GRADUALLY EQUIPPED

Traveling has a major impact on what I do, cause all over the world I’m meeting all kinds of people. And relationships is the second major impact that I have. I just enjoy the variety that the world has to offer. —Jason Mraz

Terlahir di Bukittinggi sekitar 25 tahun yang lalu. Di sana hingga menamatkan sekolah menengah umum lalu menyeberangi pulau Sumatra menuju tengah pulau Jawa, Yogyakarta. Setelah menjelajahi Semarang dan Malang, lalu saya ke Bandung. Menetap sementara selama 4 tahun 6 bulan untuk menuntaskan kuliah S1 yang sangat amat menyenangkan, lalu melakukan lompatan kecil ke Jakarta. Tinggal sebentar saja: setahun lebih sedikit. Lalu meluncur perlahan ke kota kecil, Sukabumi. Di sini pun hanya sebentar: setahun. Dan di sinilah saya, kembali ke (pinggiran) Jakarta—demikian kata seorang teman melalui SMS. Dan tak tahu hingga kapan. Menurut firasat saya, saya akan lama di sini. Hanya lama. Itu saja yang muncul di benak saya.

Sudah banyak tempat yang saya santroni. Terlebih, banyak pula bertemu orang yang beraneka ragam. Di Yogyakarta, Semarang, dan Malang, tak lama-lama. Hanya hitungan bulan, minggu, dan hari. Yogyakarta adalah kota yang nyaman dan ramah. Berjalan-jalan adalah langkah mantap untuk dilakukan di sana. Ke utara ada gunung “anu”, ke timur ada Candi Borobudur, ke selatan ada Pantai Parangtritis, dan ke barat ada Candi Prambanan (semoga saya tidak salah meng-arah-kan). Agak menyedihkan di Yogyakarta karena saya harus ditinggal kakak ke Bukittinggi. Tinggallah saya seorang dan tak tahu apa-apa. Orang sekitar pun tak tahu siapa saya. Lalu ketidaktahuan itu melahirkan kesan tak mengurusi orang yang tak dikenal.

Di Semarang, puanas!! Hanya itu. Oh, satu lagi: nyamuknya banyak dan ganas!!! Benar-benar tidak nyaman. Di Malang, dingin! Hujan melulu. Berhubung keluarga yang saya tinggali cenderung pendiam, jadilah kami banyak berdiam diri. Tak pergi main ke tempat-tempat wisata. Hanya berkeliling kota sambil mencari oleh-oleh: apel malang, keripik tempe, dan kripik nangka. Adem. Kota itu lengang seperti angin.

Bandung—lebih tepatnya kota yang jaraknya 1 jam dari Bandung, Jatinangor. Awalnya saya kecewa berat karena berkuliah di kota kecil ini. Serasa betul-betul dicampakkan ke tanah pembuangan. Namun, rasa kecewa itu hanya sebentar. Selebihnya, mengasyikan. Banyak sekali hal baru dan pelajaran penting yang saya dapatkan, baik di kelas, terlebih di luar kelas: dengan teman-teman, dosen, pengalaman amat bertebaran, diskusi-diskusi bagus, tempat nongkrong-cerdas dan mengasyikan seperti toko buku yang memperlengkapi dirinya dengan ruang diskusi, penjualan buku, dan buku piutang heheheee…. Ada penyewaan VCD-DVD, buku, kaset berkualitas (pemiliknya punya selera bagus!). Di sini saya bertemu banyak orang dengan ragam kebiasaan dan karakter. Mulai dari yang payah, biasa, unik, hingga yang luar biasa. Bagaimana mereka menjadi dirinya sendiri sekaligus tersesat di dalam dirinya sendiri. Bagaimana mereka menegaskan identitas dirinya, berusaha bertahan, namun tergerus arus dan menangis. Bagaimana mereka berusaha menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Ada yang menikmati masa pencarian identitas diri, ada pula yang begitu tersiksa dan serasa ingin mengakhiri segalanya. Ada yang mengaku belum pernah menangis sebelumnya, tapi lalu pada fase ini, ia menangis. Ada pula yang mengaku baru kali ini merasakan seperti ini. Apa “ini”, itu saya pun kurang jelas betul.

Pengalaman yang paling membangun saya adalah di komunitas Teater Djati. Tak lagi asam garam yang kami kunyah sama-sama, tetapi juga pahit dan getir! Tentu ada manis dan gurih. Pasti. Tetapi betul bahwa yang asam, garam, pahit, dan getir yang lebih dulu diingat karena hal-hal itulah yang membuat pedang bermata dua menjadi tajam. Ia ditempa dan diasah sedemikian rupa hingga siap digunakan dengan tidak sembarangan. Buahnya, salah satunya, adalah saya membina anak-anak SMP dan SMA di tempat saya mengajar dulu (Sukabumi). Dan kami, bersama-sama, sudah meletakkan batu pertama. Di sini pun, kami dapat mengenal satu sama lain lebih mendalam—ketimbang di keseharian kami di dalam kelas dan di luar jam pelajaran. Latihan teater sangat efektif untuk mengenali siapa kawan kami. Dan lawan pun—kalau ada—menjadi kawan, kemudian.

Di Jakarta. Ah, lebih sedikit dari setahun tidaklah cukup untuk menyisiri kota seluas Jakarta, termasuk untuk menekuni keragaman yang disediakan di dalamnya. Di sinilah saya bisa menjadi siapa saya semau saya. Dan ini tidaklah bagus. Bagusnya, saya tidak pernah kesepian. Jakarta selalu ramai orang kesepian heheheee…. Akhirnya, rasa sepi itu menjadi sesuatu yang dapat dicermati dan bahkan dikasihani, lalu dipandang dengan wajah melebar, senyum mengerti—tanpa meledek. Di sini banyak pengalaman batin terdalam yang tertoreh. Dan nilainya, tak dapat dibilangkan.

Senjata yang saya dapatkan (diberikan) di Jatinangor dan Jakarta sangat bermanfaat di kota Sukabumi, tempat saya mengajar MP Bahasa Indonesia, membina ekskur Teater, dan melakoni berbagai acara. Semakin lengkap persenjataan saya, semakin berat “lawan” di medan pertempuran. Dan senjata-senjata itu terpakai. Ia menjadi pedang dan tameng yang luar biasa bagus, cuma saya perlu melatih diri untuk ahli mengayunkan pedang, menggerakkan tameng, memantapkan kuda-kuda, dan melatih akurasi hantaman. Itulah yang saya dapatkan di sana; akan sangat berguna di ladang yang baru, di mana pun itu.

Di sinilah saya sekarang. Melangkahkan kaki menuju medan pertempuran, where God led me to…. Lawan sudah menunggu! [28/06/2010]

2 thoughts on “GRADUALLY EQUIPPED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s