permulaan dan akhiran

Surya baru saja merekah.

Di sebuah pelataran yang indah, seorang gadis jelita menari-nari gembira.

Di Bukit Maliawan tiba-tiba ribuan kera berteriak riang.

Di gua Kiskenda, semarak dan pesta ria berlangsung tiada habis.

Kegembiraan mereka seakan mengejek: kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan.

 

Mendung bagaikan bidadari menangis di Negeri Lokapala.

Langit bagai berdetak, bintang-bintangnya meneteskan gerimis air matanya.

Ini adalah malam ketika hukum alam berkeliaran dengan matanya menyinarkan pembalasan dendam.

 

(Diambil dari kalimat pertama setiap bab dan kalimat terakhir bab terakhir Anak Bajang Menggiring Angin oleh Sindhunata)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s