MIMPI [YUDAS ISKARIOT]

Seekor tikus hitam pekat dengan kepala tertunduk dan maju berlari menuju kolong ranjang. Ia sedang berada di atas ranjang. Ia terloncat dan kaget melihat tikus hitam tak berwajah menghilang di bawah kolong. Ia tidak tahu pukul berapa waktu itu, tetapi ia merasa mimpi itu seperti nyata. Ia bahkan dapat melihat bagaimana wajahnya terperanjat melihat tikus hitam itu. Menjijikan. “Apa arti mimpi itu?”

Sebelum tidur ia tidak membaca buku tentang tikus. Ia juga tidak baru saja melihat tikus di TV atau apa pun. Tapi sekitar setahun yang lalu ia membaca The Tale of Despereaux karya Kate DiCamillo. Buku itu sangat berkesan baginya.

“Oh, kau sudah membaca buku itu? Buku yang bagus, bukan?” kata seorang teman yang juga animator.

“Ya. Aku sangat suka buku itu.” Jawabnya.

“Kira-kira kau siapa di dalam cerita itu?”

“Maksudmu?”

“Ya, apakah tikus gorong-gorong, tikus kastil, atau si gadis kecil yang berobsesi menjadi putri?”

Awalnya ia ingin bersikap terbuka, tetapi siapa dia? Dia hanya teman kantor. Mereka tidak dekat. Dan jawabannya yang sebenarnya akan membantunya menilai siapa dirinya di mata temannya itu. Dengan gelagapan, ia menjawab, “Si tikus kastil tentunya.” Katanya. “Kuharap.” Pikirnya.

Jawaban yang sebenarnya tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun—selain kepada dirinya sendiri—melalui mimpi.

 Baru-baru ini pun ia bermimpi dikerumuni teman-teman yang mengharapkan pendapatnya tentang sebuah buku. Lima pasang mata memandangnya. Ketika ia merasa terjepit dan disudutkan melalui tatapan jahat mereka, ia menjawab, “Kalian punya jawaban sendiri. Jangan bergantung padaku begitu.”

Mengingat siapa saja yang ada di dalam mimpi itu, ia mengartikan mimpinya itu sebagai dirinya yang dijadikan patokan—lebih tepatnya, digelayuti. Kemudian menjadi orang yang akan dipersalahkan nantinya. Dan para pemilik mata itulah yang akan menjadikannya tertuduh.

 “Mana bisa pemimpi mengartikan mimpinya sendiri? Sama seperti tukang pijit yang tidak bisa memijit dirinya sendiri.” Katanya pada pikirannya sendiri.

“Mimpi bisa,” pikirnya.

“Kasihan betul.”

Ia bergelut dengan dirinya sendiri. Mungkin—“Ah, pasti.”—sampai akhirnya ia menemukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi. Seseorang yang dapat membuka peti hal-hal hidupnya. Seseorang yang ia percayakan kunci peti itu. Setelah dibuka, semua itu akan menjadi hal yang membahagiakan. Harapnya. Siapa dan kapan, ia tidak tahu.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan hingga seseorang itu datang pada waktu yang tidak ia tahu? Diam? Mengunci peti itu serapat-rapatnya? Bagaimana jika ada hal-hal lain yang harus ia masukkan ke dalamnya? Dibuka dan ditutup rapat lagi? Ia letih.

“Seseorang, segeralah datang. Sebelum ia berakhir seperti Yudas Iskariot.” [06/06/2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s