Aku Meninggalkan-Nya: Dia menungguku Kembali

Dua hari yang lalu aku merasa ada yang kurang di dalam hidupku. Tapi apakah gerangan? Hingga tadi pagi aku tidak tahu itu apa. Semalam aku bagikan dengan teman apa yang aku rasa. Awalnya dia tertawa. Tapi aku diam saja untuk menunjukkan bahwa aku serius—dan sedang tidak mau diajak bercanda.

Ia tersadar dan berkata, “Oh, maaf. Ini bukan saatnya untuk bercanda.” Aku masih saja diam. Tak tahu apakah aku marah atau apa. Semuanya tidak “berasa”. Ketika mendengar sebuah lagu kenangan sepasang kekasih lewat tv, hatiku tergerak oleh rasa rindu. Tetapi tidak tahu rindu pada siapa. Inginkah ada seseorang di sisiku sekarang? Itu pun aku tidak tahu. Tapi sebuah doa terlontar dengan perasaan yang antah berantah—dan aku lupa apa isi persis doa itu; beginilah kira-kira isinya: aku ingin mencintai seseorang. Bahkan rasanya cinta bertepuk sebelah tangan pun masih lebih baik daripada tidak mencintai sama sekali. Kalau saja bisa dan kalau saja ada, aku akan mencintai seseorang. Tapi tak ada seorang pun. Kosong. Absen. Tak ada siapa pun sejak dari awal. Tak ada yang datang dan pergi karena dari awal tak ada yang pernah datang dan tak seorang pun yang akan pergi.

Apakah aku ingin seseorang untuk diajak bicara? Apa yang ingin aku bicarakan? Aku punya kawan bicara dan memang banyak yang kami bicarakan. Tapi bukan itu yang dapat mengisi kekosonganku. Maka pasti ada sesuatu yang lain yang sebenarnya kubutuhkan.

Dulu, aku butuh kawan bicara di kala sepi. Tapi di dalam kekosongan kali ini, aku tidak sedang membutuhkan seseorang. Itu artinya ada peningkatatan kebutuhan. Dan bukan lagi seseorang yang dapat mengisi kekosongan itu. Tapi pasti ada. Pasti. Tapi apa?

Aku mendapatkan jawabannya pagi ini. Tepatnya, bukan aku yang menemukan. Tetapi sesuatu di dalam dirikulah yang member tahuku. Aku merasa malu. Ternyata, tanpa kusadari, aku telah meninggalkan Tuhan. Aku meninggalkan-Nya di sebuah jalan. Mungkin ketika Dia sedang asyik menceritakan sesuatu padaku di dalam perjalanan kami menuju suatu tempat. Kupikir Dia tidak tahu aku pergi. Aku pergi pun bukan karena kusengaja. Namun itu membuktikan satu hal, aku sibuk dengan pikiranku sendiri ketika Dia sedang berkata-kata. Aku sibuk menimbang-nimbang banyak hal untuk mengambil sebuah keputusan sulit; tentang bagaimana menyampaikan hasil keputusan itu kepada orang-orang yang perlu tahu karena mereka berarti di hatiku. Tentang bagaimana selanjutnya menjalani babak baru: setting baru dari sebuah kisah, meneruskan alur cerita, melewati konflik, dan mendapatkan penyelesaian, dan kembali menemui konflik baru, dst.

Aku sibuk menghitung dan memilah baik-buruk. Aku sibuk memikirkan apa yang harus kukerjakan dan sibuk membangun imej sebagai kesempatan terakhir untuk menggoreskan sejarah. Aku sibuk untuk menjadikan diriku sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Aku sibuk menghitung jam tidur dan memikirkan apa yang belum kukerjakan. Semua sudah kukerjakan. Kecuali satu: bersekutu dengan Tuhan.

Aku selalu melakukan saat teduh pagi hari. Aku selalu berdoa sebelum tidur. Aku berdoa sebelum dan sesudah makan. Aku pergi ke gereja. Tetapi semuanya hambar. Aku melakukannya dengan terburu-buru. Lalu aku meminta maaf begitu saja seperti tanpa rasa penyesalan. Tanpa penyesalan membuatku tidak peduli apakah Tuhan memaafkanku atau tidak. “Yang penting aku sudah meminta maaf.” Bahkan rasa-rasanya aku tidak begitu peduli apakah suara permohonan maafku cukup keras untuk sampai ke telinga-Nya.

Aku malu. Aku malu untuk mengangkat kepala. Lihatlah, Tuhan masih menungguku di jalan tepat di mana aku meninggalkan-Nya. Kataku kami sahabat dekat. Kataku Dia selalu ada di segala situasi hidup yang kuhadapi. Kataku tak ada kawan sehebat dan sesejati Dirinya. Tapi apa yang kuperbuat? Aku meninggalkan-Nya. Dan lihatlah apa yang Dia perbuat: Dia menungguku kembali.

Aku kembali. Tapi aku malu. Wajahku muram. Tapi Dia menyambutku. Dia membuka lebar tangan-Nya dan wajah-Nya bersinar melihatku datang. Kupikir Dia akan bangkit dari duduk di atas batu di bawah pohon di pinggir jalan itu lalu mengejarku dengan tak sabar agar tangan-Nya yang kuat dapat segera mendarat di pipi kananku. Aku layak diperlakukan seperti itu. Tapi tidak. Dia tidak melakukan itu. Dan rasa maluku berlipat ganda sudah. Aku malu. Aku sedih. Aku semakin bertambah merasa bersalah. Namun Dia memelukku dengan hangat. Seolah-olah Dia tidak melihat kesalahanku. Kesalahanku tidak berarti bagi-Nya. Kedatanganku kembali itulah yang penting bagi-Nya.

Tuhan, mengapa Engkau begitu baik bahkan di saat aku berbuat jahat pada-Mu? Kau begitu sejati di dalam kebaikanmu. Tetapi aku seperti ini.

Terima kasih Tuhan karena Engkau telah menyatakan kesalahanku. Aku salah. Dan aku mau tinggal di dalam kehendak-Mu. Aku mau melayani-Mu. Hidupku untuk memuliakan nama-Mu. Karena suara-Mu sudah semakin jelas dan aku mau mengimani itu. Aku akan ke sana*, tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga menjadi sahabat “sejati” bagi anak-anak yang Engkau percayakan padaku karena Engkau sendiri sudah lebih dulu menjadi sahabat sejati bagiku, dan menjadi pelayanmu di Sekolah Minggu. Selain itu, aktif di pemuda gereja dan memiliki waktu pribadi dengan Tuhan secara teratur dan sepenuhnya (berkualitas).

Engkau tahu Tuhan tubuhku tak lagi sekuat yang dulu. Banyak yang sudah menggerogoti dan melemahkan tubuh ini. Tetapi aku tidak mau mengeluh. Di dalam-Mu yang memampukanku, aku mau setia. Aku mau senantiasa berjalan bersama Yesus. Melakukan apa yang dapat kulakukan untuk mengenal Tuhan lebih jauh. Dan biarlah tubuhku dan hidupku menjadi persembahan yang sejati bagi-Mu. Apa yang kulakukan tidak untukku atau keluargaku, tetapi untuk-Mu, sahabat sejati dan Tuhanku yang hidup. Aku mau tinggal di dalam-Mu, Tuhan. Ajarlah aku. Pimpinlah aku. [09/05/2010]

3 thoughts on “Aku Meninggalkan-Nya: Dia menungguku Kembali

  1. hahahhaaaa… berarti tulisan gw berhasil bikin lu terharu cuyyy… be ready 4 the next post that would make your heart n mind cry out loud cuyyyy hahahahaaaaa…😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s