Kalau Saja Jason Mraz…

Kalau saja Jason Mraz ada di hadapanku sekarang, mungkin ia akan menyanyikan I’m Yours berkali-kali dengan berbagai versi, yang akan menyenangkan hatiku. Wajahnya yang selalu sumringah dan banyak kata yang terlontar dari mulutnya yang memikat akan mengusir kesepianku. Tetapi di tengah-tengah kesenangan itu, manajernya akan meneleponnya untuk mengingatkannya bahwa 5 menit lagi ia harus naik ke panggung untuk menghibur ribuan penggemarnya. Lalu ia dengan gitar di tangan memelukku hangat sambil berkata, “Sorry, I have to go. Its really nice to be with you, Ira.”

Kalau saja ada Heath Ledger di dekatku, duduk berhadapan denganku di sebuah café sederhana dan romantis, dengan langit cerah dan rasa beruntung yang tak terduga, mungkin ia akan mengatakan kata-kata yang melembutkan hatiku. Yang membuatku berbunga-bunga dan tidak bisa tidur semalaman. Tetapi di tengah-tengah deru romantisme dan keterhanyutan di dalam senyumannya yang menggoda, seseorang melemparkan setangkai bunga dan berteriak “Heath, I love you!!!” Lalu ia sibuk berfoto dan menandatangani poster-poster untuk fansnya.

Kalau saja ada cokelat panas di atas mejaku sekarang, rasanya tentu akan menghangatkan tubuhku di tengah ruang tamu di dalam rumah yang masih diguyur hujan. Dingin. Hangat. Akan lebih hangat lagi jika ada seseorang yang bisa kuajak bicara apa saja. Tanpa nafsu ingin menang sendiri; hanya ingin berbagi sehingga kami saling memperkaya. Namun hingga sekarang tidak ada seorang pun yang mampu melakukan itu bersamaku—selain AU. “Kau jauh sekarang, teman. Demikian pula percakapan kita. Aku miskin tanpamu.” Hh, sebenarnya hal-hal sentimentil ini tak perlu; hanya akan melambatkan bahkan menghentikan langkah.

Kejadian yang kualami setahun terakhir benar-benar menghajar sekaligus mengajarku tentang banyak hal. Terutama tentang keberadaan seseorang (teman) yang adalah tidak mutlak. Teman tak selamanya baik. Teman itu banyak jenisnya. Teman dalam selimut pun iya (yang mana nieh? :))Kebutuhanku akan seorang teman telah menjadi kelemahanku yang giat dimanfaatkan si iblis untuk membangun penjara bagiku, menghentikan langkahku, dan menghambat pertumbuhan imanku.

Dikecewakan banyak rekan dan teman pasti bukan tanpa tujuan. Kurasa semua itu ingin mengingatkanku bahwa aku tidak boleh mengandalkan kebutuhan-akan-teman. Aku tidak boleh menggunakan teman untuk menunjukkan kemampuan dan memohon pujian dari mulut mereka. Bahwa teman yang meremehkan kemampuanku (kemampuanku mengajar—itupun masih dalam progres, berbahasa Inggris yang sebenarnya seadanya, paham musik secara otodidak—yang masih sering keliru, dan lumayan ngerti komputer) berguna untuk melatihku berpikir bahwa sekalipun mereka meremehkan kemampuanku, aku tahu Tuhan tidak. Lagipula apa peduliku. Yang penting Tuhan senang. Tujuanku melipatgandakan talentaku bukan untuk memegahkan diri, tetapi untuk diberikan pada-Nya, agar Dia dimuliakan. Itu yang sudah kupahami, tetapi masih saja gagal untuk kuterapkan di dalam kehidupanku karena kata-kata yang menyakitkan menjadi perak pada kaca kemudian menghalangiku untuk dapat melihat lebih luas ke luar sana. “See, friends some times being an enemy. But still usefull if you use the point of view of God,”—this is what I’ve read this morning. Aku tahu Tuhan sedang mendiamkanku.

Aku tahu Dia sedang marah besar padaku. Sama seperti ketika aku mendiamkan murid-muridku yang sudah mulai bertingkah dan sulit diberi tahu: dan mereka segera patuh dalam ketakutan. Patuhku dalam ketakutan dan ke-diam-an Tuhan menciptakan jarak di antara kami. Di dalam ketegangan itu, Dia mempresentasikan kesalahan-kesalahanku di masa lalu dan sekarang. Slide demi slide dipampangkan di hadapanku. Dia “hanya” menunjukkan di dalam diam, tetapi semua itu benar-benar menancap di benakku. Habislah aku. Tetapi bukan itu tujuan-Nya. Dia seperti mengingatkanku bahwa aku dan Dia sudah berteman sejak aku duduk di sekolah minggu. Dan sekarang aku justru haus pada teman lain (baru). Aku yang salah. Aku menyia-nyiakan Teman yang selalu ada bagiku. Mungkin inilah mengapa aku merasa kesakitan belakangan ini sulit kumengerti, karena Tuhan sedang mendiamkan aku.

Aku dan Dia butuh pemulihan. Dan kurasa belakangan ini adalah masa pemulihan yang berat dan rumit. Kuharap aku mengerti apa yang harus kupelajari, sesuai dengan apa yang Dia maksud. Kalau tidak, sia-sialah rasa sakit ini. Sia-sialah pertemanan kami. Sia-sialah kemarahannya—karena kebodohanku dan kesombonganku.

Aku tidak perlu Jason Mraz atau Heath Ledger. Aku tidak perlu AU atau teman lainnya atau rekan. Aku perlu sendiri, tanpa teman dan rekan, untuk dapat menyadari dan memahami dengan hati bahwa yang kuperlu adalah Tuhan, karena jauh sebelum mereka (teman duniawi) hadir, aku sudah punya Tuhan sebagai teman dan lebih dari pada itu: Juru Selamat. Aku sudah menyia-nyiakan-Nya selama ini. Akulah yang harus melakukan sesuatu. Dan aku mau. “Maafkanlah aku, ya Tuhan.” [16/05/2010]

2 thoughts on “Kalau Saja Jason Mraz…

  1. iya, mas bay… dia sang almarhum pemeran joker…
    klo jason mraz adalah penyanyi… udah tau single dia “I’m Yours”? that’s a great song since it released…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s