Momen Itu Akan Datang

Pagi ini saya bangun dengan suatu perasaan bersalah karena ini adalah pagi kedua saya telat bangun—meskipun saya sudah bangun pukul 4.30 pagi. Target saya adalah bangun jam 1 pagi. Hahaaa…. Kedengarannya gila. Tapi tidak jika saya tidur sekitar pukul 8 malam. Pada kenyataannya semalam saya tidur jam 10-an. Namun demikian, target pagi hari ini tercapai. Nyuci baju yang sudah seharian kemarin direndam. Saat teduh dan membaca buku. Tadinya kalau saya bangun lebih pagi, saya bisa menulis sesuatu di laptop. Tapi agaknya tiga kegiatan itu saja sudah cukuplah. Ketika mata tertutup rapat di dalam doa penutup di pagi hari, sebuah momen terbayang. Momen yang “pasti” akan datang, namun juga “pasti” akan menuai protes. Saya kaget dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Tiba-tiba mata saya basah. Sedih. Sanggupkah saya melewatinya dengan baik? Akankah ada sikap “menerima” di kesudahannya? Mungkin pada saat itu terjadi, orang-orang yang ada di situ tidak menyangka dan mungkin akan merasa kesal (atau malah benci). Tapi hal itu harus terjadi—jika waktu terus berjalan dan waktu bagi momen itu tiba. Banyak yang harus ditinggalkan. Banyak mimpi kita yang harus kita tunda atau mungkin kita kubur. Namun saya yakin mimpi-mimpi itu akan terwujud tanpa kehadiran saya. Jadi, jangan kalian kubur. Kalau mimpi-mimpi itu dikubur, lalu apa yang akan kalian tulis di batu nisannya?[28/04/2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s