MASA’ PORTUGAL KALAH?!

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”—Kejadian 2:18

Kekalahan Portugal sangat mengagetkan saya. Timnas yang sangat saya dukung ketimbang Spanyol—dengan alasan ada Christian Ronaldo-Raul Meireles dan atas alasan kemenangan mereka berhadapan dengan Korea Utara dengan hasil 7-0, ternyata harus pulang akibat ulah David Villa di menit ke-62. David Villa membuat ribuan fans fanatik Portugal menatap kosong ke depan, membuat mereka bengong sambil gigit jari, membuat mereka tertunduk dan berair mata, membuat saya kaget seperti orang megap-megap tenggelam di Danau Maninjau hahahaaa…. Pun membuat para fans menekuri diri sambil tampak di matanya memancar pertanyaan “Mengapa ini bisa terjadi?”. Bahkan ada pula yang pergi begitu saja seolah kekalahan ini tak perlu dibiarkan menguasai dirinya; angin membelai bendera Portugal yang terikat di lehernya. Bendera itu bergerak sedih. Sesedih angin yang mengisap hangat suhu tubuhnya.

Di sisi lain, ratusan bahkan ribuan suporter Spanyol yang tak kalah fanatik ketimbang fans Portugal merayakan keberangkatan timnas mereka ke babak perempat final. Perjalanan belum lagi selesai. Mereka hanya seperti transit di bandara untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya (disambut timnas Paraguay :)). Dan mereka sudah membayar ongkos lebih untuk perjalanan lanjutan ini. Apalagi kalau bukan gol yang sudah dilayangkan Villa bagi Spanyol. Itu seperti seseorang mentraktir kawan-kawan seasrama di restoran mahal. Hanya dia yang memiliki uang untuk semua makanan dan minuman yang dipesan sepuasnya di tempat itu.

Wajah para pendukung Spanyol begitu rekah seperti bunga matahari. Mereka betul-betul merayakan kemenangan itu, sehingga rasa-rasanya—jika saya ada di situ—kesedihan yang tadinya tak seberapa atas kekalahan timnas dukungan saya, menjadi berlebih dan menekan pecahnya kantung air mata. Betapa kenyataan berat yang harus dihadapi C. Ronaldo dkk.

Foto-foto yang dipampangkan di yahoo.com secara adil (adil karena keduanya ditampilkan) menjadikan kaleidoskop itu berwarna-warni. Tak lagi pilu yang muncul. Tak lagi jarum tajam yang mencuat dan mencolok mata. Tetapi warna. Ada warna yang tak bisa diterjemahkan, seperti khaki, tosca, magenta, dll. Warna ini adalah situasi. Yang jika ditanya warna apa, jawabannya adalah sebuah cerita. Dan cerita itu berawal dari Kejadian (“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”). Warna itu ada hanya jika ada warna yang lain. Kesedihan itu ada hanya jika ada kebahagiaan. Demikian pula sebaliknya. Kemenangan itu ada hanya jika ada kekalahan. Yang menang bisa disebut menang jika ada pihak yang kalah. Yang kalah menjadi pahlawan bagi yang menang karena jika ia tidak ada, maka tak ada pula si pemenang. Setelah itu, mengikuti pula: yang bersukaria atas kemenangan tak akan pernah ada jika yang kalah dan bersedih atas kekalahan tak pula ada.

Kekalahan tak selamanya menyakitkan. Kemenangan tak selalu menjanjikan. Roda nasib selalu berputar. Dan waktu akan memutar sesuai masanya. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat. Yang menjadikannya terasa begitu cepat atau terlalu lambat adalah diri kita sendiri. Jika dihubungkan dengan sebuah dari empat kisah milik Franz Kafka, “Seorang Gadis Kecil” dalam bukunya yang berjudul Metamorfosis, Waktu berjalan sebagaimana dirinya. Seperti acuh. Dan memang ia begitu. Sikapnya itu menjengkelkan orang lain (gadis kecil). Kejengkelan itu meningkat menjadi sesuatu yang disebut keinginan membunuh-menyingkirkan, mendendam, lalu membusuk. Sedangkan waktu terus berjalan dan roda terus berputar. Menang-kalah, sedih-bahagia, soraksorai-airmata, acuh-tak acuh tetap mengorbit. Tak peduli apa pun yang terjadi pada siapa pun. Semua akan berlalu. Dan (semua) akan datang kembali.

Korsel, Amerika, Slovakia, Cile, Inggris, Meksiko, Jepang, dan Portugal pulang dengan hati sedih dan mungkin membengkak. Namun Piala Dunia terus berlanjut (seperti tak peduli pada mereka :))—Uruguay, Ghana, Belanda, Brasil, Jerman, Argentina, Paraguay, dan Spanyol akan meneruskan perjalanan. Yang sedih, bersedihlah. Yang (belum) menang, di depan masih ada, Kawan. Masih ada Jerman!!! Hahahahaaaa…

Piala Dunia 2010 akan berlalu. Jika akhir zaman tahun 2012 di-pending, Piala Dunia 2014 akan datang (lagi).[30/06/2010]

4 thoughts on “MASA’ PORTUGAL KALAH?!

  1. tak selamanya seorang bintang itu menang terus ada kalanya kalah juga tapi tetap qu acungi jempol buat ronaldo,semoga PD yang akan datang menang …..

  2. @ zhu: bener banged. klo menang terus, monoton heheheheee…
    @ panitia festival (mas bay kah?): sellau berminat😀 makasih, yaaa… aku akan coba klak-klik situsnya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s