BAD HEIR DAY oleh WENDY HOLDEN

Holden. Holdeeenn..? Belanda agaknya. Atau deket-deket situlah.

Bad Heir Day ditambahi dengan tulisan “Aku dan Si Penyihir Palsu” di bawahnya.

Kalimat pertama kisah panjang ini adalah Mempelai wanita tak kunjung tiba. Kalimat itu bikin penasaran. Kok bisa-bisanya mempelai wanita tak kunjung tiba?—di tengah-tengah keinginan banyak wanita berumur untuk menikah….

Lalu, saya belilah chicklit dengan moto Being SINGLE and HAPPY, yang kata Budi Darma (dalam Kata Pengantar kumpulan cerpen OZ karya Stefani Hid) adalah sebuah genre novel mengenai krisis identitas, moral, dan spiritual (psychological diseases)wanita-wanita metropolis berusia dua-puluhan sampai dengan empat-puluhan.

“Astaga!” Itu berarti banyak: saya adalah wanita metropolis yang gaya dan kariersentris (ah, enggak juga. Gaya? Gaya dari mana? Yang ada juga mati gaya. Kariersentris? Hm, dulu iya. Sekarang, enggak juga) Lalu, saya juga krisis identitas, moral, dan spiritual. (Aih, mak jang! Segitunyakah? Apa karena memungut novel ini dari tumpukan buku-buku obral Gramedia—cuma 15ribu!—dan membacanya, lalu saya terdefinisikan sebagai chicklitism?) Perlu diakui, ketika saya memilih buku ini sebagai salah satu koleksi bacaan untuk memperkaya diri, adalah karena ada kesesuaian diri dengan isi buku yang digambarkan di punggung buku. “…, Anna bersumpah untuk melupakan para pria dan mencurahkan perhatiannya pada karier.” Itulah saya yang dulu (buka kartu!). Lalu ketika membaca buku ini (berusaha menikmatinya), saya melihat diri saya yang membosankan dan melelahkan (melelahkan diri sendiri dengan persoalan yang dibesar-besarkan—kata Geri salah satu tokoh di dalam novel. “Mengapa tidak dibawa santai saja?” katanya lagi.) Kamu tidak akan menangkap betul maksud perkataan Geri sebelum memahami konteks peristiwa yang sedang dihadapi keduanya (bukan bermaksud meminta kamu membaca buku tersebut). Dengan perkataan lain, “Coba lu di posisi gw! Lu kira gampang apa ngejalani keadaan kya gini?” Gitulah kira-kira kalau cewek-cewek lagi curhat dan salah satunya merasa tidak dimengerti. Orang ye, pengennya dimengerti sebagaimana dirinya mengerti dirinya sendiri (padahal belum tentu dia sudah mengenali apalagi mengerti dirinya sendiri).

Kalau kawannya bilang, “Gw ngerti kok maksud lu.” Dijawab, “Lu tuh ga ngerti. Dan lu ga akan ngerti!” (GUBRAK! Cape banged tuh ngomong ma orang kya gitu. Secapek ngomong sama Anna—tokoh utama dalam novel.) Saatnya untuk tidak mencari jalan keluar sendiri. Ngomong. Bicara. Bicaraaa! Menenangkan diri, perlu. Tapi jangan mengunci diri (gw lagi ngomong ma diri gw sendiri nih. Hihihiii.) dan bersembunyi. Nanti kalau tidak ditemukan orang, malah marah-marah. Dibilang, “Ga ada yang merhatiin gw!!! Hua hua hua huaaaa….” Padahal, salah sendiri menyembunyikan diri. Memangnya orang lain nggak punya pekerjaan lain apa? Menulis blog misalnya (kya sekarang. Heheheee.) Atau bikin kopi. Ke kantor pos. Renang. Download lagu. SMS-an. Bengong (ini juga pekerjaan—bahkan cenderung sulit. Sulit untuk diberantas!).

So, betul apa yang dikatakan Budi Darma: krisis identitas, moral, dan spiritual. Tetapi begitu menyadari keadaan itu, lalu beranjak keluar dari kubangan psychological diseases, rasanya belenggu dipatahkan dan bisa menertawai keadaan diri sendiri dengan besar hati (lagi muji diri sendiri nieh ceritanya. Boleh dong?! :p) yang bukan berarti segera menjadi orang yang memiliki identitas sejelas-jelasnya, memiliki moral yang sepenuh-penuhnya, juga spiritual seutuh-utuhnya. Belajar. Menuju. Tidak lagi di dalam kubangan. Keluar. Dan melihat kubangan apa itu tadi. Apa saja yang mengubangi diri. Bagaimana ceritanya hingga akhirnya kok bisa masuk (terpeleset) ke dalam kubangan.

Anna, dengan caranya sendiri mengenali dirinya. Terkadang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kubangan yang sama berulang-ulang. Bukan karena ia mau, tetapi ia belum siap keluar. Ia butuh ada seseorang untuk menariknya keluar. Ia butuh seseorang mengulurkan tangan untuk meraih tangan Anna yang menggapai-gapai; begitulah belenggu itu dipatahkan secara pribadi baginya. Ia tidak mau ketika ia keluar dari psychological diseases mendapati dirinya seorang diri.; tidak ada yang mendekapnya setelah kubangan mendekapnya sekian lama. Ia ingin merasakan dekapan (juga an lagi dan seterusnya), tetapi yang tidak menyesakan; yang membahagiakan. Yaitu dekapan Robbie (dengan bulu dada yang tebal. Wkwkwkwk. Eh, tapi beneran itu ada dalam novel, dude.)

Novel ini bagus. Berhasil bikin saya tertawa dan berkaca. Gaya menulis Holden bisa memagari kita dari dunia sekitar. Dalam perkataan lain, serasa menonton film ngepop yang digarap baik oleh sang sutradara. Banyak istilah asing. Banyak orang-orang terkenal disebut di dalamnya. Banyak jenis minuman keras. Banyak gaya berpakaian ibu-ibu metropolis dan tingkah-pongah mereka. Banyak judul film dan buku. Banyak jalan-jalan: London-Skotlandia (tidak ada Belanda). Banyak kejujuran di dalamnya. Banyak. Banyak.

Sesekali baca buku seperti ini, tidak rugi. Jadi tahu. Jadi jadilah.[06/09/2010]

2 thoughts on “BAD HEIR DAY oleh WENDY HOLDEN

  1. salah satu petikan menarik dari Bad Heir Day: kalau saja tahu siapa pria yang akan dinikahi, maka tidak akan ada perempuan yang menikah!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s