My Way by Il Divo

Kau memanggilku, “I**n.”

Setelah sekian lama, kau memanggil namaku dengan panggilan sayang yang hanya kau memanggilku begitu. Aku tersadar, sudah lama juga kau meninggalkanku. Dan sudah sekian lama aku tidak lagi mengharapkan kedatanganmu. Mungkin karena sibuk, tetapi juga mungkin karena aku tidak lagi tahu seperti apa perasaanku terhadapmu belakangan ini. Kau datang dan pergi, kemudian datang lagi sesuka hatimu. Begitulah rasa-rasanya. Dan kali ini kau datang dengan “biasa” seolah tak terjadi apa-apa. Mungkin kau menyesal, tapi apalah artinya itu sekarang bagiku? Mengapa kau datang lalu menyakitiku. Kau pergi dan membiarkan aku terluka. Kepergianmu saja sudah sebuah kepedihan bagiku. Lalu sekarang kau datang. Kedatanganmu, sama seperti kepergianmu dulu, membawa luka di dada. Aku ingin marah. Tapi untuk apa? Untuk kedatangan, untuk kepergian, ataukah untuk kedatanganmu? Siapa aku? Apa maumu? Kau datang sebagai siapa?

Aku lupa wajahmu. Suaramu asing bagiku. Aku rindu kehadiranmu. Tapi tolong jangan lukai aku lagi. Hatiku bukan baja. Hatiku adalah hati yang basah. Aku ingin melupakanmu. Setidaknya katakan apa maumu. Aku tak butuh perhatianmu, katakan saja apa maksudmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s