BONEKA TAK BISU

Di sebuah ruangan hampa. Sunyi pekat. Hingga rasa-rasanya sebuah suara kecil adalah kebisingan yang mengagetkan dan menjengkelkan.

Lima boneka dan lima majikan. Masing-masing majikan memiliki sebuah boneka yang sudah bertahun-tahun menemani.

Setiap boneka memegang sebuah alat musik.

Sebuah boneka menekan tuts. Yang lain menabuh gendang. Boneka penari mulai menggerak-gerakkan kepala dan tangannya, lalu pinggulnya. Alat-alat musik lainnya mengikuti satu persatu: biola dan gitar.

Mereka bernyanyi sembarangan.

Tak lama mereka bernyanyi serempak, menyanyikan:

Perih oleh Viera.

 Begitu selesai, Tasya memainkan keyboard secara dramatis—Novi mengambil ancang-ancang masuk ke panggung, sehingga terbangunlah suasana suram di atas panggung.

 Novi                 : Dasar boneka jelek. Kamu itu sudah tidak berguna lagi tahu! Tahu tidak? Kamu itu cuma bisa diaaaaamm, diaaaammm, dan diam saja! Seperti mayat hidup! Kamu berantakan dan mukamu beda dengan wajahku. Aku cantik, kamu? Hah! Dasar boneka murahan, bisanya cuma merepotkan orang lain. Aku benci sama kamu! Entah untuk apa ibuku membelimu. Untuk apa pula aku merawatmu hingga sekarang. Asal kau tahu, itu hanya agar aku tidak dimarahi mama. Selebihnya, kamu bukanlah barang berharga. Nothing. None. Zero.

Tasya               : (Memainkan Tears in Heaven) Aku tahu, aku cuma boneka, tetapi aku masih tetap punya perasaan. Aku bukan binatang yang bisa disiksa seenaknya dan dihina sesuka hati. Hei, manusia… perlakukanlah aku dengan selayaknya. Aku butuh kebahagiaan! Kau adalah manusia terjahat, yang tak bisa mengerti perasaan aku. Aku butuh kasih sayangmu, tetapi kamu hanya peduli dirimu sendiri. Kau tidak tahu rasanya tidak dipedulikan. Kau tidak tahu rasanya diremehkan dan ditolak. Suatu saat nanti kau akan merasakannya, dan pada saat itu pula kau akan tahu bagaimana perasaanku saat ini. (Memainkan musik yang mencekam)

 Mariska memetik gitarnya dengan pelan. Menyanyikan sebuah lagu dengan kaku. Lalu ia mengangkat kepalanya—sembari Diaz memasuki panggung.

Diaz                 : Aku tuh sudah bosan punya boneka seperti kamu. Kamu tuh sudah tidak bisa buat aku bahagia lagi. Aku benci punya boneka seperti kamu. Aku benci… benci … benci …! Kamu tuh bisanya menuh-menuhin ruangan di kamarku saja. Aku sudah punya banyak masalah. Membuangmu, hidup tanpamu, sama artinya dengan menyingkirkan satu masalah di dalam hidupku. Aku tidak perlu meminta maaf, karena kehadiranmu ternyata tak kubutuhkan. Kau adalah boneka milik kakakku yang harus kurawat. Selebihnya kau boneka yang tidak berguna.

Mariska            : (Menyanyikan lagu Sentuh Hatiku oleh Maria Shandi). Aku sudah setia bertahun-tahun sama kamu dan aku sudah berusaha untuk menyenangkan hati kamu. Dulu, kita bermain bersama, ceria, dan bercanda bersama. Tetapi sekarang kamu sudah berbeda. Kamu sudah tidak sayang lagi sama aku! Apa salahku? Aku tidak berdaya lagi. Terserah padamu. Apa pun yang ingin kau lakukan. Lakukanlah…. Aku berserah. (Mariska menyanyi lagi)

Gina menari-nari diiringi musik (Sir Ezra)

Chacha             : Heh! Boneka jelek! Lu tuh kerjaannya cuma nari-nari doank. Mang ga ada lagi apa yang bisa lu kerjain selain nari-nari?! Nyuciin baju gw kek. Bikinin pe er gw kek. Atau masakin sarapan gw gitu. Bantuin gw kek nyelesein masalah-masalah gw. Hah! Atau apalah. Jangan cuma merasa sok cantik gitu. Mang elu tuh ga ada gunanya tau! Harusnya lu tuh bersyukur mama gw beli lu. Klo gak, lu dah ada di tempat pembuangan sampah! Sekarang gw yang harus menjaga lu. Jaga diri sendiri aja gw ga bisa. Mang klo pas mati lampu lu bisa nemenin gw? Yang ada juga lu bikin gw takut.

Gina                 : (Sambil menari-nari diiringi musik oleh Sir Ezra) Jangan siksa aku… jangan sakiti aku. Kamu sudah terlalu sering menyakiti aku. Aku hanya ingin menjadi teman kamu. Tapi kalau kamu tidak puas dengan diriku apa adanya, membuangku lebih baik daripada kau simpan aku tetapi kau siksa aku. Sakit rasanya. Sakit rasanya. Kamu tega menyakiti perasaanku. Padahal sudah bertahun-tahun kita bersama. Mungkin ini saatnya kita berpisah. (Menunjukkan gerak tari yang dahsyat lalu tiba-tiba berhenti)

 Ari memainkan alat musiknya sesekali—sekadar mengisi dan mewakili kegelisahan Winny. Ia tersenyum secara teratur seperti robot yang sudah diprogram. Ketika ia macet, Winny memukul punggung boneka, dan boneka itu kembali bergerak-gerak seperti semula.

Winny              : Ikh! Ikh! Ihk! Sebel! Sebel sama kamu. Pengennya aku tonjokin terrrruuus!!! Biar kamu tahu rasa! Ukh! Tampangmu tidak sesuai keinginanku. Kenapa juga papa beliin aku boneka cowok begini? Aku inginnya barbie! Bukan kamu. Kamu tidak menarik. Orangtuaku tidak peduli apa yang kusukai. Mereka tidak memahami perasaanku. Mereka hanya peduli diri mereka sendiri. (Menangis lama) Aku dibeliin boneka buruk rupa, tapi kakak dibeliin boneka babi pink yang lucu dan empuk. Mengapa begitu? Apa mereka tidak sayang lagi padaku? Ha? (Memukul boneka) Aku juga tidak sayang lagi padamu!!!

Ari                   : Jangan sakiti aku terus-terusan. Aku tidak bersalah. Sakiiiiittt…. Andai aku bisa bicara, aku akan katakan aku sayang padamu. Aku mengerti perasaanmu. Setiap malam kau mencurahkan isi hatimu padaku. Kau rindu mama dan papamu. Memang mereka sibuk bekerja, tetapi aku ada di sini untukmu. Tahukah kau aku masih siap menampung kegelisahanmu. Aku bisa membuatmu tertawa. Aku akan menjagamu. Dan aku akan menjadi bonekamu yang baik.

 

Wyke datang dengan wajah sumringah. Lalu berubah tiba-tiba. Lalu tertawa dan sseketika wajahnya sedih

Wyke               : Oh my sweet baby! Kamu cantik sekali! (Berpikir sejenak) Oh! Aku punya ide! Hari ini kita main salon-salonan! Rambutmu terlalu panjang. Aku gunting saja ya! (Setelah digunting) Mengapa kamu jadi jelek begini?! (Melempar boneka) Oww! Jangan nangis sayang! Aku cuma bercanda. Kamu mau maafin aku? (Menatap boneka) Kita main lagi besok. (Memeluk dan meninggalkan tempat itu, tapi tidak jadi) Ha! Aku punya kejutan. Bagaimana kalau kita main dokter dan pasien! Aku jadi dokternya. Kamu jadi pasiennya. Hahaaaa…. Sekarang kita main dokter mata! Sekarang aku cabut mata kamu yah…. (Diam tiba-tiba—tablo)

Kiki                  : (Memainkan musik yang menyakitkan: Putri Dalam Cermin oleh Sherina) Kau tak tahu. Rapuh… rapuh hati ini…. Kau telah menghancurkan hati ini… aku telah bersabar. Bersabar!!! Harapan itu hanya sebuah perkataan tanpa balasan…. Tanpa coretan hidupmu aku sudah bahagia. Kenapa kau biarkan aku hidup di dalam impian dan ambisi? Atau kau tak punya nyali untuk memberikan yang terbaik pada boneka ini? Aku ingin luluh, luluh…. Di antara suara-suara lirih itu/. Kubiarkan terhanyut jauh dari sadarku. Jauh meninggalkan dari kehidupan yang menyiksa hatiku ini. Sekarang hanya luka yang kau berikan padaku….

 Setelah beberapa detik tablo, para boneka memainkan musik lalu mereka menyanyikan Kepompong oleh Sindentosca

  Sukabumi, 5 Mei 2010

Ujian Ekstrakurikuler Teater

SMPK BPK PENABUR

Program Nasional Plus Sukabumi

5 thoughts on “BONEKA TAK BISU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s