KATANYA LOGIS: Sebuah Naskah Drama

PARA PEMAIN:

DEVLIN BATARIC sebagai PAK ARI (mengenakan kaos dalam yang sudah tipis dan sarung)

ELLYN NATALIA sebagai BU LIA (mengenakan daster, sarung, dan rambut digulung)

JONATHAN BRIANTO sebagai PAK NATHAN, pemilik kontrakan (mengenakan celana pendek, baju kaos, dan sepatu sport)

DIANDRA ANYAMARTJA sebagai BU ANYA, istri pemilik kontrakan (mengenakan daster dan sendal jepit)

YULIUS REYNALDI sebagai (1) NALDI, pembantu (mengenakan celana batik, kaus belel, dan handuk/kain lap di bahunya) (2) PAK RT (mengenakan kemeja rapi dan celana batik)

DUDUK DI RUANG TAMU RUMAH SEDERHANA SEORANG BAPAK-BAPAK. DI ATAS MEJA ADA BEBERAPA KORAN BULAN LALU, SECANGKIR KOPI YANG TINGGAL SEDIKIT. DI SITU JUGA ADA SEORANG BAPAK YANG LAIN. SEDANG BERTAMU AGAKNYA. PEMILIK RUMAH SEDANG MEMBACA KORAN, TETAPI DIPAKSAKAN. TAMU SEDANG MENGHITUNG UANG RIBUAN DAN RECEH BERJUMLAH 123RIBU RUPIAH SEBAGAI CICILAN KONTRAKAN RUMAH BULAN LALU.

Pak Ari : Pas? (PAUSE)

Pak Nathan : (MASIH MENGHITUNG RECEH)

Pak Ari : Pas tidak?

Pak Nathan : Berisik sekali sih dari tadi Pak Ari ini. Tanya-tanya melulu. (HENDAK MELANJUTKAN MENGHITUNG) Tuh kan jadi lupa sudah berapa tadi. Ah!

Pak Ari : (TERTAWA) Maaf, Pak. Saya cuma berharap ada beberapa receh yang tersisa. Berapa pun itu, lumayan juga kan buat beli garam atau gula.

Pak Nathan : Lho?! Tadi katanya ini sudah dihitung. Kata bapak uangnya pas. Lha sekarang berharap ada sisa.

Pak Ari : Berharap saja kan tidak apa-apa Pak Nathan.

Pak Nathan : (AGAK MARAH) Iya! Berharap sih berharap. (BERDIRI) Tapi logis dong. Jangan sembarang berharap!

Pak Ari : Iya Pak iya.Logis logis. Jangan marah, Pak ya…. Bercanda kok tadi saya.

Pak Nathan : (MASIH DENGAN NADA TINGGI) Bercanda sekalipun harus logis. Tidak lihat ini uang bapak receh semua? Baru kali ini saya terima uang bayar kontrakan pakai receh begini. Saya ini orang kaya, Pak Ari. Mana ada receh-receh begini? Masih untung saya terima uang beginian (MELEMPAR UANG KE ATAS MEJA). Itu karena apa? Karena apa??

Pak Ari : (BELAGAK POLOS) Karena apa, Pak?

Pak Nathan : Karena saya baik.

Pak Ari : Ha?? (TIDAK SETUJU)

Pak Nathan : Logis kan?!

Pak Ari : Ya ya ya, Pak. Logis kok Pak. Mari duduk lagi, Pak. Dihitung lagi, Pak (MERAPIKAN RECEH-RECEH YANG BERSERAKAN). KEMUDIAN MUNCUL IBU LIA DARI DAPUR.

Bu Lia : Ada apa ini ribut-ribut?

Pak Ari : Ini, Bu, Pak Nathan sedang menghitung uang bayar kontrakan. Eh, tumpah.

Bu Lia : Tumpah?

Pak Nathan : Tumpah apanya? Itu namanya berserakan. Pernah sekolah tidak sih Pak Ari ini?

Bu Lia : Jelas pernah, Pak Nathan. Kami kan bertemu di bangku sekolah. (KEPADA PAK ARI)Ya kan Pak?

Pak Ari : Iya. Di SMAK BPK PENABUR Sukabumi….

Bu Lia : Program Nasional Plus (CEKIKIKAN)

Pak Nathan : Hah sudah sudah. Jangan mengumbar kemesraan di hadapan saya.

Pak Ari : (SETELAH MENGUMPULKAN RECEH YANG BERSERAKAN) Silakan dihitung lagi, Pak.

Pak Nathan : Nanti saja. Saya sedang kehilangan minat. (SEMUA DIAM SEJENAK. AGAK SERBA SALAH) Istri Pak Ari ini cantik sekali.

Pak Ari : Eeeeh, jangan macam-macam Pak Nathan. Kita sama-sama sudah beristri. Jadi, kita harus setia pada istri kita masing-masing. (PAUSE)

Pak Nathan : (MERASA TIDAK ENAK HATI) Saya dari lari pagi ini.

Bu Lia : Owh, pantas terlihat sporty begini. Tuh, Pak…. Seperti Pak Nathan, olahraga pagi. Biar sehat.

Pak Ari : Lari pagi bagaimana? Sepatu saja tidak punya.

Bu Lia : (TERLIHAT KECEWA) Jangan terlalu jujur, Pak. Malu kan kedengaran sama Pak Nathan.

Pak Ari : Halah, tidak perlu ditutup-tutupi, Bu. Pak Nathan juga bisa melihat keadaan kita. Bayar kontrakan saja pakai receh. Itupun untuk bayar cicilan kontrakan dua bulan yang lalu.

Bu Lia : Ya iya. Yang kerja cuma saya. Yang cari uang cuma saya. Cuci baju tetangga, nyetrika baju tetangga, jaga anak tetangga, katering buat tetangga….

Pak Nathan : Pindah saja ke tetangga, Bu.

Pak Ari : (TIDAK MENGACUHKAN PAK NATHAN) Saya juga kerja.

Bu Lia : Kerja apa? Pak Ari : Ya, mencari kerja.

Bu Lia : Hah!

Pak Nathan : (TERTAWA) Tadi mesra-mesraan. Sekarang marah-marahan. (TERTAWA LAGI). Makanya, kalau pacaran jangan lihat orangnya punya cinta saja. Tapi juga, apa dia punya uang? Emang mau makan cinta? (TERTAWA) Makan tu cinta! (TERTAWA MENJENGKELKAN)

Pak Ari : Saya ini dulu orang kaya, Pak. Bahkan lebih kaya dari bapak.

Pak Nathan : (TERTAWA) Itu dulu. Yang dulu-dulu sudah berlalu. Yang perlu itu sekarang. Memang kekayaan bapak yang dulu bisa membayar kontrakan sekarang? Tidak bisa! Tidak logis itu.

Bu Lia : Ah sudah-sudah (MEREDAM SUASANA). Jangan mengungkit masa lalu yang tidak enak. Jadi bikin suasana pagi ini tidak enak.

Pak Ari : Memang dari tadi suasana pagi tidak enak kok. Apalagi sejak kedatangan Pak Nathan ke sini.

Bu Lia : Bapak!!! Jangan sembarang bicara. (PAK ARI DAN BU LIA BERSITATAPAN)

PEMBANTU DATANG

Naldi : Maaf, Pak, Bu. Saya mau ngambil gelas.

Pak Nathan : E e e e eee, siapa ini? Ujug-ujug muncul. Siapa kamu? Kok saya baru lihat ada orang tampang seperti ini di sini?

Bu Lia : Itu Naldi, Pak Nathan.

Pak Nathan : Naldi siapa? Apa jabatannya di rumah ini?

Bu Lia : Dia bantu-bantu saya bekerja, Pak. Cape juga kalau cuci baju tetangga sendirian.

Pak Nathan : Oh, pembantu?

Pak Ari : Kalau bapak lebih senang menyebutnya sebagai pembantu, ya berarti dia pembantu.

Pak Nathan : (TIDAK MENGACUHKAN PAK ARI) Tapi kok namanya Naldi?

Naldi : Memang kenapa, Pak?

Pak Nathan : Naldi itu terlalu keren untuk seorang pembantu. (TERTAWA) Bercanda kok. Jangan tersinggung.

Naldi : Tidak kok, Pak. (TERTAWA)

Pak Nathan : Nah, begitu. Itu berarti kamu memang punya mental dan bakat pembantu. Maksud saya, mental melayani. Tidak gampang tersinggung. Logis logis. (NALDI MANGGUT-MANGGUT SEPERTI MENGERTI) Kamu logis untuk menjadi pembantu.

Bu Lia : Ini gelasnya, Di. Disimpan saja.

Pak Ari : Eh, jangan. Itu belum habis. Masih ada kopinya. (MEREBUT GELAS DARI NALDI)

Bu Lia : Ya, ampun Pak. Ini kopi kan dari kemarin siang!

Pak Ari : Iya. Sengaja dihemat-hemat biar menghemat pengeluaran.

Naldi : Iya, tapi jangan sampai segitunya kaleee….

Pak Nathan : Heh, pembantu jangan ikut-ikutan. TERDENGAR SUARA SEORANG IBU DARI LUAR RUMAH

Bu Anya : Permisiiiii?!

Bu Lia : Naldi, coba lihat siapa di luar….

Naldi : Yaelaaaa…. Saya lagi.

Pak Nathan : Ya iyalaaa. Kamu kan pembantu. Ingat itu ingat!

Naldi : (NALDI PERGI. TAK LAMA TERDENGAR SUARA DARI LUAR)

Bu Anya, Bu. Saya ke belakang dulu ya. Mau nerusin cucian. Silakan masuk Bu Anya.

Bu Anya : Aduh, Paaakk…. Dicariin dari tadi ternyata ada di sini.

Pak Nathan : Kenapa, Bu? Kangen, ya? (SOK COOL)

Pak Ari : Jangan mengumbar kemesraan di hadapan saya, Pak.

Bu Lia : Selamat Pagi, Bu Anya. Apa kabar? (BERSALAMAN DAN CIPIKA CIPIKI)

Bu Anya : Baik, Bu. Tapi sebenarnya agak kurang baik. Ini suami saya menghilang. Begitu. Saya jadi khawatir. Eh, ternyata ada di sini. (KEPADA SUAMI) Akhirnya saya berhasil menemukanmu.

Bu Lia : Bagaimana ibu tahu? Perasaan, ya Bu ya?

Bu Anya : Bukan, Bu. Saya baru ngeh sekarang kan akhir bulan. Pasti suami tercinta saya ini berkeliaran di rumah-rumah kontrakan kita buat nagih. Tadi saya keliling ke rumah kontrakan kita di blok A, blok B, blok C, blok D, E, dan F. Eh, ternyata ada di blok G. (KEPADA SUAMI) Itu sudah pada bayar semua kan, Pak?

Pak Nathan : Sudah. Mereka semua sudah beres pembayarannya hingga bulan ini. Cuma yang ini nih Bu yang agak sulit.

Pak Ari : (AGAK TERSINGGUNG) Sulit bagaimana?

Bu Lia : Iya, sesulit apa, Pak?

Pak Nathan : Sesulit menghitung uang receh ini nih. Mana ini cicilan uang kontrakan dua bulang yang lalu. Hal-hal seperti ini menambah-nambah beban pikiran lho, Pak Ari dan Bu Lia. Jadi, tolonglah kerja samanya.

Bu Anya : Cicilan untuk dua bulan yang lalu?

Bu Lia : Iya, Bu. Pak Ari : Trus kenapa? (MULAI GERAM)

Bu Anya : Cuma bertanya. Jangan marah begitu, Pak Ari. Kalau marah-marah nanti lekas tua. (KEPADA SUAMI) Sudah dihitung, Pak?

Pak Nathan : Sedang menghitung direcoki sama Pak Ari. Ibu hitung saja lagi.

Bu Anya : Ini cicilan ke berapa? (BERTANYA ENTAH PADA SIAPA)

Bu Lia : Ke berapa, Pak?

Pak Ari : Kesekian.

Bu Lia : Maksudnya?

Pak Ari : Lihat catatannya dong….

Pak Nathan : (MEMBUKA SEPATU DAN MENGAMBIL KERTAS KECIL DARI DALAM SEPATUNYA. YANG LAIN MENDESIS KARENA JIJIK) Coba kita lihat. Pak Ari : Kaya sih kaya, tapi kok jorok. Tidak logis!

Pak Nathan : Suka suka dong. Sirik aja lu! (MELIHAT CATATANNYA) Ini cicilan terakhir untuk pembayaran dua bulan yang lalu.

Bu Anya : Jadi berapa lagi, Pak yang mesti mereka bayar hari ini?

Pak Nathan : 123 ribu rupiah.

Bu Anya : (BU ANYA MENGANGGUK LALU MULAI MENGHITUNG. YANG LAIN IKUT MENGAMATI) Kurang seribu lima ratus ini!

Pak Ari : Ah masa’. Sebelumnya saya hitung, pas kok. Sini saya hitung lagi.

Bu Anya : Kita hitung sama-sama. (MENGHITUNG SAMA-SAMA. DIMULAI DENGAN MENGHITUNG UANG LIMA RIBU TIGA LEMBAR. UANG SERIBUAN, DAN RECEHAN) Bener kan kurang?! Saya sudah terbiasa menghitung sejak SD, jadi saya tidak mungkin salah!

Pak Ari : (BERUSAHA MENGINGAT) Pasti karena jatuh berserakan tadi.

Bu Lia : Yang tumpah tadi?

Pak Nathan : Berserakan; tumpah! Emang kopi, tumpah?

Bu Anya : Kalau begitu pasti ada di suatu tempat di sekitar sini.

Pak Nathan : Jangan lekas percaya, Bu. Siapa tahu Pak Ari ini salah hitung.

Bu Lia : Tidak mungkin, Pak. Di SMA dia juara matematika kok. Jadi saya yakin dia tidak mungkin salah hitung.

Pak Nathan : Lalu ke mana seribu lima ratus itu pergi? (PAUSE) Si Naldi ni jangan-jangan. (TAMPANG SERIUS)

Naldi : Saya denger nama saya disebut-sebut.

Bu Lia : Nguping lagi, Di? (NALDI CENGENGESAN)

Pak Nathan : Tidak apa-apa, Bu. Nguping pembicaraan majikan adalah ciri pembantu sejati, banged.

Naldi : Memuji atau menghina, Pak?

Bu Lia : Kamu lihat uang seribu lima ratus tidak, Di? Sepertinya jatuh di suatu tempat di sekitar sini. Itu uang buat bayar kontrakan rumah.

Pak Nathan : Yang mestinya dibayar dua bulan yang lalu.

Pak Ari : Tidak perlu ditegaskan begitu, Pak.

Naldi : Saya tidak lihat, Bu. Entah sudah berapa lama saya tidak lihat uang.

Bu Anya : Berlebihan.

Bu Lia : Jadi kamu tidak lihat?

Naldi : Tidak, Bu.

Bu Lia : Ya, sudah sana. Makasih, Di. (NALDI PERGI)

Bu Anya : Ya sudah kita cari saja di sekitar sini.

Pak Ari : Saya tidak mau cari. Itu bukan kesalahan saya.

Bu Lia : Sudah, Pak kita cari saja. Supaya lunas.

Pak Ari : Itu bukan kesalahan kita, Bu. Salah dia tadi pakai membanting uang ke atas meja.

Pak Nathan : Salah sendiri bayarnya pake receh. Coba pakai cek atau pakai uang kertas. Dibanting juga tidak akan menggelinding ke mana-mana.

Bu Anya : Haah, sudah sudah. Jangan gara-gara uang sedikit jadi bersitegang begini.

Pak Ari : Ini bukan masalah uang yang sedikit. Ini masalah harga diri laki-laki.

Pak Nathan : Logis. Hm, pintar juga Pak Ari ini bicara.

Bu Lia : Dari tadi kan saya sudah bilang dia ini berprestasi waktu SMA-nya.

Pak Nathan : Masa’ bodo’. Ga ada urusan. Kesinikan seribu lima ratus kami. Sudah bayarnya telat, kurang pula. Kalau begini terus, sepertinya kontrak tidak bisa diteruskan. Bapak silakan pindah. Angkat kaki. Hengkang!

Bu Anya : Kok cuma Pak Ari yang hengkang, Pak? Bu Lia?

Pak Nathan : Bu Lia boleh tetap tinggal.

Bu Anya : Apa maksud bapak?

Pak Nathan : (KAGET. LALU GUGUP) Maksud saya, itu yang seribu lima ratus harus ditemukan. Jadi mereka tidak perlu pindah dari rumah ini.

Bu Anya : Jangan-jangan benar apa yang selama ini diomong-omongin sama tetangga: bapak suka ya sama Bu Lia?

Pak Nathan : Sedikit, Bu. Cuma sedikit.

Bu Anya : Sedikit kata bapak? Ha?!?

Pak Ari : Jangan-jangan bener kata si Naldi, Ibu juga suka sama Pak Nathan?

Bu Lia : Ah, si Naldi suka sembarang bicara.

Pak Ari : Masih berkelit. Saya sendiri pernah melihat Ibu bermesraan dengan Pak Nathan di halaman belakang.

Bu Anya : Apa?!? (MEMUKUL SUAMINYA)

Pak Ari : Ibu suka kan sama Pak Nathan??

Bu Lia : Sedikit, Pak. Cuma sedikit.

Pak Ari : Kenapa? Karena dia kaya?

Bu Lia : Iya, Pak.

Pak Ari : O, jangan-jangan ibu suka sama saya dulu itu karena saya kaya? Karena orangtua saya kaya? Iya? Iya?? (PAK NATHAN DAN BU ANYA MASIH BERDEBAT. DEMIKIAN PULA DENGAN PAK ARI DAN BU LIA. TAK LAMA PAK LURAH DATANG)

Pak Lurah : Ada apa ini ribut-ribut? (TIDAK SEORANG PUN YANG MENDENGARKAN) Heeeei!!! Ada apa ini? Hwoooiiii….!

Pak Ari : Dia suka istri saya!

Bu Anya : Dia suka suami saya!

Pak Nathan : Kok mirip Naldi?

Pak Lurah : Saya tidak berbakat jadi pembantu. Bakat saya adalah menjadi lurah. Jadi ini ada apa ribut-ribut? (MASING-MASING BERSUARA: ADA TENTANG SUKA-SUKAAN, ADA JUGA TENTANG UANG YANG KURANG) Tenang, tenaaaang. Semua bisa dibicarakan. Tapi bicaranya satu-satu dooong!!! (SEMUA BICARA LAGI). Haaaaaah, pusing. Terserah deh! (SEMUA BICARA LAGI: ADA YANG BILANG TENTANG SUKA-SUKAAN, TENTANG UANG YANG KURANG, DAN TENTANG NALDI YANG TIDAK BERBAKAT JADI PAK LURAH ATAU PEMBANTU SEKALIPUN)

Pak Lurah : (KEPADA PENONTON) Semua orang pengen bicara, semua orang pengen didengerin. Bagaimana ini??

SELESAI

Sukabumi, 29 April 2010

Ujian Ekstrakurikuler Teater Tanda Baca

SMAK BPK PENABUR Program Nasional Plus Sukabumi

12 thoughts on “KATANYA LOGIS: Sebuah Naskah Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s