beberapa jam lagi

Sedih rasanya akan melepas keberangkatan ibu-bapak besok pagi-pagi sekali. Kepingin nangis rasanya. Padahal, masih akan ketemu Desember nanti. Entahlah. Semakin ke sini-sini, semakin banyak yang ingin disampaikan dengan tiduran di malam hari di atas ranjang bersama ibu. Banyak detail wajah Bapak yang belum teramati karena mata terselubung kerasnya hati dan berbagai pertanyaan yang “mengganggu” dan mendesak. Namun, kini segala pertanyaan itu sudah tidak penting lagi. Yang penting mereka ada dekat denganku, bersisian, atau hanya sekadar satu ruangan, satu atap, di kosanku di tempat yang baru.

Aku senang mereka tidak terlalu gelisah dengan suhu yang kadang-kadang mengganggu karena terlalu panas ketimbang Bukittinggi. Dan aku bersyukur karena ada hujan yang meredam suhu yang biasanya panas sehingga mereka bisa nyaman di kamar; air yang mengalir lancar dan adem; nyamuk yang nyaris absen. Mereka begitu pengertian.

Kutingalkan mereka karena harus bekerja sejak pagi sekali hingga sore menjelang malam. Aku khawatir meninggalkan mereka karena bagaimana mereka sarapan, makan siang? Mereka belum tahu betul lokasi tempat tinggalku dan memang agak sulit untuk pergi ke mana-mana. Perumahan itu mirip-mirip. Aku bilang mereka jalan-jalan saja, tidak apa-apa, agar tidak bosan di kamar melulu. Makan siang akan kuantarkan di jam istirahat kerja nanti. Tapi bawa handphone atau catat alamat rumah kosan ini agar ketika nyasar, ada pegangan. Mereka tertawa; aku tertawa; hatiku perih.

Mereka sudah sejak 5 hari yang lalu di tempatku, tapi kok rasanya baru beberapa jam saja mereka bersamaku. Memeluk mereka pun, belum! Namun, setiap kesempatan selalu kuusahakan dapat diisi dengan percakapan yang berguna. Dengan bertukar kabar secara mendalam.

Kemarin, kami bertiga duduk di lantai landai depan kosan. Lantai landai itu digunakan untuk jalan masuk dan memasukkan sepeda motor ke dalam teras rumah. Namun kali itu kami gunakan untuk duduk-duduk, bertiga: bapak, ibu, dan aku—anak mereka! Banyak hal yang kami bicarakan. Dan cukup hangat. Aku ingin suasana waktu itu bertahan lama. Aku ingin selalu ada topik pembicaraan yang tepat. Aku ingin malam jangan lekas turun. Pelan-pelanlah: momen ini tidak datang setiap saat, tidak setiap tahun. Mungkin hanya kali ini saja. Aku bahkan berharap ada jajanan yang lewat agar menambah hangat dan nikmatnya suasana sore itu. Aku bersyukur hujan tidak turun sehingga kami bisa menikmati sore satu-satunya (dari enam kali sore mereka di sini). Hujan begitu baik. Hujan penuh pengertian. Dan tukang bakpao pun—yang jarang sekali datang—kali itu dia datang. Aku menawarkan ibu-bapak untuk mencoba bakpao itu karena memang enak dan jarang ditemui yang seenak itu. Harganya pun murah: 5 ribu perak saja. Ukurannya besar dan isinya macam-macam. Enak dan bersih pula!

Kami beli empat: 2 untuk ibu kosan, dan sisanya untuk kami makan bertiga. Habis. Senang! Ya, mereka harus mencoba yang tidak ada di Bukittinggi, pikirku. Lalu aku juga ajak mereka makan mi ayam dekat kosan. Kata mereka, mi ayam itu lebih enak ketimbang Baso Lapangan Tembak yang kami makan di hari sebelumnya hahahaaa… Juga, singkong keju. Mereka agaknya kurang berminat dengan singkong keju. Mungkin tidak terlalu istimewa karena ada banyak di halaman belakang rumah, mungkin juga karena perut mereka sudah kenyang.

Begitu gerobak bakpao itu bergi, kami masuk ke rumah. Percakapan kami lanjutkan di kamar. Dan ibu bilang, “Wah, tinggal malam ini saja kami di sini. Besok pagi-pagi sekali kami sudah berangkat!”

Hatiku sedih. Tidak lama, aku ke kamar dengan alasan ini-itu.

Lalu, aku ajak mereka menonton Bali Bombing yang kupinjam. Berhubung film itu diterjemahkan, aku membacakan teks terjemahan untuk mereka karena setiap kali membaca baris pertama terjemahan itu, teks terjemahan itu lenyap dan digantikan dengan teks terjemahan yang baru. Padahal, mereka belum sempat membaca seluruhnya. Durasi film itu sekitar 40-an menit.

Seperti biasa, mereka menonton sambil berkomentar. Sesekali telingaku geli mendengarnya, tetapi biarlah. Aku akan merindukan saat-saat ini suatu saat nanti. Aku mau menikmati dan mengenang setiap apa yang kami lakukan di 5-6 hari ini. Aku senang mereka datang, walau aku sedih karena tak banyak yang bisa kami lakukan bersama.

Usai menonton, bapak ke kamar dan tiduran. Mungkin juga sambil berpikir karena sesekali ia masuk ke kamarku untuk memberitahukan ini-itu. Sedangkan aku dan ibu terus melanjutkan diskusi di kamarku. Interupsi dari bapak kadang-kadang seperti omongan dari kawan satu geng yang tidak nyambung, walaupun apa yang ia sampaikan itu benar. Heheee…. Lucu. Dan setiap tingkah mereka yang kupandang lucu, selalu saja kutanggapi dengan senyum dan tawa di bibir dan hati yang basah oleh air mata.

Sedih.

Mereka, bagaimanapun adanya, sungguh kurindukan. Ngangenin!

Hati-hati di jalan, ya Mak dan Pak. Jangan lupa kasih kabar. Doakan kita sehat-sehat saja dan bisa ngumpul natal dan tahun baru ini! [05Oktober2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s