Nagari Balik Bukit

Layak seutas tali membentang dari ujung matahari terbit hingga ke sudut sana tempat matahari tenggelam, bukit itu telah jadi pagar kampungku dengan istana di balik bukit, demikian kata orang kampungku. Di balik sana ada istana bunian. Orang tua kami akan selalu berteriak marah tatkala kami berlari bergegas mendaki bukit lewat lorong sempit.

Hanya tubuh-tubuh kecil yang diizinkan lewat lorong itu. Begitu kami sampai di balik bukit, orang tua kami tak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Melengganglah kami menyusuri istana bunian.

Kedengarannya lorong kecil itu mulai muak dengan ocehan orang tua kami.

“Awas kau di rumah nanti, ya?!”

Tahu apa jawab kami? Tak ada selain tawa riang. Bisa jadi kami adalah keturunan Malin Kundang. Tapi tak bolehkah sebentar saja kami menikmati masa kanak-kanak kami?

Subuh-subuh sudah disentakkan oleh Ayah. Padahal ayam jago saja masih asyik mendengkur di buinya. Disuruhlah kami bergegas ke air menimba berember-ember air hingga dua drum di belakang rumah, penuh. Tapi asyik juga, aku bisa bertemu Gadih di air. Dia bernasib sama denganku. Bedanya, dia disuruh cuci piring dan pakaian. Kalau Ayah mendapati aku dan Gadih sedang bercengkerama, dia sengaja berteriak dari atas seperti mencari-cari. Tapi aku tahu, dia memanggil namaku bukan untuk mencari, tapi untuk memerintah bersegera!

“Ember terakhir!”

“Ujang!”

Suara siapa lagi itu? Bukan Bundo, bukan pula Ayah. Dan pastinya bukan suara Gadih. Apa mungkin Galado?

“Ujang?!” Yang ini aku kenal akrab suaranya. Ayah. “Kau takdengar dipanggil? Kawan menunggu di depan. Cepatlah! Jangan lama-lama, Jang. Ayam belum dimandikan….”

Siapa? Pagi-pagi? Apa dia tidak kerja? Ke air, atau ke ladang? Siapa gerangan?

“Makanlah dulu ubi ini, Jang….” Bundo menyodorkan ubi rebus kekuning-kuningan. Asapnya mengepul dan aromanya menggugah selera. Kuambil saja dan dengan sopan aku berlalu menuju beranda depan.

“Eh, Galado! Benar tebakanku!” Kami bersalaman. Cukup lama. Mata kami beradu. “Ke mana saja kau, Kawan? Sudah lama takketemu, suaramu jadi lain. Bahkan aku hampir tak mengenal mukamu lagi. Kota sudah mengubah kau rupanya…. Masuklah.”

Kami duduk berduaan seperti sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau. Yang jelas bukan sepasang kekasih di kampung ini, tapi sepasang kekasih yang di tivi-tivi itu. Betapa aku sangat merindukan kawan lamaku ini. Kawan karib. Kawan berlari-lari ke balik bukit. Bahkan kawan berontak terhadap petuah Mamak.

“Ceritakanlah padaku dunia luar sana, Galado!” Kataku antusias. Aku memang benar-benar ingin tahu dunia luar. Aku ingin seperti dulu, lari ke balik bukit melihat istana bunian—padahal takada bunian di sana. Aku ingin ke negeri orang. Ingin melihat istana mana pula di seberang laut sana. Kalau boleh melihat-lihat anak gadis orang juga. Haha. Tapi tak akan kuduakan si Gadih. Pujaan dan jantung hatiku.

“Dunia mana, Jang. Dunia ini cuma satu, Kawan.”

“Iya iya. Takpula perlu kau ajarkan aku mengenai itu. Aku sudah mengecap SMP. Aku sudah paham bahwa dunia satu saja adanya. Tapi aku tak tahu dunia dibalik pagar bukit nan tinggi menjulang ini, Galado. Aku ingin benar-benar menyeberang dengan kapal atau menumpang bus menuju kota dekat matahari terbit.”

Galado menceritakan ragam orang di kota. Banyak mobil dan sepeda motor. Bahkan sepedapun sudah beragam bentuk dan rupa. Rumah, besar-besar. Dari beton semua. Jalan-jalan diaspal mulus. Baju orang-orang warna-warni. Terbuka sana, terbuka sini. Pernah pula dia bersua dengan orang barat. Mereka sering ke kampung-kampung. Makanya dis dijuluki bule kampung. Kalau mengenai bule, aku taktertarik sama sekali. Mereka pernah menjajah ranahku. Galado cerita pula tentang toko-toko dan gedung-gedung bertingkat. Bahkan bahasa-bahasa yang bagi telingaku asing dan aneh. Apa itu fangki? Ada pula gue…. Tak pernah masuk akalku.

Ondeh, oi, Galado. Sejak kapan Galado menepi ke ranah kita ini? Takberkabar?” Bundo cengengesan. Tampaknya malu karena ada salah bicara.

“Baru tadi malam sampai, Bundo….” Galado tak kalah malunya.

“Sebentarlah Bundo ambilkan kolak ubi. Kau pasti taragak kolak. Pasti lamak dimakan pagi-pagi berembun seperti ini.”

***

“Siapa, Jang?”

“Galado, Yah. Masa Ayah lupa? Itu kan kawan lama Ujang.”

“Galado yang mana? Galado Pembawa Bencana?” Ledek Ayah. Dia memang pintar mencemoohkan orang.

“Itu kalau galado, Yah. Tapi Galado yang ini pembawa rezki. Dia kan baru datang dari Jawa. Sekarang dia berduit, Yah. Memanglah dulu anak itu kurang ajar sama keluarganya, tapi kini banyak rezki yang melekat dibadannya.”

“Alah! Banyak kato kau, Jang. Mandikanlah ayam itu!”

Awalnya aku jengkel dengan kata-kata Ayah. Tapi mengingat aku harus ke air memandikan ayam, aku jadi melenggang senang.

“Pasti si Gadih sedang mencuci beras.”

 

“Gadih.”

Uda.”

“Sudah bertemu dengan Galado?”

“Sudah. Galado Pembawa Rezki, ya kan?” Dia tertawa renyah. Aku jadi ingin berlama-lama dengan dia.

“Tapi uda akan jadi pembawa rezki juga, Dih.” Kataku berlagak, tapi dengan yakin.

“Maksud uda?” Ditelengkannya kepalanya. Terlihat tahi lalat di pipi kirinya. Pipinya pucat memerah karena dingin.

“Suatu hari nanti, uda akan merantau pula, Dih.” Kali ini merah pipinya merah ranum. Dia tersenyum tertahan. Mukanya disembunyikannya di balik rambutnya.

Sebentar anganku menembus pohon-pohon di seberang sungai, ke balik bukit, menyeberang jalan dan dalamnya samudera. Lalu bekerja dan mengumpulkan harta. Pulang seperti Galado. Kaya, tapi tetap ingat kawan lama. Ingat membalas budi orang tua.

“Kenapa uda tersenyum begitu? Ingat perempuan di kampung seberang, ya?”

“Ada perempuan cantik di depan uda, ado Gadih di hati uda, tak ada yang bisa mengganti, Gadih…” Kali ini Gadih meninggalkanku. Wajahnya tersipu oleh sapuan merah ginju. Aku sendiri takpercaya aku bisa berkata semanis itu. Disaat bersamaan, keinginan berkapal datang lagi. Sebelum kapal itu benar-benar menepi hendak menjemput dan kaki menapaki lantai kapal, ayam berkokok menjagakanku dari mimpi. Kujitak kepalanya. “Tak bisa lihat orang mimpi enak sebentar saja.” Kujitak lagi.

Kukandangkan si jago. Kucari dan selidiki suara berisi perintah apalagi yang akan menghantam gendang telinga. Sambil duduk di serambi, aku terus mencari Ayah. Ayah kanduang! Kemana dia? Lalu mengapa pula aku jadi merindukan suaranya yang memekakkan telinga itu?

“Ah, Ujang. Lama nian di air!”

“Memangnya ada apa, Bundo?” Aku bergegas berdiri.

“Ayah menunggu di pinggang bukit.”

“Pinggang bukit?”

“Dekat lorong. Bergegaslah, Jang. Tampaknya sudah lama pula beliau menunggu. Bawalah nasi ini. Sebentar lagi matahari sudah berdiri pula di atas ubun-ubun.”

Sepanjang jalan aku memutar otak. Seumur-umur, hampir 18 tahun, baru kali ini Ayah mengajak ke bukit. Dan itu adalah bukit tempat aku, Galado, Gadih, dan Siti main-main.

Apa yang Bundo taruh di kolak ubinya?

Aku mengambil langkah maling mendekati ayah. Tak lama sampailah aku di kaki bukit. Aku dapat melihat ayah. Sesekali aku hendak menegur sebelum benar-benar sampai, tapi takpernah jadi. Punggungnya melengkung ke depan. Beberapa lembar rumput tersangkut di bajunya. Di pinggangnya ada sabit. Aku langsung saja duduk di sisinya.

“Yah…”

”Oi, Ujang. Takpula ayah dengar kau datang. Cam maling saja kau, Jang.” Dia tersenyum ringis. Aku berusaha menanggapinya sebiasa mungkin.

“Apa yang kau bawa itu?”

“Nasi. Bundo yang suruh bawa tadi. Lapar, Yah?”

“Kira-kira, badan yang sebesar kita ini bisa masuk menyeberang ke sebelah lewat lorong kecil ini, Jang?” Perasaanku bercampur aduk. Apa sebenarnya yang ada dalam kepala ayah?

“Jang?”

“Eh. Bisa saja, Ayah. Kita jalan agak miring.”

Ayah langsung berdiri dan berjalan miring ke balik bukit. Dia agak kesulitan karena perutnya agak buncit. Lorong itu menanjak. Dindingnya basah berbau lembab. Tidak sampai lima menit, kami sudah berdiri menyaksikan pertunjukkan alam semesta. Pandangan luas. Sangatlah luasnya.

“O, ini tempat bermain kau jo Galado? Indah rupanya.”

“Gadih dan Siti ikut pula, Ayah.”

“Dulu, kalian main-main di sini, Jang…. Kalau dipekikkan oleh bundo cepat turun, kalian tak kunjung turun. Malah makin asyik main di nagari balik bukit. Nanti,” ia diam sejenak. “Nanti,” matanya menjurus jauh ke kaki langit. Seolah tak mengacuhkan pesawahan yang bertingkat-tingat serta rumah-rumah nan bertumpuk di bawah bukit. “nanti…, kalau kau sudah di negeri seberang, jangan lupa kampung halaman, ya, Nak?”

Matahari di atas ubun-ubun menguapkan air mata Ayah. [xx/07/2005]

2 thoughts on “Nagari Balik Bukit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s