Dag Dig Dug oleh Teater Sendiri

Awalnya saya tidak berminat menonton pementasan Dag Dig Dug karya Putu Wijaya (Sabtu, 24 April 2010 pkl. 20.00 WIB) karena harga tiketnya cukup menguras saku celana. 5o ribu rupiah itu bukan harga yang tidak sedikit di akhir bulan. Selain itu, sebelumnya saya habis jalan-jalan besar dengan teman lama. Jalan-jalan besar dengan pengertian yang menimbulkan pengeluaran yang lumayan. Itu sepertinya cuma saya karena saya harus melakukan perjalanan jauh dari Sukabumi ke Jakarta. Tapi asli menyenangkan!

Melihat pameran foto dan poster pementasan Dag Dig Dug sejak tahun 1988 di pintu masuk Gedung Teater Kecil, membuat hati saya meloncat dan segera mengubah keputusan: saya bakal nonton pementasan ini!

Namun, masih saja ada keragu-raguan di hati setelah melihat dan membaca bahwa pemainnya bukan lagi pemain yang dulu, yang sama. Yang main sekarang adalah Nawir Hamzah, Endah Murti, RM Mustiko, Abraham Johansyah, Ricky Akbar, M. Fauzi, dan Bambang Panji. Sutradaranya Nawir Hamzah. Lukisan-lukisannya karya Nawir Hamzah tidak satu pun yang menarik perhatian saya. Namun suasana yang terbangun di “galeri lobi” cukup menggugah selera dan kerinduan. Saya kangen dengan kerutinan dulu yang entahlah apa. Saya belum berhasil mendefinisikannya. Dan rasa-rasanya ada yang terbuka di dalam diri saya.

Ya, kembali pada lukisan. Lukisan-lukisan yang tidak menimbulkan kesan itu membuat saya ragu pada sang sutradara dan pemain utama pementasan. Tidak bagus. Akankah pementasannya juga seperti itu: tidak mengesankan?

Saya ingat kata seorang Rachman Sabur. Dia bilang, “Nonton pementasan teater jangan yang bagus-bagus melulu. Kita harus nonton juga yang jelek-jelek. Bagaimana kita tahu dan paham seperti apa pementasan yang bagus kalau tidak pernah tahu dan paham pementasan yang jelek itu seperti apa.” Dia benar.

Malam minggu, saya kembali ke TIM Jakarta. Menghampiri gedung baru, Gedung Teater Kecil. Dan dengan keyakinan yang mantap dan degup jantung yang berderap: seperti hendak melihat keponakan yang baru lahir, saya masuk.

Free seated number,” begitu kata orang ticketing.

Saya duduk di tengah deretan ke-4-5 dari depan. Cukup ideal.

Pementasan dimulai. Alunan musik Jawa menggerakkan sesuatu yang tidur di dalam batin saya. Saya benar-benar sudah lama tidak mengunjungi tempat-tempat semacam ini untuk membangun semangat yang lain di dalam diri saya.

Pementasan dimulai. Tidak disangka. Saya pikir Nawir Hamzah itu masih muda. Ternyata sudah tua juga. Atau jangan-jangan make up nya yang luar biasa? Lepas dari itu semua, saya lantas kagum. Dia berhasil mencipta seorang suami tua (kakek-kakek) pemilik indekos yang lapuk, dan menunggu mati. Pementasan itu pun dikemas humoris. “Improvisasi” yang tidak membosankan. Misalnya, ketika suami dan istri sedang berada di dalam peti mati dan berusaha menggerak-gerakkan peti mati itu agar saling berdekatan dan mendekati lampu sorot merah dari atas, suami berkata, “Kya main kapal-kapalan, ya Bu?” Spontan penonton tertawa tanpa batas. Itu bisa dimaknai dengan bahwa berada di dalam peti mati bukanlah sesuatu yang menakutkan. Bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan (lucu) jika kita menganggap peti mati itu sebagai kapal menuju pelabuhan. Asyik. Saya gembira dengan kelakarnya.

Demikian halnya dengan Endah Murti (istri tua yang juga lapuk dan menunggu kematian). Suaranya, gerak tubuhnya, emosinya, bikin saya bertanya-tanya bagaimana ia bisa se-enjoy itu? Sempat di tengah permainan, suaranya pecah/serak. Mungkin kecapaian setelah berakting di hari sebelumnya. Mana besok (Minggu, 25 ia pun masih harus berakting yang sama). Saya khawatir—entah mengapa. Mungkin karena saya ingin pementasan ini senantiasa bagus sehingga para penonton dapat melihat bahwa pementasan teater dengan naskah lama dan orang-orang lama, tidak mengubah “apa pun”.

Lalu, bangunan itu runtuh dengan kehadiran dua orang pemuda berkaca mata dan bertopi. Satu berlagak english man, yang satunya bergaya rapper. Mereka merusak panggung. Rasa-rasanya saya ingin berteriak, “Siapa kalian?” Hahahaaa…. (Ingat tentang untuk tidak hanya menonton pementasan yang bagus: tidak ada pementasan yang senantiasa bagus, aktor yang senantiasa juara; selalu ada yang berada di sisi yang lain). Prinsip keseimbangan😀

Baiklah. Mereka berdua, mungkin agak grogi main dengan aktor senior. Terlebih penonton di sebelah saya—ketika kedua pemuda itu menampakkan batang hidung mereka—langsung menyebut bahwa itu teman mereka. Maka saya pikir, benar bahwa kedua orang itu masih pemula dan sedang belajar “dasar-dasar teater”, sedang membangun pengalaman berteater/akting, dan “merasa” terlalu cepat main berdampingan dengan aktor kawakan. —sehingga pementasan itu seolah-olah adalah pementasan dari dua generasi yang berbeda. Pintu ajaib Doraemon yang mempertemukan mereka adalah naskah dan panggung. Jadi, mereka terhubung dengan suatu kejutan yang asing, sedikit menggelikan, dan keinginan agar kedua pemuda itu segera kembali ke dunianya (kelaur panggung heheheee…).

Tapi…, ada seorang pemain yang sangat menarik hati. Dialah Ibrohim (entah siapa nama pemerannya). Dia mantan penghuni indekos, seorang Madura yang rajin bekerja (rakus bekerja—mengerjakan apa saja!), dan blak-blakan.

Kucluk-kucluk ia datang dari sisi panggung sebelah kiri penonton, dengan baju pink gombrong dan celana kotak-kotak hitam-putih yang juga terlalu besar untuk tubuhnya yang kerempeng. Tubuhnya gemulai. Suaranya pun gemulai, tetapi isinya tegas. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh. Siapa dirinya pun adalah sungguh-sungguh. Ibrohim tidak kelewat pe de (tetapi pas di foto usai pementasan, ia kelewat pe de :D). Ibrohim bermain dengan porsi yang pas, menurut saya. Ia penggembira dengan keseriusannya. Saya pikir, jarang pemuda bermain lepas dan “apa adanya” sekaligus menikmati perannya. Ia bisa jadi investasi—jika ia rajin menyeriusi aktingnya.

Pementasan usai. Saya pulang dengan hati lapang. Entah puas entah bahagia. Mungkin kedua-duanya. Begitu keluar dari ruangan dan menginjakkan kaki kembali di galeri-lobi, saya susuri lagi lukisan-lukisan dan foto dan poster pementasan Dag Dig Dug karya Putu Wijaya oleh Teater Sendiri. Entah. Mungkin sebuah pelajaran yang patut direnungkan sambil berjalan kaki menuju kosan teman di jalan Kwitang. Sambil menikmati suasana malam di pinggir jalan Jakarta. Mendengarkan musik. Mendengarkan deru taxi dan sedan. Merasakan dekapan malam. Semburat lampu kuning jalanan. Sendirian. Nyaman. “Apa kabar Teater Djati?”

3 thoughts on “Dag Dig Dug oleh Teater Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s