gunakan kakimu

matanya terbuka dengan susah payah. adzan maghrib terdengar lemah di kejauhan. kipas angin bergerak setia ke kiri-kanan. geraknya menggetar dan menderu. paduan suara setia mengawani sejak tiga jam yang lalu, bagai pendendang. daun jendela terbuka setengah. korden ungu malu-malu terisap angin; menempel di jeruji.

perutnya minta makan. tubuhnya terasa lemah.

seekor nyamuk berhasil masuk. nyamuk itulah yang akan menggigit paha atau lengan atau ujung jemarinya ketika tidurnya akan ia lanjutkan beberapa jam nanti.

ia baru ingat. dua jam lagi ia akan menghadiri sebuah pertemuan yang tidak wajib. tetapi sudah menjadi wajib baginya karena tidak hanya perutnya yang lapar, tapi juga hatinya.

senang hatinya karena ketika ia teringat tidak membeli sepeda karena tidak diizinkan orangtuanya, ia tidak bersikeras. ia tahu, ia harus menang atas ketidaksabaran yang mentradisi seumur hidupnya. ia berhasil. ia menang. kemenangan itu perlu dirayakan dengan segelas jus markisa–meski agak manis di lidahnya.

“lalu bagaimana caranya aku sampai ke tempat pertemuan?”

“gunakan otakmu!” Oh, bukan. “gunakan kakimu!” tapi pertemuan itu akan berlangsung tidak sebentar. bagaimana aku pulang? “kalau di keberangkatan kakimu tidak dicuri orang, pakai kakimu untukmu pulang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s