High 0

Seorang kawanku sudah menikah dan sibuk membangun rumah tangga. Seorang lagi baru saja menjalin kasih dengan pacarnya. Hubungan itu adalah hubungan yang serius. Tak ada ruang dan waktu untuk mempererat pertemanan yang sudah erat. Semua ruang dan waktu dikerahkannya untuk membuktikan keseriusannya dengan gadisnya. Seorang kawan lagi sedang mempertimbangkan dengan sangat serius sinyal menggetarkan dari seorang laki-laki yang dulu (hingga sekarang) masih ia harapkan. Sungguh, ia berbunga-bunga sekaligus hati-hati menanggapi situasi mendebarkan itu: apakah pria itu akan menghampirinya atau membekap dan mengurungnya, atau menyingkirkannya? Pertimbangan dariku hanya sebuah pertimbangan karena aku tidak melihat langsung situasinya. Lagipula orang-orang yang dia sebut bukan orang-orang yang kukenal betul. Bahkan beberapa “entah siapa”. Kawan yang lain, sedang asyik bertamasya dengan keluarga. Menyiapkan bekal, menyiapkan bacaan, mobil, penginapan; sibuk bercakap-cakap sambil berseloroh senang. Sela dariku hanya akan mengganggu kebersamaan itu. Yang mana, aku pun ingin melakukannya dengan kerabatku: entahkah mungkin. Yang lainnya, sedang menyiapkan pernikahan. Berkenalan dan menghapal silsilah dan adat istiadat keluarga calon suami. Tekun memastikan semuanya benar, termasuk dirinya sendiri.

Semua kawan-kawanku sibuk.

Di dalam pertemuan bersama pun, kami sudah tidak lagi memiliki kesamaan pemikiran. Konflik yang kami hadapi tak lagi sama. Mereka sudah jauh di depan. Aku masih tertinggal dengan persoalan-persaoalan yang sama. Mereka membicarakan hal-hal yang di depan. Aku bicara persoalan-persoalan yang sama. Ketika itulah aku merasa tanganku tak lagi menggenggam tangan mereka. Pada saat itu, mataku tertarik untuk melihat ke bawah. Dan betul, tangan kami sudah tak saling berpegangan lagi. Mereka terbawa oleh kehidupan. Terlepas dariku. Menjauh tanpa kami sadari (kecuali aku mungkin). Lalu ketika aku berkata-kata, mereka tak lagi mendengar suaraku. Mereka kian jauh. Mungkin suaraku sampai ke telinga mereka, tapi, “Apa yang sedang kau bicarakan, Kawan? Kami tidak mengerti.” Ya, persoalan kita sudah tak lagi sama. Seperti orang dewasa yang tidak lagi mengerti persoalan anak kecil. Atau menolak mengerti sambil berkata, “Biasalah anak kecil.” Atau, “Namanya juga anak kecil.”

Siapa lagi yang tersisa?

Aku mencari.

Aku teringat.

Dia.

Namun, semenjak pertemuan bersama ia menghilang seperti asap. Menghilang dan tak tahu arah perginya. Lalu, ke mana aku akan mencari? Dan untuk apa pula aku mencari; ia menolak untuk ditemukan (olehku). Padahal aku ingin sekali mencari dan menemukannya. Mungkin aku hampir menemukannya, tetapi setiap kali kami hampir bertemu, ia bersembunyi dan pergi. Aku terus mencari hingga akhirnya aku tersesat dan menyadari aku tidak akan pernah menemukannya. Aku sedih. Aku putus asa. Mungkin ada sesuatu dalam diriku yang membuatnya menjauh. Atau sebaliknya: ada sesuatu yang tidak ada di dalam diriku. Entahlah. Sekarang, aku harus menemukan jalan pulang. Tapi aku tidak tahu apakah aku mendekati jalan pulang atau justru semakin jauh ke dalam ketersesatanku.[10/09/2010]

8 thoughts on “High 0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s