Waktu Hidupku

Sering kali hidup tidak seperti yang kita harapkan. Kadang-kadang kita marah karena diri dan hidup tidak berjalan bersama. Kadang-kadang suka geregetan juga karena diri harus ikut kemauan hidup. Hidup akan menjadi seperti yang kita harapkan jika harapan kita “disesuaikan” dengan “keinginan” hidup itu sendiri.

 “Hidup itu keras,” kata seorang gadis manis. Wajahnya keras dan matanya terkesan siaga. Aku tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut mungil gadis belasan tahun. Sesaat aku bertanya, “Bagaimana kata-kata itu tumbuh dan keluar?” Diam-diam aku mengagumi dia.

 Hidup itu adalah bertahan di dalam waktu yang tak kita ketahui. Pertanyaannya adalah, bagaimana aku menghidupi waktu. Setelah kupikir-kupikir, tak berapa banyak yang sudah kulakukan. Dan banyak waktu yang telah kusia-siakan untuk bermenung dan membiarkan waktu dimakan kejengkelan. Misiku tertunda oleh kemanusiawianku yang terlalu. Aku terlalu sibuk mengurusi hatiku. Padahal salah satu cara terbaik untuk mengobati hati adalah dengan melakukan yang bisa kulakukan tidak tanpa tujuan yang egois, tetapi untuk menghidupi hidupku, yaitu waktu yang terus berjalan—apa pun yang sedang terjadi di diriku, ia tak peduli.

 Hidup menjadi kejam ketika aku mulai mengambil kendali dan mengendalikannya “semauku”. Padahal, sampai kapan pun, hidup tinggal di dalam “maunya” sendiri. Dan tak seorang pun dapat mengambil kendali—sekalipun kendali itu ada di tangan seseorang. Hidup itu berkuasa. Dan kuasanya tidak luar biasa. Biasa saja. Ia menjadi luar biasa ketika keinginanku untuk mengendalikannya kian dahsyat. Jalan satu-satunya adalah berteman dengan hidup. Dan ketika pertemanan itu semakin dekat, ia akan memengaruhimu dan serta merta mengendalikanmu. Mengikis keinginanmu. Melenyapkan hasratmu. Dan ketika kau sadar sesuatu, kau merasa dimanfaatkan oleh hidup. Lalu lahirlah kebencian. Dan dirimu mulai geram. Mencari kambing hitam. Kalau tidak ketemu; mengambinghitamkan apa pun atau siapa pun. Lalu kau ingin sendiri. Kau tenggelam dalam kemarahanmu. Mencari jalan keluar sendiri. Dan sunyi. Hidup seolah-olah pergi. Karena ia adalah waktu yang akan terus berjalan apa pun yang terjadi di dalam dirimu: aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s