyisakan banyak pertanda tentang sebuah cita-cita luhur suku sunda yang senang hidup rukun, damai, dan sejahtera. Dengan khotbah dari pendeta yang banyak menyerukan perdamaian di atas perbedaan.

    Pada mulanya keterasingan. Demikian yang diungkapkan Pendeta I Putu Suwintana usai memimpin malam kudus, sehari sebelum Natal, Jumat (24/12). Dia menceritakan awal berdirinya Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon yang terletak di Kampung Palalangon RT 02/09 Desa Kertajaya Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

    “Kehadiran Kristen tak lepas dari intimidasi baik secara ekonomi, politik, maupun primordial,” Putu menjelaskan. Dan kehadiran Gereja Palalangon pun tak lepas dari semangat mengasingkan diri. Ini dilakukan agar umat Kristen di tatar Sunda bisa terselamatkan dari gejolak yang berkembang masa itu.

    Pencarian lokasi penyelamatan akhirnya dilakukan seorang pengabar injil dari Belanda, BM Alkema. Dia memang datang ke Jawa Barat untuk menyelamatkan umat Kristen yang ada tercerai berai tersebut dengan menyatukan mereka kembali.

    Dalam misinya mengajak tujuh orang pribumi yang berasal dari Jawa Barat. Pencarian dimulai dengan menyusuri sungai Cisokan di sebelah utara Cianjur yang diteruskan ke selatan menyusuri Sungai Citarum.

    Setelah satu minggu pencarian akhirnya ditemukan sebuah tempat yang agak lapang. Itupun ditemukan tak sengaja akibat salah satu anggota rombongan terperosok. Sebuah tanah lapang dengan kontur seperti punggung kura. Tempat itu dirasa cocok untuk memberi tempat bagi penganut Kristen.

    Di tempat ini mereka hidup damai dan bisa menjalankan ibadah dengan leluasa. Penduduk setempat yang jumlahnya tak banyak pun amat toleran dengan perbedaan. Hal ini membuat banyak warga Priangan, baik dari Bogor, Sukabumi, Jakarta, hingga Banten berurbanisasi ke sana.

    Pada 1902 barulah dibangun sebuah gereja dan Palalangon dikukuhkan sebagai nama gereja sekaligus nama kampung. Menurut warga sekitar, Palalangon diambil dari bahasa sunda yang berarti ‘panggung yang luhur’. Nama tersebut dipilh Alkema karena sesuai dengan kontur tanah serta sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi warga Kristen.

    Pada perkembangannya, banyak penduduk yang membangun rumah dekat gereja itu. Mau tak mau hubungan kekerabatan mereka jalin sejak saat itu. Sikap toleransi berkembang lambat-laun. Tak sadar, masing-masing pihak saling menghormati ritual agama mereka. “Dari awal agama Kristen berkembang di sini, tak pernah sekalipun ada konflik. Tak salah dinamai sebagai Palalangon,” kata Ucu Suwarna Miun, Ketua 1 Majelis Jemaat GKP Palalangon.

    Bola salju kekerabatan ini semakin menggelembung setelah pihak satu dengan pihak lain melebur. Entah dalam status pernikahan maupun persahabatan. Jadilah dalam satu keluarga lumrah ada yang beragama Islam maupun Kristen.

    Di Pelalangon saat ini, sudah ada sebanyak 370 kepala keluarga yang menganut kristen dari 7 kk pada 108 tahun lalu. Sebagian besar mereka menghadiri kebaktian yang dilakukan Jumat lalu. Mereka datang berbondong-bondong tanpa memakai kendaraan bermotor. Ini membuat suasana gereja sangat tenang.

    Sepengetahuan Ucu yang sudah hidup di Palalangon sejak tahun 1950-an ini tak ada konflik keagamaan yang terjadi di Palalangon.

    Pendapat ini diperkuat dengan penuturan Aiptu Kurnadi dari Polsek Ciranjang yang sudah bertugas sejak 1985. Ditemui saat sedang bersantai sambil menjaga keamanan gereja pada Sabtu (25/12), Kurnadi menceritakan bahwa tak ada satu pun konflik besar yang terjadi karena perbedaan agama. “Orang di sini hidup rukun. Kondisi ini diperkuat
    dengan masih adanya hubungan kekerabatan antara penganut agama Islam
    dan Kristen,” kata pria asli Subang ini.

    Kalaupun ada konflik, itu hanya riak-riak kecil. Pendeta Putu mengatakan konflik kecil ini biasanya dilontarkan oknum yang menghina salah satu agama. Hal ini bukan masalah bagi warga sekitar. Selain kontraproduktif, warga di sana sudah paham dengan niat busuk dari sebagian kecil masyarakat yang tidak ingin melihat adanya kerukunan.

    “Jika ada masalah, kami selalu mengembalikannya pada musyawarah. Kami selalu melibatkan tiga aparat, aparat desa, kepolisian, dan babinsa. Biasanya masalah bisa langsung dimediasi,” jelas Putu.

    Hubungan kekerabatan yang justru terus terjalin erat. Lewat berbagai aktivitas, mulai dari bakti sosial, perayaan hari-hari besar Islam maupun Kristen, hingga pesta panen yang biasanya dilakukan Agustus.

    “Contoh kecil pada acara pengobatan gratis di gereja beberapa waktu lalu. Yang hadir bukan hanya warga beragama Kristen. Mereka tak sungkan untuk datang ke gereja,” Kata pria asli Bali ini.

    Pada kebaktian malam kudus menjelang Natal, walaupun petir menggelegar, ibadat tetap jalan. Umat tetap khusuk mengikuti prosesi keagamaan. Mungkin ini pertanda bahwa di Palalongan, isu perpecahan tak terasa.(*)

    • umat GKP Palalangn dan masyarakat Palalangon memiliki komitmen yang sejalan, agaknya. dan mereka konsisten dengan komitmen itu.
      thx atas kabar gembira ini, bung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s