TOKO HANG TUA

Toko sepi. Tak ada barang baru yang bisa dijual. Barang lama pun sebagian sudah berpindah tangan, dan sebagian besar masih meratap di gudang belakang. Tak ada orang yang membersihkan atau mempercantiknya sehingga bisa dijual atau setidaknya pantas untuk diamat-amati.

Memang, beberapa pelanggan yang kaku justru melihat debu dan keburukan rupa barang sebagai daya tarik tersendiri sehingga mereka bertanya, “Apa itu yang di sudut situ?”, lalu dengan enteng karena bosan, aku akan menjawab, “Barang-barang lama. Sudah lama tak laku.” Lalu salah satu dari mereka akan melangkahkan kaki sambil meminta izin apakah ia boleh melihat-lihat barang itu.

Tak lama, orang itu akan kembali dengan kepala kosong. Dengan wajah yang tak dapat kumaknai sebagai apa pun selain kesia-siaan. “Memang barang lama yang tak perlu.” Sambil menepuk-nepuk tangannya yang berdebu.

Tapi tidak dengan seorang pembeli yang satu ini. Dia datang seperti pemilik tokoku ini. Ia ramah, melebihi keramahanku sebagai pelayan toko. Ia cekatan, melebihi kecekatan kuli gudang kapal. Ia seperti tahu letak rak dan barang-barang di dalam tokoku.

Ia mengambil sebuah barang lama, membolak-baliknya, bergumam, lalu menaruhnya kembali di tempatnya. Terkadang diselingi dengan mengelap barang itu seadanya. Kadang juga dengan decak kagum. Kadang dengan decak menyesal. Kadang hanya diam, tetapi matanya lurus diam di satu titik pada benda yang sedang digenggamnya. Seolah ada masa lalu di situ. Atau sebuah peristiwa yang menguras hati. Atau sebuah cerita baru dari cerita-cerita lamanya. Nafasnya yang berat menyapu debu dari benda yang sedang digenggamnya. Debu itu memaksanya menyipitkan mata atau sekadar menarik kepala. Lalu ia melangkah lagi ke rak yang lain.

Aku lebih asyik memerhatikan dia berjalan perlahan di sela-sela rak. Aku kepingin tahu apa yang terbaca oleh matanya melalui benda-benda tua toko tuaku ini.

Aku senang.

Aku sangat berharap ia menyentuh barang-barang yang menjadi favoritku. Aku sangat berharap dia, setidaknya, melirik pada gelas tinggi di rak ketiga dari kasir tempat aku sekarang berdiri dan deretan ketiga. Aku sangat berharap itu melebihi keberharapanku pada pembeli baru yang akan memborong barang jualanku.

Oh oh, dia berhenti di rak ketiga. Nafasku menumbuk dadaku! Lalu ia sedikit membungkuk dan, aha!, dia menghentikan gerak bungkuknya di deret ketiga. Ia melihat ke gelas tinggi itu. Ia memungutnya dan kembali tegak berdiri. Ia melihat kepadaku. Ia tidak merasa aneh melihatku sedang senyum-senyum padanya. Ia malah balik tersenyum. Kemudian ia mengangkat gelas tinggi itu sedikit. Aku tersenyum kian lebar. Entah mengapa. Tapi aku puas.

Lalu lalu, lalu ia melangkah kian ke dalam. Aku melangkah sedikit keluar dari meja kasir. Aku ingin melihat apa lagi yang akan dia sentuh, dia tatap, dan dia libatkan dengan dirinya. Menurutku orang itu memiliki selera yang tinggi dalam kesederhanaannya. Bukan karena ia datang ke tokoku dan menyentuh gelas tinggi itu, tetapi karena jubahnya yang bersih dan dirinya yang hangat sekalipun dia hanya diam sejak awal.

Dia mengamat-amati gelas kaca bening berisi permen-permen lama. Permen itu adalah permen-permen yang sudah kuawetkan pemberian kakek dan nenekku. Juga ada beberapa pemberian ibu, bapak, dan adikku. Aku paling suka permen rasa kelapa manis dari nenek. Semua permen-permen itu kumasukkan ke dalam gelas bening. Warnanya yang macam-macam membuat gelas pudar seperti pelangi pudar berwarna merah pudar, kuning pudar, hijau pudar, biru pudar, cokelat pudar, ungu pudar, hitam pudar, dan putih pudar.

Dia membeli kedua gelas itu: gelas tinggi dan gelas bening permen. Ketika ia menghampiriku dengan kedua gelas di masing-masing tangannya, jantungku berdegup. Serasa ia sedang membawa anak perempuannya untuk kunikahi.

Kedua gelas itu kubungkus dengan sepenuh hati. “Apa, ya kira-kira yang sedang ia lihat dariku ketika aku sedang membungkus barang beliannya ini?” atau “Apa kira-kira topik pembicaraan yang sesuai dengan seleranya?”. Sambil berpikir sendiri, tanganku terus bekerja membungkus kedua gelas itu dan memasukkannya ke dalam kantong kertas cokelat bermotif akar dengan nama tokoku terpampang di sana. Toko Hang Tua. Kuserahkan dengan rasa puas. Dia terima dengan kehangatan yang takmampu kuterjemahkan. Ia membayarku dengan sejumlah uang dan dengan sebuah benang yang mengikat batinku padanya.

Sampai diluar, ia masukkan tas kertas itu ke dalam tong yang menjadi tempat sampah. Ia meletakkannya di situ. Karena tong itu baru kukosongkan pagi tadi, ketika tas kertas itu sampai di dasar tong, terdengar suara dum yang menggema hingga ke dasar jiwaku. Orang itu bernafas berat. Menatapku. Ia menatapku. Menatapku. Menatapku. Menatapku lama. Tak ada satu katapun keluar dari tatapannya. Ia terus menatapku. Masih menatapku. Aku tak kuasa menahan diri selain bersuara, “Lho? Hah?”

“Jangan kaupungut. Jangan kausimpan. Tutuplah tokomu. Dan pergilah tidur.” Suaranya seperti suara dari puncak gunung di telingaku. Jauh, tinggi, dan tak begitu jelas. Ketika aku mulai sadar, suara itu seperti tiba-tiba dekat ke telingaku. Aku kaget. Aku seperti terjaga dari kesurupan yang panjang.

Sepertinya orang itu menungguku tersadar.

Dan, beberapa saat saja kami kembali bertatapan dengan kesadaran baruku. Kemudian ia pergi. Matanya tersenyum. Tubuhnya tersenyum. Wajahnya berpaling ke arah jalan. Tangannya mendekap lengan jubahnya yang lebar ke perutnya.

Aku ternganga. Kurasakan pori-pori wajahku membesar. Batok kepalaku serasa membesar karena ditiup oleh rasa tidak percayaku. Hh. Siapa orang itu? Apa yang dilakukannya? Lalu, ke mana dia pergi? Apa maksud perkataannya? Anehnya, aku menurut saja.

Kuperhatikan rak-rak di tokoku. Kuamat-amati sekilas apa saja yang ada di situ. Banyak dan tak ada. Orang itu sudah membawa pergi semuanya.

Kunyalakan lampu tua toko tuaku. Kubentangkan kasur busa di depan meja kasir. Kututup toko tuaku. Lalu aku pergi tidur sambil menatap langit-langit. Aku tersenyum untuk sesuatu yang entahlah apa. Aku tidak tahu. Tapi aku tersenyum. Aku betul-betul tersenyum. Aku bahkan jadi malu sendiri saat aku tahu aku sedang tersenyum. Haha. “Apa ini?” Aku geli sendiri. Dan mulailah aku mengarang-ngarang cerita. Tentang pembeli yang berkumis tebal dan bersuara lengking, sehingga setiap kali ia bicara, aku akan menahan nafas terlebih dulu agar tawaku tidak menyeruak dan menyinggung perasaannya; barulah aku menjawab pertanyaannya. Tentang ibu-ibu gendut yang tidak bisa lewat di sela-sela rak sehingga harus memiringkan tubuhnya—dan ternyata tetap tidak bisa lewat! Tentang anak kecil yang harus berjingkat ketika menyerahkan barang yang akan dia bayar. Tentang kakek atau nenek yang salah masuk toko karena dia pikir ini adalah toko bunga. Tentang anak muda yang singgah sekadar bertanya arah atau nama sebuah jalan. Tentang pembeli yang membeli pot dengan tidak turun dari mobilnya. Tentang penjual koran. Tentang tukang sepatu. Bahkan tentang atap tokoku yang sudah bolong di beberapa titik karena ia sudah betul-betul tua. Tentang apa saja. Apa pun. Banyak. Inilah yang akan memenuhi toko tuaku ini.

Ohh, aku masih saja tersenyum.

Bagaimana caraku tidur jika bibirku masih saja tersenyum begini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s