OZ—sebuah kumpulan cerita pendek karya Stefani Hid

Sebuah buku pesakitan.

Sinting juga mungkin.

Bagaimana Stefani Hid menulis setiap luka dan tergila-gila (menjadi gila) di dalamnya—sebuah bukunya yang berjudul “Bukan Saya, Tapi Mereka yang Gila!” seperti menjawab lebih dulu pernyataan ini. Entah ia sendiri yang menjadi gila, entah tokoh dalam cerita, entah pembaca. Ketika seseorang menunjuk orang lain sebagai orang gila, mungkin dirinya sendirilah yang gila. Ketika ia mengakui kegilaannya, mungkin ia sedang menjadi manusia (paling) waras, namun menolak disebut waras. Ketika luka itu disematkan seperti peniti ke bawah kulit, rasa sakit itu tidak hanya dirasa oleh tokoh penderita yang juga tokoh utama. Tetapi juga oleh pembaca. Atau malah, rasa sakit itu sama sekali tidak terasakan oleh tokoh penderita yang juga tokoh utama—ia telah mati rasa karena terbiasa; hanya pembaca yang merasakannya.

Membaca buku ini seperti mencucukkan jari di atas jarum tegak. Bagai berjalan di atas rumput berujung runcing dan tak peduli. Ngilu dan nyerinya sampai ke ubun-ubun. Hinggap dan berdenyut-denyut di kedua belah pantat dan lutut. Ingin cepat-cepat menuntaskan kesakitan itu, tetapi ke-cepat-an hanya akan membenamkan diri kian dalam di taman jarum. Bahkan bisa mempersilakan jarum itu terlepas dari akarnya dan terbenam di dalam daging.

Cerpen-cerpennya pedih. Delirium (Kereta Hitam Biru)—kebingungan yang tiba-tiba. Tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Mungkin karena sakit adalah persoalan serius. Di mana dokter pun sudah angkat tangan dan angkat kaki (pergi)—Solitude. Suara-suara dalam pikirannya ‘onomatopeia’ menguasai dirinya. Membawanya entah ke mana, tetapi sekaligus tidak membawanya ke mana-mana. “-Nya” di sini mengacu entah pada siapa. Pada siapa pun jelas mungkin. Kebingungannya telah membawanya pada penggerusan diri sendiri. Menyakiti diri sendiri, namun tidak merasakan bahagia di dalamnya karena kebingungan itu tak ada ujung. Dan luka-sakit itu pun tak berujung. Bingung. Sakit. Tak bekesudahan. Gelap. Pekat. Tiba-tiba. Dingin seperti hantu.

Di dalam Litost penulis mengikrarkan suara hatinya yang “sempat” ditenggelamkan dan disembunyikan keperihan hidupnya: Tuhan penentu langkahku. Aku tak akan bergegas. Aku akan berjalan dalam langkah Tuhanku dan diam di dalam tumah-Nya. Sepanjang masa (Oz, 2008:63). Tokoh cerita sulit merealisasikan keputusannya: kematian. Ia ingin mati, tetapi tidak ingin mati bunuh diri. Ia ingin Tuhan sendirilah yang membunuhnya. Namun salibnya terlalu berat untuk bisa mencapai Golgota. Kian berat oleh kebingungan dan kesakitannya. Namun, di saat yang bersamaan ia berkata, “Aku tak akan bergegas.” Apakah ia sedang menikmati kesakitannya? Atau mungkin sedang menerjemahkan kebingungannya?

Oh, salib itu bertambah berat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s